SEKARANG AJA, KAWAN!

22.04 0
investasi mulai sekarang
Sekarang aja, kawan!
Sekarang Aja, Kawan! - Seorang kawan saya menolak saat saya ajak jalan-jalan di suatu malam. Saya pun jadi bertanya-tanya. Tumben. Biasanya paling semangat kalau diajak jalan-jalan. Entah itu sekedar muter-muter kota Medan sambil kulineran, nonton film terbaru, atau keluar kota di akhir minggu.

Usut punya usut ternyata si kawan lagi bokek alias nggak punya duit. Lagi-lagi kata ‘tumben’ terbersit di kepala saya. Pasalnya memang nggak biasanya tuh anak nggak punya duit.

Percakapan BBM pun akhirnya pindah ke obrolan via telfon. Si kawan akhirnya cerita kalau dia sudah sekitar semingguan nggak masuk kerja karena kesal sama bosnya. Ada suatu hal yang membuatnya enggan masuk kerja. Menurutnya bosnya sudah kelewatan dan dia harus mengambil sikap. Jadi aksi mogok kerjanya ini bisa dikatakan sebagai aksi protes gitu deh ke bosnya. Lagi ngambek lah ceritanya *bisa gitu ya ngambek sama bos sendiri*

Sebagai orang yang sering ditraktirnya kalau lagi punya uang, so pasti saya menyarankannya untuk jangan lama-lama ngambeknya. Bukan apa-apa, ngambeknya sama si bos meeen, kalau bosnya nggak suka terus dia dipecat, kan saya kena imbasnya, bakal jarang ditraktir *Yaoloooh… keliatan banget saya ada maunya yaaak*.

Bukannya meredah, si kawan malah tambah emosi. Katanya dia udah nggak peduli kalaupun nanti dipecat. Wedeeew.. beneran marah sepertinya si kawan saya ini. Jadinya saya ya cuma bisa ngingetin supaya dipikirin baik-baik dan hati yang adem, secara kan nyari kerja sekarang sussyaaaah. Mana si kawan ini juga nggak punya tabungan. Gajinya kebanyakan buat nyenengin orang sih *nraktir saya salah satunya :D*

Masalah aset, tabungan, ataupun investasi, sebenarnya saya udah sering ngingetin kawan saya ini. Have fun boleh, loyal ke teman-teman boleh, tapi jangan lupa buat menyisihkan gaji bulanan untuk jaga-jaga kalau-kalau ada keperluan di luar keperluan sehari-hari. Ada musibah misalnya. Atau pas lagi ngambek sama si bos dan sudah sangat tidak nyaman di tempat kerja, pasti bakal mikir berulangkali mau resign karena nggak punya topangan finansial. Atau tiba-tiba pengen ngelamar anak orang. Kalau nggak punya persiapan pendanaan kan bakal repot nantinya. Tapi nggak bakal demikian kejadiannya kalau kita punya simpanan dana darurat.

Tempat kerja udah nggak asik? Resign sekarang aja.

Adek itu minta dilamar? Tinggal jawab aja : “Yok dek, sekarang aja, abang juga udah niat banget halalin adek.

Tapi si kawan ini mana bisa jawab sekarang aja kalau misalnya berada di situasi di atas. Wong selalu saja ngeles. Katanya dia udah pernah nyoba simpan uangnya di bank, tapi yang ada terus-terusan habis karena terus-terusan ia ambil. Pernah juga dia sengaja suruh emaknya nyimpan kartu ATM-nya supaya dia nggak bisa ambil tabungannya, eh gitu bener-bener butuh dan mau ambil uang malah si emak lupa dimana nyimpen kartu ATM-nya. Jadi deh dia males lagi nabung di bank.

Saya kasi saran buat memutar uangnya dalam bentuk usaha, alesannya nggak pinter usaha. Alhasil sekarang dia ikutan main jula-jula tiap minggu supaya uangnya terkumpul. Itupun begitu giliran dia yang narik uangnya habis-habis tak terlihat hasilnya.

Akhirnya si kawan nggak jadi resign. Alasannya ya itu tadi, nggak ada simpanan untuk biaya hidup sebelum dapat pekerjaan baru. Ya minimal untuk biaya hidup 6 bulan ke depan harus ada lah kalau kita pengen resign ya kan.

Berkaca dari si kawan ini, saya jadi mikir sendiri gimana caranya supaya tetap bisa punya persiapan finansial untuk masa depan namun tetap kecil resiko. Baik itu resiko godaan untuk membelanjakan uang ataupun resiko lainnya seperti kehilangan, kerugian, ataupun nilai uang yang berkurang.


Durian yang Mencerahkan
Minggu 14 Agustus 2016 lalu saya menyempatkan diri untuk hadir di acara kumpul bulanannya Blog M (Blogger Medan) yang diberi nama Durian (Diskusi Ringan Anak Medan) di Bangi Kopitiam, Jalan Juanda Medan.

Ada 2 orang yang berbagi cerita di Durian kali ini. Yang pertama Yuha dari KEKIDA (Kreasi Kita Beda) yang bercerita tentang startup bisnis, dan bang Ade dari Manulife yang bercerita tentang investasi.

investasi masa depan
Cuma kebagian dikit pas sesinya Yuha dari KEKIDA, telat sih datangnya :D

Dan berhubung kemarin itu saya datangnya telat, jadi nggak bisa cerita banyak tentang materi yang dibawakan Yuha. Kalau materi dari bang Ade saya dengarin sampai akhir, tapi tetap aja nggak bisa cerita banyak karena keasikan ngemil ehehheee..

makanan ringan
Ini nih yang buat perhatian sedikit teralihkan :D

Singkatnya bang Ade cerita tentang pentingnya memulai investasi seawal mungkin. Kenapa? Banyak faktor sih, salah satunya tentu karena faktanya saat ini biaya hidup kian hari kian mahal saja. Selain karena memang mungkin gaya hidup masyarakat masa kini yang umumnya konsumtif, juga karena memang barang-barang yang kian hari kian naik harganya. Nilai uang yang kita miliki pun jadi semakin turun karena naiknya harga.

manulife
Bang Ade dari Manulife lagi jelasin tentang pentingnya investasi dimulai dari sekarang

Kalau orang-orang dulu bisanya berinvestasi dalam bentuk barang seperti emas, property dan barang-barang lainnya. Ada juga yang memilih menabung di bank ataupun mendepositokan uangnya. Tapi selain itu ternyata ada pilihan lain guys, yakni berinvestasi di pasar modal.

Banyak yang masih asing dengan jenis investasi yang satu ini, termasuk saya sendiri. Dan karena tidak familiar, waktu dijelasin pun saya masih plonga-plongo aja dengerin bang Ade ngoceh di depan.

Ada 3 alternatif pasar modal: saham, obligasi, dan reksa dana. Nah kemarin itu bang Ade sekalian ngenalin salah satu produk reksa dana yang dimiliki Manulife, namanya Manulife Dana Kas II. Nah mungkin sebagian masih bertanya-tanya dan bingung tentang reksa dana, nggak usah nanya saya karena saya juga nggak pinter ngejelasinnya hahahhaa *dari pada saya jelasin tapi salah kan mending saya jujur aja kan ya*

Singkatnya reksa dana adalah salah satu pilihan alternative bagi yang ingin berinvestasi di pasar modal. Dibanding saham dan obligasi, modal untuk investadi di reksa dana relative kecil. Jadi cocoklah buat kita yang ingin mencoba berinvestasi di pasar modal.

Apa bedanya investasi reksa dana dengan menabung uang di bank seperti biasa? Bedanya tentu di nilai uang kita. Jika menabung uang di bank, nilai uang kita cenderung turun karena inflasi. Sementara jika di reksa dana nilai uang kita cenderung naik.

pasar modal
Seperti inilah kira-kira perbandingan uang kita ketika ditabung dan diinvestasikan di reksa dana Manulife dana kas II

Asiknya lagi, mendaftar reksa dana Manulife sekarang prosesnya bisa online loh. Tinggal klik aja di www.klikmami.com, isi form registrasi, tunggu pihak klikMAMI menelpon, dan jadilah kita punya akun reksa dana di Manulife. Mudah kan?!

klikMAMI adalah situs online reksa dana Manulife. Situs ini bisa diakses kapan saja dimana saja selagi kita terhubung dengan internet. Ah… sekarang memang masa kejayaannya jari tangan ya. Apa-apa tinggal klik. Kita pun nggak perlu repot-repot harus datang ke kantor atau menghabiskan waktu untuk bertemu seseorang hanya untuk tanda tangan di atas kertas misalnya.

Pembahasan tentang investasi reksa dana dari Manulife ini membuat saya teringat dengan kawan yang kemarin ngambek sama bosnya. Yang akhirnya nggak jadi resign karena nggak punya simpanan dana darurat. Coba aja dari dulu dia rutin sisihkan gajinya untuk diinvestasikan di reksa dana, mungkin saat sudah benar-benar mentok dan nggak cocok dengan tempat kerja bisa dengan santai ngundurin diri karena seenggaknya dia punya simpanan dana untuk biaya hidup sebelum menemukan pekerjaan baru. Jadi kalau benar-benar udah nggak nyaman di tempat kerja bisa dengan santai bilang : “Udah nggak asik nih tempat kerjaku, resign sekarang aja ah!”

Hmm.. jadi mulai mikir nih, bulan ini mau nyisihin berapa ya buat investasi. Harus dimulai dari sekarang nih. Biar nanti kalau saya butuh sesuatu yang berhubungan dengan finansial saya bisa bilang “sekarang aja” karena sudah punya simpanan dana darurat.

Kalian udah punya investasi reksa dana belum? Kalau belum yuk ah sekarang aja mulai investasinya :)

CAMPING DI BUKIT GUNDUL SIPISO-PISO : MALAM OLAHRAGA, PAGI DIPELUK KABUT

11.30 32
bukit gundul
Camping di Bukit Gundul Sipiso-Piso 

Camping di Bukit Gundul Sipiso-Piso : Malam Olahraga, Pagi Dipeluk Kabut : Wacana camping di Bukit Gundul Sipiso-Piso sebenarnya sudah lama ada. Cuma beberapa bulan kemudian baru terealisasi. Oh iya, Bukit Gundul adalah salah satu tempat camping yang berada di Gunung Sipiso-Piso. Sebenarnya sudah lama sih ada anak gunung yang ngetenda disini. Tapi hitsnya paling baru  dua tahunan ini saja.

Bukit Gundul Sipiso-Piso berada di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo – Sumatera Utara. Jarak tempuh Medan – Bukit Gundul berkisar 3 jam. Tidak ada jalur trekking disini. Biasanya para pendaki datang dengan mengendarai sepeda motor sampai ke lokasi camping. Karena jalurnya menanjak dan berkerikil, dianjurkan membawa sepeda motor yang sehat ya. Kalau bisa jangan pakai matic.

Saya ke Bukit Gundul bareng kawan-kawan Sheilagank Sumut. Yang ikut cukup ramai karena ada yang membawa teman, pacar, dan istri. Total ada 10 sepeda motor. Berarti ada 20 orang karena semua berboncengan. Dari 10 sepeda motor itu, 4 di antaranya berjenis matic. Ziahhaaa… cari penyakit ini mah.

Rencana berangkat pukul 20.00 WIB. Tapi karena tunggu-tungguan, nyiapin ini itu, alhasil molor juga. Saya tidak tau pastinya jam berapa kami berangkat dari rumahnya Dian di daerah jl Setia Budi Medan. Yang pasti saat sampai di Sembahe, jam sudah menunjukkan pukul 22.35 WIB. Wedeeeh.. perjalanan masih jauh padahal.

Wisata Karo
Masih baru sampai Sembahe
Melewati Bandar Baru, di jalanan yang menanjak dan tikungan yang cukup tajam, temennya Ibenk *saya berboncengan dengan si Ibenk, humasnya Sheilagank Sumut* nelfon dan memberitahu kalau sepeda motor yang mereka kendarai mati. Kami berencana putar arah menjemput mereka tapi tak jadi. Alhasil di Penatapan

Kami menunggu cukup lama di pinggir jalan. Tepat di depan warung jagung bakar pertama di Penatapan jika dari arah Medan. Telfon pun berdering. Katanya sepeda motornya benar-benar tak bisa hidup meski sudah berkali-kali coba dihidupkan. So, kami pun memutuskan untuk balik ke bawah. Belum sampai di TKP, telepon kembali berdering, katanya sudah bisa. Jadinya kami balik lagi ke Penatapan.

Karena si Ibenk laper, jadinya kami nunggunya nggak di pinggir jalan lagi. Melainkan sambil duduk di warung pertama Penatapan. Dia pesan mie instan cup, sementara saya pesan jagung rebus. Sampai mie nya habis, Fredy belum juga sampai. Hmmm… tadi katanya sudah bisa motornya, kok belum nyampe juga sih.

Warung Jagung Rebus Penatapan Karo
Dari berdiri di pinggir jalan, duduk dan pesan makanan di warung Penatapan, sampai harus menunggu sendirian -_-
Ternyata oh ternyata, motornya ngulah lagi. Mereka minta jemput. Ya sudah lah, saya memberanikan diri ditinggal di warung jagung itu sementara Ibenk turun ke bawah buat jemput Fredy dan temannya *saya lupa namanya*. Teman-teman yang lain nunggu di Berastagi.

Awalnya saya nyantai saja. Tapi lebih 15 menit mereka belum datang juga, mulai resah juga. Secara warungnya sepi. Pembelinya cuma saya. Penjaga warungnya cowok semua. Jarak dengan warung lain agak jauh. Trus musik menghentak kuat dari tiap warung. Pengendara juga satu dua yang lewat karena sudah malam. Kalau tiba-tiba mereka niat jahat kan serem juga.

Ada sepertinya saya nunggu sampai setengah jam. Dan di tengah-tengah kegelisahan itu, akhirnya mereka datang. Fredy pesan mie instan cup juga. Di sela-sela Fredy menikmati mie-nya itu lah kami diskusi mengenai motor yang rusak ini.

Akhirnya diambil keputusan untuk melanjutkan ke Bukit Gundul sementara sepeda motonya si kawan dititipkan ke warung jagung bakar tempat kami singgah. Jadi nanti ada 2 motor yang harus bonceng 3. Wedeeew,,, was-was juga sih bakal kena tilang pak polisi. Malam ini sih nggak masalah karena udah tengah malam. Pulangnya ini. Dan lagi saat nanjak ke Bukit Gundul ini takutnya nggak tarik. Tapi nggak mungkin juga pulang lagi ke Medan. Jadi ya lanjut saja lah. Masalah pulang dipikirkan besok saja.

Arif akhirnya balik lagi ke Penatapan buat jemput kami. Dari Penatapan ke Berastagi, Arif, Fredy dan kawannya Ibenk bonceng 3. Sementara saya dibonceng Ibenk dengan membawa tas carrier berisi tenda dan alat-alat camping lainnya.

FYI, ini pertama kalinya saya dibonceng naik motor dengan memanggul carrier. Rasanya kok ya lebih sulit dari berjalan dengan carrier di punggung. Beratnya sih masih bisa lah saya tahan, tapi karena carriernya lumayan tinggi *entah ukuran berapa liter saya kurang tau*. Saya jadi serba salah memosisikan badan.

Awalnya si carrier ditaruh di tengah. Jadi saya gak perlu memanggulnya. Tapi sebentar saja rasanya badan udah pegel banget. Soalnya badan saya harus tetap tegak lurus, kaki juga jadi lebih ngangkang. Kepala mau condong dikit aja ke depan nggak bisa karena ada carrier. Pegel dan susyaaah.

Saya pun minta Ibenk untuk berhenti. Ganti posisi. Carriernya saya panggul aja di belakang. Eh ternyata tetap aja susah. Carrier yang berisi beban ditambah angin saat berkendara membuat badan saya seakan ketarik ke belakang. Wadoooh… padahal kalau lihat anak gunung naik motor sambil bawa carrier kelihatannya aman-aman aja. Ternyata susah boook. Walhasil saya pasrah aja nyandarkan badan ke carrier sambil tangan berpegangan erat di jaket pak supir supaya nggak terjungkal ke belakang.

Sampai di Berastagi terjadi perombakan boncengan karena sepeda motor si kawan yang rusak. Arif, Aisyah, dan Dian bonceng 3. Ibenk, Fredy, dan kawan Ibenk bonceng 3. Saya dengan bang Rudi. Carriernya saya lupa siapa yang bawa. Yang pasti cowok yang bawa.

Dari Berastagi menuju Bukit Gundul, saya terkantuk-kantuk. Bahkan sempat merasa melayang beberapa detik lalu kaget dan tersadar lagi. Beberapa kali terlibat ngobrol dengan bang Rudi yang ternyata juga ngantuk *iyalah ngantuk, udah dini hari juga*. Tapi lebih banyak diamnya juga sih karena mata rasanya mau terpejam saja. Ya Allah… nguantuuuk bingits. Tapi di antara kantuk itu saya sempat-sempatkan berdo’a, minta perlindungan. Secara kecelakaan banyak terjadi karena pengendara yang ngantuk kan.

Melewati pos penjagaan menuju Bukit Gundul, jalan mulai menanjak, berbatu-batu, dan tikungan yang cukup tajam. Baru sebentar nanjak, bang Frans sepeda motornya nggak tarik. Dia teriak-teriak minta bantuan hahhahaa… Kami melewatinya sambil terkekeh-kekeh, cuma dalam hati saya was-was juga bakal nggak tarik ya, secara kami pakai matic. Kalau motor bebek biasa aja nggak tarik, gimana yang matic ini.

Dan benar saja, tepat ditikungan, si matic K.O. Saya harus turun, sementara bang Rudi tampak kepayahan meski saya sudah turun. Medannya memang cukup sulit sih.

2 matic lainnya juga mengalami hal yang sama. Alhasil, saya, Icha, dan temennya Cekli harus jalan dalam kegelapan dengan medan yang menanjak berbatu. Motornya Icha bahkan sampai berasap dan mengeluarkan aroma seperti ban terbakar. Sementara itu, Ibenk, Fredy, dan kawannya Ibenk yang bonceng 3 mengalami hal yang sama. Si Jago Merah *nama sepeda motor saya yang mereka gunakan* ternyata nggak sanggup mengangkut 3 orang itu ke atas.

Cukup lama kami berjalan dalam kegelapan malam. Hanya bercahaya lampu sepeda motor yang tak bisa dikatakan terang. Awalnya sih enjoy saja jalan sambil ngobrol-ngobrol. Lama-lama pegel juga hahhahaa

Karena jalannya terus menanjak dan tak memungkinkan untuk berboncengan, sementara cewek-ceweknya udah mulai ngos-ngosan, jadinya gantian cewek-cewek yang naik sepeda motor sementara yang cowok jalan. Jadilah Icha dan temennya Cekli naik motor, sementara saya tetap jalan bareng cowok-cowok yang lain karena kawannya Ibenk katanya punya asma dan nggak kuat jalan. Hmm… baiklah, anggap olahraga malam aja dah kalau gini ceritanya.

Berjalan cukup lama, kondisi jalan masih menanjak dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi. Saya sebenarnya udah pegel banget lutut dan pinggangnya. Napas juga udah sesak. Tapi kok ya belum ada tanda-tanda mau nyampe ya. Mana yang lain juga belum ada yang balik turun buat ngelansir kami-kami yang jalan ini. Hufts…

Kepala saya mulai oyong, pandangan mulai kabur dan pinggang rasanya panas sedangkan dada kian sesak. Entah jam berapa waktu itu. Dalam keremangan malam, saya jalan pelan sambil tangan berpegangan di tas yang dipakai Ibenk. Kebetulan dia yang jaraknya paling dekat dengan saya yang jalan diurutan belakang karena tenaga terkuras. Bukan apa-apa, mengantisipasi kalau saya tiba-tiba pitam terus jatuh. Sementara mau bilang gantian naik motornya ama temennya Ibenk juga enggan saya lakukan. Kalau asmanya si kawan kambuh kan jadi kerjaan juga nanti.

Setelah dirasa medannya cukup memungkinkan untuk berboncengan, baru lah saya naik motor berboncengan dengan kawannya Ibenk. 3 matic lainnya masih belum kuat untuk berboncengan. Eh iya, herannya Arif yang bomceng 3 sama Dian dan Aisyah kok ya tarik motornya. Padahal motor bebek. Mantap euy...

Berhubung saya juga baru kenal malam itu sama kawannya Ibenk *yang kemudian saya lupa namanya*, sepanjang jalan kami cuma diam saja. Saya malah fokus ngeliat ke depan liat kondisi jalan, takutnya si kawan ngatuk atau berhalusinasi, secara lumayan serem juga berdua tengah malam di jalan yang belum pernah kami lalui itu. Sunyi. Cuma suara sepeda motor kami saja.

Dan akhirnya, sampai juga di lokasi camping. Sudah banyak tenda yang berdiri. Suasananya masih ramai, padahal sudah jam 3 pagi. Begitu sampai saya langsung menghampiri yang lain yang tengah memasang tenda. Saya bertanya kenapa tidak ada yang turun untuk menjemput Ibenk dan Fredy. Ternyata oh ternyata kondisinya tak memungkinkan. Ada yang ngakunya motornya tak sehat, takut mogok di tengah jalan karena melihat kondisi jalan yang memang lumayan offroad gituh. Beberapa beralasan minyak motornya tinggal sedikit, takutnya besok harus mendorong kalau malam itu dipakai menjemput yang masih tertinggal. Ah, kenapa tak bilang dari tadi sementara yang di bawah sudah menanti-nanti.

Sementara yang lain mengurusi tenda, saya memikirkan bagaimana agar Fredy dan Ibenk bisa dijemput.  Tak mungkin membiarkan mereka jalan. Masih jauh sekali ke puncak. Bisa-bisa saat matahari terbit nanti mereka baru sampai.

Si Arif mau jemput, tapi sepeda motornya minyaknya terbatas. Sementara cuma Si Jago Merah motor kesayangan saya yang ready. Butuh 1 sepeda motor lagi. Setelah ditanyain satu persatu, ternyata ada 1 motor yang bisa, alhamdulillah. Langsung cuss jemput yang di bawah. Saya mah langsung duduk-duduk liatin yang masang tenda *lebih banyak yang mandorin memang, secara kalau semua mau bantuin juga kadang malah jadi ribet :D*

Untuk camping di Bukit Gundul ini per orang dikenai biaya sebesar 10 ribu per orang. Saya tidak tahu apakah mereka pengelolah resmi atau oknum yang memanfaatkan keadaan. Tapi untungnya mereka tidak hanya mengutip uang saja, tetapi juga menyediakan air untuk keperluan di satu-satunya toilet umum di Bukit Gundul ini. Tidak ada sumber air disini selain yang disediakan bapak-bapak yang mengutip uang tadi. Buat saya sih harga segitu wajar. Secara uang tersebut sudah termasuk parkir sepeda motor dan kita bebas ke toilet *tapi ya harus tau diri lah, hemat-hemat pakai airnya*. Kalau di Sibayak, parkir beda, ke toilet beda lagi. Tau sendiri kan kalau udara dingin bawaannya mau pipis mulu. Sekali ke toilet udah 3 ribu kalau di Sibayak.

3 tenda sudah terpasang. Personil sudah terkumpul lengkap. Cowok-cowok pada ngobrol di luar sambil ngeteh dan ngopi. Saya, Icha, Aisyah, dan istrinya bang Yogi milih masuk tenda. Ngobrol ngalor ngidul kemudian tertidur sebentar. Ia sebentar. Karena beberapa saat kemudian pagi sudah menghampiri.

camping
tiga tenda berjejer (motonya pas udah pagi :D)

Meski suasana masih remang-remang, berkabut dan dingin, kami tetap keluar untuk melihat sekitar. Tak ingin ketinggalan momen matahari terbit. Tapi apa mau dikata, kabut menyelibuti dengan begitu tebalnya. Jadi lah kami hanya duduk-duduk bercanda ria sambil wefie.

ornamen khas suku karo
ada 2 bangunan dengan atap khas rumah adat Karo yang terdapat di Bukit Gundul ini.

pesona wisata sumatera utara
Pagi yang berkabut
bukit gundul sipiso-piso
Kalau camping gini urusan dapur dipegang oleh para cowok :D

ngetrip bareng sahabat
Sementara cowok-cowoknya nyiapin sarapan, cewek-ceweknya wefie-wefie manjah :D
camping bareng teman
Kita wefie lagi kakaaaa... :D

Usai berfoto ria, duduk-duduk ngeliatin yang masak, yang cowok milih berdiri sambil ngobrol-ngobrol

Menurut yang sudah kesini, jika cuaca cerah, pemandangan di Bukit Gundul ini cantik dan menawan. Dari bukit ini kita bisa menyaksikan Danau Toba, rumah dan ladang penduduk, juga gunung dan perbukitan hijau.

pagi penuh kabut
Pemandangan Danau Toba yang tertutup kabut, tetap menawan



Sampai kami bergerak pulang dan matahari sudah muncul, tetap saja pemandangan di bawah tak terlihat. Terhalang kabut. Banyak yang menyayangkan karena kabut menutupi jarak pandang. Tapi saya pribadi nggak kecewa sih. Karena pagi berkabut ternyata juga punya pesona tersendiri buat saya. Jarang-jarang kan ngerasain suasana pagi diselimuti kabut tebal begini. Jadi berasa dipeluk. Dingin. Tapi hati rasanya tentram. Hangat.

fans sheila on 7
Ini nih kedan-kedan dari Sheilagank Sumut

sheilagank sumut
pengennya wefie dengan background Danau Toba, tapi yang kelihatan justru kabut, ora popo, yang penting wefie :D

Suasana pagi berkabut itu rasanya romantis, tetapi juga sekaligus mistis *apaan coba*. Membuat saya jadi ingin merangkai kata-kata puitis. Terkenang masa-masa manis hingga hati terus saja berucap syukur atas nikmat yang seakan tak pernah habis. Ah, beginilah rasanya pagi dipeluk kabut di Bukit Gundul. Syahdu.

Kaus kaki berlumpur dan kabut pagi. Romansa pagi yang menyenangkan.

Bunga liar yang tumbuh di sekitar bukit gundul Sipiso-piso

bukit gundul sipiso-piso
Tanaman liar di bukit gundul sipiso-pios

indahnya embun di pagi hari
Jarang-jarang liat embun pagi gink

bunga hutan
Suka liat bunga-bunga liar ini :)



Perjalanan yang penuh rintangan dan kelelahan karena kendaraan yang tidak sehat rasanya terbayar sudah dengan kesyahduhan pagi yang ditawarkan Bukit Gundul. Tak mengapa tak dapat melihat indahnya pemandangan Danau Toba dari puncak Bukit Gundul ini. Anggap saja itu pertanda bahwa saya harus kesini lagi. Suatu saat nanti.

sheilagank sumut
Yang packing cuma 2, yang mandorin banyak :D

sheilagank sumut
sebelum pulang, foto bersama dulu #Sheilaganksumut


bukit gundul sipiso-piso
perjalanan pulang. masih tetap berkabut mameeen


Kalian pernah ke Bukit Gundul? Ngerasain ngos-ngosan karena motornya tak kuat menanjak nggak? Atau malah jatuh hati pada syahdunya kabut pagi yang memeluk diri di Bukit Gundul? Share ya :)

ASIKNYA BERSANTAI DI BUKIT KUBU BERASTAGI

06.35 45
wisata sumut
Asiknya bersantai di Bukit Kubu Berastagi

Asiknya Bersantai di Bukit Kubu Berastagi – Wisata Berastagi : Berastagi, daerah yang terletak di dataran tinggi Tanah Karo ini selalu menjadi salah satu pilihan bagi warga Medan saat ingin melipir sejenak dari kepenatan hari-hari. Alasannya selain jarak tempuhnya yang hanya berkisar 2 jam, udara yang sejuk, juga pilihan tempat wisata yang lumayan beragam. Salah satu tempat menarik yang asik untuk bersantai adalah Bukit Kubu.

Bukit Kubu sebenarnya adalah nama hotel di Berastagi. Namun kita bisa bersantai di area hotel ini tanpa harus menginap. Tentunya dengan membayar tiket masuk. Lah.. masuk areanya doang bayar? Iya, soalnya area sekitar hotel yang berupa halaman luas dengan rumput hijau bak lapangan golf ini emang asik buat dijadikan tempat bersantai. Semacam piknik gitu deh. Cocok untuk piknik asik bersama keluarga. Tapi bersama teman atau siapapun tetap ideal sih. Intinya cocok untuk segala usia :D

Saya baru sekali merasakan asiknya bersantai di Bukit Kubu Berastagi. Sebenarnya saya kesini masih barengan dengan waktu saya mengunjungi air terjun Sikulikap di Penatapan dan pagoda emas di Taman Alam Lumbini. Ya semacam trip sehari gitu deh. Sekali berangkat dua tiga tempat wisata dikunjungi.

Baca juga : Cantiknya Pagoda Emas di Taman Alam Lumbini – Berastagi.

Jadi kemarin itu habis trekking-trekking manja ke Air Terjun Sikulikap, minum teh dan jagung bakar di Penatapan, lalu mengunjungi pagoda emas di Taman Alam Lumbini, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Kubu untuk bersantai sejenak sebelum lanjut lagi ke Bukit Gundaling untuk melihat sunset. Ini saja udah berbeda daya tarik tiap tempat yang dikunjungi, belum lagi objek wisata lainnya yang kami lewatkan. Lebih beragam lagi.

Baca juga : Air Terjun Sikulikap, Keindahan Lain Hutan Penatapan

Tiket masuk ke Bukit Kubu berbeda-beda tergantung jenis kendaraan yang gunakan. Kami dikenakan tiket 30 ribu karena menggunakan sepeda motor. Kalau bus atau mobil pribadi beda lagi harganya. Kalau jalan kaki? Tetap bayar, 15ribu per orang.

entrance fee
Tarif masuk ke Bukit Kubu
Tiket tersebut sudah termasuk biaya parkir dan sebuah tikar untuk alas duduk. Tapi info yang saya baca dari blog lain menyebutkan kalau tiket masuk juga sudah termasuk sebuah layang-layang. Mungkin karena kami sudah dewasa makanya tidak diberi layang-layang. Berarti next time kesini harus sudah punya anak nih eheheee

Daya tarik Bukit Kubu terletak di kontur tanah yang berbukit-bukit berbalut rumpun hijau nan bersih. Udaranya yang sejuk membuat tempat ini tetap asik untuk dikunjungi meskipun pada siang hari nan cerah. Saya sarankan sih kalau kesini bawa jaket *nggak Cuma kesini, pokoknya kalau ke Berastagi emang musti bawa jaket deh*. Soalnya kan dataran tinggi, sorean dikit langsung kerasa dinginnya.
Setelah memarkir sepeda motor dan menerima tikar dari petugas Bukit Kubu, kami pun langsung mencari tempat buat bersantai ria. Lumayan banyak pengunjung hari itu. Tapi karena halamannya luas, jadi tak perlu takut tak mendapat tempat.

family time
Halamannya luas, jadi nggak usah takut nggak dapat tempat :)
Kami memilih tempat di samping sebuah bangunan, tempat yang sedikit miring, semacam badan bukit begitulah kira-kira. Jadi sambil tidur-tiduran tetap bisa memandang keceriaan anak-anak bermain layang-layang di padang rumput luas yang lebih rendah.

layangan
Sambil tiduran sambil liatin anak-anak main layangan
keceriaan anak-anak
Bermain layang-layang
Kala itu, langit sebagian cerah, tapi sebagian juga awan tampak menggantung kelabu. Sambil tiduran, pandangan saya berganti-ganti antara melihat anak-anak bermain dan langit yang maha luas. Semilir angin malah membuat saya ingin memejamkan mata. Tidur. Iya tidur. Sungguh asik loh. Tiduran di padang rumput dengan udara sejuk, angin semilir *kadang malah cukup kencang*, dan suara keriuhan anak-anak. Ah, nikmat Tuhan yang manakah yang saya dustakan :)

bukit kubu hotel
Jika mau beli layangan, balon, gelembung udara, atau mainan anak lainnya, bisa di tenda-tenda di bawah sana
Buat penggemar fotographi atau yang hobi selfie, Bukit Kubu Berastagi ini mendukung banget untuk kegiatan jeprat-jepret. Banyak objek yang bisa diabadikan. Cuma kemarin mungkin karena saya sudah cukup lelah abis trekking ke Air Terjun Sikulikap terus dilanjutkan ke Taman Alam Lumbini, jadi waktu ke Bukit Kubu ini saya cuma leyeh-leyeh, tiduran di atas tikar. Foto-foto juga cuma sekenanya saja. Cuma satu spot saja. Itupun niat nggak niat. Abisnya angin dan udaranya menggoda banget sih. Jadi kalau kalian kurang puas melihat foto-foto saya, harap maklum ya :D

penginapan berastagi
Kalau langitnya cerah pasti bakal lebih kece pemandangannya

Selain bersantai leyeh-leyeh seperti saya, beberapa aktifitas lain yang bisa dilakukan di Bukit Kubu adalah flying fox, berkuda, mobil remot untuk anak-anak, ataupun naik delman/sado. Bawa makanan dari rumah juga tak dilarang meski mereka juga punya kantin yang menjual mie instan. Tapi tolong jaga kebersihan ya. Soalnya walaupun ada petugas kebersihan yang selalu membersihkan tempat ini, tetap saja kita harus menjaga kebersihan. Masak manja banget sih sampah kita orang lain yang bersihin. Malu tau!
turis baik
Bersih. Jadi jangan nyampah ya guys
Saya sebenarnya masih ingin leyeh-leyeh disini. Tapi gerimis turun sore itu. Kami pun segera menggulung tikar, menyerahkannya ke petugas *kalau kita biarin aja disitu juga bakal diambil petugas sih. Cuma kemarin kan hujan, jadi kasian kalau tikarnya basah sebelum diambil petugas. Makanya kami inisiatip menggulung dan memberikan ke mereka sembari jalan ke parkiran*.

wisata medan
Cuacanya bikin galau antara melanjutkan ke Bukit Gundaling atau pulang ke Medan
Kami menunggu gerimis redah di parkiran sepeda motor yang kebetulan bersisihan dengan kantin. Jadi ada tempat berteduhnya. Ada satu tempat lagi yang ingin kami tuju, tapi karena gerimis, kami pun bimbang antara melanjutkan atau langsung kembali ke Medan.

Dari tempat parkir, saya memandangi bunga-bunga yang tumbuh di depan sebuah bangunan. Juga rumput hijau yang memenuhi halamannya. Ah, saya suka sekali suasana seperti ini. Hijau, sejuk. Jadi kepikiran untuk merasakan pengalaman menginap di Bukit Kubu Hotel Berastagi ini. Tapi tidak sekarang karena kami memang tidak berencana menginap. Mungkin lain waktu.

bukit kubu asri
Suka lihat pemandangan ini


Kalian pernah ke Bukit Kubu Berastagi?! Apakah juga tergoda dengan rerumputan hijau dan udaranya yang sejuk seperti yang saya alami?!

MENJADI DUTA DAMAI DUNIA MAYA

12.13 4
internet sehat
Menjadi duta damai dunia maya.
Menjadi Duta Damai Dunia Maya : Dunia maya. Ah, mungkin kita berpikir dunia maya hanyalah sebuah dunia semu yang sama sekali tak nyata. Itu dulu. Setidaknya sebelum internet ada. Saat ini, dunia maya adalah dunia nyata lain di samping kehidupan nyata (berwujud) sehari-hari. Kini dunia maya bukanlah sekedar dunia ilusi, melainkan dunia yang memang ada.

Dunia maya kini diidentikkan dengan internet. Sebagian orang mungkin beranggapan dunia maya hanya sebatas sosial media, tempat orang-orang mengaktualisasikan diri. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Dunia yang tak sekedar tempat untuk mencari informasi, tetapi juga berkomunikasi dan bersosialisasi. Perannya kini cukup besar dalam mempengaruhi kehidupan kita secara nyata. Lihat saja, orang kini berbisnis lewat internet. Mencari alamat lewat internet. Berkenalan bahkan bertemu jodoh juga lewat internet.

Dunia maya memiliki berpengaruh besar bagi kehidupan nyata. Lihat saja bagaimana saat musim pemilihan umum para partai dan calon-calonnya ramai berkampanye lewat internet. Atau bagaimana sebuah organisasi mengkampanyekan suatu isu.

Begitu besarnya peran internet tentu memudahkan kita. Tapi hati-hati, kita juga bisa terpengaruh hal-hal negatif jika tak bijak berinternet. Salah satu bahaya internet adalah munculnya situs-situs organisasi radikal dengan tujuan-tujuan golongan mereka. Situs-situs ini biasanya kontennya berisi kebencian dan seringnya justru berisi informasi dan data yang melenceng dari fakta yang ada. Tujuannya tak lain adalah untuk memprovokasi para pembaca yang umumnya adalah orang awam.

Teror Dunia Maya
Internet memang memiliki banyak manfaat bagi mereka yang tau dan mau menggunakannya dengan bijak, namun disisi lain internet juga merupakan teror menyeramkan yang mengganggu kenyamanan siapa saja.

Teror : usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan (kbbi.web.id)

Merujuk pada pengertian di atas, saya melihat ada begitu banyak teror di internet. Tak melulu tentang bom-boman atau organisasi-organisasi radikal yang diidentikan dengan suatu agama. Ada banyak teror lain di internet yang juga harus kita perangi.

Saya ngeri melihat foto-foto korban perang, bencana alam, atau kekerasan lainnya yang ditampilkan secara vulgar di internet. Jujur foto ataupun video vulgar masih suka terngiang-ngiang di kepala saya meski saya sudah tidak melihatnya.

Saya ngeri dan takut melihat berita-berita tentang pembunuhan, pemerkosaan, kekerasan seksual, yang bahkan pelakunya adalah mereka yang masih berusia muda. Usut punya usut, mereka terdorong melakukan tindakan tersebut karena sering melihat video kekerasan, ataupun video porno di internet.

Saya sampai bergidik saking merasa betapa dunia ini sudah tidak aman *bagi kaum perempuan* saat melihat sebuah akun sosial media yang isinya adalah tokoh online yang menjual obat perangsang perempuan.

Saya sungguh tidak nyaman saat halaman facebook saya isinya adalah link-link situs dan gambar porno.

Saya juga sampai geleng-geleng kepala saat dua orang yang saya kenal sampai bermusuhan hanya karena balas-balasan komentar di status sosmed.

Saya… ah dari tadi saya saya mulu, bakal panjang bener kalau di list semua. Buat saya hal tersebut adalah teror karena menimbulkan kengerian di hati saya. Belum lagi masalah produktifitas orang-orang yang menurun akibat kebanyakan main sosmed. Meski di sisi lain banyak juga justru makin produktif setelah berinternet. Internet seperti pisau, bisa dipakai buat ngupas mangga, bisa juga buat melukai orang.

Menjadi Duta Damai Dunia Maya
Istilah duta damai dunia maya sebenarnya saya kenal saat mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) Oktober tahun lalu *kalau tak salah ingat*. BNPT memang tengah gencar mengkampanyekan dan merangkul generasi muda untuk bersama-sama menciptakan kedamaian, salah satunya dengan cerdas di dunia maya. Sebab memang tak dapat dipungkiri bahwa organisasi terorism telah memiliki pola baru dalam upaya penyebaran ideologi mereka serta perekrutan anggota. Saat ini ada begitu banyak situs-situs berpaham radikal dapat diakses bebas oleh siapa saja, termasuk anak-anak.

Tapi saya tidak akan bercerita panjang tentang BNPT meski saya tertarik untuk membahas tentang terorisme secara lebih lanjut lagi. Tentunya bukan teroris dalam artian organisasi/orang yang suka sok oke ngebom sana-sini atau bunuh orang terus foto-foto selfie.

Saya *dan juga kalian* tentunya tak ingin terus-terusan wall sosmednya dipenuhi link-link porno, berita-berita hoax, mengerikan, dan perang komentar dari orang-orang sekitar. Tapi sedihnya, kadang tanpa sadar kita juga ikut pula menjadi pelaku teror dengan menyebarkan link, foto, video, atau bahkan status bernada kebencian. Terus, sebagai pengguna internet, kita harus gimana dong?!

Menurut saya, kita bisa kok ambil bagian untuk memerangi dampak negarif dunia maya. Sebagai blogger dan penggiat sosmed, ada beberapa tips yang bisa kita terapkan. Tips-tips ini saya dapatkan saat mengikuti workshop BNPT dan juga berdasarkan hasil pemikiran pribadi :

1. Jangan terburu-buru share
Ini sering sekali terjadi. Seseorang membagikan sebuah link berita dengan judul provokatif. Ketika ditanya isi beritanya, ternyata orang yang membagikan mengaku tidak tau dengan pasti. Hanya membagikan link tanpa melihat isi linknya. Biasakanlah membaca terlebih dahulu isi link yang ingin kita bagikan. Jangan hanya karena judulnya menarik saja.

2. Cek & Ricek
Meskipun sudah membaca isinya, tetap saja cek dulu kebenaran dari status, isi link yang ingin kita bagikan. Secara saat ini banyak sekali berita hoax beredar. Dan sedihnya justru link berisi berita hoax ini malah banyak sekali yang membagikan. Ingat kejadian kerusuhan di Tanjung Balai beberapa waktu lalu? Kerusuhan tersebut pecah karena status seseorang di sosial media yang setelah ditelusuri ternyata statusnya ngawur. So, jangan buru-buru percaya, pastikan dulu kebenaran dari suatu info yang kita dapat.

3. Bandingkan dengan situs yang lebih terpercaya
Jika ragu dengan sebuah berita di sebuah link yang beredar, mungkin kawan-kawan bisa merujuk ke website-website yang selama ini terpercaya dengan berita-beritanya.

4. Berkomentarlah dengan bijak
Jika ada peribahasa yang mengatakan mulutmu harimaumu, maka kini saya punya istilah jarimu pisaumu. Ingat, pisau bisa digunakan untuk mengupas mangga *kenapa dari tadi mangga terus yang saya sebut ya*, dan juga bisa menusuk orang. Seringkali sebuah pertengkaran di dunia maya *yang merambat ke dunia nyata* berawal dari ajang saling berkomentar. Salah satu pihak merasa tersinggung, lalu kemudian jadi lah. Perang komentar yang tak terhindarkan. Tak jarang juga berujung pada permusuhan di dunia offline.

Kata-kata itu multitafsir. Kita anggap biasa saja, orang lain bisa saja mengartikan berbeda. Jadi jangan biarkan jari-jari kita mengetik kata-kata yang dapat memicu pertengkaran ataupun bernada provokasi.


5. Lapor
Tau nggak sih kalau kita bisa melaporkan situs yang menurut kita mengandung unsur-unsur radikalisme. Di Facebook kita bisa juga loh melaporkan link, foto, video yang berisikan hal-hal tidak baik.

6. Bijak dalam memosting
Baik bagi blogger ataupun penggiat sosmed, ingatlah bawa apa yang kita posting akan dibaca banyak orang. Jika yang kita posting adalah hal-hal yang berbau kebencian, negative, maka aura itu pula yang akan dirasakan para pembaca. Jadi, alangkah baiknya kita posting yang positif-positif saja.
Jika para blogger dan penggiat sosmed bersatu dan ramai-ramai memposting hal-hal positif, mudah-mudahan situs-situs negative akan tergeser posisinya.

Yaps, itulah sekilas tulisan saya tentang pisau bermata dua bernama internet. Tinggal kita yang mau menggunakan pisau itu untuk apa.

Sudah ya, saya mau ngupas mangga dulu :D

Eh, kalau ada tips lain untuk Menjadi Duta Damai Dunia Maya, share di komentar ya :)

Foto : moslemforall[dot]com

Notes : Tulisan ini terinspirasi dari postingan mbak Indah Julianti Sibarani di emak2blogger



FINAL GRAMEDIA READING COMMUNITY COMPETITION 2016 : MEMBACA ITU KEREN!

22.49 0
membaca itu keren
final gramedia reading community competition 2016 
Final Gramedia Reading Community Competition 2016 : Membaca itu keren! - Membaca itu keren, kalimat tersebut begitu membekas di kepala saya. Iya, membaca itu keren. Karena dengan membaca, hal-hal besar bisa lahir dan tercipta. Karena dengan membaca kita terhindar dari kebodohan dan dibodoh-bodohi.

“Membaca itu keren. Jadi bilang ke temennya yang ngaku keren, kamu nggak pantas dibilang keren kalau nggak baca,” itulah kalimat yang diucapkan oleh Suwandi S. Brata, Publishing and Education Director PT Gramedia Asri media saat memberikan kata sambutan pada acara Final Gramedia Reading Community Competition 2016 regional Sumatera pada 06 Agustus 2016 di Convention Hall 1 Santika Dyandra Hotel Medan.

Saya hadir sebagai undangan di acara yang merupakan puncak adu kreativitas komunitas baca dari Pulau Sumatera ini bersama 3 perwakilan Blog M (Blogger Medan) lainnya.

Setelah cukup bosan menunggu sampai menyibukkan diri dengan jeprat-jepret bunga di meja, acara pun dimulai sekitar pukul 09.00 WIB *di undangan dibuat jam 7 pagi :D*. Dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Ir, Syaiful Bahri yang mewakili walikota Medan, juga beberapa perwakilan instansi pemerintahan, acara dibuka dengan pertunjukkan tarian daerah dari tim Gramedia Medan.

bungan daisi
Menunggu acara dimulai, jeprat-jepret dulu deh

pembukaan acara
Acara dibuka dengan tarian daerah

Membaca itu keren. Saya suka dengan kalimat ini. Orang yang membaca, tidak hanya terlihat keren. Tapi memang keren karena kepalanya pasti berisi berbagai pengetahuan. Seperti yang diceritakan Suwandi S. Brata, orang yang suka membaca dan yang tidak membaca akan terlihat dari cara berpikir dan bertindak. Pria yang saat menjadi editor mengaku membaca 150-an judul buku per tahun ini bercerita, seandainya ada puluhan ekor sapi yang masuk ke ruangan acara lalu membuang kotorannya di ruangan tersebut, maka orang yang gemar membaca tentu akan tau bahwa kotoran sapi memiliki kandungan yang dapat dimanfaatkan. Orang yang membaca pasti akan mengolah kotoran sapi menjadi hal berguna. Sedangkan orang yang tidak membaca hanya akan menganggap hal tersebut hanya kotoran.

Namun sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. Dari 120 negara, minat baca orang Indonesia berada di peringkat 64. Di bawah garis tengah dari jumlah negara yang disurvey. Tentu ini kondisi yang memprihatinkan. Jika anak-anak Indonesia malas membaca, bisa dibayangkan akan seperti apa negeri ini ke depannya.

“Dengan membaca kita mendapat inspirasi. Inspirasi mengubah cara pandang. Anak-anak di masa kini adalah Indonesia di masa depan,” tutur Suwandi.

Upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat khususnya generasi muda Indonesia dilakukan PT Gramedia Asri Media dengan mengadakan kompetisi nasional Gramedia Reading Community Competition 2016 yang untuk regional Sumatera finalnya diadakan di Medan. Sebanyak 815 komunitas dan taman baca dari seluruh Indonesia mengikuti kompetisi ini. Jumlah peserta ini baru terhitung 10% dari jumlah taman baca yang ada di Indonesia yang mencapai 8 ribuan.

Dari 815, tim Gramedia kemudian menyeleksi menjadi 120 tim, kemudian menjadi 50 tim peserta yang tiap regional terdiri dari 10 tim peserta. Melalui poin penilaian konsistensi, kreativitas, dan manfaat keberadaan komunitas bagi masyarakat sekitar, tim juri pusat bahkan melakukan verifikasi ke tiap komunitas yang terpilih menjadi finalis.

Untuk regional Sumatera, 10 tim yang berhasil menjadi finalis adalah : Medan Generasi Impian (Medan), Bengkel Sabda (batam), Ruang Baca Tanah Ombak (Padang), Alusi Tao Toba (Samosir), Perpustakaan Remasni (Padang), Sahabat Ilmu Jambi (Jambi), TBM Ar-Rasyid (Aceh), Rumah Belajar Ceria (Palembang), Forum Anak Batam (Batam), dan Rumah Belajar Kasih Untuk Bangsa (Medan).

Nah di acara final ini para finalis diberi kesempatan untuk mengenalkan komunitas mereka pada undangan yang hadir. Juga memaparkan tentang kegiatan, prestasi, dan hal-hal yang akan dilakukan seandainya menjadi pemenang.

reading competition
Para finalis memaparkan tentang komunitas mereka
Pesertanya keren-keren. Saya selalu memberi applause ke tiap finalis. Rasa-rasanya kok ya jadi ikutan bangga dan bersemangat melihat mereka yang mau bersusah payah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendirikan taman baca di lingkungan mereka. Harapan saya untuk Indonesia yang dipenuhi generasi yang rajin membaca kok ya jadi muncul. Salut bener deh sama mereka. Sungguh menginspirasi.

Inspirasi lain datang dari Rizky Syahfitri Nasution (Founder Medan Heritage) dan Butet Manurung (Co-Founder Sokola Rimba). Kedua orang ini tak asing buat saya. Rizky Nasution bercerita tentang bagaimana kegelisahan-kegelisahan akan semakin minimnya perhatian masyarakat Medan terhadap asset sejarah yang dimiliki kota ini membuatnya mendirikan Medan Heritage, mengajak komunitas-komunitas lain untuk saling bersinergi, berkarya dan melestarikan warisan kota. Tak sekedar bercerita, ia juga membagikan tips-tips bagaimana sebuah komunitas dapat menjalankan fungsi kebermanfaatan bagi masyarakat.

Butet Manurung menceritakan awal mula ia berkeinginan untuk bekerja di hutan, pengalaman-pengalamannya mengajar Suku Anak Dalam dan suku-suku lainnya yang umumnya berada di hutan dan terisolir. Saya sungguh miris mendengar cerita Butet tentang bagaimana suku-suku tersebut ditipu oleh masyarakat luar karena mereka tidak bisa baca tulis. Di tengah kehidupan digital saat ini, ternyata masih banyak orang Indonesia yang buta baca tulis :(

sokola rimba
Butet Manurung tengah berbagi kisah kepada yang hadir

Dan puncak acara pun tiba,pengumuman pemenang Gramedia Reading Community Competition 2016 regional Sumatera. TBM Ar-Rasyid Aceh berhasil memenangkan 2 kategori, juara favorit dan juara 3. Juara dua diraih oleh Alusi Tao Toba Samosir, sedangkan Ruang Baca Tanah Ombak Padang berhasil menjadi juara 1.  Pemenang berhak mendapatkan development funding berupa uang tunai, trofi, sertifikat, dan bantuan buku selama 1 tahun ke depan dari Gramedia.

Selamat kepada para pemenang. Juga pada para finalis. Semoga perjuangan kalian menggaungkan dunia literasi di negeri ini, dimudahkan dan didukung semesta.

the winner
Selamat pada para pemenang. foto : susan

Sekian tulisan saya tentang Final Gramedia Reading Community Competition 2016 : Membaca itu keren! Yuuk banyak baca, karena membaca itu keren :)

KULINER ENAK MEDAN : BAKSO JERUK NIPIS YANG MAKNYUS DAN CURHATAN YANG TIBA-TIBA

11.30 24
kuliner enak medan
Kuliner enak Medan : Bakso Jeruk Nipis

Kuliner Enak Medan : Bakso Jeruk Nipis yang Maknyus dan Curhatan yang Tiba-tiba - Pertama kali tau tentang bakso jeruk nipis ini karena membaca status dan foto BBM seorang kawan. Di statusnya dia bilang kalau ini bakso paling enak sedunia. Saya pun jadi penasaran. Langsung ngajak chat dan tanya-tanya. Ternyata warungnya tak jauh dari rumah kontrakannya saya. Hohohoo… wajib dicoba nih.

Sebenarnya nama warung baksonya adalah Warung Albarokah Cak Min. Cuma waktu saya tanya alamat dan nama warungnya, teman saya bilang tidak ada nama warungnya. Dia dan teman-temannya biasa menamainya dengan sebutan Bakso Jeruk Nipis karena disediakan potongan jeruk nipis seperti kalau kita hendak makan Soto Medan.

Nah di Sabtu siang yang panas kemarin, saya yang awalnya mau makan di warung nenek langganan saya di Jalan Tuamang, Pancing – Medan tiba-tiba berubah pikiran saat teringat bakso jeruk nipis yang diceritakan teman saya. Jadilah saya berbelok ke Jalan Pimpinan, Pancing – Medan untuk mencoba bakso jeruk nipis yang katanya bakso paling enak sedunia ini.

Tidak sulit menemukan warung bakso ini meski hanya warung bakso sederhana. Jika masuk dari Jalan Pancing (Jalan Williem Iskandar), tepat di sebelah masjid At-Tawwabin ada jalan bernama Jalan Pimpinan, nah masuk ke situ (sebelah kiri jika dari arah Aksara). Fokus saja ke sebelah kiri, tak jauh dari jalan masuk itu ada warung bakso di sebelah kiri jalan. Tepat di depan steling warung bakso itu ada sebuah pohon yang menghalangi tulisan Warung Albarokah Cak Min (selain karena memang tulisannya sudah samar dimakan usia dan tertutup debu). Itulah warung bakso jeruk nipis.

kuliner murah
Tulisannya ketutupan pohon yang tumbuh tepat di depan warung ini
Saya awalnya hanya feeling saja karena saat saya lihat banyak pembelinya. Ternyata dugaan saya tak meleset. Setelah masuk ke teras yang dijadikan tempat jualan itu, saya lihat ada piring plastik kecil di atas meja berisi irisan jeruk nipis. Jadi kalau kalian ingin kesini dan ragu, coba saja lihat ada piring kecil berisi irisan jeruk nipis di atas meja atau tidak. Kalau ada berarti kalian tak salah masuk warung :D

Untungnya saat saya datang bertepatan dengan yang hendak pulang. Jadi ada bangku untuk saya. Soalnya siang itu pembeli penuh. 2 buah meja panjang, semuanya penuh pembeli. Satu meja panjang berisi anak sekolah dengan seragam pramuka *di seberang masjid At-Tawabin memang memang ada 2 sekolah, MAN 1 dan MAN 2 Model*, sementara meja tempat saya duduk diisi oleh cewek-cewek yang saya perkirakan adalah mahasiswa yang kos di sekitaran Jalan Pimpinan *kawasan ini memang banyak tempat kos karena dekat dari beberapa kampus*.

kuliner medan
Pengunjung penuh hari ini :)
Ibu penjual tampak terlihat sedang sibuk melayani pesanan, selain kami yang makan di tempat, ada 2 orang yang memesan untuk dibawa pulang. Saya memilih duduk melihat-lihat saja dulu karena si ibu sedang sibuk. Tapi kemudian ia bertanya hendak pesan apa pada saya dan 2 orang di depan saya yang juga baru datang. Saya jawab bakso dengan mie putih. Pake sayur, tanyanya. Saya jawab iya.

kuliner medan murah
Ibu dan bapak penjual sedang sibuk menyiapkan pesanan
Sambil menunggu pesanan, saya memperhatikan sekitar. Ada dua buah kipas angin kecil bergantung di atas, di samping meja saya ada galon air minum untuk pembeli. Sementara di atas meja, selain kecap, saus, dan sambal cabe ijo, hal lain yang tersedia adalah piring plastik kecil berisi irisan jeruk nipis, cangkir, tisu, dan mangkuk kecil berisi garam halus.  Hmmm… dari sini saya sudah menemukan poin plus warung bakso sederhana ini. Sering saya menjumpai warung bakso dan mie ayam yang kuahnya asin. Tapi dengan disediakannya mangkuk garam, saya berkesimpulan kalau kuahnya pasti tidak asin. Oya, ada juga piring berisi sate kerang, jeroan, dan sate ceker. Satu tusuk dibanderol 2 ribu.

irisan jeruk nipis
Bumbu tambahan, irisan jeruk nipis dan garam menjadikan warung ini berbeda
Untuk sate ini ternyata beda penjualnya. Sate di warung bakso jeruk nipis ini milik tetangga sebelah rumah. Mereka menyediakan sate, gorengan, dan minuman berupa es aneka rasa dan es kelapa muda. Saya tidak memesan minuman. Hanya merasai sate kerangnya. Setusuk sate kerang isinya cuma 3 buah kerang. Hmm.. kerang memang mahal ya :D eh tapi memang ukuran kerangnya lumayan besar sih. Terus rasa kerangnya juga kerang baru sepertinya, soalnya masih terasa segar dagingnya, bumbu satenya enak cuma sedikit asin. Sedikit sih, masih bisa saya maafkan. Saya habis 2 tusuk sate kerang *gaya bilang asin tapi abis 2 tusuk*.

kuliner enak
sate kerang, 1 tusuk isinya 3 (abaikan piringnya yang celopetan)
Pesanan saya datang. Pertama-tama yang saya lakukan adalah : memfotonya. Biar dikata alay foto-foto makanan, tapi kalau nggak difoto ya saya nggak punya foto yang bisa saya share di tulisan ini. Jadi ritual memfoto makanan sebelum dimakan itu sah-sah saja bagi seorang blogger *pembenaran*.
Kebiasaan saya makan makanan yang pakai tambahan (saus, kecap, sambal, mayonais dll) adalah mencicipinya sebelum ditambah ini-itu. Kuahnya cukup segar. Lidah saya juga tak bereaksi layaknya ketika makan makanan yang terlalu banyak penyedapnya. Saya tidak bilang kalau bakso jeruk nipis ini nggak pakai penyedap loh ya karena memang saya tidak tau pasti, cuma memang waktu saya rasakan pertama kali, lidah dan tenggorokan saya berasa aman-aman saja.

kuliner murah medan
Ini nih penampakan bakso jeruk nipis saat pertama kali datang

bakso jeruk nipis
Lebih dekat biar lebih jelas penampakan baksonya :D
Saya pun kemudian menambahkan sambal, saus, dan tentunya air perasan jeruk nipis. Rasanya? Pedas dan segar, maknyuss bro!!! Hmm.. sepertinya bakal jadi langganan nih kesini. Baksonya ada enam buah. 5 bakso berukuran kecil, dan 1 agak besar. Tekstur baksonya ringan saat dikunyah. Tidak terlalu padat ataupun keras. Oya, sayur yang dimaksud si ibu tadi ternyata adalah tauge dan irisan kecil kol. Keduanya mentah. Jadinya krenyes-krenyes saat dikunyah dan memberi tambahan efek segar. Buat yang nggak suka kedua jenis sayur ini bisa request kok supaya tidak usah dimasukkan. Tapi buat saya sih oke-oke aja, ya kan sekalian makan sayur. Sayur itu bagus tau buat kesehatan :D *ah nggak dikasi tau juga pasti udah pada tau*.

kol dan tauge
Penampakan setelah saya tambah saus, sambal, jeruk nipis, dan saya aduk. Tauge dan irisan kos sebagai campuran sayuran

Campuran lain dalam semangkuk bakso jeruk nipis ini adalah irisan tahu kopong. Tambahan tahu kopong ini semakin melengkapi perasaan nagih saya. Seporsi bakso saya habiskan dengan lahap dan hingga kuahnya pun nyaris tak tersisah. Entah karena lapar atau karena memang doyan, yang jelas saya sangat menikmati bakso jeruk nipis ini sodara-sodara.

bakso enak dan murah
Tinggal 4 buah bakso, mienya sudah habis duluan

bakso enak dan murah
Sekejap saja, semuanya habis nyaris tak tersisah :D

Usai melahap habis semangkuk bakso, saya tak langsung pulang. Pengunjung pun mulai berganti orang. Saat semua pengunjung sudah terlayani, si ibu penjual mengambil tempat di samping saya. Kebetulan saya duduk memang dekat ke steling tempat beliau meracik pesanan. Melihat si ibu duduk di samping saya, saya pun iseng mengajak ngobrol.

Dari obrolan tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa si ibu dan suaminya sudah lama berjualan disini. sejak anaknya berumur empat tahun, tepatnya 11 tahun yang lalu. Warung bakso jeruk nipis ini buka dari siang hingga habis *bisa malam bisa sore habisnya, tidak tentu katanya*. Jangan datang kesini pada hari Minggu ya, karena Minggu mereka libur.

“Dulu waktu awal-awal jualan tutupnya nggak tentu mbak. Minggu pun tetap buka. Kalau sudah terasa capek banget baru libur. Tapi sekarang Minggu libur. Istirahat mbak. Kalau dituruti, uang dicari berapapun nggak cukup-cukup mbak. Padahal nanti kalau kerja terus lalu sakit ya uangnya habis juga buat berobat,” ujar si ibu sambil tertawa, saya pun mengangguk-angguk setuju.

Memang sering sekali kita saking semangatnya cari rejeki sampai lupa kesehatan. Hmm.. ternyata kedatangan saya kesini tidak hanya mendapatkan tempat makan bakso yang enak, tetapi juga mendapat pelajaran dari ucapan si ibu barusan.

Namun begitu, ada juga hal yang dikeluhkan si ibu. Katanya, meski sudah sebelas tahun jualan, namun belum bisa mempunyai rumah sendiri. Awalnya saya pikir si ibu ngontrak di rumah sederhana yang terasnya dijadikan tempat jualan ini. Rupa-rupanya rumah tersebut adalah rumah keluarga besarnya. Milik bersama, begitulah kira-kira.

“Sabar bu, mudah-mudahan nanti ada masanya,” cuma itu kalimat yang bisa saya berikan padanya.

Si ibu mengangguk dan tertawa kecil. Sebenarnya ia cukup sabar. Cuma kadang ia merasa tidak enak juga dengan saudara-saudaranya yang lain.

“Saya kan nggak tau mbak apa yang ada di pikiran mereka, siapa tau mereka mikirnya saya enak banget dari pengantin baru sampai sekarang anak saya sudah besar, sudah SMP, saya terus yang menempati rumah ini. Dalam hati orang siapa yang tau mbak,” ucapnya.

Duuh saya jadi bingung mau ngomong apa tiba-tiba dicurhatin demikian. Moga-moga bisa segera punya rumah sendiri ya bu, ucap saya akhirnya.

Si ibu masih hendak cerita, tapi kemudian suaminya menyuruhnya membuat teh karena ada tamu datang. Ia pun segera bangkit. Ah saya belum sempat bertanya siapa namanya. Tapi semesta seperti mengetahui apa yang saya pikirkan. Karena tak lama setelah itu, suaminya berucap padanya :

“Mi, Suparmi,”

Dan saya anggap itu adalah nama si ibu :D

Beberapa saat kemudian, saya memutuskan bangkit, bergegas membayar dan berniat pulang. Semangkuk bakso jeruk nipis dengan kuah yang segar dan aneka campuran yang membuat rasanya maknyus itu saya bayar hanya dengan satu lembar uang 5 ribuan dan satu lembar uang 2 ribuan. 7 ribu rupiah untuk seporsi bakso dengan rasa yang tak mengecewakan itu saya rasa harga yang cukup murah. Mungkin karena kawasan ini adalah kawasan anak kos makanya mereka pun mematok harga yang bersahabat.

Sebelum pulang, saya pandangi warung bakso sederhana tersebut sembari berucap dalam hati : semangkuk bakso seharga 7 ribu itu, semoga bisa mewujudkan impian bu Suparmi untuk memiliki rumah sendiri.