MUSEUM NEGERI SUMATERA UTARA

12.23
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Museum Negeri Sumatera Utara
Museum Negeri Sumatera Utara – Wisata Medan : Museum Negeri Sumatera Utara atau dikenal dengan nama Gedung Arca berada di jalan H. M. Joni no. 15 Medan. Buka dari Selasa hingga Minggu dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Tiket masuknya hanya Rp. 2000,-.

Diresmikan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Yoesoef pada 19 April 1982, peletakan koleksi pertama di museum ini dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno pada tahun 1954, dengan koleksi berupa makara. Itulah sebabnya museum ini dikenal dengan nama Gedung Arca.

Komplek Museum Negeri Sumatera Utara berdiri di atas lahan seluas 10.468 meter persegi. Halaman kanan kiri ditumbuhi bunga-bunga, area parkir yang cukup luas, sedangkan bagian depan ditumbuhi rumput hijau. Dua buah meriam juga terdapat di halaman depan museum. Atap bagian depan bangunan museum terdapat ornamen khas suku-suku yang ada di Sumatera Utara : Nias, Melayu, Pak-Pak, Simalungun, Toba, Karo, dan Mandailing. Sedangkan di dinding depan museum menggambarkan suku-suku dan pahlawan asal Sumatera Utara.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Pakaian adat suku di Sumatera Utara
Bangunan museum terdiri dari dua lantai yang secara umum terdiri atas ruang-ruang, di antaranya : ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio visual, ruang kepala museum, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang mikro film, ruang seksi bimbingan, ruang komputer serta gudang.

Bangunan bagian tengah menjorok ke depan, lalu melebar ke samping kiri kanan dan masing-masing menjorok ke belakang, membentuk formasi segi empat yang ditengahnya adalah area terbuka dengan rerumputan hijau sebagai lantainya dan langit sebagai atapnya.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Arca di tuangan tengah bagian belakang
Sebagian besar koleksi Museum Negeri Sumatera Utara adalah benda-benda bersejarah masyarakat Sumatera Utara, namun ada juga sebagian yang didatangkan dari daerah lain di Indonesia dan titipan dari negara lain seperti Thailand.

Secara umum, ruang galeri museum terdiri dari : Ruang Masa Prasejarah, Kebudayaan Sumatera Utara Kuno, Masa Kerajaan Hindu-Buddha, Masa Kerajaan Islam, Masa Kolonialisme, Ruang Gubernur,  dan Ruang Masa Perjuangan Kemerdekaan.

Masa Prasejarah menampilkan tentang sejarah terbentuknya alam semesta dan Pulau Sumatera, sejarah alam tentang migrasi makhluk hidup serta kehidupan di masa prasejarah. Diorama kehidupan prasejarah, replika hewan khas Sumatera, replika fosil manusia purba dan ragam perkakas prasejarah ditambilkan dalam kotak-kotak kaca di tengah ruangan. Dari ruang Prasejarah yang posisinya berada di tengah bagian depan bangunan museum, pengunjung dapat mengunjungi ruang gubernur di sebelah kiri yang memuat foto-foto dan biographi singkat tokoh-tokoh yang pernah memimpin Sumatera, dari Raja Sisingamangaraja XII hingga Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, Syamsul Arifin. Dari ruang gubernur, ruangan selanjutnya adalah ruang masa perjuangan kemerdekaan. Ruangan ini memanjang hingga ke belakang, memajang gambar-bambar dan keterangan tentang perjuangan kemerdekaan seperti peristiwa Agresi Militer Belanda II dan peristiwa-peristiwa perjuangan kemerdekaan di Sumatera lainnya. Terdapat juga lukisan-lukisan yang menggambarkan suasa perjuangan masa lampau seperti lukisan berjudul Peristiwa Siantar Hotel, Bumi Hangus Pangkalan Berandan, dan Memancing Senjata di Perairan Belawan.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Alam semesta
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Ruang gubernur. Berisi foto-foto gubernur Sumut dari masa ke masa
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Peristiwa Siantar Hotel
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Masa agresi militer Belanda
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan

Sementara itu, di sisi sebelah kanan bangunan adalah ruang Megalitikum, berisi koleksi benda-benda dari masa kebudayaan Sumatera Utara kuno yakni dari masa megalitikum tua hingga perundagian seperti peti mati dan meja kayu dari Nias Selatan. Ruang selanjutnya adalah ruang Masa Kerajaan Hindu-Budha yang menampilkan peninggalan agama Hindu-Buddha di Sumatera Utara seperti mata uang kuno, arca batu, arca perunggu, pecahan keramik yang ditemukan di situs percandian Padang Lawas dan situs Kota Cina. Selain itu, terdapat juga replika candi Bahal.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Peti mati dari Nias Selatan
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Masa Hindu-Budha
Ruang islam memajang artefak dan replika berbagai peninggalan masa islam di Sumatera Utara seperti Al Qur’an, naskah tua islam yang ditulis tangan, batu nisan bercorak Batak, replika batu nisan dari makam islam di Barus. Ada juga replika masjid Azizi yang terdapat di Tanjung Pura, Langkat – Sumatera Utara.

Suasan berganti saat memasuki ruang kolonialisme yang memajang benda-benda dan foto yang memuat kehidupan masyarakat Sumatera Utara pada masa kolonialisme. Foto-foto hitam putih yang menggambarkan aktifitas masyarakat di masa Kolonialisme terpampang di tengah ruangan. Semakin lengkap dengan dekorasi warung dan toko obat di jaman dulu,lengkap dengan patung penjual dan pembelinya.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Medan tempo dulu
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Medan tempo dulu
Dari ruang kolonialisme, terdapat tangga yang menjadi akses untuk ke lantai dua. Lantai dua memajang koleksi benda-benda masyarakat Sumatera Utara di masa lampau. Peralatan sehari-hari ditampilkan disini seperti : peralatan dapur, perkebunan, berburu dan meramu, perdagangan, transportasi, pertanian, pandai besi, perikanan, peternakan, hingga peralatan perang tradisional.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Suku di Sumatera Utara
Uniknya, selain menampilkan alat-alat tradisional, juga dilengkapi dengan patung dan suasana kehidupan di masa lampau. Misalnya koleksi peralatan pandai besi yang tidak hanya menampilkan alat-alatnya saja, tetapi patung yang menggambarkan aktifitas seorang pandai besi. Di ruangan ini juga terdapat Abal-abal yaitu peti mati khas Batak Toba yang terbuat dari kayu bintatur atau kayu dari pohon nangka yang dikorek. Abal-abal ini digunakan untuk jenazah yang sudah gabe atau saur matua, yaitu jenazah yang meninggal dalam kondisi seluruh anaknya telah menikah dan mengaruniakan cucu. Koleksi lainnya adalah miniatur rumah adat etnis yang ada di Sumatera Utara. Koleksi kain khas suku-suku di Sumut juga terdapat di lantai dua di sisi sebelah kiri bangunan museum.
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Koleksi rata-rata di dalam kaca
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Abal-abal
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Rumah adat dari suku-suku yang ada di Sumut
Museum Negeri Sumatera Utara Wisata Medan
Kain tradisional suku-suku di Sumut
Bisa dikatakan, hampir sembilan puluh persen koleksi Museum Negeri Sumatera Utara diletakkan dalam kotak kaca transparan. Hal ini dilakukan untuk menjaga koleksi museum agar tetap terjaga dengan baik.

Kalian yang suka sejarah, silahkan berkunjung ke Museum Negeri Sumatera Utara.

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

9 komentar

Write komentar
katon sumargi
AUTHOR
19 Desember 2015 14.02 delete

Kita patut menjaga sejarah, karena tanpa mereka kita tak kan pernah ada.

Reply
avatar
22 Desember 2015 17.44 delete

Kalo saya diberi kesempatan kesana, bakalan berdecak kagum nih kayaknya.. kerenn

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
26 Desember 2015 13.49 delete

bener banget mas, cuma sekarang kita seringnya malas belajar sejarah, padahal mengajari sejarah adalah salah satu cara untuk menjaganya :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
26 Desember 2015 13.50 delete

semoga berkesempatan untuk mengunjungi Medan dan Museum Negeri Sumatera Utara ya mas :)

Reply
avatar
Wahab Saputra
AUTHOR
15 Januari 2016 04.52 delete

Arsitektur gedung musiumnya unik sekali ya Mbak...

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
16 Januari 2016 10.55 delete

iya mas, bagian atap depannya memang meniru rumah adat suku yang ada di sumut :)

Reply
avatar
Rico Sinaga
AUTHOR
16 Januari 2016 19.30 delete

Terakhir ke museum ini 5 tahun lalu. Kayaknya Tata Suryanya baru ada yah? Dan si ibu hijab kayaknya jg baru nangkring ala ala sama di kokoh itu :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
17 Januari 2016 14.25 delete

iya bang. beberapa memang ada yang diperbaharui. waktu aku main kesini juga mereka lagi ada perbaikan di salah satu ruangan :)

Reply
avatar
Adi Nu
AUTHOR
26 September 2016 15.10 delete

jadi pingin dan menikmati wisata di sumut deh

Reply
avatar