BIANGLALA

13.03
bianglala
Bianglala

Bianglala - Perempuan November : Bianglala.  Hari ini saya ingin bercerita tentang bianglala. Imbas dari melihat foto-foto di handphone. Ada foto bianglala cantik yang saya abadikan saat menghadiri suatu acara pada Oktober lalu. Bianglala yang tidak saya naiki. Hanya saya pandangi dan saya foto berkali-kali karena entah kenapa menurut saya benda tersebut sungguh instagramable.


Dari sore hingga malam, bianglala adalah spot favorit saya pada acara tersebut. Rasanya tak bosan memfotonya berkali-kali dari sudut yang berbeda.


Bianglala. Ada yang menyebutnya komidi putar. Ada pula yang bilang Carousel. Beberapa bahkan mengatakan Kincir Raksasa. Tapi saya suka menyebutnya Bianglala. Nama bianglala sendiri sebenarnya adalah nama lain dari pelangi. Entah bagaimana ceritanya wahana ini diberi nama bianglala. Mungkin karena saat menaikinya ada beragam rasa yang campur aduk. Ada beragam kenangan yang tercifta ketika seseorang naik bianglala. Rasa dan pengalaman yang menjadi warna-warni kehidupan. Warna-warni seperti pelangi..


Jujur, saya tak sering naik bianglala. Karena memang wahana ini adanya tidak tiap saat. Di Medan bianglala bisa ditemukan ketika ada pasar malam. Atau kalau yang lebih modern ada di Hillpark Sibolangit, buka saat weekend dan hari-hari besar. Tapi saya belum pernah menaikinya. Hanya suka memandanginya kala melintas kesana.

Baca juga : 5 Tips Bermanfaat untuk Kamu yang Hobi Baca


Buat saya bianglala identik dengan pasar malam dan romantisme masa kecil dan masa remaja. Meski saat kecil justru tak pernah naik bianglala, tapi melihat anak-anak kecil naik bianglala bersama orangtuanya membuat saya teringat masa kecil. Masa dimana bahagia itu sungguh receh. Ada rasa kangen yang menyeruak tiap melihat seorang ibu atau ayah menggandeng tangan kecil anaknya saat hendak naik ke bianglala.

bianglala komidi putar
Bianglala

Bianglala juga mengingatkan saya akan indahnya masa remaja. Masa-masa mengenal getar indah terhadap lawan jenis. Juga masa-masa pencarian jati diri. Di masa itu, pernah saya naik bianglala dengan seseorang yang menyerahkan hatinya untuk saya. Yang terlihat begitu gugup dan gemetar ketika roda bianglala berputar dan membawa kami ke posisi yang lebih tinggi. Pria yang takut ketinggian namun nekat naik bianglala hanya karena ingin menyenangkan saya.


Bianglala. Saya paling suka ketika roda-roda bianglala menghantarkan saya pada titik tertinggi. Dari titik ini, saya bisa bisa memandang dari sudut yang berbeda dari biasanya. Jangkauan pandangan jadi lebih jauh dan lebih luas.


Bianglala mengingatkan saya pada kehidupan, bahwa ada kalanya kita perlu memandang dari sudut yang berbeda. Dari mereka yang memutuskan naik walau sebenarnya takut, saya seolah diingatkan bahwa yang kita perlukan adalah keberanian, bukan untuk melawan orang lain, tapi melawan ketakutan-ketakutan yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Dari mereka yang berteriak, tertawa  walau hati dag dig dug takut ketika bianglala berputar, dari situ saya tau, bahwa tidak penting sebesar apapun masalah dalam hidup kita, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Memilih mengeluh dan menangis, atau mencoba tetap tersenyum dan menghadapinya, kita yang memutuskan.

naik bianglala
Bianglala yang selalu instagramable :)

Dari roda bianglala yang berputar, saya percaya bahwa hidup juga begitu. Ada masanya kita berada di atas, ada masanya pula garis nasib menempatkan kita di bawah. Jadi jangan sombong ketika di atas. Dan jangan menyerah ketika di bawah.


Begitulah, bianglala buat kebanyakan orang memang hanya sebuah wahana bermain. Tapi buat saya bianglala memiliki filosofi yang lebih dari sekedar wahana permainan. Bianglala membawa saya pada keceriaan masa kecil, indahnya masa remaja, dan mengajari saya banyak hal tentang kehidupan.


Bianglala. Kalian pernah naik bianglala? Bagaimana rasanya?

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »