ALERGI, PENGHAMBAT TUMBUH KEMBANG ANAK YANG TIDAK BOLEH DISEPELEKAN

21.48
alergi susu sapi
alergi, penghambat tumbuh kembang anak yang tidak boleh disepelekan
Alergi, Penghambat Tumbuh Kembang Anak yang Tidak Boleh Disepelekan : Alergi. Jujur dulu saya sepeleh dengan penyakit yang satu ini. Mungkin karena selama ini yang saya tau alergi itu ya cuma gatal-gatal. Udah itu aja. Tapi semakin kesini semakin sering saya bersinggungan dengan orang yang menderita alergi.

Salah satu teman saat kos saya dulu menderita alergi terhadap udara dingin. Ia juga punya penyakit asma. Kemana-mana pasti bawa minyak angin ataupun minyak kayu putih agar kalau berasa dingin bisa langsung dioleskan. Jaket sudah pasti selalu dibawa untuk jaga-jaga.

Pacarnya teman satu kontrakan saya saat ini juga punya alergi. Tapi bukan terhadap udara dingin, melainkan terhadap debu dan polusi udara. So kalau keluar naik sepeda motor wajib pakai masker. Itu pun masih sering ‘kecolongan’ kalau maskernya tipis dan debunya parah. Jadi, sering ketika mereka berencana mau jalan-jalan ke luar, alergi si cowok keburu kambuh ketika ketika sampai di rumah kontrakkan kami. Bersin-bersin. Kalau sudah begini biasanya mereka tidak langsung pergi keluar, tapi duduk-duduk dulu, istirahat di ruang tamu sambil si kawan nyiapin teh panas untuk cowoknya dengan harapan bersin-bersinnya redah. Kalau langsung pergi alerginya bisa makin parah. Nggak cuma bersin-bersin. Tapi jadi ingusan, kepala pusing, dan suhu badan pun ikut naik.

Lain lagi dengan kakak senior di organisasi. Si kakak ini tinggalnya di Tebingtinggi tapi sering main ke Medan. Kalau ke Medan biasanya nginapnya di rumah kontrakkan kami. Saya sering merasa jadi orang paling jorok sedunia kalau si kakak nginap. Pasalnya si kakak itu alergi debu, seafood dan punya asma juga. Dan jadi bersin-bersin plus ingusan kalau sudah masuk ke kamar kami *jadi ketauan kan kalau kamar kami banyak debunya*. Karena suka bersin dan ingusan, si kakak jadi selalu sedia tisu kemanapun dia pergi. Untungnya alerginya termasuk ringan, nggak sampai pusing dan demam. Tapi walaupun begitu, tetap saja alergi itu mengganggu sekali menurut saya.

Dan alergi paling parah yang saya dengar langsung ceritanya adalah alerginya kak Molly, anggota Blog M (Blogger Medan). Menurut cerita Kak Molly, dirinya memiliki alergi dengan semua jenis susu dan produk yang ada bahan susunya. Langsung cek screenshoot-nya aja ya guys!
alergi protein susu sapi
Alergi bisa menyebabkan kematian guys, serem nggak tuh
alergi protein susu sapi
Quota asuransi kak Molly sampai habis gara-gara alergi
alergi protein susu sapi
Widiiih... alergi bukan penyakit murah sodara-sodara!
alergi protein susu sapi
Hmm.. sebegitu mengganggunya ternyata alergi ini ya. Penilaian saya tentang alergi pun jadi berubah. Alergi ternyata nggak bisa disepelekan. Meski bukan penyakit yang menyeramkan seperti kanker atau sejenisnya, kalau tidak dideteksi sedini mungkin dan ditangani dengan benar, alergi bisa sangat mengganggu dan berakibat fatal. Bisa menyebabkan kematian juga seperti yang dikatakan kak Molly *syereeem*.

Kalau terhadap orang dewasa saja alergi sangat mengganggu, bagaimana dengan anak bayi?! Alergi pada anak ternyata merupakan masalah serius loh. Saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang alergi pada anak di acara Nutritalk di Medan yang diadakan pada 14 Maret 2016 lalu di Washington Room, JW Marriott Hotel Medan.
alergi protein susu sapi
Ini nih yang namanya ayah-ayah keren, antusias dengarin penjelasan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan dari tim Nutrisi Untuk Bangsa 
alergi protein susu sapi
Tim Nutrisi Untuk Bangsa sedang menjelaskan tentang alergi pada anak kepada salah satu peserta acara
Nutritalk bertema “Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi” yang diadakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa, Sarihusada ini menghadirkan 2 pembicara ahli, yakni DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) – Konsultan Alergi Imunologi Anak dan Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH – Konsultan Tumbuh Kembang Anak. Keduanya dari RSCM Jakarta.

Alergi berasal dari bahasa Yunani. Dari kata Aalon dan Argon yang berarti reaksi yang menyimpang dari normal. Maksudnya adalah kondisi dimana tubuh memberikan reaksi yang tidak biasa terhadap rangsangan/zat dari luar tubuh. Pencetusnya bisa dari apa yang kita makan, debu, dan bulu hewan. Makanan  pencetus alergi yang sering dilaporkan adalah susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut, gandum, dan ikan.

Saat ini, anak yang mengkonsumsi susu sapi jumlahnya kian hari kian meningkat. Penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang karena ASI si ibu sedikit ataupun tidak keluar. Ada juga karena si ibu bekerja sehingga tidak bisa memberi ASI. Susu sapi mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Namun tidak semua anak bisa menerima dengan baik protein yang terkandung dalam susu sapi. Meningkatnya jumlah anak yang mengkonsumsi susu sapi membuat jumlah anak yang memiliki risiko alergi protein susu sapi juga meningkat. 1 dari 12 anak memiliki risiko alergi protein susu sapi. Dan 1 dari 25 anak mengalami alergi susu sapi.
alergi protein susu sapi
1 dari 25 anak mengalami alergi protein susu sapi
Seperti yang sudah saya katakan tadi, alergi pada anak merupakan masalah serius. Jika tidak dideteksi sedini mungkin dan ditangani dengan tepat, dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak dan bahkan dapat berdampak dalam jangka panjang.

Bagaimana bisa alergi sampai mengganggu tumbuh kembang anak? Bisa dong. 1000 hari pertama kehidupan kan merupakan periode emas seseorang. Fase maksimal pertumbuhan otak manusia terjadi saat masih dalam janin hingga berusia 2 tahun. 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak awal kehamilan hingga usia 2 tahun akan berpengaruh terhadap risiko penyakit tidak menular di masa mendatang. Nutrisi apa yang diterima tubuh pada masa itu merupakan penentu kesehatan seseorang di masa depan. Tidak hanya kesehatan jangka pendek si bayi. Tetapi akan berdampak panjang hingga seseorang dewasa. Jadi di masa itu dibutuhkan asupan nutrisi yang maksimal agak tumbuh kembangnya juga maksimal. Seperti yang dipaparkan Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH :

“Nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam tumbuh kembang anak, selain genetik dan lingkungan. Nutrisi yang tepat, lengkap, serta menjadi dasar bagi tumbuh kembang yang optimal seorang anak, adalah ASI, makanan pendamping ASI (MPASI), dan makanan seimbang.”

Menurut Dr. Bernie, ketika anak mengalami alergi, setidaknya ada 4 area perkembangan anak yang akan terpengaruh pertumbuhan dan perkembangannya, keempat area tersebut meliputi : Personal Social, Fine Motor, (motoric halus), Language, Cross Motor (motoric kasar). Dibutuhkan stimulus yang tepat agar perkembangannya tepat maksimal.
alergi protein susu sapi
Alergi, penghambat tumbuh kembang anak. (Foto : lifestyle[dot]sindonews[dot]com)
Bayangkan kalau seorang anak tidak mendapat ASI dan memiliki alergi terhadap susu sapi, tentu perkembangannya akan terganggu karena nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh dalam masa tumbuh kembangnya tidak terpenuhi dengan baik.

Selain maltrisi, alergi ternyata tidak hanya berdampak pada anak. Tetapi juga terhadap orangtua. Ketika anak alergi, emosinya terganggu. Ia jadi rewel. Otomatis emosi orangtua juga ikut terganggu loh. Saya pernah melihat abang dan kakak ipar saya berantem karena anaknya sakit. Mungkin karena perasaan yang campur aduk antara sedih melihat anak sakit dan putus asa, bingung harus melakukan apa. Jadinya mudah emosi dan saling menyalahkan *Jadi orangtua memang kudu punya mental baja dan kesabaran yang luar biasa ya. Plus pengetahuan yang luas tentunya*.

Nggak hanya dampak tumbuh kembang dan emosi anak serta orangtua. Finansial keluarga juga bisa-bisa ikut goyah kalau anak mengalami alergi protein susu sapi. Senada seperti pengakuan kak Molly, dokter Zakiudin Munasir, juga bilang kalau alergi bukan penyakit murah. Jika alerginya parah dan harus minum susu khusus, yang 400 gram aja harganya bisa sampai 500 ribu *biuuuh.. ini mah bisa berujung ke emosi ortu juga :D*

Mengingat betapa pentingnya periode 1000 hari pertama kehidupan dan betapa besarnya dampat alergi terhadap periode emas seseorang, masyarakat khususnya orangtua sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan terkait alergi, baik pencegahan maupun penanganannya.

Langkah pertama yang perlu dilakukan sekaligus tindakan antisifatif adalah dengan mengenali gejala-gejala alergi, mengukur faktor risiko alergi yang dimiliki anak, dan memberikan nutrisi yang tepat di awal kehidupan. Apa, risiko alergi bisa dihitung?! Nah lo baru tau kan. Sama, saya juga baru tau. Nggak percaya, nih penjelasan dari DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) :

“Anak-anak dengan kedua orang tua memiliki riwayat alergi, memiliki risiko alergi sebesar 40%-60%.  Risiko ini lebih besar lagi pada anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan manifestasi sama, yaitu sebesar 60%-80%.  Untuk anak-anak dengan risiko tinggi alergi karena riwayat orang tua, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh-kembang anak yang optimal.”
alergi protein susu sapi
Risiko alergi anak terhadap protein susu sapi
Wah ternyata salah satu penyebab alergi adalah faktor genetik alias turunan*lagi-lagi saya mendapat pengetahuan baru nih pemirsa*. Jadi, anak dengan kedua orangtua memiliki riwayat alergi akan memiliki risiko alergi yang tinggi seperti yang dijelaskan dokter Zakiudin. Jika hanya salah satu orangtua yang memiliki risiko alergi, anak memiliki risiko alergi sebesar 20%-30%. Jika saudara kandung memiliki riwayat alergi, anak berisiko mengalami alergi sebesar 25% hingga 30%. Kedua orangtua tidak memiliki riwayat alergi, eits.. jangan senang dulu. Meski kedua orangtua tidak memiliki risiko alergi, anak tetap memiliki risiko alergi sebesar 5%-15%. Intinya para orangtua harus tetap memantau agar alergi dapat diketahui sedini mungkin, seperti kata dokter Zakiudin :

“Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi.”

Dalam bincang-bincang nutrisi Sarihusada ini, turut pula diperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Kartunya simple dan mudah dipahami, jadi saya bagi aja disini siapa tau ada yang ingin menghitung risiko alergi anak-anaknya.
alergi protein susu sapi
Hitung risiko alergi yuuuk..!
Jika anak terkena alergi protein susu sapi, jangan langsung panik ya. Jangan buru-buru diberi antibiotik. Alergi tidak membutuhkan antibiotik kecuali jika alerginya sudah parah dan mempengaruhi organ tubuh. Mengingat tumbuh kembang anak membutuhkan nutrisi yang komplit plit plit, meski harus menghindari makanan pemicu alergi, kebutuhan nutrisi anak harus tetap terpenuhi, jadi berikan makanan lain dengan kandungan nutrisi yang sama *ini nih yang sering luput dari perhatian orangtua. Yang difokuskan hanya bagaimana menghindarkan anak dari pemicu alergi, tapi lupa untuk tetap memenuhi kebutuhan gizinya*
alergi protein susu sapi
Cegah dan tangani dengan benar mom :)
Misalkan anak yang alergi protein susu sapi, bisa diganti dengan susu yang mengandung formula isolat protein kedelai. Atau susu dengan protein terhidrolisis parsial yang memungkinkan anak alergi protein susu sapi dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan tubuh agar pertumbuhannya optimal. Susu dengan protein terhidrolisis parsial saat ini sudah banyak di pasaran. Jadi, cek labelnya ya mom sebelum memilih susu yang tepat buat buah hatinya.
alergi protein susu sapi
Susu soya, salah satu alternatif bagi anak alergi protein susu sapi
“Protein terhidrolisis parsial adalah sebuah hasil dari teknologi yang lebih mudah ditoleransi oleh tubuh dan dicerna. Dengan teknologi tersebut, panjang rantai protein dapat dipotong-potong menjadi lebih pendek dan ukuran massa molekulnya dapat diperkecil.  Semakin pendek rantai dan semakin kecil massa molekulnya, protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak,” papar DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K).

Poin penting lainnya yang saya dapat dari acara Nutritalk Sarihusada kali ini adalah :
- ASI adalah makanan terbaik bayi. Jadi usahakan beri ASI ke anak kita.
- Alergi di kulit jika tidak ditangai dengan baik bisa menjadi sakit asma
- Orangtua harus memperhatikan kebersihan anak. Tidak hanya memandikannya, tetapi juga memperhatikan alat dan perlengkapan anak.
- Susu sapi sering dijuluki sebagai pintu pembuka penyakit alergi
- Tidak ada dosis pencetus alergi. Hanya saja reaksinya bisa berat bisa ringan.
- Ibu hamil tidak perlu berpantang apapun agar anak mengenal berbagai jenis makanan.

Widiiih.. panjang juga ya postingan saya kali ini. Namanya juga info penting, harus tetap disampaikan walau panjang :D

Usai mengikuti Nutritalk, iseng-iseng saya menulis status di BBM saya begini :

Ada yang punya pengalaman anaknya alergi susu sapi? PM awak ya :)

Sesaat setelah itu, beberapa respon pun saya terima. Dari yang menceritakan pengalaman sendiri, pengalaman tetangga, sampai yang balik nanya dengan nada interogasi *mungkin dikira saya tiba-tiba punya anak kali ya :D*
alergi protein susu sapi
Dibela-belain pinjam uang buat beli susu anak -_-
Salah satu yang menarik adalah cerita sahabat saya di Manggar, Sumatera Selatan. Ia yang memang gampang panik itu mengaku stress saat mengetahui kulit anaknya merah-merah karena alergi susu sapi. Saking panik dan stress ia jadi sedikit-sedikit nangis dan bingung mau ngapain. Jadi kena syndrome baby blues. Iya, baby blues ternyata bukan hanya kondisi dimana seseorang merasa tidak suka pada anak kecil. Tapi juga perasaan takut karena merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk bayinya. Kondisi teman saya yang ASI-nya sedikit dan anaknya yang ternyata alergi susu sapi itu membuatnya tertekan dan cuma bisa nangis. Beruntung suami dan keluarganya selalu support. Berkat dukungan keluarga, konsultasi ke dokter, dan kemauan untuk mencari info tentang penanganan alergi susu sapi pada anak, akhirnya justru membuat sahabat saya tahu berbagai hal tentang alergi susu sapi.
alergi protein susu sapi
alergi protein susu sapi
Mengikuti acara Nutritalk Sarihusada kali ini membuka mata saya tentang pentingnya menjadi ibu yang cerdas dan berwawasan luas. Soalnya selama ini banyak terjadi di masyarakat penanganan yang keliru terhadap anak yang memiliki alergi yang disebabkan ketidaktahuan para orang tua. Jadi meski belum menikah dan belum punya anak, saya tetap beruntung mengikuti acara ini. Itung-itung pengetahuan yang didapat bisa jadi bekal kalau nanti punya anak. Harapannya sih bisa ASI eksklusif. Tapi kalau kondisinya mengharuskan memberi susu formula dan ternyata si anak alergi, setidaknya saya tidak panik seperti sahabat saya karena sudah memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.
alergi protein susu sapi
Ki-Ka : DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K), Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH, Arif Mujahiddin (Head of Corporate Affairs Sarihusada)
Hayuuk.. para orangtua dan calon orangtua, kenali lebih jauh tentang alergi yuk, jangan disepelekan. Nggak mau kan anaknya alergi dan berlanjut hingga dewasa seperti yang saya ceritakan di atas. Kalau orangtuanya punya pengetahuan luas dan cerdas, in sha Allah tumbuh kembang anaknya juga berjalan dengan baik *Aamiin*.

Ada yang punya pengalaman tentang #AlergiProteinSusuSapi pada anak?! Share dong!

nutrisi untuk bangsa
Nutritalk - Medan


Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

13 komentar

Write komentar
Dini Febia
AUTHOR
22 Maret 2016 07.38 delete

Yuk, sama-sama mengerti alergi! :D

Reply
avatar
damarojat
AUTHOR
23 Maret 2016 00.02 delete

anak sulung saya alergi susu sapi. sebelum nyusu sama sapi eh sebelum minum susu sapi (sufor utk 6 bulan ke atas), tiap habis nyusu ASI yang kena pipinya selalu merah-merah. sensitif. e ternyata setelah kenal sufor merah-merah juga padahal tuh susu baru kena pipinya aja belum diminum. gimana coba?

akhirnya dicoba susu soya selama 3 bulan, pelan-pelan ganti susu sapi. soya muahal soalnya

kenapa ga ASI aja? soalnya pas dia 7 bulan saya hamil lagi. mau terus nyusuin ga kuat karena mual muntah. kasihan dia.

Reply
avatar
23 Maret 2016 10.41 delete

berarti mpasi bisa jadi cara pengenalan dan mengetahui potensi alergi ya mbak, saya aja baru tau alergi susu kambing pas mau kawin gaar2 lulur, karena memang sebelumnya gak pernah konsumsi atau pakai produk yanga ada susu kambing

Reply
avatar
23 Maret 2016 18.17 delete

yuuk mbak :)

kalau sudah mengerti, in sha Allah juga bisa menanganinya dengan tepat jika ada anggota keluarga yang terkena alergi :)

Reply
avatar
23 Maret 2016 18.24 delete

sekarang sudah umur berapa anaknya mbak? wah berarti harus benar-benar diperhatikan kebersihannya mbak, karena makanan yang menempel di pipi pun bisa menjadi pemicu alergi. seperti susu yang mbak ceritakan itu.
iya susu soya mahal mbak, makanya bisa mengancam finansial keluarga juga hehheeehee..
memperkenalkan anak dengan berbagai jenis makanan dengan pelan-pelan, bagus tuh mbak. supaya anak bisa mengenal dan menyesuaikan diri secara bertahap dengan jenis makanan tersebut.
semoga sehat selalu ya mbak, anak dan bundanya :)

Reply
avatar
23 Maret 2016 18.32 delete

iya benar sekali mbak. mengenalkan sekaligus melihat apakah ada reaksi alergi saat anak mengkonsumsi makanan tertentu. yang terpenting, saat mengetahui anak mempunyai alergi terhadap makanan tertentu, hindarkan anak dari makanan tersebut, namun tetap beri makanan lain yang kandungan gizinya sama makanan pencetus alergi. tujuannnya agar nutrisi yang dibutuhkan anak dapat terpenuhi.

di banyak kasus memang alergi bisa muncul di usia dewasa dan kita baru mengetahuinya :)

Reply
avatar
23 Maret 2016 18.32 delete

iya benar sekali mbak. mengenalkan sekaligus melihat apakah ada reaksi alergi saat anak mengkonsumsi makanan tertentu. yang terpenting, saat mengetahui anak mempunyai alergi terhadap makanan tertentu, hindarkan anak dari makanan tersebut, namun tetap beri makanan lain yang kandungan gizinya sama makanan pencetus alergi. tujuannnya agar nutrisi yang dibutuhkan anak dapat terpenuhi.

di banyak kasus memang alergi bisa muncul di usia dewasa dan kita baru mengetahuinya :)

Reply
avatar
25 Maret 2016 16.08 delete

aku belum tahu alergi apa.. tapi penasaran bruntusan di muka ini belum tahu jerawat apa alergi :(

Reply
avatar
25 Maret 2016 18.11 delete

itu bruntusannya udah lama mut?! kalau ragu dan emang pengen tau, coba periksa ke dokter kulit aja. soalnya temen aku mbak Molly sampai periksa darah, baru ketauan kalau ternyata alergi :)

Reply
avatar
Ahliah Citra
AUTHOR
26 Maret 2016 18.28 delete

Iya, Mba. Periksa alergi apa itu mahal. Mending coba perhatiin aja gara2 munculnya alergi itu

Reply
avatar
Helenamantra
AUTHOR
26 Maret 2016 23.41 delete

nah..jadi sebelum nikah, hitung dulu risiko alergi dengan pasangan. heheh
makasih infonya ya

Reply
avatar
29 Maret 2016 08.24 delete

Menyebalkan kalo inget2 alergi kumat zaman dulu, bikin bete dan mood jelek. Sekarang masih juga kadang timbul reaksinya kalo konsumsi pantangannya, yaah suka bandel terkadang hahaha :D.

Reply
avatar
Segala Mu
AUTHOR
29 Maret 2016 18.24 delete

terlihat sepele ya si alergi ini. tapi bila sudah menghampiri, benar-benar membuat tidak nyaman dan menyiksa. saya dulu nggak bisa makan ayam selain ayam kampung. tapi sekarang syukurnya bisa, tapi nggak banyak-banyak. kalau banyak badan bisa gatal-gatal.

Reply
avatar