RASAKU, SAHABATKU

RASAKU, SAHABATKU!
Rasaku, Sahabatku
Rasaku, Sahabatku :  Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan padamu. Tapi entah kenapa tak sepatah katapun terucap. Entah aku yang tak siap mengucapkannya atau aku tak siap jika harus menerima kenyataan bahwa kau tak siap mendengar ceritaku. Akhirnya aku memilih menyimpan saja cerita ini. Menikmatinya dalam pahit. Karena memang cerita yang ingin kuungkapkan adalah cerita pahit. Aku memilih diam, berharap kau menangkap sinyal kepedihan yang terpancar dari tiap tatapku, tiap gerakku, tiap ucapku. Tapi toh kau tetap diam. Entah memang kau tak peka atau mungkin memang aku tlah berhasil menyembunyikan sakit jiwaku. Yah…aku sakit! Jiwaku rentan akan kematian kalbu. Dan jiwaku semakin sakit saat menyadari aku sendirian menanggung ini. Tak ada kau! Tak ada sesiapa!

Aku memutuskan untuk tak sering-sering mengunjungimu. Sebab mengunjungimu sama saja dengan mengejek diriku sendiri yang sendiri. Diriku yang merindukan sosok sahabat yang dulu selalu menemaniku saat hancur dan utuhku, kalah dan menangku, hitam dan putihku. Sahabat yang tak menuntutku untuk terus datang mengunjungimu jika tak ingin dilupakan. Sahabat yang menuntunku pulang saat kuterlalu jauh berkelana, sahabat yang tetap setia menunggu ketika ku tak juga datang. Sahabat yang mengerti apa yang sedang bermain di hatiku tanpa kuucapkan. Sahabat yang…ah! Apakah aku terlalu muluk mendambakan sosok sahabat seperti itu. Aku paham, aku juga bukan sahabat yang baik untukmu, tapi aku terlanjur berharap itu padamu. Dan ketika kumenyadari bahwa persahabatan yang sering kau bangga-banggakan di depan umum itu tak lebih dari teman bersenang-senang saja, aku tak terima namun juga tak berhak membangkang. Aku tak siap untuk selalu berpura-pura senang di hadapmu. Tapi untuk bermuram durja juga toh tak bakal kau hiraukan. Aku terombang ambing dalam ketakpastian tekadku sendiri. Dipermainkan oleh mimpiku sendiri. Mimpi akan seorang sahabat. Mimpi yang membuat rasaku tak dapat merasakan rasa hingga tak tau rasa mimpi itu sendiri.

Beberapa jam yang lalu adalah puncaknya, ketika sebuah kalimat menusukku tajam dengan kata-katanya. Kalimat yang meminta pertanggungjawaban atas eksistensiku sebagai bagian darimu. Oh… kawanku! Haruskah kita menuntut hak seakan semua kewajiban tlah kita jalankan? Tak terbersitkah di hatimu tentang sebuah tanya mengapa aku begini? Kenapa harus “Apa”? Kenapa bukan “mengapa”?

Lalu ketika terlontar niatku untuk benar-benar pergi darimu, baru kau tanya tentang rasaku. Ah… aku merasa semua sudah terlambat, juga pertanyaanmu itu. Keakuanku kembali muncul, kenapa baru sekarang kau tanyakan itu? Kenapa tak dari dulu saat aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar mempunyai sahabat? Kemana kau saat ribuan tanya itu memenuhi kepalaku hingga aku tak mampu menjawabnya dan membuat dadaku sesak oleh kecewa. Haruskah kuceritakan semuanya sedangkan hatiku sudah terbiasa untuk tak bercerita pada siapapun dan seberat apapun rasaku? Semua itu karenamu friend, sobat, brur, bro, kawan, sahabat, lai, jack! Kau yang membuatku terbiasa menyimpan sendiri perihku. Sekarang kau memaksaku untuk membuka kembali album foto kelam kita? Aku tak bisa sobat, dan aku tak terbiasa. Aku sudah gamang untuk bercerita pada siapapun termasuk padamu. Hingga sekarangpun aku tak bisa menceritakannya. Aku sudah lupa dari mana dan bagaimana memulai ceritanya. Aku merasa sudah benar-benar tak berasa.

Aku mencintaimu sahabatku! Mungkin karena itulah aku sering berpikir lebih baik meninggalkanmu daripada tetap disini. Aku tak sanggung terluka karena cinta. Sebab kutau rasa dari luka itu. Perih…amat pedih! Ah…Maafkan aku sahabatku! Aku terlalu banyak menuntut. Tapi tenang saja, karena mulai sekarang aku akan belajar untuk tak meminta apa-apa darimu. Aku akan tetap terbiasa untuk menikmati sendiri getirku. Aku akan belajar untuk berjalan tanpa tujuan, tanpa mimpi. Sebab dengan begitu aku tak akan mendapati luka jika apa yang kutuju tak tercapai. Happy b’day… Sahabatku! Love u so much.
(25042009 3:02 PM)

NB : Ini tulisan lama *keliatan kan dari tanggalnya*. Baru menemukannya kembali pas bongkar-bongkar file di laptop yang lama. Saya inget banget ini tulisan ditujukan untuk siapa. Walau kelihatan seperti surat cinta ke sahabat sendiri, tapi kejadian yang sebenarnya nggak seperti itu kok. Bukan cinta-cintaan yang seperti di sinetron. Ini murni cinta sebagai sahabat, bukan cinta bertepuk sebelah tangan. Sahabat yang sudah dianggap keluarga. Dulu nulisnya ini sambil berurai airmata, sekarang bacanya sambil ngekeh :D

Share:

12 komentar

  1. Aku jadi teringat sahabatku yang lama tak terdengar kabarnya ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayoo dicaritau mbak kabarnya si sahabat itu :)

      Hapus
  2. oohh sobaaaat...
    apa akabarnya yaaa

    BalasHapus
  3. oh bro, mungkin kau pun terkekeh membacanya sekarang.

    BalasHapus
  4. Wah, kirain cinta antara kekasih?
    hehehe...

    Sahabat? Ahhhh.... sungguh kata yg dahsyat.
    Konon, satu musuh lebih banyak dibanding seribu sahabat...

    Jadi inget sahabat2 lamaku...
    dimanakah kalian kini?

    Nice post bu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas, masa-masa bersama sahabat memang masa yang mengesankan :)

      hayuuk disapa kembali sahabat-sahabatnya mas :)

      Hapus
  5. pasti abis baca tentang sahabat jadinya inget sahabatsahabat :D

    BalasHapus
  6. Sahabat :' sekarang sahabat terbaikku udah sibuk sama pacarnya wkwkwk biasalah lagi kasmaran dia. Aku? masih jomblo aja. Biasaaaa wkwkw

    BalasHapus
  7. Pasti nyesek deh tuh huhu :'

    Lha kukirain prenjon xD

    BalasHapus