KAPAN TERAKHIR KALI BELI KORAN?

14.22
kapan terakhir kali beli online
Kapan terakhir kali beli koran?

Kapan Terakhir Kali Beli Koran? : Kapan terakhir kali kalian beli koran? Saya sudah lama sekali. Mungkin empat atau bahkan enam tahunan yang lalu. Sudah lama sekali kan?!


Menjelang libur idul adha kemarin, emak saya nitip koran kalau saya pulang kampung. Hal ini membuat saya keinget masa-masa dulu sering banget berburu koran edisi hari minggu.


Kala itu saya masih kuliah. Karena nyari kerja kemana-mana selalu gagal karena jam kerjanya nggak bisa disesuaikan dengan jam kuliah saya, akhirnya saya cari cara lain supaya bisa dapat uang tapi nggak harus kerja. Dan karena emang hobi nulis, jadi lah saya mengirimkan tulisan-tulisan saya ke beberapa surat kabar di Medan.


Alhamdulillah, kala itu saya produktif sekali menulis. Hampir tiap minggu karya saya mejeng. Otomatis tiap minggu saya berburu koran. Kalau ada karya saya yang dimuat rasanya senang banget. Langsung deh digunting trus dikliping. Iya, walau tak memungkiri niat saya mengirim tulisan untuk mendapatkan honor dari tulisan yang dimuat, tapi tak juga sepenuhnya tentang uang. Semangat berkarya saya kala itu memang sedang berada di puncak jaya. Dan mendapati tulisan mejeng di surat kabar itu rasanya bangga tak terkira.


Buat saya, karya bisa dimuat di koran itu juga merupakan pembuktian bahwa tulisan kita layak untuk dibaca orang. Karena untuk bisa nampang di halaman suatu koran, tentunya harus menyisihkan penulis-penulis lain yang juga mengirimkan karyanya. Harus melewati meja redaksi. Jika menurut redaktur tulisan kita tak layak terbit, kita tak punya kuasa apa-apa selain terus menulis dan memperbaiki kualitas tulisan.


Karena sering beli koran di hari minggu itulah saya dulu kalau pulang sering bawa koran bekas. Soalnya di kampung ibu saya ada usaha kecil-kecilan, jualan pakaian. Jadi si koran bekas ini biasanya jadi pembungkus kalau ada yang beli.


Memasuki dunia kerja dan kenal sama yang namanya deadline, saya mulai jarang ngirim tulisan di koran. Kemudian tidak pernah sama sekali. Tulisan-tulisan fiksi saya berupa cerpen dan puisi yang sebagian belum sempat terbit di koran bahkan beberapa bulan lalu harus musnah karena laptop saya ngulah.


Nah kemarin waktu mau pulang kampung dan emak minta dibawain koran, baru saya keinget lagi masa-masa nulis di surat kabar. Jadi kangen pengen nulis lagi. Tapi nggak tau bakal bisa nulis sepuitis dulu nggak ya. Pengen beli koran juga. Kira-kira gimana sekarang ya rubrik-rubrik yang dulu sering saya kirimi tulisan. Masih ada kah? Apakah penulisnya masih penulis yang namanya dulu sering saya lihat nampang barengan ama tulisan saya? Atau udah berganti dengan nama-nama baru.


Minggu pagi saya pun muterin jalan Katamso dan SM. Raja buat nyari tukang koran pinggir jalan. Tukang koran pertama saya temui di SM.Raja. Saya beli 2 koran, Analisa dan Kompas. Koran Waspada ada juga tapi entah kenapa kok nggak minat beli. Padahal dulu pernah juga tulisan saya nampang beberapa kali di koran tersebut.

Baca juga : Budaya Bersepeda untuk Mengurangi Kemacetan

Saya nggak langsung pulang, melainkan nyari tukang koran lainnya. Ada dua koran lain yang pengen saya beli juga, Sumut Pos dan Medan Bisnis. Di tempat koran pertama nggak ada saya lihat dua koran itu. Palingan juga udah abis, pikir saya.


Di lampu merah simpang tiga pertemuan Jalan SM Raja dan Jalan Al Falah, ada juga tukang koran pinggir jalan. Saya pun menepi. Mencari-cari koran Medan  Bisnis dan Sumut Pos di deretan koran yang terpajang. Tapi nggak nemu juga. Akhirnya saya pun memutuskan tanya buat basa-basi :

Saya : “Medan Bisnis sama Sumut Pos ada kak?”

Kakak Penjual : “Nggak ada kak”

Saya : “Oh nggak ada ya!”

Kakak Penjual : “Nggak ada kak, minggu nggak terbit orang tu”


Saya melongo dengar jawabannya. Nggak terbit?! Sedikit shock saya. Kirain di tukang koran pertama nggak ada karena habis. Rupanya karena nggak terbit. Ah, saya speechless.


Harian Medan Bisnis adalah koran pertama yang memuat tulisan saya. Pertama kali saya kirim karya ke harian tersebut, saya kirim beberapa puisi dan cerpen. Eh langsung dimuat cerpennya. Padahal banyak yang mengaku males ngirim karya ke harian karena nggak pernah dimuat walau udah sering kirim. Saya sekali ngirim malah langsung dimuat.


Di samping rubrik yang memuat kiriman tulisan fiksi dari pembaca, yang saya suka dari Medan Bisnis edisi Minggu adalah rubrik yang memuat tentang wirausaha dan kuliner. Banyak kuis yang berhadiah voucher makan dan belanja juga. Saya nggak pernah ikutan kuis berhadiah voucher makannya sih. tapi dulu sering kirim tulisan singkat tentang tempat makan enak di sekitar. Kalau dimuat hadiahnya voucher belanja di toko oleh-oleh. Ini dulu saya sering ngirim ke rubrik tersebut. Kalau dimuat vouchernya saya belanjain kalau pas mau pulang kampung. Jadi bisa bawa oleh-oleh tanpa harus keluar uang :D


Nah kalau di Sumut Pos saya seringnya ngirim puisi. Asiknya rubrik puisi di Sumut Pos ini biasanya sekali dimuat karya kita tuh langsung beberapa judul puisi. Jadi sekali terbit itu minimal 3-4 judul puisi. Pernah nyampe 7 puisi dimuat semua kalau saya tak salah ingat.


Jujur saya beneran shock dan nggak nyangka kalau dua koran itu sekarang nggak terbit lagi di hari minggu. Padahal koran terbitan minggu itu rubrik dan beritanya cenderung lebih asik dibanding hari kerja. Halamannya lebih berwarna dan lebih mengarah ke berita-berita ringan dan hiburan.


Harian Analisa yang saya beli kemarin pun saya lihat sekarang jumlah halamannya lebih ramping saja. Dulu ada rubrik cerita anak yang jadi salah satu favorit saya dan sering muat karya saya juga. Tapi jadi favorit bukan karena tulisan saya sering diterbitkan di rubrik tersebut sih. Tapi karena ya saya memang suka cerita anak. Senang rasanya ada rubrik yang memuat cerita anak.


Tapi kemudian rubrik cerita anak di Analisa pun tidak terbit lagi. Harian Kompas juga demikian. Padahal saya pernah punya cita-cita menaklukkan meja redaksi rubrik cerita anak di Kompas. Tapi belum kesampaian malah rubrik tersebut sudah ditiadakan. Huhuhuuu…


Mungkin karena sekarang memang sudah jamannya online kali ya. Jadi surat kabar-surat kabar ini mulai berpikir bagaimana untuk tetap berdiri meski oplah menurun drastis. Salah satu yang musti dikurangi ya rubrik yang menampung karya pembaca, karena dari sisi ekonomi perusahaan, rubrik tersebut justru menambah pengeluaran perusahaan. Tapi dari sisi kreatifitas, sebenarnya rubrik-rubrik ini turut berperan dalam menjaga semangat kreatifitas para penulis. Juga menempah mental para penulis. Memotivasi untuk terus belajar menghasilkan tulisan yang bagus dan layak terbit.


Saya, yang meski tak ingin munafik bahwa motivasi awal mengirim karya ke harian adalah alasan materi. Tapi di samping itu, dalam prosesnya, rubrik-rubrik yang menerima kiriman karya pembaca di hampir semua koran kala itu memberi semangat tersendiri buat saya. Secara tiap rubrik beda kriteria tulisan, beda redaktur juga, so pasti bisa lolos di rubrik A di koran B, belum tentu di koran lain bisa lolos juga. Apalagi di masa itu bisa dikatakan masa-masa jayanya komunitas kepenulisan di kampus bermunculan. Semuanya berlomba untuk bisa lolos dari meja redaksi. Sebuah iklim kompetisi yang bagus menurut saya.


Sudahlah, semakin diingat saya semakin kangen masa-masa lampau. Kembali ke pertanyaan awal sekaligus judul tulisan ini saja : kapan terakhir kali beli koran?

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
Yose Suparto
AUTHOR
28 Agustus 2018 14.11 delete

BROKER TERPERCAYA
TRADING ONLINE INDONESIA
PILIHAN TRADER #1
- Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
- Sistem Edukasi Professional
- Trading di peralatan apa pun
- Ada banyak alat analisis
- Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
- Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

Reply
avatar
28 Agustus 2018 18.47 delete

Ya ampun, aku jd kangen jg masa2 koran msh ada dan selalu dibeli :(. Trakhir aku beli koran pas kuliah mba. Rutin deh. Krn wkt itu kuliah di Luar, jd aku beli koran utk memperlancar bahasa inggrisku. Memperbanyak kosa kata. Drpd beli buku, jauh lbh murah koran hahahah.. Tp sjk lulus kuliah, ga prnh lg sih :(. Lbh suka baca online kalo utk berita

Reply
avatar
Turis Cantik
AUTHOR
29 Agustus 2018 09.23 delete

mungkin kalau rutin beli koran lima tahun lalu, skrang bacanya gratisan aja di kantor heheheh

Reply
avatar