TAK MENGAPA

 


Tak Mengapa - Tak mengapa jika setelah segala hal yang kau lewati membawamu hanya sampai di pinggir pantai. Memandangi mereka yang telah berangkat berlayar.


Saat itu mungkin kau mendengar suara-suara berisik di kepala :
"Mereka sudah berlayar mengarungi samudera, kenapa aku baru sampai disini"


"Seandainya dulu aku tak sebodoh itu, melakukan hal-hal tak penting yang membuang waktu, mungkin aku yang berada di kapal itu"


"Ah, kenapa aku masih saja ragu dan takut untuk melangkah lebih jauh, dasar pecundang!"


"Aku sudah melakukan berbagai upaya, kenapa justru mereka yang tak melakukan apa-apa yang mendapat kesempatan ini?!"


"Kenapa?!"


Kenapa? Pasti banyak kenapa yang bermunculan di kepala. Kenapa mereka bisa segampang itu, sedangkan untukmu terasa amat sulit. Kenapa mereka bisa dan kau tidak. Atau kenapa mereka boleh sementara kau tidak. Dan kenapa kenapa yang lain.


Saat itu kau pasti mulai sedih. Merasa gagal, menyesal, dan bahkan marah. Atau mungkin kau malah berpikir betapa tak adilnya hidup ini.


Sesaat kau mulai berandai-andai. Andai aku kemarin begini, andai aku begitu. Atau andai aku seperti si A, B, atau C yang hidupnya terlihat indah dan gampang.


Tapi sesaat kemudian kau membuang semua andai itu. Kau merasa lelah dan muak. Kau ingin teriak tapi kau tahan karena malu. Kau ingin menangis di pangkuan ibu tapi enggan bersebab gengsi. Ya, begitulah, dunia orang dewasa memang dipenuhi dengan gengsi.


Padahal apa salahnya menangis. Jika setelahnya membuatmu merasa lebih baik, kenapa tidak. Sebab memang ada masanya kita perlu menanggalkan ego, meletakkan gengsi, menangis sepuasnya, untuk kemudian mengokohkan kembali hati yang hampir mati.


Tak mengapa menangis. Pun tak mengapa jika hari ini kau hanya bisa mencapai bibir pantai. Hanya bisa memandangi kapal yang berlayar kian jauh. Membawa angan dan harapan mereka yang ada di dalamnya. Sementara kau masih tertinggal dengan mimpi-mimpi yang mulai terasa berat untuk diwujudkan.


Tak mengapa. Tak semua harus sesuai rencana. Kau hanya perlu terus percaya, semesta punya caranya sendiri untuk tiap jiwa yang terus berusaha.


Tak mengapa. Nikmati saja waktumu di pantai itu. Siapa tau esok saat garis nasib membawamu ke tengah samudera, kau justru rindu menjejakkan kaki pada butir pasir di pantai itu. Siapa tau!

 

Medan, 02 April 2021
Diah Kalisa
www.perempuannovember.com

Share:

0 komentar