INGIN MENGETAHUI HARGA PS4 YANG BENAR? HUBUNGI SAJA PIHAK PENJUAL RESMINYA

09.32 0
harga ps4
Harga PS4 yang benar (foto : zavvi.com)


Ingin Mengetahui Harga PS4 yang Benar? Hubungi Saja Pihak Penjual Resminya : Saat ingin bertanya dan mengetahui perihal harga ps4, kalian perlu berhati-hati. Hal itu dikarenakan tidak menutup kemungkinan ada juga oknum penjual ps4 yang membandrol produk tersebut dengan harga lebih murah. Harga yang jika dipikir secara logika tidak masuk akal karena begitu miring atau murah. Sebagai contoh, diperkirakan saja ps4 dalam kondisi masih baru dan tersegel dibandrol resminya jutaan rupiah. Namun, ps4 yang ditawarkan oleh oknum penjual yang satu ini dihargai di bawah Rp 1 jutaan. Begitu murah, bukan? Padahal, jelas-jelas pihak penjualnya mengatakan bahwa produk ps4 tersebut masih baru.


Mungkin jika yang dijualnya ps4 second atau bekas, harga tersebut masih masuk akal. Namun jika yang dijualnya produk baru, tentu saja ada tanda tanya besar di pikiran kita semua. Tanda tanya yang seharusnya perlu ada jawaban dan penjelasan yang logis. Bahkan, oknum penjual yang bersangkutan masih bisa menjawabnya karena mau tidak mau dia harus bisa menjual produk ps4 abal-abal tersebut agar bisa mendapatkan keuntungan. Sang penjual menjawab bahwa ps4 yang dijualnya merupakan produk lama yang sudah sekian lama disimpan di gudang. Oleh karena itu, dia berdalih memberikan diskon atau potongan harga spesial kepada siapa saja yang mau membelinya. Bahkan, dia menjamin ps4 yang dijualnya asli dan tidak sedikit pembelinya.


Lalu, apakah kalian sebagai salah satu calon konsumen percaya dengan omongannya dan ingin membelinya? Jika kalian menjawab iya, sangat mungkin kalian akan kecewa dan menyesal di kemudian hari jika benar-benar nekat membelinya. Sementara itu, kalian yang berpikir harga ps4 yang diberikan tidak masuk akal dan segera meninggalkan penjual penipu tersebut. Itulah calon konsumen yang cerdas dan bijaksana.

Memang benar, kalian sekalian jangan hanya termakan bujuk rayu dari penjual ps4 palsu di pasaran. Selain itu, jangan hanya tertarik dengan ps4 yang dijual dengan harga begitu murah. Dipastikan ps4 tersebut berkualitas abal-abal alias palsu. Mungkin kalian hanya bisa memainkan ps4 itu maksimal sebulan saja. Setelah itu, mesin dan komponen di dalamnya rusak dan tak bisa digunakan lagi. Sudah terlambat bila kalian ingin komplain atau meminta ganti rugi pada oknum penjualnya. Pasalnya, sudah pasti yang bersangkutan sudah pergi jauh.


Sebagai konsumen, sudah seharusnya kita lebih bijaksana dan selektif saat memilih. Bukan hanya saat memilih produknya saja, tetapi juga pihak penjualnya. Tak perlu ikut-ikutan orang lain yang belum tentu cocok dan tepat pilihannya. Lebih baik kita memilihnya sendiri dengan kriteria terbaik yang sudah didapatkan.

Kalian yang ingin membeli ps4 dalam waktu dekat ini. Pastikan kalian menghubungi dan membelinya dari pihak penjual terpercaya. Pasalnya, hanya mereka yang bisa membandrol harga ps4 resmi di pasaran.


Harga resmi tersebut bisa kalian dapatkan informasinya dengan mudah, yaitu menghubungi pihak penjual resminya. Kalian bisa menghubunginya secara offline di dunia nyata atau online di dunia maya. Pilih saja yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kalian masing-masing.

Namun demikian, lebih mudah, praktis, dan cepat dengan menghubungi pihak penjual resmi ps4 secara online. Kalian cukup menelponnya atau memanfaatkan beberapa fitur komunikasi modern yang marak sekarang. Kalian pun masih bisa berkomunikasi dan menghubunginya langsung meskipun tidak bertatap muka. Silakan tanyakan apa saja mengenai ps4 yang perlu kalian ketahui. Jangan lupa menanyakan perihal harga ps4 baru dan terkini karena ingin membelinya.

Baiklah, itu sedikit ulasan saya tentang Ingin Mengetahui Harga PS4 yang Benar? Hubungi Saja Pihak Penjual Resminya, semoga bisa membantu ya. Atau jika kalian punya tips dan trik mengenai harga PS4, boleh loh share disini :)





[CERPEN] SUATU HARI DI DESA PAKLEK

09.15 0
cerpen suatu hari di desa paklek
[Cerpen] Suatu Hari di Desa Paklek

[Cerpen] Suatu Hari di Desa Paklek : Kemarin saya bongkar-bongkar file lama, dan ketemulah file cerpen ini. Jujur saya sendiri sudah lupa pernah menulis ini. Secara masa-masa nulis fiksi emang udah lama banget berlalu.

Saya nggak tau kenapa sekarang itu rasanya sulit banget tiap mau nulis puisi ataupun cerpen, padahal dulu itu saya mengawali karir kepenulisan *ceileee karirrrr hahhahaha* dari dunia fiksi. Iseng-iseng ngirim karya ke salah satu harian di kota Medan, kemudian diterbitkan dan saya jadi semakin semangat terus ngirim karya.

Cukup surprised ketika mendapati file ini. Makanya saya posting disini. Nggak ada diedit sedikit pun, bahkan EYD, tanda baca dll yang saya lihat masih kurang bener pun saya biarin aja. Biar besok-besok kalau baca postingan ini saya jadi inget gimana dulu tulisan saya.


Entah tahun berapa cerpen ini saya tulis. Saya beneran nggak inget. Mungkin antara tahun 2008-2011 gitu deh. Soalnya di tahun-tahun itu saya lumayan getol nulis fiksi.


Daaann... jeng..jeng..jeeeng.. inilah [Cerpen] Suatu Hari di Desa Paklek karya saya dulu, selamat menikmati


[Cerpen] Suatu Hari di Desa Paklek

Mentari belum terbangun dari mimpi. Pucuk-pucuk embun merayap ke segala sudut pagi. Terlena! Jiwa-jiwa masih terbalut hangat selimut. Berbeda dengan aku dan Jono, bocah tujuh tahun yang baru tiga hari ini menemani hari-hariku dalam pelarian hidup.

“Kita mau kemana Jon?”

“Sudah, kakak ikut saja” jawabnya. Ia berjalan lebih cepat dariku. Aku keteter mengejarnya.

“Cepat sedikit kak, sebelum ketinggalan” bocah laki-laki yang selalu ceria dan berkepala botak itu seakan tak sabar melihatku yang memang lebih terbiasa mengendarai Avanza dari pada harus berlelah-lelah ria.

“Masih ja..”

“Lihat kak!!” telunjuk mungilnya menunjuk sesuatu ke arah puncak bukit ketika aku hendak bertanya lagi. Aku mengikuti bola matanya.

“Subhanallah! Indah benar lukisanNya” seakan tak percaya aku memandang wajah TUHAN yang menjelma menjadi mentari pagi dengan rona Jingganya. Mentari yang sebagian wajahnya masih bersembunyi di balik satu-satunya bukit di desa ini. Mentari tlah terbangun.

“Kak!” Jono mengoyang-goyang tubuhku. Aku tergagap

“Eh iya, indah sekali ya Jon?!” Jono tersenyum

“Pejamkan mata kak!”

“Hah?” aku tak mengerti

“Pejamkan mata kak!” Jono megulang. Matanya sudah terpejam. Aku mengikuti.

“Sudah”
Sesaat berlalu

“Sekarang buka”

Kubuka mataku. Dan..ya rahman! Bocah lugu ini kembali memperlihatkan padaku bukti keagunganNya. Puluhan burung bangau merayap di udara, melewati kami dan mendarat di persawahan tak jauh dari tempat kami berdiri. Benar-benar indah. Aku merentangkan tanganku dan tengada pada bola pijar dunia itu. Tak kurasakan lagi dingin. Kusambut angin yang menggodaku untuk menari. Untuk berirama.

“Aaaa…!!” aku berteriak sekeras mungkin sambil berputar. Jono juga melakukan hal serupa. Kami menari. Bernyanyi. Di pagi yang ranum.
*

“Kapan kau pulang Ra?”

“Paklek sudah bosan melihat saya disini? Jawabku, sedikit terusik

“Bukan begitu Ra, paklek dan bulek senang-senang saja kamu ada di sini. Tapi bagaimana dengan kuliahmu, dengan keluargamu, apalagi ayahmu tidak senang dengan paklek. Paklek tidak mau ayahmu berpikiran yang tidak-tidak sama paklek, apalagi kalau sampai berimbas ke kamu” paklek bicara panjang lebar.


Aku menghela nafas, paham akan maksud paklek. Papa dan mama memang tidak suka aku bergaul dengan adik papa paling kecil ini. Papa marah saat paklek memilih menikahi bulek Mirna yang hanya gadis desa dan tak lulus SMA ketimbang kuliah dan mengurus usaha restoran peninggalan kakek.


Papa menuduh paklek telah terkena guna-guna bulek Mirna. Aku tak ambil open. Toh sampai sekarang omongan papa tak terbukti. Paklek dan bulek masih tetap akur sampai sekarang. Padahal sudah 12 tahun mereka menikah, belum dikarunia anak. Tapi mereka masih adem ayem. Bahkan lebih harmonis dari hubungan papa dan mama yang memang sudah lama tak harmonis lagi. Aku memang sudah hampir sebulan tinggal disini. Cuti kuliah dan meninggalkan mama papa di Medan.


Aku bosan mendengar pertengkaran mereka. Suasana di rumah hanya ada dua macam : kesunyian dan keributan. Sunyi saat mereka sibuk di luar tanpa peduli padaku, anak semata wayangnya. Ribut jika mereka sudah pulang dan pasti bertengkar.

“Belajar apa kita hari ini kak?” suara ringan Jono mengagetkanku. Kulihat ia dan teman-temannya memandangku

“Eh, kalian sudah datang! Hari ini tema pelajaran kita adalah, aku kaya” ucapku.

Dan kami pun bergegas ke bangku yang menyerupai lingkaran di bawah pohon mangga di depan rumah paklek. Mereka duduk rapi di bangku tersebut. Aku berada di tengah-tengah dan mulai menceritakan makna kaya seperti yang kuketahui. Sejak aku mengenal Jono dan teman-temannya, sejak itulah mereka sering mengunjungiku. Mereka suka kuajari apa saja. Berhitung, membaca, menyanyi atau bahkan sekedar aku ceritakan dongeng yang sering kubaca di majalah anak-anak yang sering kubaca dulu. Aku prihatin melihat anak-anak di desa ini. Mereka cerdas, ceria, santun, tetapi tak sekolah. Sedari kecil mereka sudah diajak berkebun, berladang dan beternak. Bukan tak ada sekolah di desa ini. Ada! Tapi memang minat orang tua mereka yang tak ada. Atau mungkin ada, namun sudah terlanjur kecewa melihat berita di TV mengenai banyaknya sarjana menganggur.


Aku tak tahu pasti. Tapi yang pasti, aku sangat prihatin melihat desa dengan jalan sudah teraspal dan berjarak hanya dua jam perjalanan dari kota Medan, penduduknya banyak tak makan sekolahan.

“Jadi walaupun kita tak punya helikopter, kita tetap kaya ya kak?” pertanyaan Randu menyadarkanku dari lamunan setelah menjelaskan tentang tema tadi.

“Benar sekali Randu”

“Sebab walaupun kita tidak punya barang-barang mahal, tapi kita masih punya kesehatan yang baik” Lina angkat bicara

“Kita masih bisa bercanda, tertawa riang” Fazar anak paling pemalu di antara mereka juga ikut bersuara. Aku senang mendengarnya

“Kita masih punya ilmu pengetahuan” yang lain menambahkan

“Dan yang paling penting adalah kita masih bisa bersama-sama dengan orang yang kita sayangi” Jono tak mau kalah.

“Ya… semua jawaban kalian benar. Kaya bukanlah ketika kita mempunyai barang-barang mewah dan uang yang banyak. Kaya adalah dimana kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki saat ini” ucapku.


Sebuah mobil mewah berwarna merah memasuki halaman rumah paklek. Aku kenal mobil itu. Papa!
Papa berjalan ke arahku. Kulihat Paklek dan bulek Mirna juga keluar rumah dan berjalan ke arahku.

“Ayo pulang!” suara papa terdengar ketus

“Ayo masuk dulu kang!” Paklek mencoba mencairkan kekakuan

“Aku kesini cuma untuk menjemput Kara, bukan untuk masuk ke rumah kumuhmu”
Aku menyuruh Jono dan teman-temannya pulang karena tak ingin mereka melihat hal-hal yang tak enak.


“Ayo pulang!” papa mengulang kalimatnya

“Aku akan tetap di sini, setidaknya sampai cutiku berakhir” jawabku

Plak!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi bulek Mirna

“Dasar wanita laknat! Belum puas kau jampi-jampi adikku?! Sekarang kau jampi-jampi juga anakku. Setan!” amarah papa membuncah. Gerakan papa hendak memukul bulek Mirna, tapi belum sempat hal itu terjadi, kulihat papa memegang dadanya dan seketika terjatuh ke tanah berdebu.
***


Yaiii... itu dia [cerpen] Suatu Hari di Desa Paklek yang saya tulis entah tahun berapa tepatnya itu :D kasi komentar kalian dong!

HARBOLNAS 2017 DI BUKALAPAK, CARA TEPAT DAPATKAN PRODUK IDAMAN DENGAN HARGA MURAH

11.56 2
harbolnas 2017 di bukalapak
Harbolnas 2017 di Bukalapak


Harbolnas 2017 di Bukalapak, Cara Tepat Dapatkan Produk Idaman Dengan Harga Murah - Memiliki produk yang ingin dibeli sejak lama namun menangguhkannya karena harga barang tersebut masih sangat mahal memang menjadi kejadian klasik yang sering dialami oleh siapa saja.


Terkadang solusi yang diambil adalah menabung atau mengumpulkan uang terlebih dahulu hingga mencukupi untuk digunakan untuk membelinya. Namun sekarang ini juga ada solusi lain yang lebih mudah dan nyaman bagi calon pembeli.


Solusi tersebut adalah diskon atau potongan harga yang kerap diberikan si penjual untuk produk tertentu di waktu-waktu tertentu. Kalian tinggal menunggu waktu yang tepat untuk kembali bisa berbelanja produk yang sama dengan harga yang lebih terjangkau. salah satu waktu dan cara yang tepat untuk membeli berbagai produk idaman dengan harga murah adalah pada perayaan promo diskon harbolnas 2017 Bukalapak sebentar lagi.


Bukalapak merupakan salah satu situs belanja online terpercaya yang dijadikan tempat berjualan dan membeli aneka kebutuhan rumah tangga maupun produk lainnya secara online dengan cara yang mudah dan harga yang murah. Transaksi jual beli online saat ini lebih marak dilakukan masyarakat terutama kalangan yang sudah melek internet karena lebih mudah, efisien dan murah dengan berbagai pilihan model serta kualitas barang. Salah satu situs jual beli besar yang ada di Indonesia yaitu Bukalapak mengambil peran yang cukup signifikan dalam meningkatkan transaksi jual beli online karena situs tersebut mampu memberikan pelayanan yang nyaman dan aman baik pada penjual maupun pembeli.


Salah satu cara yang dilakukan Bukalapak dan juga pelaku ecommerce lainnya untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap transaksi jual beli online adalah dengan mengadakan perayaan Harbolnas yaitu hari belanja online nasional setiap tanggal 12 desember. Di waktu tersebut, semua pelaku ecommerce memberikan berbagai promo menarik yang bisa menarik pembeli untuk melakukan transaksi jual beli secara online. Berbagai promo yang dilakukan pastinya sangat menguntungkan pihak pembeli agar menjadi faktor penarik atau pendorong untuk melakukan transaksi. Adapun promo yang biasa diberikan untuk memeriahkan harbolnas 2017 Bukalapak antara lain:

1. Potongan harga hingga 90%.
2. Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia.
3. Voucher potongan harga belanja.
4. Beli 1 dapat 2.

Bagi kalian yang sedari dulu sudah memiliki produk idaman yang ingin dibeli namun masih terkendala harga yang tinggi, bisa memanfaatkan moment ini loh untuk mendapatkan produk tersebut dengan harga yang lebih terjangkau. Kalian bisa melakukan cek ke Bukalapak saat perayaan Harbolnas untuk mengetahui apakah ada barang idaman kalian yang sedang di diskon saat perayaan tersebut. Jika ada maka sebaiknya langsung memasukkannya ke keranjang dan melakukan pembayaran dengan cepat agar barang bisa langsung menjadi milik kalian dan dikirimkan ke alamat rumah yang kalian informasikan.


Harbolnas 2017 Bukalapak pastinya menjadi perayaan yang paling ditunggu terutama oleh mereka yang sering bertransaksi secara online untuk mendapatkan berbagai barang kebutuhan atau rumah tangga. Agar kalian bisa juga bertransaksi dengan aman dan nyaman, sebaiknya membuka situs Bukalapak di waktu-waktu senggang misalnya di pagi hari atau dini hari saat semua masih terlelap. Siapkan juga alat pembayaran yang bisa ditransaksikan dengan cepat agar bisa digunakan untuk melakukan pembayaran tanpa perlu keluar rumah atau menunggu konfirmasi dalam waktu yang lama. Jika kalian tidak memiliki fasilitas perbankan, maka manfaatkan kerjasama antara Bukalapak dengan gerai mini market yang sudah tersebar di berbagai pelosok wilayah Indonesia.


Oke deh, itu sedikit tulisan singkat tentang Harbolnas 2017 di Bukalapak, Cara Tepat Dapatkan Produk Idaman Dengan Harga Murah. Jadi, selamat belanja belinji barang impian saat Harbolnas ya :)

JUAL BUKU/NOVEL BARU DAN BEKAS

11.27 0
jual buku novel baru dan bekas
Jual buku novel baru dan bekas

Jual Buku/Novel Baru dan Bekas : Beberapa hari lalu saya mendapat email. Ternyata isinya menanyakan salah satu judul buku bekas yang dulu pernah saya jual. Dia melihat postingan di blog saya mengenai buku-buku yang hendak saya jual dan bertanya apakah buku tersebut masih ada. Jika ada dia ingin membelinya.


Sebenarnya postingan itu sudah lama saya buat. Tahun 2015 lalu. Dan memang kala itu saya berniat menjual sebagian buku-buku saya baik yang masih baru ataupun yang sudah bekas. Beberapa buku berhasil saya jual berkat postingan blog tersebut. Tapi masih ada juga yang belum laku, salah satunya buku yang ditanyakan orang yang mengirim email ke saya itu.

Baca juga : Jual Buku Murah / Second

Gara-gara diemail tentang jual beli buku/novel baru dan bekas tersebut, saya jadi keinget lagi buku-buku saya yang seabrek. Sebagian besar sudah saya baca. Tapi banyak juga yang belum.


Dari dulu saya memang termasuk hobi baca dan punya cita-cita kelak punya perpustaan pribadi kalau sudah punya rumah sendiri. Makanya saya rajin beli buku yang menarik bagi saya.


Tapi sampe sekarang rejekinya belum cukup buat beli rumah. Cuma cukup buat ngontrak rumah doang. Itu pun pindah-pindah mulu. Dan kalian taulah ya gimana ribetnya pindahan. Apalagi kalau punya banyak barang-barang.


Masalah pindahan ini bener-bener mempengaruhi mood saya banget loh. Apalagi saya tipe yang sayang buang barang-barang.


Tapi keseringan pindah buat saya mikir ulang buat koleksi buku. Kayaknya saya musti nunggu dulu deh sampe punya rumah sendiri baru boleh kalap beli buku :D karena kalau nggak ntar bingung sendiri pas pindahan. Pas dapet rumah yang kecil kayak sekarang juga bakal bingung naruh barang-barang. Nggak enak juga ama temen yang barangnya sedikit. Masak satu ruangan barang saya semua sih -_-


Jadi saya kepikiran buat jual buku-buku saya lagi. Ini ada yang masih baru, ada juga yang bekas. Ada yang udah dibuka tapi belum dibaca, teritung bekas deh ya.


Baiklah, tanpa memperlama waktu, nih saya buat daftar novel dan buku yang saya jual. Harganya nggak mahal kok. Dan dipastikan itu bukunya asli, bukan bajakan. Belinya juga di toko buku besar. Jadi silahkan dipilih-pilih guys, manatau ada diantaranya buku-buku yang selama ini kalian cari.

15 Ribu / Bekas
Berciuman dengan mata terpejam – Kumpulan Cerita (Hoeda Manis)
Kumpulan Tweets @FiraBasuki dan Cerita Lain (Fira Basuki)
Reborn – Novel ( Harninda Syahfitri & Ifnur Hikmah)
Menyentuh Bayang – Novel (Itut Wahidin)
Di Balik Kerling Saatirah (Niknik M Kuntarto)
Tuan Besar – Kumpulan Cerita (Threes Emir)
My Life As Writer – Kisah Inspiratif (Haqi Ahmad & Ribka Anastasia Setiawan)
Jika – Kumpulan Cerita (Alanda Kariza dkk)
Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu – Kumpulan Cerpen (A.S. Laksana)
Menuju (H) – Kumpulan Cerita (Aan Syafriani, Iru Irawan, Dkk)
La Grande Borne – Novel (Nh. Dini)
Kerudung Merah Tuathina – Novel (Mimosa Q.)
Ngeblog Dengan Hati – Tips Ngeblog (Ndoro Kakung)
Gunung Kelima / The Fifth Mountain – Novel (Paulo Coelho)
The Alchemist – Novel (Paulo Coelho)
By The River Piedra I Sat Down And Wept –Novel (Paulo Coelho)
Diabetes, Tanya Jawab Lengkap Dengan Ahlinya (Hand Tandra)


20 Ribu / Baru
Api Awan Asap – Novel (Korrie Layun Rampan)
Tarian Bumi – Novel (Oka Rusmini)
Night Flight –Novel (Antoine de Saint-Exupery)
Kukila – Kumpulan Cerita (M. Aan Mansyur)
The Moon Opera – Novel (Bi Feiyu)
Blues Merbabu – Novel (Gitanyali)
Labirin – Novel (Catz Link Tristan)
Hidup Sehat Tanpa Gluten (Lies Dahlia)
The Adventures of Pinocchio – Novel (Carlo Collodi)


Gimana, ada yang menarik hati kalian? Kalau ada bisa contact saya di : [email protected] ya kalau mau order.
Sekian postingan saya hari ini tentang Jual Buku/Novel Baru dan Bekas. Saya tunggu kalian belanja buku-buku saya yaa :)

AKHIRNYA MEMILIH XIAOMI

11.34 21
akhirnya memilih xiaomi
Akhirnya memilih Xiaomi (foto : mysmartprice[dot]com. edit by me)

Akhirnya Memilih Xiaomi : Judulnya kayak lagi menentukan pendamping hidup ya ehehheee… atau kayak bau-bau review produk gituh ya. Tenang aja, saya nggak pinter ngereview kok. Lagian saya nggak bakal cerita tentang fitur-fitur hape Xiaomi yang saya pakai ini. Saya cuma mau cerita kenapa akhirnya memutuskan memilih Xiaomi.


Seperti yang saya ceritakan di postingan yang lalu, hape ZTE V9820 saya rusak karena keseringan dipake buat thetering sambil online di hape sambil dicas. Padahal saya masih sayang-sayangnya tuh sama si ZTE. Sempat mikir buat diperbaiki aja. Tapi berdasarkan konsultasi sama seorang kenalan yang ngerti masalah-masalah kerusakan hape katanya bakal banyak juga biasanya kalau diperbaiki. Udah gitu palingan tahan setahun. Yaah… akhirnya dengan berat hati saya pun memutuskan beli hape.


Tapi tetep aja saya santai-santai. Nggak terburu waktu buat beli hape baru. Adalah waktu itu sekitar sebulanan saya nggak pakai hape android. Palingan pas lagi jalan-jalan ya agak-agak nyengir melas karena nggak bisa foto-foto. Kayak pas pergi touring ke Simarjarunjung dan Pantai Parbaba bareng Sheilagank Sumut.

Baca juga : Touring ke Bukit Indah Simarjarunjung Bareng Sheilagank Sumut

Sampe akhirnya waktu itu dapat undangan event yang berlokasi di Plaza Medan Fair. Awalnya disitu pun saya nggak mikir buat langsung beli hape, ntar file fotonya minta ke Tiwi aja, temen blogger yang juga tinggal satu kontrakan dengan saya waktu itu.


Tapi karena ternyata ada lomba livetweetnya, saya pun jadi kepikiran juga untuk segera beli hape. Soalnya ribet juga kalau misalnya bawa laptop trus ngetwit pake laptop, kesannya kok maksa banget gituh.


Karena hal tersebut, berencana lah saya buat beli hape. Tapi masih bingung hape merek apa dan tipe apa. Secara selama ini kebanyakan saya pakai hape pemberian ataupun hadiah, beli hape pake uang sendiri merupakan hal yang jarang saya lakukan.


Saya pun mulai googling. Googlingnya sih bukan berdasarkan merek hape, melainkan berdasarkan budget. Iya berdasarkan budget. Saya bukan tipe orang yang sampe bela-belain keluar duit banyak demi mendapatkan hape merek tertentu. No no no, biar kata saya seorang blogger yang emang butuh hape mumpuni untuk mendukung kegiatan bloggingnya, namun nggak ngebuat saya ngebet mau ngebeli merek tertentu. Sesuai kebutuhan ajalah.

Baca juga : Daftar Hape yang Pernah Saya Pakai

Dari googling, berbagai merek pun muncul, dari Samsung, Oppo, Vivo, Xiaomi, dan merek-merek lainnya. Dan berhubung sebelumnya saya pernah liat beberapa teman pakai Xiaomi, entah kenapa saya jadi pengen nyobain pakai brand yang satu ini.


Budget yang saya patokkan kala itu 1,5 juta. Atau semahal-mahalnya 1,7. Saya liat di internet ada kok Xiaomi tipe tertentu dengan budget seperti yang saya tentukan tapi spesifikasinya sudah bagus.
H-2 sebelum event, saya minta temani seorang kawan untuk nyari hape Xiaomi ke Plaza Millenium. Di Medan, Plaza Millenium terkenal sebagai pusatnya toko hape. Tapi sebenarnya saya malas kesini karena letaknya yang lumayan jauh dari kontrakan saya. Masih lebih dekat Plaza Medan Fair yang lantai paling atasnya diisi oleh stand hape dan barang elektronik.


Nyampe di Plaza Millenium dari teras plaza kami udah disambut sama SPG brand hape yang nawarin selebaran. Masuk ke dalam, dari langkah pertama masuk udah terdengar tawaran dari berbagai penjuru. Semakin masuk semakin rame yang nawarin.


Naik ke lantai 2, makin rame aja yang nawarin. Berasa di pajak (pasar tradisional) ciiiin, sana sini nawarin dan manggil. Kaminya sampe pusing sendiri.


Saking pusingnya dipanggil sana-sini, temen saya sampe bilang : kami nggak mau nyari hape, cuma mau jumpain kawan di lantai atas. Sontak senyap. Nggak ada yang nawarin di blok itu. Suasana berubah seolah kami nggak ada, ahahhahaa… rasanya lucu.


Tapi kesenyapan itu sebentar aja. Belok ke blok yang lain ya ditawarin lagi. Pokoknya saking tiap-tiap counter pada manggil, kami berdua justru makin ilang mood.


Beberapa counter sudah kami datangi, tapi belum ketemu juga hape yang dicari. Sebenarnya barang yang dicari ada, tapi harganya beda lumayan jauh dari harga saat saya googling. Jadi milih muter-muter dulu buat cek harga. Ternyata di semua counter yang kami singgahi harganya emang nggak ada yang mendekati harga saat saya googling, huuuhh…


Temen saya yang saya harap bisa dijadiin temen tukar pikiran justru bikin kesel. Tiap berenti di salah satu counter, saya sebutin hape yang saya cari, pas udah ditunjukkin SPG-nya, dijelasin harga dan spesifikasinya, tiap saya minta pendapat, temen saya cuma jawab, ya terserah. Itu pun kadang dia asik sama hapenya sendiri.

“cemana menurutmu?”
Nggak dijawab ama si temen, sibuk ketak-ketik di hapenya.

“Bagus nggak ya kira-kira?” saya tanya lagi.

“Hah, apa?!” dianya jawab gelagapan, kayak kebingungan, tapi cuma ngeliat saya sekilas terus fokus ke hapenya lagi.

“Bentar ya!” ucapnya sambil tetap fokus ke hapenya.
Saya mulai kesel. Apalagi setelah selesai ama hapenya dia cuma jawab “Ya terserah, kan dirimu yang mau pakai.”


Fix mood saya ilang. Saya nungguin dia cuma untuk dapat jawaban terserah. Hellow… ngapain saya minta temenin kalau bukan buat tukar pikiran. Please deh ah, kalau cuma jawaban terserah, nggak tau, dan sejenisnya itu yang saya dapati ya mending saya pergi sendiri aja. Ibarat kata para jomblo bijak sih lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Eaaaaakk… ini kenapa larinya jadi kesono :D


Ada satu kejadian lain yang kalau dipikir-dipikir sekarang justru lucu. Umumnya di tiap counter yang saya datangi, saat saya katakan nyari Xiaomi, saya justru ditawari hape merek lain. Ada yang sampe bocorin kejelekkan Xiaomi lagi, yang ujung-ujungnya nawarin hape merek lain. Padahal baik Xiaomi ataupun merek yang dia tawarkan keduanya mereka jual juga.


Yang paling ekstrem dan bikin saya shock, di salah satu counter, saya lupa di lantai berapa, salah seorang karyawan pria langsung nyerocos di depan saya :

“Kakak mau beli Xiaomi? Untuk apa? Mending beli 0d9o. Biar kakak tau ya, Xiaomi itu barangnya illegal. Jadi nggak usah heran kalau misalnya kita lagi ngobrol gini tiba-tiba ada razia kami langsung ngumpetin hape Xiaomi kami. Kakak pun kalau ketauan beli Xiaomi bisa ditangkap. Karena itu illegal. Tapi kalau kakak memang mau beli Xiaomi ya gapapa, tapi kadang mau ada kejadian tiga bulan dipake trus tulisannya berubah jadi tulisan cina semua, bla..bla..bla..” tuh cowok nyerocos panjang kali lebar yang bikin saya shock. Tapi sebelum saya shock lebih jauh saya pun berucap tegas yang kemudian membuatnya diam seketika :


“Oke bang, nggak jadi aku beli disini,” ucap saya dengan mantap lalu balik arah. Menjauh.


Saya baca juga sih beberapa artikel yang bilang Xiaomi itu sebenarnya illegal karena memang belum ada ijinnya masuk ke Indonesia. Cuma saya nggak nyangka aja tuh cowok bakal ngebacot sedemikian rupa.


Dan karena sudah terlanjur badmood saya pun minta pulang. Si temen tanya kenapa pulang, kan belum dapat hapenya. Yaelah dianya nggak nyadar. Sayanya justru tambah nyolot dong ngeliat dia yang kayak nggak ngerasa salah gituh. Beneran deh waktu itu saya ngerasa nyesal kenapa minta ditemani, mending sendirian mah kalau gini ceritanya.

*

Pas hari H acara saya nyampe di Plaza Medan Fair sekitar satu jam sebelum acara dimulai. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah hunting hape. Pilihannya tetap masih di Xiaomi. Emang udah bawaan manusia kali yaaak, semakin dilarang semakin dibuat. Semakin banyak SPG hape yang bilang nggak usah beli Xiaomi kok ya semakin saya penasaran pengen nyoba pake.


Di Medan Fair suasana jauh lebih enak ketimbang di Plaza Millenium kalau menurut saya. Disini para penjaga counter menawarkan dan memanggil konsumen ya sewajarnya aja, jadi saya jalan sendirian pun masih berasa nyaman.


Setelah muter sana sini, akhirnya dapatlah Xiaomi Redmi 3S. Harganya hampir 2 juta. Gak jauh beda sih sama di Millenium. Dan tetap jauh lebih mahal dari review di gugel. Rata-rata tipe Xiaomi yang saya liat reviewnya di gugel, disini harganya beda 200 – 500 gitu lah. Tapi yaudahlah. Mungkin emang nyampe Medan harganya jadi segitu.


Oya, Xiaomi Redmi 3S yang saya beli ini yang garansi TAM, jadi udah legal. Kata yang punya counter, hanya beberapa tipe Xiaomi yang udah ada garansi distributor TAM nya. Selebihnya masih illegal, masih garansi toko doang. Saya mah cuma manggut-manggut aja.

xiaomi redmi 3s
Xiaomi Redmi 3S (foto : honorbuy.com)


Usai beli saya langsung menuju ke lokasi acara. Alhamdulillah menang livetweet competition, hape baru langsung menghasilkan ehehhehee… dan alhamdulillahnya sejak Maret hingga saat ini si Omi sudah menghasilkan di atas jumlah harga saat saya membelinya.


Okeh, begitulah cerita saya Akhirnya Memilih Xiaomi. Kalian pengguna Xiaomi juga? Atau punya cerita berkesan ketika akhirnya memutuskan memilih Xiaomi? Share disini dong!

KEREN TERUS DENGAN BRI POIN

16.04 18
keren terus dengan bri poin
Keren terus dengan BRI Poin


Keren Terus Dengan BRI Poin – Review Acara :

Jajan sih boleh saja
Sisihkan buat nabung
Belanja sih boleh saja
Tak lupa nabung
…………
Bing bim bang yok kita ke bank
Bang bing bung yok kita nabung
Tang ting tung hei jangan dihitung
Tau-tau kita nanti dapat untung.
(Menabung – Saskia * Geofanny)


Pada inget lagu anak-anak di atas nggak sih?! Saya berhubung kecilnya pas jaman Trio Kwek-Kwek dan penyanyi cilik lainnya berjaya ya tentu aja inget. Ya walaupun yang paling membekas di kepala itu pas lirik ‘bang bing bung yok kita nabung’ doang.


Saya inget banget tuh waktu kecil nabungnya di celengan. Tiap dikasi uang jajan selalu ada yang disisihin buat ditabung. Saking rajinnya nabung, waktu masih SD *lupa kelas berapa* saya bahkan udah bisa beli lemari kayu dua pintu pakai uang tabungan saya sendiri. Lemari kayu yang kata emak saya harganya di atas lemari kayu standart.


Iya, segiat itu dulu saya menabung. Sekarang udah gede justru adaaa aja keperluan yang bikin tabungan terkuras hahhahaaa.


Bedanya nabung jalam dulu dan jaman now tuh palingan di tempat nabungnya. Kalau dulu nabungnya di celengan ayam, jaman milenial gini udah beda dooong. Bank sekarang rata-rata udah punya tabungan yang diperuntukkan buat anak-anak. Dengan disain buku tabungan dan ATM yang lucu-lucu pula.


Tapi mau jaman dulu atau pun jaman sekarang, nabung itu emang nggak pernah ada ruginya. Sama kayak lirik lagu di atas ‘tau-tau kita nanti dapat untung’. Naruh duit di bank itu sekarang nggak cuma bisa buat nabung doang, tapi juga memudahkan kita bertransaksi tanpa musti bawa duit banyak-banyak di dompet. Teknologi perbankan yang terus berkembang bahkan memungkinkan kita memiliki uang digital yang membuat urusan bayar membayar kita jadi lebih praktis. Nggak heran kalau menabung di bank menjadi pilihan sebagianbesar people jaman now. Apalagi kalau nabungnya di BRI, ada poin-poin yang bisa bikin kita untung ciiiin.


BRI Poin, itu nama program punyanya Bank BRI yang kemarin (Sabtu, 18 November 2017) baru aja diluncurkan di Medan dalam acara BRI Poin Keren Terus Fest di Plaza Medan Fair. Saya kebetulan kemarin ikut hadir dalam peluncuran program tersebut.


Jadi sebelumnya BRI Poin yang punya tagline Keren Terus ini udah diluncurkan di dua kota, Jakarta dan Makasar. Nah Medan ini kita ketiga. Acara BRI Poin Keren Terus Fest sendiri berlangsung selama 4 hari dari tanggal 16 November 2017 sampe 19 November 2017, tapi sayanya datang cuma pas peluncuran BRI Poin aja di 18 Novembernya. Sekalian weekend-an gituh ngemall.


Nggak tanggung-tanggung, launching BRI Poin ini dihadiri oleh bapak-bapak dan ibu-ibu penting di BRI, baik yang dari Medan maupun dari pusat (Jakarta). Ini nunjukkin kalau BRI emang nggak main-main buat program ini untuk nyenengin nasabahnya.
bri poin
Peluncuran BRI Poin


Belio-belio yang kemarin nyempatin datang ini ada Bapak Presley Hutabarat (Executive Vice President BRI Medan), Bapak Sumihar Manulang (Executive Vice President BRI Medan), Bapak Hari Purnomo (Vice President BRI Medan), Bapak I.B. Oka Prawira (Vice President BRI Medan), Bapak Priyo Agus Setyono (Vice President BRI Medan), Bapak Doni Himawan (Vice President BRI Medan), (Ibu Prilly Savitri, Vice President Marketing Communication BRI), dan Bapak Cahyo Hari Purwanto (Assistand Vice President Deposits and Services BRI). Selain meluncurkan BRI Poin, ada juga sesi bincang-bincang ngobrolin tentang BRI Poin.


launching bri poin
Launching BRI Poin


Apa itu BRI Poin?
Ceritanya BRI Poin ini merupakan strategi BRI yang selain untuk memudahkan nasabah juga sekaligus meningkatkan loyalitas nasabah, dimana setiap penambahan saldo dan transaksi akan mendapatkan BRI poin. Nah poin ini bisa ditukarkan untuk belanja di sejumlah merchant dan tempat perbelanjaan seperti Tokopedia, blibli.com, tiket.com, dsb.

peluncuran bri poin
Ngobrol-ngobrol seputar BRI Poin


Siapa saja yang bisa dapat BRI Poin?
Program BRI Poin diperuntukkan untuk nasabah BRI yang menggunakan tabungan BritAma  dan Giro BRI serta transaksi kartu Debit BRI, ATM BRI, Mobile Banking BRI, ataupun Internet Banking BRI.


Bagaimana cara mendapatkan BRI Poin?
Jadi BRI Poin ini bisa didapat baik buat kalian yang hobi nabung maupun yang hobi bertransaksi dengan kartu Debit BRI, ATM BRI, Mobile Banking maupun Internet Banking BRI.

bri poin keren terus
Salah satu booth di BRI Poin Keren Terus Fest


Untuk tabungan BritAma, minimal saldo agar bisa dapat poin adalah 5 juta. Tiap kelipatan 2,5 juta maka nasabah akan mendapatkan 1 poin. Sementara untuk Giro BRI minimal saldo 50 juta, dan tiap 25 juta nasabah akan mendapatkan 10 poin. So, tingkatin terus saldo tabungan BRI BritAma dan Giro BRI kalian.


Waaah… kalau buat yang saldo tabungannya datang dan pergi sesuka hati seperti saya ini gimana bisa saldonya nanjak terus supaya dapat banyak poin? Tenang, sering-sering aja bertransaksi menggunakan rekening BritAma kita. Misalnya beli pulsa, transfer via ATM dapat 1 poin, transaksi lewat mobil banking, EDC BRI, ataupun internet banking dapat 2 poin. Bayar belanjaan pakai kartu Debit BRI juga dapat poin loh. Pokoknya tiap transaksi yang ketika bertransaksi dikenakan biaya maka kita juga bakal dapat poin. Asik kan!


Bagaimana cara melihat jumlah BRI Poin kita?
Buat kalian yang emang udah jadi nasabah BritAma ataupun Giro BRI dan penasaran pengen tau jumlah poin kalian, nih saya bocorin cara liat jumlah BRI Poinnya ya. Ada beberapa cara mudah yang bisa jadikan pilihan untuk melihat BRI Poin kalian :

BRI tukar poin
BRI tukar poin


- SMS -->  kalian tinggal ketik INFO(spasi)POIN(spasi)PIN lalu kirim ke 3300

- Mobile Banking BRI --> pilih pilihan INFORMASI-INFO POIN pada tampilan menu Mobile Banking BRI kalian.

- ATM BRI --> Pada menu, pilih pilihan INFORMASI REKENING-INFO POIN

- Internet Banking BRI Versi Web --> pada tampilan menu, klik di tulisan INFORMASI REKENING-BONUS POIN

- Contact BRI --> nah ini kalau kalian pengen tau jumlah BRI Poin sekaligus pengen dengerin suara carelinenya, hubungi 14017 dan pilihan 9. Kalian akan diberitahukan berapa BRI Poin yang kalian miliki saat ini.

- EDC BRI --> pada menu, pilih PURCHASE-POIN UBB-INFO POIN.
Gimana? Gampang dan banyak pilihan kan. Kalau cara yang satu ribet menurut kalian ya tinggal pilih cara lainnya aja.


Terus cara penukaran BRI Poinnya gimana?!
BRI Poin kalian udah banyak dan pengen digunain?! Gampil lah, sini saya bisikin caranya *jangan lupa ntar sekalian belanjain saya yaaak sebagai imbalannya :D*


Ada 3 cara yang bisa dilakukan kalau kalian pengen redeem BRI Poin. Bisa menggunakan e-Pay BRI, jadi pas belanja di e-commerce yang ada jalin kerjasama ama BRI (yang mencantumkan logo e-Pay), pas mau bayar, pilih metode pembayaran e-Pay, trus gunain tuh BRI Poin dengan cara memasukkan BRI Poin yang kalian miliki untuk mengurangi nilai pembayaran.


Cara selanjutnya bisa via e-catalog BRI. Kalian musti akses dulu situsnya : ecatalog.bri.co.id dan pilih hadiahnya sesuai keinginan. Kalau pengen dipake buat belanja bisa pilih e-voucher. Tapi kalau pengen dalam bentuk pulsa, token listrik, ataupun berupa barang, silahkan pilih e-product.
Penukaran BRI Poin juga bisa dilakukan via EDC BRI saat kalian belanja di merchant yang bekerjasama dengan Bank BRI. Buat nasabah Giro BRI bisa juga mendatangi kantor cabang dan cabang pembantu BRI terdekat untuk melakukan penukaran BRI Poin.


Dari tadi ngomongin cara ini itu mulu yaaak, emang dapet apa sih kalau punya banyak BRI Poin? Dapet banyak untung ciiiin. Potongan harganya ituloh yang bikin pengen. Dengan BRI Poin kita bisa belanja barang impian dengan harga yang jauh lebih murah.


Suka makan? Gampang! Kalau kita punya 5 BRI Poin aja, kita tinggal bayar 50 ribu doang udah dapet tuh voucher resto senilai 200 ribu. Ada juga Garmin Watch seharga 10 juta yang bisa kita tebus hanya dengan 2,5 juta + 750 BRI Poin. Suka jalan-jalan kayak saya?! Ada tuh paket liburan ke Labuan Bajo senilai 10 juta. Hanya dengan bayar 2,5 juta + 750 BRI Poin udah bisa liburan seru ke Labuan Bajo *Yang ini beneran bikin saya ngiler*. Atau kalian sedang mengidam-idamkan Samsung Galaxy Note8 yang harganya mencapai 12 juta itu tapi nggak punya budget segitu. Sering-sering aja transaksi biar poin kalian nambah. Kalo udah mencapai 1000 poin, tinggal bayar 3 juta udah dapet dah tuh si Samsung Galaxy Note8. Pengen apa lagi?! Motor? Mobil? Bisa bangeeet loh pakai BRI Poin. Pokoknya kalau punya banyak BRI Poin bisa bikin kita keren terus walau dengan modal minim :D

BRI Poin Keren Terus

Ulu uluuuu… weekend gini semangat banget saya ya nulis tentang BRI Poin. Harap maklumlah sodara-sodara, kebawa euphoria pengen jalan-jalan ke Labuan Bajo bermodal 2,5 doang plus 750 BRI Poin.


Ya syudah lah ya, saya mau siap-siap keluar, kalau jadi ntar mau ke acara BRI Poin Keren Terus Fest lagi di Plaza Medan Fair. Soalnya hari ini ada penampilan Endah N Rhesa disana. Kalian kalau sore ini luang kesana yuk, jumpa disana kita. Selain penampilan Endah N Rhesa, bisa nukerin BRI Poin juga di acara ini loh. 1 BRI Poin bisa ditukar dengan menu andalan di My Burger Coffee dan 1 cup es Teler 77. Kalau mau mencoba keberuntungan juga bisa, dengan 10 BRI Poin bisa ikutan permainan tebak harga dan berkesempatan dapetin 1 Samsung Gear S3.


Eh, beneran udahan ah, pamit dulu yeiiii! Yang jelas kalian punya waktu dari November 2017 sampe Agustus 2018 buat ngumpulin poin sebanyak-banyaknya buat kalian tukerin dengan voucher ataupun potongan harga sesuai yang kalian inginkan. Biar bisa Keren Terus dengan BRI Poin.

THE NEBENGERS : BERAWAL DARI TIKET PROMO AIR ASIA

09.15 0
the nebengers : berawal dari tiket promo air asia
The Nebengers : Berawal dari tiket promo Air Asia

The Nebengers : Berawal Dari Tiket Promo Air Asia : Entah kenapa tiba-tiba saya pengen menuliskan cerita-cerita penuh kenangan yang saya alami sebelum saya ngeblog. Yaah… itung-itung jadi pengingat kalau suatu saat saya baca postingan ini lagi. Salah satu cerita yang ingin saya tulis adalah perjalanan saya ke Jawa dan Bali taon 2011 lalu.


Berawal dari kebiasan kongkow-kongkow di sekret, sebutan untuk sekretariat Pers Mahasiswa Kreatif Unimed, organisasi yang saya ikuti di kampus.


Setiap hari, kecuali Sabtu Minggu, kami mendapat jatah koran dari kampus. Dan sudah menjadi kebiasaan kami ngobrol sambil bergantian membaca koran *Mmmm… sebenarnya cuma 20% bacanya, selebihnya cuma dibolak-balik liat gambarnya doang :D*


Meski tak ingat siapa-siapa saja kru Kreatif yang ada di TKP kala itu, tapi saya ingat tempatnya. Siang itu di bulan Desember 2010, kami ngobrol di ruang sholat. Entah siapa yang memulai, tau-tau saya dan Lina udah berisik ngomongin salah satu iklan di salah satu halaman koran tersebut. Iklan yang tak lain adalah iklan maskapai penerbangan Air Asia itu membuat kami geger karena harga promosi tiket pesawatnya. Medan-Surabaya, Surabaya-Medan cuma Rp.88.000 sekali terbang bro! gila!! Murah bener. Saya pernah sih ditawari naik Air Asia ke Jogja dengan tarif Rp. 100.000, tapi tak saya ambil karena tak ada teman yang berani nekat.


“Kak pigi kita ya kak!”


Saya cuma senyum-senyum misterius waktu pertama kali Lina mengajak pergi.
“Kak ayok lah. Kita pesan ya. Promonya cuma tiga hari nih, nanti keburu dibooking orang”
Saya masih senyum-senyum.

“Kak ayoklah, isshhh… kakak nggak pengen ke Jogja apa?”

Jogja?! Oh great! Jogja adalah kota impian saya sejak kecil. Entah karena apa saya sendiri kurang tau. Entah karena saya ngefans abis sama grup band Sheila On7 yang berasal dari Jogja atau karena waktu kecil saya pernah membaca tulisan “Jogja never ending asia” di koran-koran yang tak sengaja saya baca.

“Mmm..” Saya mulai tergoda. Dan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Lina untuk menggoda. Oh God, jauhkan hamba dari godaan setan yang terkutuk. Jangankan ke Jogja, bayar uang kos aja susah. Nggak, nggak boleh tergoda.

Sejujurnya saya memang suka travelling. Tapi travelling dengan kondisi ekonomi seperti ini bukanlah pilihan bijak.

“Ihhss kak Diah! Sayang kali ini kalo dilewatkan. Dua minggu kita disana udah mantap itu. Ke Bali kita. Ouw ya ampun, Bali”

Lina ngomong sambil matanya berbinar dan tubuhnya berguncang. Pasti ia sedang membayangkan berada di pantai-pantai di Bali yang kata  orang indah. Sama seperti saya yang sedang membayangkan duduk di Tugu Jogja.

“Aku maunya keliling Jawa,” tiba-tiba saya berucap demikian, sepertinya benteng pertahanan saya mulai ambruk.

“Ya udah, ntar dari Bali kita keliling Jawa”

“Mmm gimana ya Lin. Kita kan sekali-sekali berangkat. Sayang kali kalo cuma 2 minggu”

“Ya udah mau kakak berapa lama. Aku ngikut aja”

“Berapa ya, tiga minggu. Eh tapi seru tuh kayaknya kalo sebulan”

“Yodah sebulan. Seminggu kita keliling Bali, sisahnya kita keliling Jawa. Cocok?”

“Cocok!”

Kami berdua kegirangan membayangkan perjalanan yang kelihatannya sangat menyenangkan itu. Eits.. tunggu dulu Diah! Nggak usah gaya-gayaan mo travelling segala. Duit darimanaaaa… alarm di kepala saya berbunyi demikian. Huhh… uang-uang!!

“Aku sebenarnya pengen sih, tapi aku lagi bokek nih” (emang kapan ya saya nggak bokek?!)

“Masak segitu pun nggak ada kak? Cuma seratus tujuh puluh enam nya PP”

“Ya memang nggak ada jadi gimana”
Lina sepertinya tak habis akal. Ia seakan sengaja menjadi malaikat penolong agar saya mau berangkat.

“Yodah kakak pinjem uangku aja. Nanti aku pulang minta uang jatah jajanku sama mamakku”

“Aku nggak tau kapan bayarnya”

“Kan kakak kerja”

“Kerjaanku lagi nggak jelas”

“Beasiswa kan bentar lagi keluar”

“Buat bayar kuliah”

“Kan masih cukup buat beli tiket”

“Kan ntah kapan beasiswa keluar”

“Pokoknya pas beasiswa keluar kakak bayar”
Saya kehabisan alasan.

“Tapi ngomong-ngomong berangkatnya kapan?”

“Juli-Nopember”

“Trus kita berangkatnya kapan?”

“Abis Mukertif lah kak. Sekitar bulan Juli gitu”

Mukertif merupakan singkatan dari Musyawarah Kerja Kreatif. Diadakan setahun sekali antara akhir Juni dan awal Juli. Kalau di umum sama seperti musyawah besar. Agendanya adalah laporan pertanggungjawaban pengurus lama dan pergantian pengurus. Membahas kondisi Kreatif setahun belakangan dan membahas program Kreatif setahun ke depan. Juga membahas kembali AD/ART Kreatif apakah ada yang perlu diubah, ditambah atau dikurang.

“Berangkat Juli berarti pulang Agustus dong! Wah jangan-jangan itu lebaran. Nggak jadi deh, bisa dipecat jadi anak aku sama ortu kalo lebaran nggak pulang”

“Lebaran kayaknya akhir Agustus kak,” salah satu kru nyeletuk, entah siapa.

“Yakin tuh?”

“Iya”

“Wah berarti separuh dari perjalanan kita lewatkan dengan puasa.”

“Iya kak. Tenang ajalah kakak. Nanti ikut puasa pun aku kalo kakak puasa.”

“Wakakakakkk.. mantap-mantap. Seru tuh ngerasain puasa di daerah orang,” semakin semangat saya untuk pergi

“Yaps.. nanti kita buka puasa di mesjid aja kak. Biar hemat.”
Bertambah lagi semangat saya.

“Nanti aku bawa tenda kak. Kalo kita nggak dapat tumpangan kita tidur di tenda aja, seru pasti itu.”
Ouww.. enough! Tak tahan lagi saya dengar kalimat-kalimat menggoda itu

“Ok Lin kita pesan tiket!”

“Serius?!”

“Ya!”

Saya berucap mantap. Wajah Lina benar-benar cerah, pasti karena bahagia telah sukses menggoda saya.

Dan mungkin memang Lina bukan setan makanya akhirnya saya tergoda rayuannya. Bukan salahnya jika saya tergoda. Coba kalau tadi saya berdo’a “God, lindungi hamba dari godaan Lina yang sangat pintar merayu” pasti saya tak akan termakan rayuannya. Tapi sekarang apa? Kata-kata sudah terucap. Pantang untuk menariknya kembali.

“Aku pulang duluan ya. Ntar kau aja yang pesan. Gimana-gimananya ntar kabari aja”

“Ok kak. Eh tapi kak jangan bilang-bilang yang laen. Ntar pasti orang itu banyak yang mau ikut. Nggak seru kalo perjalanan jauh n lama rame-rame.”


Weleehh… ucapannya seakan hendak meyakinkan saya kalau perjalanan ini benar-benar seru dan kami adalah orang paling beruntung karena tak semua orang berkesempatan menjalaninya. Makanya kami sebaiknya tak menggembar-gemborkannya karena dapat mengurangi kenikmatan perjalanan, ckckck… dasar perayu ulung!

“Seeep!!”

Saya jawab sambil berjalan keluar sekret menuju si Jago Merah motor kesayangan saya. Meluncur! Saya meluncur dengan wajah cerah dan senyum-seyum sendiri. Jogja, I’m coming!

*


Singkatnya jadi juga kami booking tiket itu. Nggak tanggung-tanggung, tiga puluh tujuh hari bok!! Brangkat tanggal 09 Juli, pulang tanggal 14 Agustus ckckck… mau jadi apa kami di daerah orang selama itu??


Selain saya dan Lina, ada 12 orang lain yang juga ikut booking tiket (Dasar Lina, katanya jangan bilang siapa-siapa, nyatanya banyak juga yang ikut). Empat orang berangkat tanggal 09 Juli (Aku, Lina, Ulan dan Nova) sisahnya ada yang berangkat tanggal delapan, ada juga yang tanggal sepuluh Juli. Saya tak begitu ambil pusing siapa-siapa saja yang berangkat. Fokus pikiran saya justru gimana caranya biar punya uang buat budget berangkat ntar. Memang sih masih ada waktu stengah taon lagi. Tapi tetep aja nggak ngejamin saya bisa ngumpulin banyak uang mengingat saya yang tak punya pekerjaan tetap dan masih kuliah :(


Kalau temen-temen yang laen ngandelin beasiswa buat dialokasikan ke budget trip gila kami. Saya cuma ngandelin takdir. Secara semester ini saya nggak ada ngurus beasiswa. Pekerjaan juga nggak jelas. Paling-paling ngarepin honor dari tulisan-tulisan saya yang dimuat di media lokal di Medan. Itu juga buat biaya hidup sehari-hari di Medan karena kala itu memang saya membiayai kebutuhan saya sendiri. Jadi jalan satu-satunya selain ngirit seirit-iritnya ya banyak-banyak berdo’a semoga Tuhan memang menakdirkan saya bisa ikut trip ini. Kalau udah takdir kan mau gimanapun tetep ada jalan hehehe…


Laen saya laen pula Ulan, Lina, Nova + Novrizal. Demi ngumpulin uang buat trip juli-Agustus mereka rela jualan di kampus. Nggak tanggung-tanggung, tiap ada jam kuliah kosong mereka luangin buat jualan di areal kampus. Air mineral botol/cup, aneka gorengan mereka jajakan pada warga kampus. Bahkan anak-anak sekret juga jadi sasaran empuk mereka untuk dipaksa beli dan jadi pelanggan tetap. Cara jualannya pun antara nawarin jualan+melas n pasang muka sedih :


“Bang..beli lah gorengan kami” (tampang sedih kayak orang jualan tapi rugi terus)

“Kak, kakak haus kan. Ntu ada Aqua cup. Ambil aja di ruang sholat. Cuma gopek aza kok” (ealaah… tak kirain beneran nawarin. Rupanya nyuruh beli wkwkwkw…)

“Kak Diah ayolah beli jualan kami. Kakak sekali-sekali datang ke sekret. Sekali datang jarang ngerasain jualan kami. Enak lo kak, nyesel lah nanti kalo kakak nggak beli.”

Hhmm… rayuan mautnya ngeri cuy. Tapi saya salut ama keseriusan mereka berusaha biar bisa ke Bali. Mantap lah!!! Empat jempol buat mereka. Tapi yang bikin kasihan, uang tabungan mereka selama jualan justru hilang huhuhuuu…



Oke, sampai disini dulu cerita pertama saya, The Nebengers : Berawal Dari Tiket Promo Air Asia. Sambungan ceritanya kapan diposting? Tunggu aja, yang jelas perjalanan ini adalah salah satu perjalanan seru dan tak terlupakan yang pernah saya alami.

ADA YANG TAK BIASA PADA 14 NOVEMBER KALI INI

22.07 3
perempuan november



Ada Yang Tak Biasa Pada 14 November Kali Ini : Ada yang tak biasa pada 14 November kali ini. Saya tak lagi menunggu dengan antusias sebagaimana biasanya. Tak menunggu hingga pukul 00:00 untuk sejenak mengambil waktu sendiri, mengingat-ingat apa saja yang terjadi setahun belakangan, berucap syukur, dan berdo’a untuk mimpi-mimpi hari esok.


Jauh sebelum 14 November kali ini datang, ada banyak angan-angan yang bermain di kepala. Awalnya saya berencana melakukan perjalanan dengan seorang sahabat sesama Perempuan November. Tak jauh-jauh, kami hanya ingin melipir sejenak ke Sibolga. Menikmati apa yang disuguhkan kota kecil itu, kemudian melakukan prosesi tiup lilin berdua di pinggir pantai. Kenapa Sibolga? Tak ada alasan khusus selain hanya menyesuaikan kondisi keuangan.


Sekitar dua bulan sebelum November, saya dan beberapa teman sempat heboh hendak membeli penerbangan Medan-Jogja-Medan yang memang tengah promo. Angan-angan saya pun kemudian berubah, melewatkan momen 14 November di kota Jogja yang memang ingin saya kunjungi lagi.
Tapi kemudian angan-angan itu buyar karena untuk mendapatkan tiket promo murah itu memang nggak gampang. Banyak yang minat ciiin.


Saya dan teman saya kemudian kembali ke rencana awal. Sibolga.
Memasuki bulan November, sahabat saya itu pun seakan raib ditelan bumi. Tak ada kabar berita. Saya pun seolah enggan untuk meneruskan angan-angan ke Sibolga. Tak jua berusaha menghubungiya. Beberapa kejadian yang saya alami seakan menyedot habis rencana saya untuk menghadiahi diri sendiri dengan liburan.


Iya, beberapa kejadian cukup menyita pikiran saya. Dan jelas mempengaruhi psikologis saya. Mood saya labil. Perasaan lelah, bosan, kecewa, dan perasaan sejenisnya sukses membuat saya kacau. Saya kecewa, entah pada siapa. Saya muak, pun tak tau ditujukan untuk siapa perasaan itu.


Tapi pada satu titik saya kemudian harus mengakui, saya marah pada diri saya sendiri. Mengingat-ingat hal-hal yang terlewati. Keputusan-keputusan yang saya ambil, dan melihat diri saya sekarang. Saya jadi berandai-andai. Andai dulu saya tidak melewatkan beberapa kesempatan hanya karena lebih mengedepankan nurani dan prinsip diri, mungkin pencapaian saya akan jauh lebih dari saat ini.
Tapi kemudian andai-andai itu berubah jadi sebentuk tanya : jika dulu memilih mengabaikan nurani dan prinsip dan mengambil peluang-peluang besar itu, apakah saya akan lebih bahagia dari hari ini?!


Namun belum lagi pertanyaan itu terjawab, yang muncul justru perasaan marah dan kecewa yang menyesakkan dada. Saya kecewa dan muak dengan diri saya sendiri. Saya marah pada diri sendiri karena dulu sudah berani memilih prinsip dan nurani namun justru abai pada komitmen. Saya seakan lupa bahwa ketika berani menolak peluang besar nan instan, konsekuensinya adalah saya harus berjuang lebih keras dan umumnya lebih lama untuk hasil yang diinginkan. Saya abai pada komitmen untuk berjuang lebih keras dari sebelumnya. Saya terlalu pede berkoar bahwa bagi saya yang terpenting saya bahagia mengerjakan apa yang memang hati saya inginkan.


Ini sebenarnya tidak salah. Tapi pada satu titik berpotensi membuat seseorang tertekan karena ocehan orang. Lebih tertekan lagi saat melihat rona kecewa orang-orang terdekat yang selama ini menaruh harap di pundak kita. Begitulah, menjadi seseorang yang diharapkan dan diandalkan memang tak selamanya menyenangkan. Terkadang justru menjadi beban berat tersendiri tatkala tolak ukur kesuksesan dan kebahagiaan kita berbeda dengan mereka.


Ada yang tak biasa pada 14 November kali ini, berbagai pikiran negative berkecamuk di kepala saya. Membuat saya merasa muak. Saya muak dengan diri sendiri. Saya muak dengan orang yang mengaku hatinya tertawan oleh saya namun membiarkan saya melewatkan berbagai hal seorang diri dan terkatung-katung dalam penantian. Saya muak dengan orang-orang yang ngakunya sayang namun saya merasa mereka nggak seperhatian itu. Saya muak bahkan dengan hal-hal lainnya.


Saya sadar ini nggak boleh berlarut-larut. Jadi saya berencana untuk jedah sejenak. Mengambil waktu sendiri. Entah itu ngetrip sendiri, atau sekedar menyewa kamar dan melewatkan 14 November seorang diri disana. Menikmati secangkir teh dan cemilan kesukaan, atau cukup diam saja memandangi langit-langit kamar.


Rencana lainnya, saya berpikir untuk pulang ke kampung. Memeluk emak dan nyekar ke makam ayah. Untuk itu saya sudah menyiapkan beberapa kado untuk para kesayangan saya di rumah. Sudah sebesar ini, November bukan lagi bulan tempat saya menanti kado *walau kalau ada yang ngasi ya senang juga*. Kali ini justru saya yang ingin memberi kado.


Tapi karena dari dulu saya memang tak pernah cerita akan kesusahan saya ke emak, akhirnya rencana itu pun saya urungkan. Saya tak ingin ia melihat kegundahan-kegundahan saya karena itu juga akan membuat ia gunda.


Oke lah, 14 November cukuplah saya lewatkan *rencananya* dengan menikmati segala sesuatunya sendiri, entah itu makan di restoran enak sendiri, nonton sendiri, atau ke toko buku sendiri. Yang penting saya ingin melakukan hal-hal yang saya suka seorang diri.


Tapi 9 hari sebelum 14 November justru datang ajakan dari seorang kawan untuk melakukan perjalanan. Rencanyanya kami berangkat beberapa orang. Traveling tipis-tipis ala koper di akhir minggu. Not bad lah, pikir saya. Saya pun mengiyakan ajakan tersebut.


Tapi rencana itu pun kemudian batal pada H - 1 keberangkatan. Rencana berganti. Dari Medan saya berangkat berdua menuju Pangururan, Samosir dengan seorang kawan. Disana sudah ada seorang kawan lagi menunggu. Bertiga kami mengunjungi beberapa tempat di Samosir.


Ada yang tak biasa pada 14 November kali ini. 3 jam menuju pukul 00:00 saya baru nyampe Medan. Kemudian memilih tidur dan lupa jika esok adalah 14 November. Tidak ada saat-saat sendiri di pergantian hari. Tidak ada renungan-renungan, harapan, ataupun kekecewaan. Saya tidur dengan lelapnya. Saya bahkan tak meminta seseorang yang saya nantikan itu untuk meluangkan waktu bersama saya. Tak berharap dia ingat. Dan bahkan tak mengingatnya. Sungguh sesuatu yang tak biasa.


Rencana melewatkan 14 November dengan makan makanan kesukaan pun batal. Begitu juga rencana nonton bioskop sendiri dan ke toko buku sendiri. Semuanya batal. Saya hanya di rumah mengerjakan beberapa deadline yang terlambat saya selesaikan karena kemarin ngetrip.


Tapi memang, ada hal yang tak biasa saya lakukan. Saya makan siang dengan mie cup instan, nasi, teh manis, dan telur dadar. Saya membiarkan mie cup instan tersisah tanpa terbebani harus menghabiskannya karena makanan mubazir adalah hal yang jarang sekali saya lakukan. Saya terbiasa menghabiskan makanan yang terhidang di piring nasi saya. Saya sudah lama meninggalkan kebiasaan makan mie cup instan.


Selain itu, tak ada hal spesial yang saya lakukan. Pun perasaan spesial. Tidak ada. Ucapan-ucapan selamat ulang tahun pun saya baca dengan biasa saja. Entahlah. Saya nyaris tanpa ekspresi hari ini. Tidak senang. Tapi juga tidak sedih. Tapi yang jelas, segala beban dan perasaan kacau yang beberapa hari sebelumnya melanda hari ini lenyap seketika.


Malam ini, ketika menulis ini, saya akhirnya menyadari. Yang perlu saya lakukan bukanlah sekedar berdamai dengan diri sendiri, tetapi juga dengan segala ketentuan Ilahi. Saya hanya perlu membiarkan segalanya berjalan semestinya. Sesederhana ketika saya bosan dengan tas ransel saya. Saya hanya perlu membeli tas selempang wanita lucu dengan model-model unik di situs jual beli online terpercaya. Saya tak harus memaksakan diri membeli tas ransel hanya karena selama ini saya hobi kesana-kemari pakai ransel. Saya tak perlu merasa bersalah jika sesekali ingin membeli tas selempang wanita lucu, toh ada masanya memakai tas selempang juga menyenangkan buat saya.


Begitupun dengan segala prinsip-prinsip yang telah saya buat sendiri. Saya tak harus memaksakan segalanya berjalan sesuai prinsip saya. Apalagi memaksa Tuhan mengabulkan segala keinginan saya. Saya tidak perlu merasa takut tidak akan bahagia jika apa yang saya inginkan tidak didukung Raja Semesta.


Iya, saya hanya perlu berdamai dengan ketentuan Ilahi. Saya hanya perlu percaya padanya dan membuang segala ketakutan akan hari esok hanya karena saya memilih keputusan yang berbeda dari orang kebanyakan. Hanya perlu berhenti menunggu dan menyambut genggaman tangan ia yang selama ini saya abaikan karena terlalu berharap pada seseorang yang justru membiarkan saya dalam penantian tak pasti.


Ada yang tak biasa pada 14 November kali ini, tapi saya menyukainya. Matur suwun, gusti!

KUTUNGGU KELEN YA DI MEDAN PAR PAR, OLEH-OLEH MEDAN KEKINIAN ALA ARTIS OKI SETIANA DEWI

20.42 19
oleh-oleh kekinian medan par par
Kutunggu kelen ya di Medan Par Par, Oleh-Oleh Medan kekinian ala artis Oki Setiana Dewi

Kutunggu Kelen Ya di Medan Par Par, Oleh-Oleh Medan Kekinian Ala Artis Oki Setiana Dewi : Selain dijuluki surga kuliner, salah satu yang unik di dari Medan adalah bahasanya, salah satunya seperti kalimat di bawah ini :


Kutunggu Kelen Ya!


Kalimat ini memang Medan banget. Artinya, kutunggu kalian ya. Iya, kutunggu kau bang untuk ngehalalin aku, eaak,,eaakk jomblo emang mudah banget baper yaaak, apalagi kalau udah nyinggung-nyinggung nunggu jodoh datang :D


Tapi tenang aja lah, kali ini saya nggak bakal cerita tentang menunggu sang pujaan hati datang menemui ortu, tapi menunggu kalian datang ke Medan Par Par untuk ngerasain salah satu dari sekian banyak kuliner di Kota Medan.


Yeiii… Medan Par Par hadir menyemarakkan dunia oleh-oleh kekinian ala artis yang emang lagi hapening banget di berbagai kota di Indonesia, termasuk Medan.


Sabtu, 04 Nopember 2017 saya berkesempatan menghadiri acara Pressconference & Grand Opening Medan Par Par. Jujur awalnya mau nggak datang karena dari sore hingga malam Medan diguyur hujan. Tapi karena rasa penasaran saya lebih besar ketimbang rintik hujan yang jatuh hari itu maka nekat lah saya. Mengendarai sepeda motor dari jalan Katamso menuju Jalan Wahid Hasyim No 60/25, tempat berlangsungnya acara sekaligus lokasi outlet Medan Par Par.


Saya mikirnya acaranya bakal sepi karena hujan. Ini juga salah satu alasan saya datang di samping emang penasaran ama kuenya. Kasian penyelenggaranya kalau sampai acaranya sepi. Iya, waktu masih di kontrakan dan males mau berangkat karena hujan, saya teringat abang dan uwak saya. Di kampung saya itu tiap malam jumat adalah jadwalnya wirid. Tempat wiridnya di rumah warga dan berpindah-pindah tiap minggunya. Nah kalau pas malam jumat ujan, emak saya biasanya berkata : duuh, redahlah ujannya, kasian si pulan kalau nggak banyak yang datang wirid. Abang dan uwak saya pun rela berpayung-payung dan berbecek-becek ria menerjang hujan demi datang buat wirid. Alasannya ya itu, nggak tega kalau sampai tuan rumah sedih karena yang datang wirid sedikit. Sekarang pas nulis ini saya malah ketawa-ketawa sendiri, lah kok bisa saya keinget uwak dan abang di kampung sampe yang tadinya mau batal datang jadi nggak batal :D


Tapi etapi kan, gitu nyampe ke lokasi Medan Par Par saya justru kecile. Dugaan acara bakal sepi ternyata salah besar karena venue udah rame orang. Hueehheeee,,,, banyak yang sayang ustadzah Oki Setiana Dewi ternyata, buktinya ujan-ujan gituh acara tetap rame.

oki setiana dewi
Kirain bakal sepi, ternyata rame juga yang datang


Loh, kok Oki Setiana Dewi, apa hubungannya ama Medan Par Par? Iya Medan Par Par ini adalah salah satu bisnisnya ustadzah Oki *panggil kak Oki aja kali ya biar keliatan Medannya*. Wah… wah… artis sekarang pada hobi berbisnis ya, bikin saya pengen punya bisnis juga :D


Acara dipandu oleh selebgram Alvin Matondang a.k.a Mak Gardam. So pasti lah berlangsung semarak, secara bang Alvin emang jago mencairkan suasana dengan celetukan-celetukannya yang Medan banget dan sukses mengundang gelak tawa yang hadir.

alvin matondang mamak gardam
Alvin Matondang, si mamak Gardam yang jadi MC malam itu


Sebagai salah satu owner Medan Par Par, kak Oki datang dan berbagi cerita tentang alasannya membuka Medan Par Par. Jadi selain punya usaha butik di Medan, kak Oki kini merambah bisnis kuliner yakni oleh-oleh kekinian ala artis. Alasannya sih karena dalam islam disebutkan bahwa 9 dari 10 pintu rejeki itu ada dalam perdagangan. Selain itu juga karena memang beliau termasuk hobi makan.


Medan menjadi kota yang dipilih kak Oki memulai bisnis kulinernya. Ini karena menurut kak Oki Medan adalah salah satu kota yang selalu pengen dia kunjungi terus menerus. Beberapa kali ke Medan untuk urusan bisnis butiknya, kak Oki merasa Medan itu unik dan ngangenin, khususnya tentang makanan dan bahasanya. Itu sebabnya dia memilih membuka usaha kuliner di kota Medan.

medan par par kue ala artis
Kak Oki cerita tentang alasannya membuka Medan Par Par. Eh iya, malam itu turut hadir owner Sirup Sarang tawon yang bercerita tentang perjalanan mereka membangun bisnis.



Terus kenapa namanya Medan Par Par?
Secara nama adalah do’a ya kan, so harus dipikirkan baik-baik. Par Par sendiri dalam bahasa Batak bisa diartikan banyak, beranak-pinak. Jadi harapannya Medan Par Par ini kedepannya bisa berkembang dengan baik dan memiliki banyak cabang. Wiiih,,, cakep filosopinya :D

medan par par ala oki setiana dewi
Kak Oki dan koleksi kue Medan Par Par


Bedanya dengan oleh-oleh kekinian ala artis lainnya apa?!
Kalau sepanjang yang saya lihat sih perbedaan mencoloknya ada pada jenis kuenya. Kalau umumnya cuma satu jenis doang, Medan Par Par punya aneka jenis. Dari bolu gulung, cake, sampe yang model pastry juga ada. Jadi kita bisa milih sesuai selera dan varian rasa.


Untuk bolu gulung ada 3 varian yang ditawarkan Medan Par Par : Blueberry Cheese, Tiramisu Mocca, Durian Nougatine. Semua harganya sama, 75K.

kue medan par par
Tiramisu Mocca ala Medan Par Par


oleh-oleh medan
Durian Nougatine ala Medan Par Par


Cake di Medan Par Par juga memiliki 3 varian dengan harga yang berbeda-beda. Greentea Darkness dibanderol 65K, Talas Chocolate 65K, dan Creamy Cheese seharga 70K.

oleh-oleh artis kekinian
Greentea Darkness ala Medan Par Par



kue artis
Talas Chocolate ala Medan Par Par




Buat kalian pecinta puff pastry, ada Heavy Chocolate (70K), dan Olehloh (75K). Kalau saya pribadi sih kepincut sama Olehloh, dan Greentea Darkness nya. Rasanya bikin lidah mau mau lagi seakan menunggu tiap suap selanjutnya. Buat penggemar keju dan cokelat saya anjurkan buat nyobain creamy cheese. Namanya sih Creamy Cheese, tapi toppingnya itu cokelat. Kalau varian rasa lainnya saya belum nyoba sih, tapi penasaran pengen icip-icip yang Heavy Chocolate. Secara saya penggemar cokelat dan kemarin kelewatan nyobain varian yang satu ini. Wess lah, lain kali musti beli biar nggak penasaran :D


medan par par
Olehlo, Puff Pastry ala Medan Par Par yang jadi pavorit saya

medan par par oleh-oleh medan
Penasaran sama si Heavy Chocolate ala Medan Par Par



Ngobrolin Medan Par Par kok ya bikin saya kepengen lagi ya. Syudahlah, dari pada saya ngences ngebayangin Medan Par Par, baiknya saya sudahi saja postingan kali ini. Intinya buat kalian semua, Kutunggu Kelen Ya di Medan Par Par, Oleh-Oleh Medan Kekinian ala Artis Oki Setiana Dewi.


Ada yang udah nyobain Medan Par Par? Share dong ceritanya!

WIN, MY TRAVELMATE

18.02 0
win my travelmate
WIN, my travelmate

WIN, My Travelmate : Gara-gara liat mbak Dian Ravi ke Karimunjawa saya jadi keinget dulu pas kesana. Perjalanan tahun 2011 itu kalau diingat selalu masih terasa keseruannya. Gimana nggak seru, saya dan tiga teman saya awalnya emang ngebolang ke Jawa dan Bali, tapi Karimunjawa nggak ada dalam list tempat yang ingin kami kunjungi, tapi begitulah, takdir membawa kami ke kepulauan nan mempesona di utara Pulau Jawa ini.


Iya takdir, di Surabaya kami bertemu dengan kawan-kawan dari Universitas Muria Kudus, kebetulan organisasi yang kami ikuti kala itu sama : Pers Kampus, jadi berasa langsung akrab gituh walaupun baru kenal.


Kami menceritakan perjalanan backpackeran kami waktu di Bali, tidur di tenda di Pantai Lovina Bali, jalan kaki ke Nusa Dua, dan numpang tidur di rumah sodara. Intinya cuma modal numpang dan ngetenda. Mereka seakan takjub, terus ngajakin ke Karimunjawa.

iwic 11
Jalan kaki di Nusa Dua - Bali


Waktu itu, kota tujuan utama di pulau Jawa yang sangat ingin saya kunjungi adalah Jogja. Ke Bandung juga pengen. Tapi yang menurut saya wajib adalah Jogja, makanya waktu kawan-kawan dari Kudus ngajak ke Karimunjawa saya oke-oke aja. Ketiga kawan saya juga setuju. Yang penting pulang dari Karimunjawa lanjutnya ke Jogja.


Di Karimunjawa kami tidak tidur di penginapan. Melainkan menumpang di sekolah, namanya Safinatul Huda. Kepala sekolahnya adalah kenalan salah satu kawan dari Universitas Muria Kudus. Kami memanggilnya Abah.


Abah juga yang mencarikan catering untuk kami selama disana. Jadi tiap jam makan kami tinggal datang ke rumah penduduk yang memasakkan kami. Seingat saya waktu itu 8 ribu sekali makan. Harga yang murah untuk makanan dengan menu aneka hasil laut yang segar. Disinilah pengalaman saya pertama kali makan cumi yang gede banget menurut saya.

karimunjawa
Ke Karimunjawa tanpa rencana


Kami tidur di bangunan panggung yang rencananya akan dijadikan koperasi sekolah. Kala itu sinyal di desa Kemujan, tempat kami menginap masih susah. Harus pakai antena penangkap sinyal. Listrik pun menyala hanya dari pukul 6 sore hingga 11 malam. Tapi justru disinilah letak keseruannya.


Duuuh,,, kan bener, inget keseruan di Karimunjawa bikin saya pengen ngebolang lagi, ngerasain gimana seru dan berkesannya perjalanan tanpa itinerary. Iya, perjalanan kami kala itu hanya bermodalkan uang pas-pasan dan itinerary yang nggak jelas.


Bayangin, 38 hari ngebolang di Jawa (Minus Jakarta dan Bandung) + Bali saya menghabiskan uang tak sampai 2 juta sudah termasuk tiket pesawat PP Medan – Surabaya. Kami modal numpang di rumah sodara dan kenalan. Bahkan ngerasain numpang seminggu di kontrakannya temen yang saya kenal dari sosmed.


Ngebolang tanpa itinerary ini ada asiknya ada nggak asiknya sih. Untuk tipe orang yang suka petualangan dan hal-hal tak terduga jalan-jalan tanpa itinerary itu nyenengin banget. Nggak ada istilah kesasar karena kemana kaki berhenti berarti disitulah tujuan. Bertemu orang-orang baru dan merencakan tujuan baru tanpa harus merasa sedih karena musti mencoret daftar tujuan yang sudah dibuat. Rasanya bebas dan merdeka *eaaaak,,, emang selama ini belum merdeka?!


Tapi nggak enaknya ngetrip tanpa itinerary ini kalau masa-masa kita stuck. Atau bahkan ketika harus melewatkan tempat hits cuma karena kita nggak tau informasi. Kami mengalaminya beberapa kali pada perjalanan kala itu.


Usai dari Karimunjawa kami ke Semarang. Sebelumnya kami memang tak berencana ke Semarang. Tapi karena ke Karimunjawa, kami pun memutuskan mampir ke Semarang 2 malam sebelum melanjutkan ke Jogja.


Menyempatkan diri ke Masjid Agung Jawa Tengah. Tau apa yang kami lewatkan disana?! Kami melewatkan naik ke menara masjid. Di antara kami nggak ada yang tau kalau ternyata pengunjung bisa naik ke menara masjid. Baru sekitar setahun yang lalu saya tau saat baca blog seorang kawan. Duuuh… coba kalau dulu tau, pasti sempetin buat naik. Mana katanya pemandangannya kece badai lagi huhuhuu…

masjid agung jawa tengah
Cuma foto-foto disini, nggak tau kalau menaranya boleh dinaiki.



Waktu di Bali, kami cukup lama duduk-duduk di pinggiran pantai di Nusa Dua. Dari mulai duduk-duduk sampe main-main air di pinggiran pantai. Pulang dari Bali baru tau kalau nggak jauh dari situ ada objek wisata water blow, uiii,,uiii,,, kan pengen atuh basah-basahan kecipratan hempasan ombak :D

iwic 11 indosat ooredoo
Asik main air di Nusa Dua



Masih di Bali, Melewati danau Beratan, saya celingak-celinguk doang mandangin kabut yang menyelimuti. Kala itu memang cuaca sedang berkabut. Nggak punya feeling apa-apa saat itu. Eee pas udah nyampe Medan baru tau kalau disitu ada pura yang fotonya nampang di uang 50 ribu.
Yaelaaah… kalau tau kan saya bakal minta turun buat sekedar futo, biar kekinian gituh :D


Ini dulu emang salahnya saya sih nggak banyak-banyak browsing info. Mentang-mentang niat  awalnya ke Lombok terus malah jadinya ke Bali saya jadi nggak punya rencana spesifik ke Bali karena dari dulu nggak punya keinginan kesono. Jadi ya cenderung pergi ke lokasi-lokasi yang terlintas doang.


Hmm.. weekend gini saya cuma di rumah doang sambil mengingat keseruan ngebolang dulu. Iya dulu, jaman saya belum kenal android. Jaman now saat hampir tiap orang punya android dan berbagai aplikasi bermunculan, saya jadi ngayal ada aplikasi yang memudahkan para traveler.


Biar kata saya nggak ngerti apa-apa gimana caranya buat aplikasi, tapi ngayal bisa buat aplikasi sesuai keingin kan gpp dong ya.


WIN! Itulah nama aplikasinya. Singkatan dari Wonderful Indonesia, tagline pariwisatanya negara kita tercinta ini. Jadi ini aplikasinya berisi tentang info-info wisata gituh. All about wisata Indonesia lah pokoknya ya. Nggak cuma info tempat menarik di suatu daerah, tapi juga dilengkapi dengan map dan panduan ke lokasi-lokasi tersebut.


Jadi misalnya ada yang mau ke Medan, ya tinggal buka aplikasi WIN! Trus ketik Medan. Nah ntar muncul tuh segala info tempat menarik di Medan, daftar penginapan, dan cara menuju ke lokasi dari posisi kita berada.


Pengennya sih aplikasi ini bisa untuk segala aliran traveler *cieee aliran* maksudnya buat yang mau ala koper ataupun ransel. Dari penginapan budget sampe yang mewah. Dari info tiket pesawat, angkot sampe taxi. Dari kuliner resto sampe pinggir jalan. Dari info rumah sakit terdekat, kantor dinas pariwisata, sampai nomor pengaduan ke polisi setempat kalau terjadi apa-apa. Jadi sekalian meningkatkan rasa aman dan nyaman para traveler, khususnya traveler asing. Pokoknya WIN ini udah kayak travelmate kita gitu deh.


Buat yang bingung mau kemana, WIN juga punya fitur itinerary. Sehari doang di Medan bingung mau ngapain? Tinggal liat saran itinerary yang ada di aplikasi aja. Kalau tertarik ya ikuti, nggak tertarik ya buat itinerary sendiri.


Pengennya lagi, aplikasi ini juga bisa menghubungkan para traveler. Memungkinkan para traveler yang memiliki akun di WIN untuk saling berkenalan, tukar informasi, atau merencanakan traveling bareng. Juga untuk memberikan testimoni terhadap tempat yang pernah dikunjungi, so bisa sekalian jadi referensi untuk traveler lainnya.


Saya nggak tau apakah apliksi khusus traveler gini udah ada apa belum, ide ini muncul begitu saja gara-gara mengenang masa ngebolang yang saya ceritakan di atas. Dan karena kemarin saya dapat info kalau Indosat Ooredoo kembali menggelar IWIC, saya rencananya bakal ngajuin ide aplikasi WIN ini ke IWIC. Siapa tau para juri tertarik dan mau membuat aplikasi ini.


Oya, udah pada tau kan ya IWIC itu apa? Jadi IWIC ini adalah sebuah ajang kompetisi inovasi teknologi lewat aplikasi mobile dan startup digital dimana Indosat Ooredoo adalah penyelenggaranya. Bisa dikatakan IWIC merupakan ajang perlombaan inovasi teknologi yang rutin diadakan Indosat Ooredoo. Buktinya sekarang udah masuk ke IWIC 11, yang artinya kompetisi kali ini adalah yang kesebelas kalinya diadakan sejak 2006 hingga kini.


Sebagai bagian dari program CSR-nya Indosat Ooredoo, kompetisi ini bertujuan untuk mendorong generasi muda Indonesia untuk terus berkreasi dan berinovasi lewat aplikasi digital berbasis mobile. Tau sendiri kan sekarang emang jamannya digital, masak iya orang Indonesia cuma sebagai pengguna aplikasi doang, jadi pencipta aplikasi juga dooong.


Gimana menurut kalian ide saya? Bagus kah? Atau ada yang perlu direvisi? Rencanya sih bakal saya susun matang-matang konsepnya terus daftarin ke IWIC. Kalian juga kalau punya ide bisa loh ajukan ke IWIC 11, siapa tau menang dan ide kalian terwujud trus dapat hadiah lagi. Nggak usah minder kalau nggak ngerti pembuatan aplikasi, yang penting ada idenya aja juga nggak masalah, lagian kompetisinya ada beberapa kategori kok : professional/developer/programmer, beginner/awam, women & Girls, bahkan kids & teens, info lengkapnya bisa dilihat disini atau bisa juga pantengin sosmed mereka :


Instagram : @indosatooredooiwic
Twitter : @IsatOoredooIWIC
Facebook Fanpage : Indosat Ooredoo Iwic


Jangan lupa juga isi form pendaftarannya ya. Ide kamu ditunggu sampai 20 November ini loh guys, masih banyak waktu kan. Buruan gih tulis, siapa tau ide kamu menarik dan bermanfaat untuk banyak orang ketika sudah berwujud aplikasi.


Baiklah, malam minggu sudah dekat, sekian dulu angan-angan saya tentang WIN, My Travelmate. Saya mau siap-siap dulu karena ada undangan event *laaah… bukan mau diapelin kesayangan ternyata, nasib yang jomblo :D*