APA KABAR KAMU

18.11
apa kabar, kamu?


Apa kabar kamu, laki-laki yang pertama kali mampu masuk ke ruang hatiku. Yang mampu menggetarkan hati dan mengacaukan pikiranku. Kamu baik-baik saja kan? Sudah sangat lama waktu itu berlalu. Waktu dimana kau rutin mengunjungiku dan menghadiahiku senyum penuh rindu. Waktu dimana aku kerap melihat mimik wajahmu yang selalu sukses membuatku tertawa.

Ah, kita masih anak manis kala itu. Meski sadar jalan di depan akan sulit untuk kita, aku selalu mengabaikan semua pikiran yang sesekali melintas di kepalaku kala itu. Kita masih terlalu muda, jalan di depan masih panjang, abaikan saja perbedaan itu dan nikmatilah persamaan rasa antara kita, begitulah selalu bisik hatiku.
Dan, bom waktu itu pun meledak, dunia menuntut otak kecilku untuk berpikir dewasa dan berdasarkan logika. Kau mencoba menahanku kala itu, tapi aku tetap pada keputusan itu meski akhirnya aku pun tak kalah terluka olehnya. Ya, aku terluka. Rasanya begitu berat harus melepasmu saat aku sendiri tau kita memiliki getar yang sama. Ah, aku sungguh tak tau apa yang harus aku lakukan. Bagaimana cara melupakanmu sedang semua yang pernah terjalin begitu manis. Bagaimana aku bisa membencimu sedang aku tak punya alasan untuk itu.

Apa kabar kamu, laki-laki yang saat itu hanya mau ‘nurut’ sama ucapan dua orang perempuan : ibumu dan aku. Apakah kamu masih sering bertengkar dengan bapakmu? Apa kamu masih sering minggat dari rumah? Ah, dulu kamu selalu minggat saat pertengkaran dengan bapakmu tak terelakkan. Tapi kamu selalu memberitahuku kemana kamu pergi. Dan selalu kembali ke rumah saat aku meminta. Berdamailah dengan bapak, bagaimanapun dia sudah cukup baik membiarkan hubungan kita tanpa diketahui ibumu. Jangan minggat lagi ya, kasihan ibu, bukankah cuma kamu yang dimilikinya selain bapak yang sudah tak memperhatikannya lagi.

Apa kabar kamu, laki-laki yang tau bagaimana mencintaiku hingga aku pun jatuh hati. Apa kamu masih suka lomba balap liar? Aku masih suka tersenyum sendiri waktu mengingat kamu rela berhenti balap liar atas permintaanku, tapi kita tetap balap-balapan di jalanan, kucing-kucingan di jalanan dengan pak polisi. Ah, aku belum bilang ke kamu kalau cuma sama kamu aku nggak takut dibonceng motor dengan kecepatan tinggi di jalanan umum penuh kendaraan lalu-lalang. Cuma sama kamu aku nggak takut berada di tempat di mana kamu bisa-bisa saja ‘ngejahatin’ aku. Aku nggak takut, karena aku tau bahwa bagi kamu, mencintai adalah menjaga dan menghormati perempuan yang kamu cintai. Aku nggak takut waktu berkumpul dengan teman-temanmu yang suka mabuk dan mengganggap perempuan hanya teman ‘have fun’. Aku nggak takut karena kamu selalu menjaga kesadaranmu saat bersamaku. Aku nggak takut karena meski orang-orang bilang kamu bandel, nyatanya kamu nggak pernah ngajak aku untuk ikut bandel. Nyatanya kamu lebih menjaga dan menghargaiku sebagai seorang perempuan di banding laki-laki lain yang terlihat seperti ‘laki-laki baik-baik’. Bersamamu, aku merasa aman dan nyaman dimanapun dan kapanpun.

Sejak memilih untuk mengakhiri kebersamaan kita, aku memutuskan semua akses yang bisa menghubungkan kita. Kamu tau kenapa? Karena rasanya akan sangat berat bagiku jika kita masih bisa bertegur sapa, saling melihat namun tak bisa bersama. Aku tidak cukup kuat jika suatu saat harus berjalan dengan orang lain dan bersitatap denganmu. Atau jika melihatmu dengan perempuan yang bukan aku.

Beberapa kali kamu berhasil menghubungiku dan mengajak untuk memulai kembali semuanya, tapi tiap kali kamu berhasil mendapatkan nomor ponselku, tiap kali itu juga aku mengganti nomor ponsel dan tak memberitahu teman-teman kita yang mungkin saja akan kau tanyai. Tiga tahun setelah perpisahan kita, kau kembali menemukanku dan nekat menemuiku. Kita seperti mengulang adegan demi adegan masa lalu yang pernah ada. Aku cukup surprise kala itu saat kau masih ingat segala hal tentangku, apa-apa saja yang aku suka dan tidak suka. Kau masih mengingatnya. Dan lagi-lagi kau mengajak untuk memulai kembali semuanya. Aku senang kala itu. Tapi di antara kebahagiaanku, rasa takut tetap tak mampu kuhindarkan. Aku takut karena aku tau, pada akhirnya kita tak akan bersama, dan saat itu, saat cinta sudah semakin lekat, perpisahan akan terasa begitu menyakitkan. Lebih dari kesakitan yang pernah kita rasakan.

Apa kabar kamu, laki-laki pencemburu yang selalu memperhatikan gerak gerikku bahkan saat kita terpisah jarak. Maaf jika selalu menghilang tiap kali berhasil kau temukan. Sudahkah kau temukan perempuan yang bisa membuatmu ‘nurut’ terhadap kata-katanya. Apa kamu kembali menemukan perempuan yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama. Buatku, cukup lama rentang waktu yang kubutuhkan untuk kembali jatuh cinta. Ya, ternyata aku salah. Kupikir aku tak akan lagi bisa jatuh hati selain denganmu. Nyatanya aku jatuh cinta lagi. Pria itu sungguh berbeda darimu, tapi kalian sama-sama bisa membuatku merasakan getar cinta. Apa kau cemburu? Ah, tak usahlah cemburu, toh nyatanya aku pun tak bisa bersamanya walau saling mencinta.

Demi Tuhan yang kita sebut dengan berbagai nama dan kita sembah dengan berbagai cara, aku tak menyesali sebuah kenyataan bahwa kita terlahir dari rahim dua orang ibu yang berbeda keyakinan. Dan atas nama cintaku terhadap kedua orang tuaku dan keinginanku untuk tak menyakiti hati keduanya, aku tak menyesal sudah pergi darimu agar kau tak menukar cintamu dengan berpindah keyakinan yang akan membuat ibumu terluka. Sungguh, aku tak ingin cinta membuat orang yang kucintai melukai hati orang lain yang juga dicintainya : ibunya. Aku tak ingin, demi bersama orang yang kau cintai, kau melukai hati ibumu. Ibumu, ah… bagaimana perasaannya jika kedua lelaki yang ia cintai melukainya. Jadi, kupilih keputusan yang kompromis untuk kisah kita dan menyerahkan semuanya kepada Sang Raja Semesta.

Apa kabar kamu, laki-laki yang selalu menjadi kepala gank di antara teman-temanmu namun seperti anak kecil yang ingin selalu diperhatikan saat bersamaku. Aku menulis ini bukan karena mengharapkan agar kau menemukanku kembali. Bukan juga karena aku tak berhasil ‘move on’. Bukan begitu. Aku sadar, kau tak mungkin kulupakan, karena bagaimanapun kau adalah bagian dari kisah hidupku. Aku hanya sekedar ingin menulis tentangmu saat ini. Karena entah kenapa, setelah sekian lama kisahmu terpendam di sudut hati dan terlupakan sejenak karena rindu pada sosok yang lain, akhir-akhir ini ada beberapa hal yang membuatku mengingatmu. Kuharap, kamu baik-baik saja dimanapun dan dengan siapapun kamu saat ini.

Rumah Nebula, 17 Sept'14
Photo by : Perempuan November

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Dewi Sartika
AUTHOR
17 September 2014 18.26 delete

Tulisan galaunya panjang bener

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
17 September 2014 21.26 delete

hahhahaaa.... ya gini kalau lagi galau-galau jambu :D

Reply
avatar
18 September 2014 00.14 delete

pasti lelaki selalu hebat di mata mu.... pasti kabarnya selalu baik-baik saja.. karena Allah yang menjaga dirinya.... :)

#Galau_Berat ne...

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
18 September 2014 08.11 delete

hehehheee... nggak semua laki-laki terlihat hebat di mataku bang Zey... hanya beberapa saja. yaa,, semoga Allah melindungi dia dan kita semua :)

#kalau galaunya berat, dietlah biar ringan hehheeehee...

Reply
avatar