WIN, MY TRAVELMATE

18.02
win my travelmate
WIN, my travelmate

WIN, My Travelmate : Gara-gara liat mbak Dian Ravi ke Karimunjawa saya jadi keinget dulu pas kesana. Perjalanan tahun 2011 itu kalau diingat selalu masih terasa keseruannya. Gimana nggak seru, saya dan tiga teman saya awalnya emang ngebolang ke Jawa dan Bali, tapi Karimunjawa nggak ada dalam list tempat yang ingin kami kunjungi, tapi begitulah, takdir membawa kami ke kepulauan nan mempesona di utara Pulau Jawa ini.


Iya takdir, di Surabaya kami bertemu dengan kawan-kawan dari Universitas Muria Kudus, kebetulan organisasi yang kami ikuti kala itu sama : Pers Kampus, jadi berasa langsung akrab gituh walaupun baru kenal.


Kami menceritakan perjalanan backpackeran kami waktu di Bali, tidur di tenda di Pantai Lovina Bali, jalan kaki ke Nusa Dua, dan numpang tidur di rumah sodara. Intinya cuma modal numpang dan ngetenda. Mereka seakan takjub, terus ngajakin ke Karimunjawa.

iwic 11
Jalan kaki di Nusa Dua - Bali


Waktu itu, kota tujuan utama di pulau Jawa yang sangat ingin saya kunjungi adalah Jogja. Ke Bandung juga pengen. Tapi yang menurut saya wajib adalah Jogja, makanya waktu kawan-kawan dari Kudus ngajak ke Karimunjawa saya oke-oke aja. Ketiga kawan saya juga setuju. Yang penting pulang dari Karimunjawa lanjutnya ke Jogja.


Di Karimunjawa kami tidak tidur di penginapan. Melainkan menumpang di sekolah, namanya Safinatul Huda. Kepala sekolahnya adalah kenalan salah satu kawan dari Universitas Muria Kudus. Kami memanggilnya Abah.


Abah juga yang mencarikan catering untuk kami selama disana. Jadi tiap jam makan kami tinggal datang ke rumah penduduk yang memasakkan kami. Seingat saya waktu itu 8 ribu sekali makan. Harga yang murah untuk makanan dengan menu aneka hasil laut yang segar. Disinilah pengalaman saya pertama kali makan cumi yang gede banget menurut saya.

karimunjawa
Ke Karimunjawa tanpa rencana


Kami tidur di bangunan panggung yang rencananya akan dijadikan koperasi sekolah. Kala itu sinyal di desa Kemujan, tempat kami menginap masih susah. Harus pakai antena penangkap sinyal. Listrik pun menyala hanya dari pukul 6 sore hingga 11 malam. Tapi justru disinilah letak keseruannya.


Duuuh,,, kan bener, inget keseruan di Karimunjawa bikin saya pengen ngebolang lagi, ngerasain gimana seru dan berkesannya perjalanan tanpa itinerary. Iya, perjalanan kami kala itu hanya bermodalkan uang pas-pasan dan itinerary yang nggak jelas.


Bayangin, 38 hari ngebolang di Jawa (Minus Jakarta dan Bandung) + Bali saya menghabiskan uang tak sampai 2 juta sudah termasuk tiket pesawat PP Medan – Surabaya. Kami modal numpang di rumah sodara dan kenalan. Bahkan ngerasain numpang seminggu di kontrakannya temen yang saya kenal dari sosmed.


Ngebolang tanpa itinerary ini ada asiknya ada nggak asiknya sih. Untuk tipe orang yang suka petualangan dan hal-hal tak terduga jalan-jalan tanpa itinerary itu nyenengin banget. Nggak ada istilah kesasar karena kemana kaki berhenti berarti disitulah tujuan. Bertemu orang-orang baru dan merencakan tujuan baru tanpa harus merasa sedih karena musti mencoret daftar tujuan yang sudah dibuat. Rasanya bebas dan merdeka *eaaaak,,, emang selama ini belum merdeka?!


Tapi nggak enaknya ngetrip tanpa itinerary ini kalau masa-masa kita stuck. Atau bahkan ketika harus melewatkan tempat hits cuma karena kita nggak tau informasi. Kami mengalaminya beberapa kali pada perjalanan kala itu.


Usai dari Karimunjawa kami ke Semarang. Sebelumnya kami memang tak berencana ke Semarang. Tapi karena ke Karimunjawa, kami pun memutuskan mampir ke Semarang 2 malam sebelum melanjutkan ke Jogja.


Menyempatkan diri ke Masjid Agung Jawa Tengah. Tau apa yang kami lewatkan disana?! Kami melewatkan naik ke menara masjid. Di antara kami nggak ada yang tau kalau ternyata pengunjung bisa naik ke menara masjid. Baru sekitar setahun yang lalu saya tau saat baca blog seorang kawan. Duuuh… coba kalau dulu tau, pasti sempetin buat naik. Mana katanya pemandangannya kece badai lagi huhuhuu…

masjid agung jawa tengah
Cuma foto-foto disini, nggak tau kalau menaranya boleh dinaiki.



Waktu di Bali, kami cukup lama duduk-duduk di pinggiran pantai di Nusa Dua. Dari mulai duduk-duduk sampe main-main air di pinggiran pantai. Pulang dari Bali baru tau kalau nggak jauh dari situ ada objek wisata water blow, uiii,,uiii,,, kan pengen atuh basah-basahan kecipratan hempasan ombak :D

iwic 11 indosat ooredoo
Asik main air di Nusa Dua



Masih di Bali, Melewati danau Beratan, saya celingak-celinguk doang mandangin kabut yang menyelimuti. Kala itu memang cuaca sedang berkabut. Nggak punya feeling apa-apa saat itu. Eee pas udah nyampe Medan baru tau kalau disitu ada pura yang fotonya nampang di uang 50 ribu.
Yaelaaah… kalau tau kan saya bakal minta turun buat sekedar futo, biar kekinian gituh :D


Ini dulu emang salahnya saya sih nggak banyak-banyak browsing info. Mentang-mentang niat  awalnya ke Lombok terus malah jadinya ke Bali saya jadi nggak punya rencana spesifik ke Bali karena dari dulu nggak punya keinginan kesono. Jadi ya cenderung pergi ke lokasi-lokasi yang terlintas doang.


Hmm.. weekend gini saya cuma di rumah doang sambil mengingat keseruan ngebolang dulu. Iya dulu, jaman saya belum kenal android. Jaman now saat hampir tiap orang punya android dan berbagai aplikasi bermunculan, saya jadi ngayal ada aplikasi yang memudahkan para traveler.


Biar kata saya nggak ngerti apa-apa gimana caranya buat aplikasi, tapi ngayal bisa buat aplikasi sesuai keingin kan gpp dong ya.


WIN! Itulah nama aplikasinya. Singkatan dari Wonderful Indonesia, tagline pariwisatanya negara kita tercinta ini. Jadi ini aplikasinya berisi tentang info-info wisata gituh. All about wisata Indonesia lah pokoknya ya. Nggak cuma info tempat menarik di suatu daerah, tapi juga dilengkapi dengan map dan panduan ke lokasi-lokasi tersebut.


Jadi misalnya ada yang mau ke Medan, ya tinggal buka aplikasi WIN! Trus ketik Medan. Nah ntar muncul tuh segala info tempat menarik di Medan, daftar penginapan, dan cara menuju ke lokasi dari posisi kita berada.


Pengennya sih aplikasi ini bisa untuk segala aliran traveler *cieee aliran* maksudnya buat yang mau ala koper ataupun ransel. Dari penginapan budget sampe yang mewah. Dari info tiket pesawat, angkot sampe taxi. Dari kuliner resto sampe pinggir jalan. Dari info rumah sakit terdekat, kantor dinas pariwisata, sampai nomor pengaduan ke polisi setempat kalau terjadi apa-apa. Jadi sekalian meningkatkan rasa aman dan nyaman para traveler, khususnya traveler asing. Pokoknya WIN ini udah kayak travelmate kita gitu deh.


Buat yang bingung mau kemana, WIN juga punya fitur itinerary. Sehari doang di Medan bingung mau ngapain? Tinggal liat saran itinerary yang ada di aplikasi aja. Kalau tertarik ya ikuti, nggak tertarik ya buat itinerary sendiri.


Pengennya lagi, aplikasi ini juga bisa menghubungkan para traveler. Memungkinkan para traveler yang memiliki akun di WIN untuk saling berkenalan, tukar informasi, atau merencanakan traveling bareng. Juga untuk memberikan testimoni terhadap tempat yang pernah dikunjungi, so bisa sekalian jadi referensi untuk traveler lainnya.


Saya nggak tau apakah apliksi khusus traveler gini udah ada apa belum, ide ini muncul begitu saja gara-gara mengenang masa ngebolang yang saya ceritakan di atas. Dan karena kemarin saya dapat info kalau Indosat Ooredoo kembali menggelar IWIC, saya rencananya bakal ngajuin ide aplikasi WIN ini ke IWIC. Siapa tau para juri tertarik dan mau membuat aplikasi ini.


Oya, udah pada tau kan ya IWIC itu apa? Jadi IWIC ini adalah sebuah ajang kompetisi inovasi teknologi lewat aplikasi mobile dan startup digital dimana Indosat Ooredoo adalah penyelenggaranya. Bisa dikatakan IWIC merupakan ajang perlombaan inovasi teknologi yang rutin diadakan Indosat Ooredoo. Buktinya sekarang udah masuk ke IWIC 11, yang artinya kompetisi kali ini adalah yang kesebelas kalinya diadakan sejak 2006 hingga kini.


Sebagai bagian dari program CSR-nya Indosat Ooredoo, kompetisi ini bertujuan untuk mendorong generasi muda Indonesia untuk terus berkreasi dan berinovasi lewat aplikasi digital berbasis mobile. Tau sendiri kan sekarang emang jamannya digital, masak iya orang Indonesia cuma sebagai pengguna aplikasi doang, jadi pencipta aplikasi juga dooong.


Gimana menurut kalian ide saya? Bagus kah? Atau ada yang perlu direvisi? Rencanya sih bakal saya susun matang-matang konsepnya terus daftarin ke IWIC. Kalian juga kalau punya ide bisa loh ajukan ke IWIC 11, siapa tau menang dan ide kalian terwujud trus dapat hadiah lagi. Nggak usah minder kalau nggak ngerti pembuatan aplikasi, yang penting ada idenya aja juga nggak masalah, lagian kompetisinya ada beberapa kategori kok : professional/developer/programmer, beginner/awam, women & Girls, bahkan kids & teens, info lengkapnya bisa dilihat disini atau bisa juga pantengin sosmed mereka :


Instagram : @indosatooredooiwic
Twitter : @IsatOoredooIWIC
Facebook Fanpage : Indosat Ooredoo Iwic


Jangan lupa juga isi form pendaftarannya ya. Ide kamu ditunggu sampai 20 November ini loh guys, masih banyak waktu kan. Buruan gih tulis, siapa tau ide kamu menarik dan bermanfaat untuk banyak orang ketika sudah berwujud aplikasi.


Baiklah, malam minggu sudah dekat, sekian dulu angan-angan saya tentang WIN, My Travelmate. Saya mau siap-siap dulu karena ada undangan event *laaah… bukan mau diapelin kesayangan ternyata, nasib yang jomblo :D*

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »