SURAMADU DAN KULINER BEBEK SINJAY

14.59 1
suramadu bridge
Jalan-jalan ke jembatan Suramadu

Suramadu dan Kuliner Bebek Sinjay : Lagi-lagi saya posting cerita lama. Harap maklum saja lah ya, secara dulu saya belum secinta ini dengan dunia blogging. Jadi kalau sekarang lagi teringat pengalaman-pengalaman lalu, suka latah pengen buat postingannya. Apalagi kalau ada dokumentasi fotonya. Jadilah postingan baru cerita lama :D

Ini cerita waktu saya maen-maen ke Madura bareng dua orang teman saya lima tahun lalu *lima tahun mameeen, pastinya pipi saya belum se-chubby sekarang*

Sebenarnya dari awal berangkat ke Surabaya kami tidak ada niat ke jembatan Suramadu. Soalnya kami tidak ada yang tahu kalau ternyata jarak Surabaya-Suramadu hanya sekitar satu jam kalau naik sepeda motor. Maka ketika mbak Mun, salah satu kenalan kami di Surabaya memberitahu hal itu, kami pun heboh ingin main ke Suramadu.
Waktunya jalan-jalan!!

Kami berangkat mengendarai sepeda motor. Mbak Mun sendirian, saya dan Ulan boncengan. Surabaya puanas reek!!

Kami berhenti di tengah-tengah jembatan Suramadu. Seperti ini toh rasanya berada di tengah-tengah jempatan terpanjang di Indonesia hehehee… Berfoto-foto adalah hal yang wajib. Apalagi di jembatan dengan desain cantik ini. Kami pun mengabadikan momen ini dan menikmati pemandangan serta hembusan angin yang lumayan kencang. Usai berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan.

suramadu
Mumpung nggak ada kendaraan yang melintas, foto-foto dulu ah. Anginnya maksyuuur...

Kesan pertama yang saya tangkap saat menginjakkan kaki di pulau Madura adalah : panas dan gersang. Para pedagang berjejer di kiri-kanan di sepanjang jalan di dekat jembatan Suramadu. Jajanan, pernak-pernik, kaos, kain dan batik Madura dijajakan seadanya.

cindera mata
Penjual kerajinan untuk oleh-oleh di sisi kiri-kanan jalan
Kami memarkir sepeda motor di sisi kiri jalan. Masuk ke salah satu warung dan memesan minum. Es kelapa muda, ah.. segar! Sambil menikmati es kelapa muda saya update status, menjelaskan kalau aku lagi di Suramadu. Langsung dikomeni sama mbak Yuli, seorang sahabat yang juga tinggal di Surabaya.

Jangan lupa nyobain kuliner bebek Sinjay sist, manteep!! Eh jadi ke rumahku nggak hari ini. Kalau jadi sekalian aku nitip bebek Sinjay ya

Begitu komentar mbak Yuli di statusku. Bebek Sinjay? Apaan tuh? Segera saya bertanya pada mbak Mun. Mbak Mun malah geleng-geleng tanda tak tahu. Segera saya balas komen mbak Yuli.
Insyaallah ya mbak, kalau kesana. Rencananya sih abes ini mau ke pantai Kenjeran trus pulang ke Surabaya.

Usai menikmati es kelapa muda sambil memandangi kendaraan yang melintas, kami melihat-lihat barang-barang yang dijual di sepanjang kiri-kanan jalan. Aksesoris, gantungan kunci, hiasan dinding berupa jaranan lengkap dengan pecut dan celurit khas Madura, perahu nelayan dan aneka kerajinan dari kulit kerang dijajakan di tempat ini.
segar
Panas dan haus, minum es kelapa muda dulu sebelum melanjutkan perjalanan

Rencana awal kami hendak ke pantai Kenjeran yang artinya kami kembali ke arah Surabaya. Namun entah kenapa kami penasaran untuk masuk terus ke daerah Madura. Ingin merasakan sate Madura yang terkenal itu. Kondisi jalan cukup bagus. Jalanan tak begitu ramai. Kami melarikan motor kami tanpa tujuan pasti. Hanya mengikuti arah jalan saja.

Sampai masuk lumayan jauh ke wilayah Madura (dari penunjuk jalan yang kami baca kami menuju ke arah Bangkalan), kami tak menemukan warung sate Madura. Padahal di Medan sate yang terkenal itu sate Madura sama sate Padang. Lha ini di daerah Madura sendiri kok kami malah tak menemukannya. Yang banyak terbaca malah warung bebek. Waduh.. kok gini? Jadi mikir, di oleh-oleh khas Medan itu salah satunya Bika Ambon. Nah di Ambon sendiri ada nggak ya Bika Ambon dijual. Jangan-jangan Bika Ambon sama nasibnya kayak sate Madura. Di tanah orang terkenal, di daerah yang menjadi namanya malah biasa saja.

Saat kami hampir putus asa karena tak menemukan sate Madura dan hendak balik arah, mata saya tertuju pada satu plang besar berwarna orange bertuliskan “Warung Nasi Bebek Sinjay”. Pikiran saya pun langsung tertuju pada komen mbak Yuli di status FB saya. Kontan saja kami berniat untuk mencoba, secara kami memang belum makan siang. Warung dengan dekorasi dominan warna orange ini tampak ramai. Beberapa mobil dan kendaraan memenuhi sisi jalan. Melihat hal tersebut kami pun dengan semangat memarkirkan sepeda motor. Pengunjungnya ramai, pastilah karena rasa makanan di sini enak.

Kami segera mencari meja yang kosong dan memesan menu. Gileee…!! Ruamee bener coy!! Mbak-mbak di dalam yang melayani pemesanan sampai bingung. Sedihnya, bebeknya kosong karena banyaknya pesanan. Tinggal lah nasi+jeroan ayam. Kalau ngotot mau bebek sih bisa saja, tapi nunggunya bisa sampai dua jam-an, wedew!! Keburu pingsan kelaparan. Karena terdesak (suerr.. desak-desakan cuy saking ramenya) dan malas nunggu selama itu, kami pun memesan nasi+jeroan+teh botol.

Pesanan datang. Asikk!! Siap-siap mencoba kuliner Madura. Hajar!! Nasi putih, jeroan di goreng, teh botol dan.. sambal. Eh, tapi by the way itu sambal apa ya? Kok beda dari sambal di Medan? Untuk mengobati rasa penasaran, saya pun segera mengambil jeroan dan mencolekkannya ke sambal itu. Beugh.. pedas gilaa!! Tapi ada sedikit kecut-kecutnya (asam) gitu. Biasanya kan pedas manis, kalo ini pedas kecut.  Saya pandangi sambal berwarna kuning itu. Ada irisan-irisan kecil berwarna kuning bersatu dengan butiran-butiran cabai. Sambal apa sih ini?

“Kayaknya keistimewaan warung ini terletak di sambalnya, iya kan?”

Kedua teman saya mengangguk. Saya akui, sambalnya memang maknyus. Kami makan dengan lahap. Dalam hati saya masih berpikir, sambal apakah ini gerangan. Apa saja ya bahan-bahannya, kok rasanya benar-benar menggoyang lidah begini. Biasanya sambal warnanya kan merah atau ijo, atau hitam seperti sambal kecap, nah ini kuning. Selidik punya selidik, yang membuat sambal ini berwarna kuning muda adalah irisan mangga muda yang dicampur dengan sambal. Pantas saja rasanya pedas asam.
kuliner khas madura
Sayangnya cuma ini dokumentasi waktu di Warung Nasi Bebek Sinjay. Saking semangatnya malah nggak ada fotoin makanannya.

Sampai sekarang saya masih penasaran dengan bebek Sinjay meskipun sudah merasakan kelezatan sambalnya. Inilah yang saya suka dari travelling. Ada banyak hal yang tak terduga yang akan kita temui. Hal-hal yang membuat hati dan pikiran kita semakin kaya oleh pengalaman. Yah, makan siang waktu itu cukuplah untuk mengobati rasa kecewa kami karena tak menemukan warung sate Madura. Tapi tetap, sate Madura dan bebek Sinjay menjadi incaran saya kalau suatu saat main ke Madura lagi.

Kalian pernah mencari warung sate Madura di Madura? Ketemu? Atau malah melipir ke Warung Nasi Bebek Sinjay seperti saya dan dua teman saya :)

NONTON BARENG FILM UNTUK ANGELINE : BERURAI AIR MATA

01.15 12
berurai air mata
Nonton bareng film Untuk Angeline
Nonton Bareng Film Untuk Angeline : Berurai Air Mata – Masih ingat kasus Angeline? Gadis kecil yang awalnya dinyatakan hilang namun akhirnya diketahui dibunuh ibu angkatnya dan mayatnya dikubur di kandang ayam? Tahun lalu kasus Angeline mencuat dan membuat masyarakat geram dan mengecam keras kekerasan terhadap Angeline yang dilakukan ibu dan para saudara angkatnya.

Sebenarnya ada banyak kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Indonesia. Hanya saja sedikit yang terkuak publik. Gemparnya kasus Angeline ini membuat banyak pihak tergerak untuk bersama-sama mengkampanyekan gerakan melawan kekerasan terhadap anak. Tak ketinggalan para sineas film di negeri ini.

Film Untuk Angeline adalah film yang terinspirasi dari kasus Angeline beberapa waktu lalu. Film garapan rumah produksi Citra Visual Cinema ini adalah film kedua yang saya tonton selepas lebaran. Sebelumnya, seminggu setelah lebaran saya menonton film Rudi Habibie bersama seorang kawan.

Baca juga : Film Rudi Habibie (Habibie Ainun 2) : The Power of Childhood

Film Untuk Angeline tayang perdana di bioskop tana air pada Kamis 21 Juli 2016. Saya menonton bersama kawan-kawan dari KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) Medan pada penayangan perdananya. Sedikit informasi, KOPI adalah semacam wadah berkumpulnya jurnalis dan blogger yang senang berbagi hal-hal positif baik itu tentang film, seni, maupun hal lainnya.

koalisi online pesona indonesia
KOPI, Koalisi Online Pesona Indonesia
Awalnya, disepakati hendak menonton di Palladium Mall, tapi kemudian lokasi nonton dialihkan ke Hermes Place Medan karena ternyata pak Jokowi main ke Medan *main? dikira lagi hepi-hepi cantik si mr. President. Kunjungan ciiin.. kunjungan, ngomongin tax amnesty sama para pengusaha Medan*. Kebetulan lokasi acaranya mr. President di hotel Santika yang letaknya emang deketan dari Palladium Mall. Udah pasti bakal macet kan. Jadi atas pertimbangan itu lokasi pun berganti.

Kita sepakat nonton yang jam 12.15 WIB. Saya datang bareng Kak Tiwi. Di parkiran jumpa sama Kak Tami *yang ternyata junior saya di organisasi kampus*. Sampai di XXI Hermes Place udah ada Kak Hera, Kak Akieb, Temennya Kak Akieb, Kak Windo, dan Kak Akbar. Menyusul kemudian Kak Funy dan Kak Windy. Kak Ulfa dan Kak Kinah datang barengan beberapa saat sebelum film dimulai.

Langsung nonton? Nggak lah, foto-foto dulu dooong. Namanya juga insan yang hidup di jaman dimana  sosial media dianggap bagian dari eksistensi diri, so foto-foto wajib hukumnya *tapi di samping itu emang dasarnya kami gilfot sih, a.k.a gila foto*. Ulfa ngeluarin tongsisnya. Dan Kak Windy pun dengan tanpa paksaan merelakan hapenya buat mengabadikan kebersamaan siang itu. Oke, narsis dimulai, 1,2,3.. cekrek!

foto bareng
Wefie dulu..

narsis
Namanya juga ngumpul, so pasti foto-foto nggak ketinggalan

Saking asiknya wefie kami sampai jadi bahan perhatian pengunjung XXI lainnya. Bahkan ketika jalan menuju studio filmnya, Kak Windy dan Kak Tami sampai mau belok ke studio 3 padahal nontonnya di studio 6. Iyalah salah belok, wong fokusnya ke kamera mulu :D

About the film, udah pasti tau lah ya ceritanya tentang apa. Secara ini film memang terinspirasi dari kisahnya Angeline. Saya pribadi jujur sebenarnya nggak suka film beginian *film sedih maksudnya*. Bukan apa-apa, rasa-rasanya nonton sambil nahan nyesek di dada karena kebawa cerita sedih film tersebut itu kok ya gimana gituh. Gini-gini saya orangnya mudah tersentuh dan mewek loh. Jadi biasanya saya bakal nggak mau nonton film sedih karena selain mudah tersentuh saya juga bukan tipe cewek yang kemana-mana bawa tisu *kan nggak kece kalau saya ngelap air mata pakai jilbab*. Saya juga males nonton film laga dan perang-perangan karena menurut saya itu bikin capek. Genre film lain yang saya hindari adalah film horror karena seringnya hantunya nggak serem cuma sound dan musiknya sering buat kaget dan jantungan.

So, biasanya saya sih nonton film yang ringan-ringan, menghibur, tetapi juga punya pesan kuat untuk disampaikan ke penonton.

Trus kenapa mau nonton bareng film Untuk Angeline? Alasannya ada 2 sih : karena saya mendukung segala bentuk usaha untuk melawan kekerasan terhadap anak dan karena ini adalah kopdar pertama saya dengan kakak-kakak di KOPI. Iya jadi ceritanya saya baru beberapa waktu lalu bergabung dengan KOPI. Kita komunikasinya lewat grup WA aja. Jadi waktu ada yang mencetuskan ide buat nonton bareng film Untuk Angeline sekaligus kopdaran, saya langsung semangat ikut.
indonesian movie
Pamer tiket :D kopdar sekaligus nonton

Awal film dibuka dengan adegan di pengadilan dimana Samidah (ibu kandung Angeline, diperankan oleh Kinaryosih) bersaksi di pengadilan atas kasus kematian putrinya. Kemudian lompat ke adegan Samidah melahirkan di rumah sakit. Miskinnya kehidupan Samidah dan Santo (suaminya, diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana) membuat pasangan ini tak mampu membayar biaya persalinan.

Pertengkaran kecil pun terjadi. Santo sebagai suami merasa tertekan dan tak tahu harus mencari dana dimana. Kendati begitu, ia menolak mentah-mentah saat Samidah mengusulkan untuk menjual satu-satunya sepeda motor mereka.

Santo kemudian memutuskan untuk menyerahkan anaknya kepada Terry dan Jhon, pasangan suami istri yang tengah mencari anak perempuan untuk diadopsi. Sebagai kompensasi, Jhon dan Terry melunasi semua biaya persalinan dengan catatan Samidah dan Santo boleh menemui Angeline setelah Angeline berusia 18 tahun.

Awalnya Samidah menolak mentah-mentah. Naluri keibuannya tak rela jika harus berpisah dengan darah dagingnya. Tapi atas bujukan suaminya dengan alasan agar anak mereka bisa hidup layak, ia pun akhirnya setuju meski dengan hati teriris perih.

5 tahun berlalu. Samidah meninggalkan Bali untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun jarak dan waktu tampaknya tak bisa membuat Samidah melupakan anaknya. Ia terus saja teringat dan merindukan sosok Angeline. Sebaliknya, Angeline tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan bahagia karena Jhon begitu menyayangi dan mengutamakannya. Hal ini membuat ibu dan abang angkatnya, Kevin cemburu. Mereka begitu membenci Angeline karena perhatian Jhon banyak tercurah padanya. Alhasil, mereka pun selalu berusaha untuk mencelakai Angeline.

Hidup Angeline berubah drastis sejak kematian Jhon. Siksaan tak henti-henti ia terima dari ibu angkatnya. Ia tak lagi punya papa yang selalu melindunginya. Nilu, pembantu rumah tangga keluarga itu pun tak bisa berbuat banyak untuk menolong gadis kecil nan malang itu.

Menonton film besutan sutradara Jito Banyu ini memang menyesakkan dada. Apalagi teman yang duduk di samping kiri, kanan dan belakang saya pada sentrap-sentrup semua, berurai air mata karena tak tega melihat penyiksaan demi penyiksaan yang diterima Angeline *sentrap-sentrup itu,, mmm… apa ya bahasa Indonesianya. Itu loh kalau kita nangis kan hidung kita beringus tuh. Dan karena ingusan jadi pas narik napas melalui hidung kedengaran bunyi yang khas kayak kita lagi flu itu loh. Ah itu lah itu pokoknya*.

Rasa kemanusiaan kita seakan diaduk-aduk dan dibuat geram dengan kekejaman sosok Terry sebagai ibu angkat yang seakan tak punya nurani, menyiksa anak kecil yang seharusnya justru dikasihi. Tak hanya kisah pedih Angeline dan siksaan yang diterimanya. Drama kehidupan rumah tangga Samidah pun tak kalah menyayat hati. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga, menabung untuk memperbaiki taraf hidup, eh malah dikhianati suami sendiri. Uang yang ia kirim kan ke suaminya malah dipakai Santo untuk nikah lagi. Tinggalnya di rumah yang dibangun dengan hasil keringat Samidah pula. Malang nian.

Kemiskinan dan kecemburuan, inilah 2 poin yang saya tangkap di film Untuk Angeline ini. Kemiskinan memang kerap menyeret siapa saja dalam hidup penuh kepedihan. Mirisnya, kemiskinan seakan seperti penyakit pemicu penyakit lainnya. Komplikasi. Kemiskinan membuat Samidah dan Santo dalam pengetahuan yang sangat minim tentang hukum hingga mereka pasrah saja anaknya diadopsi tanpa berkas yang jelas. Kemiskinanlah yang memaksa mereka merelakan putri satu-satunya diasuh orang lain. Sementara kecemburuan Terry dan Kevin membuat hati mereka diselimuti dendam terhadap Angeline dan akhirnya berujung pada siksaan demi siksaan. Pada dasarnya mereka sama-sama miskin. Bedanya, Sumidah dan Santo miskin materi dan pengetahuan. Sedangkan Terry dan Kevin miskin hati dan kasih sayang. Sementara Angeline adalah korban dari kedua pihak ini.

Mengenai akting, saya rasa Roweina Umboh yang berperan sebagai Terry layak mendapat acungan jempol. Sosok ibu angkat yang kejam diperankan dengan apik oleh Roweina. Ekspresi kejamnya itu dapet banget loh menurut saya.

kopi medan
Habis film terbitlah wefie :D

Sepanjang film diputar, pikiran saya melayang pada sosok Angeline dalam kehidupan nyata. Membayangkan siksaan demi siksaan yang diterimanya bertahun-tahun sejak papanya tiada. Dulu, saat kasus Angeline mencuat, saya sempat tak percaya kasus itu benar-benar terjadi. Seperti di film-film dan sinetron saja. Tapi nyatanya kasus Angeline adalah fakta. Dan bukan tidak mungkin ada Angeline-Angeline lain yang harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan tragis dan menyedihkan. Untuk itulah film ini dibuat. Untuk mengingatkan kita agar lebih aware terhadap sekeliling. Juga agar kita bisa mengambil tindakan jika mengetahui ada kasus-kasus kekerasan pada anak yang terjadi di lingkungan kita.


untuk angeline
Niatnya kak Hera foto dengan background poster film Untuk Angeline, tapi ya begitulah hasilnya :D

Untuk para orang tua, film Untuk Angeline mengajak untuk lebih melek hukum. Sesulit apapun kondisi ekonomi keluarga, sebisa mungkin untuk tetap mengasuh sendiri anak kita. Kalaupun harus diadopsi, setidaknya harus sesuai peraturan yang berlaku, juga berkas-berkas yang lengkap.

Yaps, itulah cerita saya tentang Nonton Bareng Film Angeline : Berurai Air Mata. Kalian, atur jadwal gih buat nonton film ini. Ajak teman dan keluarga. Mari kita dukung film Indonesia dan stop kekerasan terhadap anak.

foto bareng
Sebelum pulang cekrak-cekrek dulu kakaaa.. kali ini minus kak Windy karena si kakak buru-buru balik ke kantor :)


NB : Foto-foto tanpa watermark adalah foto dokumentasi KOPI Medan.

MENIKMATI SENJA DI PANTAI ULEE LHEUE - BANDA ACEH

18.36 15
pelabuhan ulele
Menikmati senja di Pantai Ulee Lheue - Banda Aceh
Menikmati Senja di Pantai Ulee Lheue - Banda Aceh – Wisata Aceh : Berawal dari seorang kawan yang memasang foto dan status BBM yang mengatakan kalau dirinya tengah di Ulee Lheue - Banda Aceh, saya jadi latah komen dan menyarankan untuk mengunjungi Pantai Ulee Lheue pada sore hari.

Ulee Lheue *biasa dibaca Ulele* adalah nama sebuah gampong *setara kelurahan* di Aceh, tempat pelabuhan untuk penyeberangan ke Pelabuhan Balohan di Sabang, Pulau Weh berada. Karena berada di gampong Ulee Lheue makanya pelahan ini dinamakan Pelabuhan Ulee Lheue. Dan kawasan pantai yang terdapat di sepanjang jalan menuju pelabuhan tersebut dinamakan Pantai Ulee Lheue.

Pelabuhan Ulee Lheue dibangun pada tahun 2000, namun pada 2004 mengalami kerusakan  parah akibat bencana tsunami. Pada 2005 pelabuhan ini dibangun kembali.

Menghabiskan sore hari di Pantai Ulee Lheue pernah saya lakukan beberapa tahun lalu. Tepatnya pada penghujung Oktober 2013. Sudah hampir tiga tahun berlalu rupanya.

Kala itu saya tengah berlibur ke Banda Aceh sebelum melanjutkan ke Sabang. Menumpang di kontrakkan seorang kawan yang tengah S2 disana. Karena si kawan ada kuliah, ia tak bisa menemani jalan-jalan. Tapi baiknya ia meminjami saya sepeda motor. Jadi saya bisa berjalan-jalan sendiri.
Jalan-jalan seorang diri bukan masalah buat saya selagi ada uang di dompet dan pulsa di ponsel. Apalagi ada kamera dan sepeda motor, ya pas banget lah.

Baca Juga : Sabang, Surga Pariwisata Aceh di Ujung Barang Indonesia

Bagaimana saya bisa tau Pantai Ulee Lheue? Ceritanya paginya sebenarnya saya dan kawan saya sudah ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk nyeberang ke Sabang. Tapi kami gagal berangkat karena suatu hal. Makanya menginap dulu di Banda untuk esoknya nyeberang ke Sabang.

Nah pas pagi ke Pelabuhan Ulee Lheue itulah saya memperhatikan kawasan sepanjang pinggiran laut yang menuju ke Pelabuhan Ulee Lheue itu sepertinya tempat yang asik untuk menghabiskan waktu di sore hari. Apalagi kata teman saya sore hari banyak penjual jagung bakar di sepanjang kawasan itu. wah.. pas banget deh.

Dan sorenya, berbekal tanya sana-sini *saya susah nginget jalan boook, jadi walaupun paginya udah jalan kesini tetep aja pake acara nanya-nanya*, sampailah saya ke Pantai Ulee Lheue. Benar saja, sepanjang pinggiran jalan banyak penjual jagung bakar. Tanpa pilih-pilih saya memarkirkan sepeda motor di salah satu penjual *Iyalah nggak pilih-pilih, secara saya nggak punya rekomendasi mana jagung bakar terenak di wilayah ini*

wisata Aceh
Pengunjung Pantai Ulee Lheue tengah menikmati jagung bakar

jalan-jalan ke aceh
Minta tolong penjual jagung bakar buat fotoin :D
Duduk di kursi plastik, saya memesan seporsi jagung bakar pedas dan sebotol teh. Matahari masih cerah memancar tapi sudah mulai condong ke perbukitan di sebelah barat. Semilir angin bikin saya langsung betah. Apalagi sambil memandangi pantai yang tenang. Pantai Ulee Lheue memang bukan tipikal pantai yang landai dan kita bisa berlari-larian di atas pasir putih nan lembut layaknya pantai-pantai impian. Yang ada adalah pagar pembatas dan pantai yang tenang dan bening. Mungkin tenangnya Pantai Ulee Lheue karena ada semacam bedengan yang seakan berfungsi sebagai pembatas dan penghalang ombak laut. Saya kurang tau kenapa dibangun bedengan itu. Tapi memang hasilnya kawasan pantai ini jadi tenang. Palingan kalau ada angin yang sedikit kuat, air akan berkecipak kecil. Bening dan tenangnya pantai Ulee Lheue membuat pemandangan menjelang matahari terbenam di balik bukit jadi begitu menawan. Senja keemasan terpantul ke air pantai yang jernih bak cermin. Sungguh dramatis sekaligus romantis.

sore berawan
Dari cerah menjadi berawan. Sempat berpikir gak bakal bisa liat sunset disini

sunset
Eh ternyata nongol lagi mataharinya :D
Saya sungguh terkagum-kagum disuguhi pemandangan sore yang sangat apik itu. Jadi terbawa suasa syahdu dan terkenang masa-masa yang lalu. Bibir saya pun tak henti-henti mengucap syukur. Tuhan sungguh maha ahli menciptakan tempat-tempat indah di bumi ini. Termasuk di negeri ini. Dan saya sungguh beruntung dapat menyaksikan sendiri sebahagian kecil keindahan yang dimiliki bumi pertiwi.

beautiful sunset at ulee lheue beach banda aceh
Disuguhi pemandangan sore seperti ini, siapa yang nggak terkagum-kagum coba?!

pantai cermin aceh
Jepretan dari ponsel saya kala itu, Blackberry 9930

Matahari menghilang di balik bukit. Tapi masih meninggalkan semburat jingga di langit Ulee Lheue yang terpantul indah di pantainya. Saya sebenarnya enggan beranjak. Andai saja maghrib tak datang, mungkin saya pun tak akan bergerak ke arah pulang. Tapi begitupun saya tetap senang. Pengalaman menikmati senja di di pantai ini cukup membuat saya tersenyum kala terkenang. Bahkan meski telah sekian tahun berkelang.

Pernah kalian menikmati senja di Pantai Ulee Lheue - Banda Aceh? Pasti indah bukan?!

FILM RUDY HABIBIE (HABIBIE AINUN 2) : THE POWER OF CHILDHOOD

15.37 2
habibie ainun 2
Film Rudy Habibie
Film Rudy Habibie (Habibie Ainun 2) : The Power of Childhood – Beberapa hari yang lalu saya baru saja nonton film Rudy Habibie (Habibie Ainun 2) di Palladium Mall bareng seorang kawan. Sebenarnya sejak puasa kemarin bingung sih milih nonton Rudy Habibie atau Sabtu Bersama Bapak *atau nonton keduanya*. Soalnya pengen juga nonton Sabtu Bersama Bapak.

Tapi akhirnya saya milih nonton Rudy Habibie. Alasannya sih karena saya takut baper terus mewek-mewek keinget almarhum ayah saya kalau nonton Sabtu Bersama Bapak. Daripada malu entar ketahuan nangis, jadi cari aman aja deh.

Mengenai film Rudy Habibie, saya pengen nonton karena aslinya memang penasaran dengan sosok dan kisah hidup Pak Habibie. Bukan karena film Habibie Ainun loh ya. Soalnya jauh sebelum itu saya sudah sering mendengar nama Pak Habibie disebut-sebut.

Ketertarikan saya pada sosok Pak Habibie bukan diawali saat beliau menjabat sebagai presiden Indonesia menggantikan Pak Harto. Karena masa itu saya masih kecil dan belum ngerti politik. Kala itu figur Pak Habibie yang saya tau ya hanya sebagai presiden negeri ini. Itu saja.

Nah pas SMK, guru pelajaran ekonomi di sekolah saya sering banget nyebut-nyebut nama Pak Habibie. Kalau kami sudah mulai terlihat nggak nangkep apa yang ia terangkan, mulai deh si bapak guru cerita. Katanya, kalau seandainya negara ini kalah perang, lalu kami sekelas bersama Pak Habibie harus diselamatkan tapi harus memilih akan menyelamatkan kami sekelas atau Pak Habibie seorang, maka yang dipilih pasti Pak Habibie. Itu karena Pak Habibie sangat pintar. Dan jika otak kami sekelas digabungkan, tetap nggak akan bisa menandingi kepintaran Pak Habibie.

Saya dulu suka dongkol saat guru saya itu mulai mengulang cerita tersebut. Emang sih ya, kecerdasan Pak Habibie udah terbukti. Kata-katanya nih ya, Pak Habibie adalah satu-satunya manusia di dunia yang masih hidup dan memiliki IQ 200. Saya dongkolnya bukan sama Pak Habibie melainkan sama guru saya. Soalnya gaya dia bercerita itu sinis dan terkesan sangat merendahkan kami. Lagian siapa juga yang suka dibanding-bandingin gitu. Niatnya mungkin baik untuk memotivasi, tapi caranya kurang tepat menurut saya.

indonesian movie
Milih nonton Rudy Habibie karena sejak SMK nama Habibie sering disebut-sebut oleh guru saya.

Oke, balik ke film Rudy Habibie. Saat nonton trailernya, saya sempat bertanya-tanya, kok pemeran wanitanya diganti. Bukan BCL lagi. Terus itu si Chelsea Islan kok gaya ngomongnya di film itu sok kebarat-baratan gitu. Perasaan Bu Ainun orang Indonesia deh. Yokko, teman saya juga ikutan nyeletuk : ah enakan si Bunga yang bawain. Kami berdua sama-sana songong ya, belum nonton filmnya udah sok mengambil kesimpulan.

Film diawali dengan adegan Rudy kecil tengah bermain di kampung halamannya di Pare-Pare, Sulawesi. Saat itu masih bergejolak perang. Jadi ya adegan khas perang jaman dulu gitu : bom, warga sipil yang berlarian menyelamatkan diri sambil mencari-cari keluarganya. Rudy kecil bersama adik dan teman-temannya bermain di sebuah bukit. Saat pesawat pengebom datang, Rudy hampir jatuh dari bukit berbatu itu kalau saja tidak ada adiknya yang menolongnya.

Dari kecil sudah terlihat bahwa Rudy Habibie adalah sosok yang keras kepala dan teguh pendirian. Ini tergambarkan lewat adegan saat semua orang hendak mengungsi karena desa mereka diserang penjajah, namun Rudy malah berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil buku dan mainan pesawat terbang miliknya.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang kehidupan seorang Rudy Habibie saat menuntut ilmu di Aachen, Jerman. Bagaimana kegigihannya bertahan meski halangan dan rintangan datang dari berbagai arah: teman-teman yang tak sejalan, ekonomi keluarga yang pas-pasan, dan kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang berdampak pada kebebasannya berkreatifitas, juga percintaannya. Disini deh baru ketahuan kalau Chelsea Islan ternyata bukan memerankan Bu Ainun, melainkan Ilona, cerita cinta lain dari seorang Habibie sebelum menemukan cinta sejatinya bersama Ainun.

Ilona yang pintar dan fasih berbahasa Indonesia membuat jalinan cinta antara dirinya dan Habibie berjalan manis semanis madu. Ilona adalah wanita yang setia menemani hari-hari Habibie di Aachen. Juga orang yang paling paham seberapa besar impian dan rasa cinta Habibie muda terhadap Indonesia. Meski karena kedekatan keduanya, ada Ayu (mahasiswi Indonesia yang berasal dari Solo) yang tersakiti. Hulalaa.. ternyata selama ini Ayu menaruh hati pada Habibie yang menurutnya cerdas dan menyenangkan. Orang cerdas memang selalu terlihat menarik yang mbak Ayu :D

Menuntut ilmu ke Jerman tidak dengan beasiswa dari pemerintah malah membuat Habibie jadi bahan bully-an mahasiswa Indonesia lainnya di Jerman. Kebalik ya. Biasanya yang dapat beasiswa yang disepelehin karena dianggap nggak mampu. Lah ini malah yang biaya sendiri yang di-bully.

Yang bikin miris yang mem-bully justru sesama mahasiswa dari tanah air. Pemuda-pemuda yang dapat beasiswa pendidikan karena dianggap telah berjasa dalam usaha mempertahanankan negara. Aktivis gitu lah bahasa kerennya. Tipikal Habibie yang serius dalam belajar bertolak belakang dengan mahasiswa berpaspor biru (penerima beasiswa) yang cenderung menjadikan sekolah di luar negeri untuk ajang jalan-jalan dan senang-senang. Ya walaupun nggak semua seperti itu. Ada beberapa mahasiswa berpaspor biru yang sejalan dengan Habibie.

Dari film ini saya tiba-tiba jadi maklum kenapa negara kita masih seperti ini meski sudah 70 tahun merdeka. Lha wong di awal-awal masa kemerdekaan saja masing-masing sudah bergerak dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok.

Apa yang membuat Habibie bertahan di Aachen meski harus sering menahan lapar, dan rindu pada keluarga di tanah air? Juga perasaan marah pada orang-orang tertentu. Jawabannya adalah kenangan semasa kecil bersama orang tua, khususnya ayah. Film ini memang berisi cuplikan-cuplikan adegan masa kecil Rudy Habibie. Tiap kali merasa down, dengan berlinang air mata, Rudy Habibie selalu mengingat kebersamaannya dengan almarhum papinya. Bagaimana papinya meninggal saat tengah bersujud dalam sholatnya, menjadikan Habibie sosok yang tak lupa agamanya meski berada di negara dimana islam adalah agama minoritas. Papi maminya yang berbeda suku dan diasingkan dari keluarga membuat Habibie tumbuh menjadi pribadi yang menghargai perbedaan. Ia bahkan sholat di gereja karena yakin Tuhan tahu ketulusan hatinya. Dan yang paling terpatri di hati adalah nasihat papinya agar ia menjadi mata air. Mata air yang jernih dan mengalir yang menghidupi sekelilingnya.

Baca Juga : Kebahagiaan Keluarga, Penentu Karakter dan Tumbuh Kembang Anak

The power of childhood, inilah menurut saya yang menguatkan Habibie. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa film ini adalah film tentang kisah cinta lain seorang Rudie Habibie. Benar sih. Tapi yang tak kalah menarik untuk dibincangkan menurut saya adalah tentang the Power of Childhood-nya Habibie ini. Masa kecil yang menyenangkan dan menginspirasi hingga besar. Kenangan semasa kecil memang sangat berarti bagi tiap orang. Juga berpengaruh dalam perkembangan mental seserang. Masa kecil selain menjadi kenangan yang akan tersimpan di memori jangka panjang tiap orang, juga memberi dampak pada pembentukan sifat seseorang ketika ia dewasa kelak. Pengalaman masa kecil Habibie bersama papinya menginspirasi Habibie untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Kenangan masa kecil itu pula yang menguatkannya kala down dalam usaha mewujudkan cita-cita.

Baca Juga : Waktu Bersama Ayah

Habibie begitu mencintai Indonesia. Jujur saja, saya teringat pada diri saya sendiri ketika menonton film ini. Tentang teman-teman saya yang menutuskan ke Jerman *saya ambil studi Bahasa Jerman saat kuliah dulu* kemudian menikah dengan orang Jerman dan memilih tinggal dan bahkan menjadi warga negara Jerman. Saya dulu suka sinis dengan hal tersebut. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin jika saya memilih merantau ke Jerman, lalu merasakan betapa enaknya hidup disana, kebijakan-kebijakan negara untuk warganya, mungkin saya juga akan seperti teman-teman saya yang memilih tak kembali ke Indonesia.

Makanya saya acungin jempol untuk Pak Habibie, saat gambar rancangan-rancangannya disita pemerintah Jerman karena Indonesia bukan anggota NATO sehingga karyanya dianggap mengancam, juga saat Ilona, wanita yang dicintainya memintanya memilih antara dirinya atau Indonesia, ia tetap memilih Indonesia. Rasa kebangsaan yang dimiliki Pak Habibie memang tinggi dan bikin saya terkagum-kagum.

Hal lain yang saya ketahui tentang sosok Pak Habibie lewat film Rudy Habibie ini adalah cara berpikir beliau yang selalu melihat sesuatu melalui fakta di lapangan, kemudian mencari apa masalah dari fakta tersebut, dan jika sudah didapat masalahnya, baru lah mencari solusinya. Faktanya, masalahnya, solusinya. Kalimat ini pula yang menjadi kalimat dalam percakapan saat Ilona dan Habibie berpisah.

Ilona : “Faktanya kamu cinta Indonesia, masalahnya kamu cinta Indonesia…”

Habibie : “Solusinya saya cinta Indonesia.”

Duuh pak, saya harus belajar lebih banyak lagi tentang nasionalisme dari bapak :)

Meski film ini bercerita tentang perjuangan anak bangsa yang ingin menjadi mata air bagi negaranya, bukan berarti film ini kaku dan terlalu serius. Banyak lucu-lucunya juga kok yang sukses mengundang tawa. Terutama dengan adanya Boris Bokir yang berperan sebagai Poltak, mahasiswa asal Medan yang ceplas ceplos dengan logat yang khas.

Habibie sendiri ternyata selain serius dan pintar, ia juga gokil. Kegokilannya yang sukses membuat saya ngakak adalah tiap kali ia ditanya orang kenapa bahasa Jermannya sangat fasih. Saking seringnya mendapat pertanyaan seperti itu, ia jadi menjawab asal dan iseng. Tiap ditanya seperti itu ia selalu menjawab dengan mimik serius bahwa orang tuanya adalah kanibal dan pernah makan orang Jerman, makanya ketika dirinya lahir ia jadi pandai bahasa Jerman hahhaha… Tapi ada suatu ketika karena keisengannya itu ia jadi malah mendapat julukan kanibal dari orang-orang sekelilingnya.

Nonton film Rudi Habibie bikin saya makin kagum sama Pak Habibie. Juga menumbuhkan semangat kebangsaan, sekaligus harapan, semoga ada Habibie-Habibie lain yang lahir dan tumbuh menjadi mata air di negeri ini.

Itulah sekilas cerita saya tentang film Rudy Habibie, buruan tonton gih di bioskop, masih tayang kok. Kalau masalah acting, udah tau lah ya gimana acting Reza Rahadian. Juga pemain pendukung lainnya seperti Ernest, Pandji, Chelsea Islan, dan beberapa nama lainnya.

Oya, bocoran nih. Bakal ada film tentang Habibie Ainun 3. Kira-kira berkisah tentang apa ya?! Ada yang mau nebak?

AKU DAN KAMERA PONSEL : MENGABADIKAN MOMEN SEKALIGUS BERBAGI INSPIRASI

13.17 22

Aku dan Kamera Ponsel : Mengabadikan Momen Sekaligus Berbagi Inspirasi – Kalau ada yang tanya dari mana hobi jalan-jalan dan jeprat-jepret saya diturunkan, jawaban saya adalah dari ayah. Hal ini sebenarnya sudah pernah saya ceritakan di postingan saya yang berjudul Waktu Bersama Ayah yang saya posting beberapa saat lalu.

Ayah saya sering bepergian untuk urusan pekerjaan. Kadang ia pergi cukup lama hingga saya hanya bisa memandangi fotonya kala rindu mendera. Tau sendiri lah, namanya anak kecil pasti pengennya bisa selalu dekat dengan orang tuanya.

Momen-momen ayah pulang ke rumah adalah momen paling membahagiakan. Tidak hanya untuk saya, tapi untuk kami sekeluarga. Ayah memang sosok yang paling dirindukan dan dinanti kepulangannya di keluarga kami.

Selain senang karena ayah kembali pulang, hal lain yang menambah kebahagiaan kami adalah oleh-oleh yang ayah bawa. Biasanya ayah membawa oleh-oleh berupa barang khas daerah yang ia kunjungi. Ada yang berupa pajangan untuk digantung di dinding rumah, tas, baju, dan lain sebagainya. Untuk saya ayah pernah memberikan oleh-oleh berupa ikat rambut etnik, pena bambu, tas etnik, topi, kaca mata, dan beberapa benda lainnya.

Yang tak pernah absen dibawa ayah adalah album foto perjalannya. Ini sebenarnya oleh-oleh yang paling ditunggu. Foto-foto selama ayah bepergian, biasanya saat pulang ke rumah, ia akan mencetaknya terlebih dahulu dari tustel (kamera jaman dulu, menggunakan roll film) miliknya, kemudian membawanya pulang dan kami akan saling berebut untuk menjadi yang pertama yang melihatnya.
ayah
Ayah tak pernah lupa mendokumentasikan perjalanannya dalam bentuk foto
Sebenarnya kala itu kami hidup sangat sederhana dengan rumah berbahan papan di sebuah kampung yang cukup jauh di pedalaman kabupaten Asahan. Tustel sebenarnya adalah barang mewah kala itu. orang-orang mungkin melihat tustel bukanlah benda yang penting untuk dimiliki di tengah ekonomi keluarga kami yang sederhana. Saya pun kurang tau apa pertimbangan ayah membeli tustel. Mungkin ia tau, foto-foto itu adalah cara untuk mengabadikan momen dan kenangan.

foto ayah
Tulisan Lombok di baju ayah cukup membuat saya penasaran dengan tempat itu.
Lewat album foto perjalanan ayah, saya jadi melihat betapa dunia ini luas. Juga indah. lewat foto-foto ayah, saya jadi suka mengkhayal suatu saat jika besar kelak akan mengunjungi tempat-tempat itu. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjungi ayah saya. Ingin menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri secara langsung tempat-tempat indah yang pernah ayah saya kunjungi. Saya tidak ingin hidup saya hanya sebatas kampung yang bahkan untuk sekolah saja harus ke kampung tetangga.

my father
Anak kampung yang tak pernah melihat laut secara langsung, melihat foto ayah seperti ini membuat saya berkata dalam hati : kalau besar nanti, aku mau mengunjungi tempat-tempat yang ada lautnya.

And now, inilah saya. Perempuan kampung dari pedalaman Asahan yang dulu nekat berangkat ke Medan untuk kuliah. Perempuan yang pernah bela-belain pinjam uang cuma supaya bisa traveling *hal gila yang nggak perlu ditiru ya*. Yang pernah bela-belain kerja jadi sales kartu perdana seusai jam kuliah buat nabung beli kamera digital. Semua itu karena sebuah tustel (kamera) dan foto-foto yang dihasilkannya. Foto-foto perjalanan ayah saya yang saya lihat semasa kecil dan menginspirasi saya untuk melangkah ke banyak tempat dan mengabadikan berbagai momen lewat kamera.

wisata denpasar
1 tempat, beda lokasi foto. Atas : ayah saya dan teman-temannya. Bawah : saya sendiri. Btw foto saya kok kayak tempelan ya, padahal itu asli loh :D

Nyatanya, kamera jadul milik ayah tidak hanya menghasilkan foto-foto yang menjadikan suatu momen seakan abadi. Tetapi juga menginspirasi saya. Karena inspirasi dan keinginan melihat dunia yang lebih luas lagi lah yang membuat saya termotivasi untuk kuliah. Karena kamera dan foto-foto perjalanan ayah, saya menjadi satu-satunya sarjana di keluarga kami. Setidaknya untuk saat ini, saya satu-satunya anak ayah yang pernah menginjak pulau lain selain Sumatera. Satu-satunya yang punya paspor dan pernah keluar negeri. Itu semua berawal dari kamera dan foto yang dihasilkannya.

ayah dan anak
Atas : ayah saya. Bawah : saya saat menyeberang ke Pulau Weh
inspirasi
Thanks Dad, udah menginspirasi anakmu ini untuk berani berjalan lebih jauh.

Sekarang, seiring perkembangan jaman, kamera sudah tak seribet dulu lagi. Tak harus menunggu lama untuk bisa melihat hasil foto. Tak perlu mengintip dari cela kecil ketika memotret. Era digital membuat segalanya jadi lebih praktis. Tak hanya kehadiran kamera digital, ponsel pun saat ini telah dilengkapi dengan fitur kamera yang canggih yang memungkinkan orang-orang untuk mengambil foto dimana saja dan kapan saja.

air terjun Sipiso-piso
Mengabadikan momen menggunakan kamera ponsel saat mengunjungi Air Terjun Sipiso-Piso 
Hobi jeprat-jepret saya pun tersalurkan dengan adanya kamera di ponsel. Kamera digital yang saya miliki jadi lebih sering nganggur di rumah. Saya lebih suka mengandalkan kamera ponsel, toh saya motret hanya sekedar hobi. Sekedar mengabadikan momen. Bukan untuk pekerjaan. Lagi pula menggunakan kamera ponsel lebih praktis ketimbang bawa-bawa kamera digital. Hasilnya juga bisa langsung di-share ke sosial media yang kita miliki. Nggak perlu pakai acara dipindahin ke laptop atau PC dulu.

Kebiasaan mencetak foto sudah mulai ditinggalkan orang karena lebih praktis melihat di layar ponsel. Tapi saya justru masih sering melakukannya. Tiap pulang kampung, salah satu hal yang tak lupa saya lakukan adalah mencetak foto-foto saya. Juga foto keluarga (orang tua, abang, kakak ipar, dan keponakan). Ponakan-ponakan saya akan saling berebut untuk jadi yang pertama yang melihat, sama seperti saya dulu bersama abang-abang saya ketika ayah mengeluarkan album foto terbarunya.

foto perjalanan
Beberapa foto yang saya cetak sebelum pulang kampung
Kebiasaan jeprat-jepret saya ternyata juga ditiru ponakan-ponakan saya. Praktis saat pulang ke rumah saya jarang memegang ponsel saya karena sudah pasti akan ‘dijajah’ ponakan-ponakan saya. Biasanya yang mereka lakukan adalah melihat album foto, video, dan memfoto sesuatu. Ibu saya sering mengingatkan saya agar tidak membebaskan mereka memainkan ponsel saya, takutnya rusak atau terjatuh. Tapi saya memilih membiarkan mereka dan mengawasi dari jauh saja. Palingan awalnya saya ajari cara memotret dan memperingatkan agar mereka menjaga ponsel dengan baik.

Baca Juga : Bunga-Bunga Indah dalam Jepretan Dinda, Si Fotographer Cilik

Kenapa saya membebaskan ponakan bermain dengan ponsel yang tidak murah? Kenapa juga saya repot-repot merogoh kocek untuk mencetak foto-foto perjalanan saya? Itu semua karena saya ingin berbagi inspirasi. Sama seperti ayah saya menginspirasi saya. Lewat foto-foto itu, saya ingin keponakan saya bisa melihat betapa bumi yang mereka tempati ini menawarkan banyak hal. Bahwa mereka juga bisa menjadi apapun atau pergi kemanapun selagi mereka punya kemauan yang kuat.

ponakan
Yang kiri adalah foto kaki Dinda, ponakan saya yang terinspirasi dari foto kaki di ponsel saya

Karena setelah besar saya akhirnya sadar, traveling tak sekedar mengunjungi tempat-tempat indah, tapi juga mendapatkan berbagai pengalaman berharga yang menjadikan kita pribadi yang lebih luwes dalam bergaul, terbuka dalam berpikir, dan bertoleransi terhadap perbedaan. Saya ingin keponakan-keponakan saya juga menyadarinya kelak.

awsome rafting
Lewat foto ini saya mencoba menjelaskan ke keponakan saya bahwa kita harus melawan rasa takut dalam diri kita.
Tak semua foto saya cetak. Hanya beberapa yang menurut saya mewakili. Sisahnya ada di ponsel. Biasanya para keponakan saya akan berceloteh berbagai hal. Mulai dari menanyakan lokasi foto, hingga protes kenapa mereka tak diajak.

tapaktuan
Mungkin kalau dulu ayah saya tak mencetak fotonya kala berdiri di karang di pinggir laut, saya pun tak akan kepikiran untuk mengunjungi tempat-tempat menakjubkan seperti dalam foto ini :)

Lewat foto-foto yang saya cetak dan tersimpan di memori ponsel pula lah akhirnya kesukaan saya jalan-jalan tertular ke anggota keluarga yang lain. Tidak hanya keponakan, tetapi juga ibu dan abang saya. Alhasil tiap momen berkumpul keluarga seperti lebaran, tahun baru, dan libur sekolah, salah satu yang dibicarakan adalah destinasi jalan-jalan yang hendak dituju. Seringnya sih di sekitaran kota kabupaten saja. Tapi itupun sudah cukup membuat kebersamaan menjadi menyenangkan dan berkesan.

family time
Saat berlibur ke Kebun Binatang Siantar

Di sela-sela kebersamaan itu, ada perbincangan-perbincangan yang kalau diingat membuat saya suka senyum-senyum sendiri. Misalnya saja celotehan keponakan saya, Rufa :

“Nde.. oo Nde, adekku punya tahi lalat juga loh di kaki. Sama kayak Unde. Kata bundaku nanti adek besarnya sama kayak Unde, tukang jalan-jalan.”

cousin
Adeknya Rufa yang katanya kalau besar bakal jadi tukang jalan-jalan seperti saya
“Nde, nanti taun baru pas kami liburan sekolah kami kan ke tempat nenek lagi, kita jalan-jalan ya Nde ke tempat bermain anak-anak. Nanti masukkan majalah lagi ya Nde.” (Saya pernah menggunakan foto saat kami liburan untuk foto pendukung artikel wisata dan terbit di salah satu majalah).

 “Aku pengen jadi dokter Nde. Kalau nggak jadi dokter, aku pengen jadi pilot biar bisa jalan-jalan kayak Unde. Tapi sebenarnya aku pengen juga jadi polisi, cuma opung (kakek) gak suka kalau aku jadi polisi, mungkin karena gigiku gufis. Jadi aku mau jadi pilot aja. Kalau nggak jadi pilot juga, aku jualan jeruk aja lah Nde. Eh tapi aku pengen jadi kayak Unde, bisa jalan-jalan.”


Saya ngekeh dengarnya, entah kapan opungnya (almarhum ayah saya) bilang nggak suka dia jadi polisi, dan herannya dia mikirnya opungnya nggak suka karena giginya gufis (rusak, bolong, ompong). Yang paling bikin ngekeh waktu dia bilang jadi penjual jeruk, entah sejak kapan jadi penjual jeruk jadi cita-cita. Tapi saya tetap mengaminkan cita-citanya, siapa tau jual jeruknya berton-ton sampai ke luar negeri, alias pengekspor jeruk. Kan lumayan bisa meningkatkan prestige jeruk Indonesia di mata dunia :D

Lain Rufa, lain pula Dinda, keponakan saya perempuan. Dia paling sering tanya-tanya lokasi tempat saya berfoto, nama makanan ataupun minuman yang saya foto, lalu berujung pada protes kenapa dirinya tak diajak saat saya mengunjungi tempat itu.

“Unde jalan-jalan ke pulau nggak ngajak-ngajak.”

wisata sumut
Foto yang mengundang protes : Unde jalan-jalan ke pulau nggak ngajak-ngajak, wkwkwkkw

“Haduuh.. gara-gara liat foto makanan di handphone Unde jadi kepingin makan aku.”

“Nek.. tengoklah nek, banyak kali makanannya.” (sambil menyodorkan foto makanan di ponsel saya ke ibu saya).

makanan indonesia
Nah kalau ini foto yang bikin Dinda jadi kepengen makan :D
Itulah beberapa celotehan Dinda. Cita-citanya katanya kalau nggak jadi guru ya jadi koki, makanya dia sering komentari foto-foto makanan di ponsel saya.

Kalau ibu saya beda lagi, beliau sekarang jadi suka bicarain tempat wisata. Jika ada tempat wisata yang baru dikunjunginya di sekitaran kabupaten Asahan, dia bakal semangat cerita dan menyarankan saya untuk mengunjunginya juga.

Hingga saat ini, saya belum bisa mengajak keluarga saya liburan ke luar pulau. Masih di sekitaran Sumut saja. Tapi dengan foto-foto hasil jepretan kamera ponsel saya, saya berusaha untuk berbagi ke mereka. Saya berusaha menunjukkan bahwa ada banyak hal di luar sana yang menunggu untuk kita hampiri. Foto-foto di kamera ponsel saya yang tak melulu berisikan foto perjalanan, tetapi juga kegiatan saya sehari-hari : berkumpul bersama teman, mengikuti sebuah seminar, atau bahkan saat sedang lari sore. Saya bebaskan keponakan dan keluarga saya melihat-lihat galeri foto di ponsel saya. Siapa tau, pada satu atau dua foto disana, Tuhan meniupkan inspirasi untuk mereka. Inspirasi untuk hal-hal baik, pilihan-pilihan baik dari mereka, sekarang, dan di masa depan.

bah butong sidamanik
Dinda, Rufa, kakak ipar, ibu, dan abang saya saat kami jalan-jalan ke Kebun Teh Sidamanik.

anak gunung
Tak hanya saat narsis seorang diri, foto-foto bersama teman pun sering saya cetak saat hendak pulang kampung

hang out with friends
Foto-foto menggunakan kamera ponsel saat hang out bersama sahabat juga saya bagi ke ponakan dan keluarga, siapa tau dari salah satu foto yang saya bagi, ada inspirasi yang mereka dapat.

Kamera ponsel saya memang tak secanggih kamera pada ponsel Zenfone 2 Laser ZE550KL, tapi begitupun saya tetap bersyukur memilikinya meski kamera sekundernya (kamera depan) kualitasnya kurang bagus. Selama ini, kamera ponsel saya sudah menemani hari-hari dan menjadi alat untuk menyalurkan hobi motret saya.

Kamera ponsel saya belum secanggih kamera Zenfone 2 Laser, tapi begitupun tetap disyukuri. Moga-moga ke depan ada rejeki dapat Zenfone 2 Laser (aamiin).

Ini sekelumit cerita Aku dan Kamera Ponsel : Mengabadikan Momen Sekaligus Berbagi Inspirasi. Apa cerita kalian?!

‘Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

TENTANG SEBARIS DO’A ITU

15.51 8
tentang doa


Tentang sebaris do’a itu
Tak perlu lagi kau panjatkan tiap sepertiga malam
Tak usah kau sebutkan dalam sujud lima masa
Pinta saja agar kita sama-sama bahagia di jalan yang tak sama
Pinta saja agar kita sama-sama lupa akan luka yang nganga
Tentang sebaris do’a itu, ganti saja dengan do’a masuk surga dan kita bertemu disana.
Rumah Nebula, 10 Des’13

WAKTU BERSAMA AYAH

17.02 4
kebersamaan dengan bapak
waktu bersama ayah
Waktu Bersama Ayah : Beberapa hari yang lalu saya ada posting tentang kebahagian keluarga penentu karakter dan tumbuh kembang anak. Hari ini nggak tau kenapa saya pengen ngebahas lagi tentang hal itu. Khususnya tentang kedekatan ayah dan anak.

Sebagai anak paling kecil dan memiliki ayah yang bekerja sering keluar kota, saya termasuk anak yang beruntung. Karena meskipun ayah sering keluar kota, masa-masa saya bersama ayah terbilang sangat berkualitas.

Banyak momen-momen saya bersama ayah yang begitu lekat di ingatan saya hingga saat ini. Baik itu yang saya ingat kejadiannya, atau kejadian saat saya masih terlalu kecil dan belum mampu mengingat *ceritanya saya dengar dari orang lain, ibu, abang, dan teman-teman ayah*.

Meski ayah sering pergi berhari-hari, namun saat ia pulang, ia seakan membayar waktu-waktu yang terlewatkan tanpa ada ia disisi saya. Saya masih ingat saat ia membonceng saya di sepeda, duduk di pangkuannya, mandi si sungai bersama sambil main pasir. Ke ladang bersama memetik sayur-mayur untuk dimakan keluarga kami. Makan bersama, dan hal-hal lain yang kami lewatkan bersama-sama. Bahkan, saat ayah sudah memiliki sepeda motor, saya selalu naik di depan layaknya anak kecil padahal saat itu saya sudah SD.

Ada sedikit kisah unik saat saya hendak didaftarkan ke Sekolah Dasar. Ayah dan ibu saya membebaskan saya memilih untuk didaftarkan oleh siapa, ayah atau ibu. Hal ini berhubungan dengan nama yang akan didaftarkan ke sekolah. Perkara nama saya memang punya cerita tersendiri. Ayah dan ibu memberikan nama yang berbeda untuk saya. Berbeda dengan abang-abang saya, kedua orang tua saya sepakat ketika memberikan nama ke abang-abang saya. Tapi ketika saya lahir, rupanya mereka sudah menyiapakan nama masing-masing.

Meski tak terjadi pertengkaran perihal nama saya, tapi masing-masing ingin nama pemberian mereka yang dipakai. Hingga akhirnya mereka memanggil saya dengan nama yang berbeda sesuai nama yang mereka beri. Hal ini berlangsung hingga saya besar. Keluarga dan orang-orang sekampung mengenal saya dengan nama pemberian ibu, sedang ayah tetap memanggil saya dengan nama pemberiannya. Dan nama yang tertera di KTP saya saat ini adalah nama pemberian ayah saya.

Jadi saat hendak mendaftarkan sekolah itu ternyata ayah dan ibu sepakat, siapa yang saya pilih untuk menemani saya mendaftar ke sekolah, nama pemberiannya lah yang dipakai. Dan saat itu saya memilih mendaftar bersama ayah. Saya tidak tau apa alasan saya memilih didaftarkan oleh ayah. Tapi jika dipikir-pikir sekarang, mungkin saat itu bonding antara saya dan ayah sudah cukup kuat.

Saya suka dengan sikap kedua orang tua saya mengenai nama saya, mereka teguh pendirian sekaligus menghargai perbedaan pendapat tanpa harus bertengkar hebat. Saya memang tidak pernah melihat kedua orang tua saya bertengkar. Menurut cerita ibu, sepanjang pernikahan mereka, cuma sekali ibu pernah marah hebat sampai melempar piring ke lantai, tapi itu terjadi sebelum saya lahir. Sekedar saling berargumen sih sering saya saksikan, tapi justru hal itu bagus menurut saya, secara tidak langsung mengajari kami untuk berani menyuarakan pendapat.

Ketika besar sekarang pun, saya banyak mewarisi apa yang dimiliki ayah. Salah satunya yang terispirasi dari ayah adalah hobi saya jalan-jalan, fotographi, dan berorganisasi/komunitas. Tiap ayah bepergian, beliau pulang dengan membawa oleh-oleh khas kota tempat ia ditugaskan. Juga album foto aktifitas ayah di kota tersebut. Ini yang paling menginspirasi saya dan menumbuhkan minat jalan-jalan saya. Lewat foto, saya tidak hanya jadi suka jalan-jalan, tapi juga suka jeprat-jepret. Saya sering pinjam kamera (dulu bilangnya tustel) ayah untuk foto-foto bareng teman sekolah. Biasanya kami patungan membeli roll film.
dad and daughter
Anak-anak adalah peniru ulung, itu sebabnya orang tua harus memberi contoh yang baik untuk ditiru
Ayah juga suka berorganisasi. Teman-temannya sering datang ke rumah, ngobrolin pembebasan lahan masyarakat kampung kami yang diklaim milik perusahaan perkebunan di kampung kami. Saya biasanya ikut mendengarkan obrolan mereka dari kamar saya yang letaknya memang paling dekat dengan teras dan ruang tamu. Mungkin karena itu saat kuliah saya begitu menikmati masa-masa berorganisasi dan sekarang suka berkomunitas.

Banyak hal memang yang diturunkan ayah ke saya. Meski ayah sering kerja ke luar kota, tapi saya tidak kehilangan figurnya. Tak juga kehilangan masa-masa berharga bersama ayah. Karena percaya atau nggak, kedekatan anak terhadap orang tuanya turut pula mempengaruhi perkembangan mental dan fisiknya.

Dibanding anak-anak lain yang ayahnya bekerja di luar kota, saya termasuk beruntung karena meskipun kuantitas kebersamaan saya dan ayah tak sebanyak anak-anak lain yang ayahnya bekerja di dalam kota, namun kualitas kebersamaan yang kami miliki cukup tinggi dan berhasil membangun bonding saya dan ayah. Berbeda dengan yang dialami mas Salman Al-Jugjawi (Sakti, ex Sheila On 7). Kebetulan saya berteman di sosial media dengan mbak Miftahul Jannah, istrinya mas Salman. Dan sering membaca cerita-cerita pengasuhan anak pada status-status yang dibagikan mbak Mifta.

Dari sana saya tau bahwa mas Salman pernah mengalami baby blues. Iya loh, ternyata baby blues tidak hanya dialami oleh para ibu, tapi ayah juga berisiko mengalami baby blues.  Diceritakan mbak Mifta, di awal-awal kelahiran anak mereka, mas Salman kerap menghindari menggendong anaknya. Saking jarangnya bahkan tak sampai hitungan semua jari tangan. Hal tersebut berimbas pada si anak yang tidak dekat bahkan cenderung takut melihat ayahnya karena jarang terlibat momen bersama.

Alasan mas Salman ketika itu adalah takut terkena najis. Tapi setelah diajak ngobrol lebih lanjut oleh mbak Mifta, alasan sebenarnya adalah karena ia tidak tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya memperlakukan anaknya. Saat kecil mas Salman mengaku tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari ayahnya karena pekerjaannya selalu mengharuskan keluar kota. Pengalaman masa kecil itu membuatnya tidak punya contoh bagaimana seharusnya seorang ayah bersikap dalam pengasuhan anak. Duuh.. waktu baca kisah ini saya jadi merasa sangat bersyukur karena tak kehilangan father-daughter moment.

Tapi untungnya mbak Mifta ini adalah istri yang kece menurut saya. Beliau yang memang magister psikolog ini pun merasa perlu untuk ambil tindakan. Ia pun bertekad untuk membantu anak dan suaminya dalam menjalin bonding di antara mereka. Hasilnya?! Saya jadi senyum-senyum haru dan kangen almarhum ayah tiap baca cerita di status-status mbak Mifta tentang mas Salman dan Zahro (anaknya). Mereka sangat dekat dan kompak.

Apa yang dilakukan mbak Mifta untuk menumbuhkan bonding antara Zahro dan ayahnya?! Ternyata simple saja, cukup libatkan mereka dalam momen-momen keseharian. Misalnya saat Zahro meminta mbak Mifta untuk membantunya melakukan sesuatu, maka mbak Mifta meminta Zahro untuk minta tolong ke ayanya. Membungkus makanan misalnya, atau minta ditemani main sepeda, minta di antar ke suatu tempat, sampai makan sepiring berdua. Berawal dari hal-hal sederhana itu, akhirnya tercifta kelekatan yang kuat berkat momen-momen bersama yang mereka lalui.

Bonding saya dan ayah saya, Zahro dan mas Salman, terjalin karena hal yang sama : hal-hal keseharian yang sederhana namun berharga.

Momen-momen kebersamaan anak-orang tua memang tak terganti ya. Terekam dalam memori jangka panjang dan membekas di hati bahkan sampai si anak dewasa dan menua. Jadi tergantung pengalamannya, kalau pengalaman dan perlakuan yang ia dapat dari orang tuanya adalah yang baik-baik, mudah-mudahan berdampak baik pula pada perkembangan mental dan karakternya. Makanya saya paling seneng kalau ngeliat anak-anak bermain dengan orang tuanya. Khususnya dengan ayah. Tau sendiri lah kan, banyak yang berpikir bahwa tugas mengasuh anak itu hanya tugasnya para ibu. Ini jelas keliru, karena bagaimanapun, ayah dan ibu punya peran, porsi, dan posisi masing-masing. Anak membutuhkan figur keduanya, bukan salah-satu saja.
i love my dad
Tiap anak butuh figur seorang ayah
Terkait bonding ayah dan anak ini, saya jadi semangat ikut acara Nestlé LACTOGROW Happy Date with Legendaddy – Happy Winter Land di Plaza Medan Fair pada 15 Mei 2016 lalu. Disini saya tidak hanya melihat anak-anak asik bermain dengan ayahnya, tetapi juga mendapat pengetahuan seputar parenting dari narasumber yang hadir dalam sesi media talkhsow yang mereka gelar.

Baca juga : KEBAHAGIAAN KELUARGA, PENENTU KARAKTER DAN TUMBUH KEMBANG ANAK

Kalian punya cerita tentang kebersamaan dengan ayah kalian? Share disini ya :)

Foto-foto : BlueStone.com

BISNIS-BISNIS YANG GAGAL DAN IMPIAN YANG MASIH DI AWANG-AWANG

11.02 6
cerita bisnis

Bisnis-Bisnis yang Gagal dan Impian yang Masih di Awang-Awang : Kemarin saya ketemu teman semasa kuliah. Dianya nanya, gimana nih bisnisnya? Saya Cuma cengengesan, keinget impian masa lalu : punya bisnis yang sukses dan berkah. Pemikiran saya dulu *sekarang juga sih* orang yang memilih berwirausaha ketimbang kerja di perusahaan adalah orang yang kece.

Cerita-cerita tentang berwirausaha, sebenarnya saya sudah beberapa kali memulai usaha. Dari masa-masa kuliah dulu hingga kini. Dari yang cuma iseng dan memanfaatkan yang ada, ngandelin uang tabungan saat kuliah, sampai yang modalnya puluhan juta dan berakhir dengan merugi. Dari yang usaha sendiri, berdua ama temen, sampai yang rame-rame. Semuanya saya jabanin karena memang saya pengennya jadi pengusaha.

Beberapa usaha yang pernah saya rintis di antaranya :

DnA
DnA adalah singkatan dari Diah dan Ayu yang saya jalankan bersama teman sekos saya saat kuliah dulu. Berbekal uang tabungan, kami patungan membeli mesin printer untuk usaha kami yang meliputi print, fotocopy, dan scan file/tugas kuliah di rumah kos-kosan kami dan penyewaan novel dan komik ke teman-teman di kampus. Usaha ini lumayan sukses tapi harus terhenti karena kami harus KKN ke luar kota.
usaha kecil
Diah dan Ayu :)

Kamus Anak Kreatif
Ini usaha saya bersama dua sahabat saya, Rinda dan Rudi. Namanya Kamus Anak Kreatif. Produknya berupa kamus Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris yang dibuat gantungan kunci/tas. Isi kamusnya sih tinggal diprint dan fotocopy saja karena Rudi sudah punya softcopy-nya. Lalu dipotong sesuai ukuran, digabungin dan buat cover kamusnya. Lumayan menarik dan ada peminatnya, tapi ngerjainnya yang nggak sanggup. Njelimet broooh *yang namanya handmade emang butuh kesabaran ya*. Karena harga jual nggak sesuai dengan keribetan membuatnya, usaha ini pun terhenti. Hanya sampai 2 kali produksi saja.

Dinda Aksesories
Tak berhasil dalam usaha Kamus Anak Kreatif, saya dan Rinda *Dinda itu singkatan dari Diah dan Rinda* buat usaha berdua aksesoris handmade. Kami buat kalung, gelang dari mote karena bahannya murah. Jadi jualnya juga bisa dengan harga terjangkau, mengingat sasaran pembeli kami adalah teman-teman kuliah. Yang ini pun gagal karena entah kenapa saat itu kami berdua tak begitu pede promosi ke teman-teman.

Koper Event Organizer
Kebetulan saya dan teman-teman seangkatan di organisasi saat itu lagi seneng-senengnya buat event. Jadi lah kami buat EO sebagai wadah buat menampung ide-ide liar kami kala itu. Saat itu kami ada 7 orang dan semuanya perempuan. Usaha ini cukup sukses. Lewat Koper Organizer ini kami sempat menerbitkan buku, mengadakan trip dan banyak peminatnya, juga menjadi EO lokal bagi penyelenggara acara dari luar kota. Kami juga pernah ngundang artis ibu kota dan ngerasain susahnya ngejaga artis yang lagi hits-hitsnya dari serbuan fans.

Arif Pocong
Bersama teman-teman Koper saat mengundang Arif Pocong
Lantas, kenapa Koper Event Organizer akhirnya terhenti padahal punya peluang yang besar kala itu? Jawabannya adalah karena sebagian besar dari kami kala itu belum selesai kuliah. Dan yang sudah lulus kebetulan mendapat pekerjaan di luar kota. Satu persatu melangkah dengan jalannya sendiri. Koper Event Organizer pun tinggal kenangan.

DW Aksesoris
Terhenti langkah di EO, saya memutuskan kembali menggeluti usaha aksesoris handmade. Kali ini bersama junior saya di kampus, namanya Wira. Jadilah usaha dengan nama DW (Diah Wira) Aksesoris. Penjualannya sebenarnya lumayan, cuma lagi-lagi harus terhenti karena Wira memutuskan untuk fokus ngerjain skripsi *kami sama-sama belum lulus saat itu. Tapi saya pilih lanjut kerja, cari uang buat modal skripsi, dan Wira pilih fokus nyelesain skripsi walaupun akhirnya kami wisudanya bareng*

Mormonst
Usaha kali ini modalnya cukup besar. Budi daya jamur tiram yang kami beri nama Mormonst. Bareng si Ayu yang dulu partner saya buka usaha DnA. Selain modalnya besar, usaha budi daya jamur tiram ini juga menyita waktu dan tenaga. Plus pikiran juga karena harus mikirin pemasarannya. Banyak hal yang ternyata di luar perhitungan kami sebelumnya. Usaha ini pun lagi-lagi gagal dengan modal yang cukup banyak terpakai.
budidaya jamur
Mormonts, usaha jamur tiram yang ternyata tak semudah yang dibayangkan
Nebula Café
Berbekal sisah modal dari Mormonst, saya dan Ayu membuka café di teras rumah kontrakan kami. Lebih tepat dibilang warung sih ketimbang café. Singkat cerita, usaha ini gagal karena berbagai hal.

usaha kuliner
Salah satu kreasi saya dan Ayu untuk menu di Nebula Cafe

DnA Chocolate
Karena modal banyak terbuang di Mormonts dan Nebula Café, kami akhirnya mencoba usaha dengan modal kecil lagi. Usaha cokelat karakter untuk dititipkan ke warung-warung di sekolah. Saat usaha mulai berkembang dan jumlah warung penitipan semakin banyak, eh rupiah anjlok tahun lalu. Percaya nggak percaya ini berimbas ke uang saku anak-anak sekolah tempat kami menitipkan cokelat. Penjualan pun turun drastis. Kemudian terhenti (lagi).

usaha kecil dan menengah
Balik lagi pakai nama DnA, cuma kali ini beda produk :)

Itu saja? Sebenarnya masih ada yang lain. Tapi bakal panjang banget kalau diceritain semua. Intinya impian saya buat jadi pengusaha sukses hingga kini masih di awang-awang. Tapi apakah saya menyerah?! Mudah-mudahan tidak. Tapi memang saat ini saya lebih banyak mikirnya. Beda dengan dulu, tiap ada yang ngajak buat usaha saya langsung bilang hayuk dengan semangat tanpa pikir panjang kelebihan maupun kelemahan usaha yang hendak dijalani.

Sekarang, meski tawaran untuk buka usaha bareng masih sering menghampiri dari teman-teman, saya memilih untuk tak terburu-buru. Saya memilih untuk memikirkan betul-betul usaha yang ingin dijalankan. Apalagi kalau misalnya modalnya besar, wah saya nggak mau rugi banyak seperti yang sudah pernah saya alami.

Saat ini, palingan usaha iseng-isengan *lebih kecil dari usaha kecil-kecilan :D* yang saya jalankan adalah Penov Bracelet. Usaha gelang persahabatan yang saya kerjakan untuk mengisi waktu luang dan saat bosan menulis. Meski masih iseng-iseng, tapi saya punya impian kelak usaha ini tak sekedar usaha sampingan.
priendship bracelet
Gelang persahabatan, handmade by Penov Bracelet
Pelanggan Penov Bracelet saat ini masih teman-teman aja sih. Karena memang saya promosinya cuma di BBM dan di instagram sekali-sekali. Produksinya juga by order. Jadi kalau ada yang order baru diproduksi. Palingan saya kalau mood lagi bagus ya belajar buat pola dan model gelang terbaru. Supaya produk di Penov Bracelet selalu update, maka sayanya juga harus senantiasa belajar untuk meng-upgrade diri dong.
penov bracelet
upgrade diri dengan mencoba model-model baru
Pengennya sih ya, suatu saat Penov Bracelet bisa memproduksi tidak hanya gelang. Tapi juga produk aksesoris lain. Selain itu, impian saya adalah pengen ngangkat kekayaan lokal yang ada. Misalnya saja gelang dengan motif Ulos Batak namun dengan model yang trendi. Jadi selain melestarikan warisan budaya, juga sekalian ngajak anak-anak muda buat mencintai warisan leluhur. Kan pelanggan Penov Bracelet kebanyakan anak-anak muda.

watch bracelet
Tak hanya gelang, tetapi juga jam dengan tali handmade dengan tekhnik macrame dan boleh order pola dan warna tali
Tapi tentunya semua itu nggak gampang meskipun juga nggak mustahil untuk diwujudkan. Selain kreatifitas dalam berkarya, saya butuh hal-hal lain yang mendukung, gadget misalnya. Di era digital seperti ini, kemajuan teknologi memberi peluang lebih bagi siapa saja yang ingin berkembang.
kreasi gelang cantik
Di era digital, berkreasi, mencari ide, dan promosi bisa dilakukan dengan lebih maksimal lagi dengan dukungan gadget

Tapi berdasarkan pengalaman dan melihat kondisi finansial saat ini, rasa-rasanya saya membutuhkan gadget dengan harga reasonable dan memiliki fitur yang mumpuni untuk mendukung Penov Bracelet menjadi bisnis yang sukses sesuai impian saya.

Saat ini, sepertinya yang paling pas menjadi sahabat dalam mengembangkan bisnis impian saya adalah ASUS All-in-One PC V230IC. Produk keluaran ASUS ini memiliki fitur-fitur keren yang saya percaya bisa menunjang bisnis iseng-iseng saya menjadi bisnis beneran.

Beberapa alasan yang membuat saya jatuh hati pada ASUS All-in-One PC V230IC di antaranya adalah :

  • Kekuatan komputasinya dapat menunjang bisnis tradisional dengan teknologi terkini berupa layar sentuh 10 jari, koneksi port serial (COM), modul NFC dan pembaca Smart Card untuk mendukung aplikasi bisnis.
  • Bodinya ramping dan kompak, menjadikan produk ini sempurna untuk bisnis yang memiliki keterbatasan ruang kerja.
  • ASUS All-in-One PC V230IC didukung oleh prosesor Intel® Core ™ i5 yang merupakan generasi ke-6. Lebih hemat energi. Performa super dan handal serta multitasking.
  • Grafis yang kece badai dan sound yang berkualitas.\
  • Dilengkapi dengan Solid-State Hybrid Drive (SSHD), yakni teknologi yang menggabungkan kapasitas penyimpananyang hebat dan kecepatan yang tingi dalam merespon sistem secara keseluruhan.


Saya jadi ngayal guys, meluahkan kreatifitas dengan ASUS All-in-One PC V230IC. Dengerin musik dengan suara yang ajib sambil ngedit foto-foto Penov Bracelet untuk saya share di sosial media. Atau ngedit video tutorial pembuatan Penov Bracelet, itung-itung berbagi ilmu buat gelang handmade yang saya punya. Kalau lagi nggak ada ide, ya tinggal surfing internet saja.

komputer asus
ASUS All-in-One PC V230IC mendukung aktifitas surfing internet penggunanya.
Layar sentuh yang responsif dengan tingkat akurasi yang tinggi akan mempercepat dan mempermudah pekerjaan saya. Saat sedang mencari ide untuk pengembangan model Penov Bracelet, kebiasaan saya adalah melihat-lihat gambar secara detil. ASUS All-in-One PC V230IC memiliki layar selebar 23 inci yang full HD. Membuat setiap gambar serupa dengan warna aslinya. Dengan layar sentuh yang mampu merespon sepuluh jari sekaligus, saya bisa dengan mudah melihat-lihat detil gambar dengan men-zoom ataupun memutar-mutar suatu gambar. Dan saat ide sudah saya temukan, dengan pena stylus saya bisa langsung menggambar ataupun menulis ide-ide yang saya miliki di layar saat itu juga. Ah, ini akan menjadi hal yang menyengankan sekali rasanya.
layar full HD
Layar 23 inci yang full HD, tampilan kinclong, bodi ramping ciiiin....
Sebagai perantauan yang mengontrak rumah bersama teman-teman, bodi ASUS All-in-One PC V230IC yang ramping tentunya menguntungkan saya. Jadinya nggak membutuhkan banyak tempat dong. Tau sendiri lah kan yang namanya ngontrak bareng. Mana bisa sesuka hati kita menaruh barang. Tiap beli suatu barang harus mikir-mikir dulu, masih ada ruang kosong nggak di rumah. Kalau misalnya ada, bakal ngeganggu penghuni lainnya nggak. Makanya gitu tau ASUS All-in-One PC V230IC berbodi ramping, langsung girang pengen punya. Ditambah lagi selain ramping juga efisien. Nggak pake ribet dengan kabel ini itu layaknya PC pada umumnya. Ngisi dayanya juga gampil bingits *gampang maksudnya* secara dia wireless charger, tinggal ditempatkan di dasar multifungsi, ntar kalau udah penuh bakal kelihatan di lampu indikatornya.

Koneksi port serial ASUS All-in-One PC V230IC memiliki kecepatan yang canggih dengan teknologi terbaru. Dengan USB 3.1 aktivitas transfer file jadi lebih cepat dari biasanya. Begitu juga dengan wireless connectivity and visual entertainment-nya, semuanya menggunakan teknologi baru yang oke punya.

Nih spesifikasi lengkang ASUS All-in-One V230IC, silahkan dilihat guys..!
ASUS All-in-One PC V230IC sepertinya memang dirancang untuk mendukung aktifitas bisnis penggunanya. Disain ramping, performa maksimal, dan tentu saja harga yang reasonable. Ah, saya jadi ngayal punya sebiji aja ini ASUS All-in-One PC V230IC, pasti bakal tambah semangat ngembangin usaha. Semoga saja bisa terwujud secepatnya.

Yaps, itulah guys cerita saya tentang Bisnis-Bisnis yang Gagal dan Impian yang Masih di Awang-Awang. Do’akan saya punya ASUS All-in-One PC V230IC ya, do’akan juga Penov Bracelet berkembang dan jadi besar.

Kalian punya impian bisnis? Atau cerita susah senangnya membangun bisnis? Share dong.

Sumber referensi dan foto ASUS All-in-One PC V230IC : asus.com