SATU FOTO BERJUTA KENANGAN

20.14
satu foto berjuta kenangan
Satu foto berjuta kenangan

Satu Foto Berjuta Kenangan : Sebuah cahaya tiba-tiba menerpa wajah. Saya kaget. Bangun dari tidur. Rupanya Esra, roommate saya saat itu menghidupkan lampu. Mata saya melihat ke samping tempat tidur. Dewi masih terlelap.


Pagi itu saya nginap di Le Polonia Hotel Medan. Menjadi panitia lokal untuk sebuah acara yang dihelat oleh salah satu instansi dari pusat. Sekamar dengan Dewi,seorang kawan yang saya kenal dari komunitas blogger di Medan (Blog M).


Kamar kami luas. Dengan 3 kasur. 1 king size dan dua lagi tipe double bed. Jadi bisa untuk 4 orang. Maka ketika Esra selepas maghrib kebingungan kamarnya dimana dan sekamar dengan siapa, kami ajak saja bergabung dengan kami. Siangnya Esra memang permisi dari acara, makanya ketika pembagian kamar oleh panitia pusat ia pun terlewatkan.


Menunggu Esra mandi, saya membuka tirai jendela dan melihat keluar. Masih pagi. Matahari belum kelihatan meski hari telah terang. Barangkali memang karena kamar hotel ini tidak menghadap ke arah matahari terbit. Jadi jelas saja sang surya tak tertangkap mata.


Memandang keluar lewat jendela kaca, saya pun mengambil handphone untuk mengabadikan view pagi itu. Ah, sungguh ciri khas anak milenial, apa-apa difoto.


Melihat foto hasil jepretan saya sendiri. Saya terdiam, seakan tertarik mesin waktu. Foto itu memang biasa saja. Hanya pemandangan rumah dan beberapa gedung di kejauhan yang terlihat samar. Tapi cukup jelas buat saya mengenali gedung-gedung apa saja itu.


Ingatan saya melompat ke momen-momen yang pernah saya lalui di beberapa tempat yang tertangkap dalam jepretan kamera hape saya. Dimulai dari warung beratap putih biru dimana sebuah mobil terparkir di sisinya. Dulu, masa-masa masih kuliah. Warung itu adalah salah satu tempat yang kerap saya datangi. Belajar jurnalisme TV dengan beberapa wartawan TV. Ya, warung itu adalah warung yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya para jurnalis kota Medan. Mereka menyebutnya warkop jurnalis.


Saya yang ketika kuliah memang terdaftar sebagai Pers Kampus kala itu ingin belajar lebih banyak lagi tentang jurnalisme TV. Belajar memegang kamera, mengambil gambar yang bagus, menulis narasi berita, dan mengedit video. Sempat juga belajar dubbing. Dari situ saya kemudian diajak bergabung membuat TV Online. Wadah untuk latihan sekaligus merajut mimpi. Iya, kala itu youtube belum setenar sekarang (atau kami yang nggak update). Dan kami sudah memulainya dengan membeli domain untuk TV online kami. Ikut merasakan liputan kesana-kemari, bergabung dengan wartawan TV lainnya. Bedanya wartawan-wartawan TV itu ada yang bayar, sementara saya dan teman-teman satu tim nggak ada yang bayar karena kami merintis bareng-bareng.


Di mata orang-orang mungkin terlihat bodoh. Di saat butuh uang untuk biaya hidup dan kuliah, saya masih mau setiap hari disibukkan dengan urusan TV online tersebut, padahal nggak ada yang nggaji juga.


TV online itu memang akhirnya hanya tinggal kenangan. Saya pun udah lupa bagaimana tekhnik pengambilan gambar yang benar. Tapi saya masih ingat bahwa mewujudkan mimpi itu memang nggak mudah. Disinilah salah satu tempat saya belajar. Bukan hanya tentang jurnalisme TV, tapi juga tentang berjuang di saat sulit.


Bisa dikatakan, disini jiwa relawan saya ditempah. Belajar tetap tangguh dalam getirnya merintis sebuah usaha. Disini saya belajar saling menguatkan ketika ada yang meremehkan. Disini juga saya kenal beberapa orang yang mereka juga mengenal saya tidak hanya sekedar sebuah nama. Tapi juga mengenal sifat dan kemampuan saya. Orang-orang yang dikemudian hari *bahkan ketika TV online itu sudah ditutup* mereka tetap menghampiri, sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan berbagai peluang, hingga sampailah saya menjadi saya yang sekarang. Orang-orang tersebut sebagian saya kenal ketika masa-masa merintis TV online ini.


Di luar cerita TV Online itu, masih di lokasi yang sama. Di seberang jalan warkop jurnalis itu, pernah ada pertemuan-pertemuan yang begitu menggetarkan, penuh rindu, juga harapan. Walau akhirnya pun pertemuan itu tak pernah lagi direncanakan. Sebab berjalan sendiri-sendiri sudah menjadi pilihan.
Tapi dari sini saya akhirnya paham bahwa tak semua hal bisa berjalan sesuai harapan. Bahwa di antara begitu besarnya keinginan dan peluang untuk bersama, ada berbagai faktor lain yang membuat akhir kisah ini tak seindah drama korea.


Sedikit ke belakang warkop jurnalis itu. Berdiri sebuah gedung tinggi, entah berapa lantai. Jika di foto, gedung tersebut adalah gedung tinggi di sebelah kiri. Itu adalah bangunan Hotel Tiara. Kabarnya sekarang hotel Tiara sudah tidak beroperasi lagi.


Kisah saya di hotel Tiara masih tentang bagaimana saya membangun mimpi dan berusaha mewujudkan mimpi tersebut. Tapi kali ini tidak dengan kawan-kawan di TV Online, melainkan bersama sahabat-sahabat perempuan saya. Hotel Tiara menjadi istimewa buat saya karena di hotel inilah pertama kalinya saya merasakan nginap di hotel. Satu kamar berisi 8 orang hahhahaaa,,, ini sebenarnya cerita lucu, tapi akan begitu panjang jika diceritakan secara detail.


Singkatnya kala itu kami membuat event yang mendatangkan artis twitter. Kala itu twitter memang sedang hits, hingga muncullah para selebtweet. Kami pesan 2 kamar. Ternyata si artis datang berdua bersama manajernya dan mereka menginap satu kamar. Kelebihan satu kamar itu pun kami pakai daripada mubajir.  Awalnya bertuju karena memang kami panitia inti sebanyak 7 orang. Tapi seorang junior ingin ikut menginap. Jadilah kami sekamar berdelapan. Kasur tipe king size itu pun kami bongkar. Iya, kasur itu terdiri dari 2 bed yang ditumpuk. Kami pun dengan brutalnya mengangkat kasur yang atas, dan,,, taraaaa,,, jadilah 2 kasur lebar memenuhi kamar. Cukup untuk 8 orang. Kalau ingat ini saya jadi ketawa-ketawa sendiri, sungguh masa-masa penuh semangat dan berapi-api, persis penggalan lirik lagunya Rhoma Irama : masa muda, masa yang berapi-api…


Beberapa tahun setelah itu, siapa sangka pekerjaan saya membuat saya sering tidur di hotel. Tapi pengalaman menginap norak-norak bergembira satu kamar delapan orang itu menjadi pengalaman  yang sangat manis untuk dikenang. Membuat saya tak henti mengucap syukur karena hidup saya sungguh penuh warna. Yaaa… walau kadang air mata juga menyapa, eheheeee…


Lebih jauh lagi dari hotel Tiara, di sebelah kanan foto ada hotel Danau Toba. Hotel tersebut juga istimewa buat saya. Karena itu adalah hotel pertama yang saya liput ketika awal-awal menjadi jurnalis di sebuah majalah traveling. Itu adalah terbitan kedua majalah tersebut dan pertama kalinya rubrik tentang hotel ada. Saya bingung harus menulis apa tentang hotel Danau Toba. Apakah mengambil satu spot menarik dan menceritakannya, atau bagaimana. Bukan karena hotel ini tak menarik, tapi karena saya memang belum pernah menulis tentang hotel sebelumnya.

satu foto ribuan kenangan
Satu foto berjuta kenangan

Karena bingung dan pihak hotelnya semangat banget showing hotel mereka, akhirnya saya buat tulisan bertema hotel tour. Saya ceritakan pengalaman saya berkeliling di hotel Danau Toba. Dari mulai lobi, melihat kamar dan fasilitas hotel lainnya (yang kemudian membuat saya tertarik sama kolam renangnya tapi sampai sekarang nggak jadi-jadi mau renang disana) sampai mencicipi makanan di restorannya. Alhamdulillah pak bos seneng dengan tulisan saya, hati saya pun bersorak sorai.


Dan di seberang hotel Danau Toba itu berdiri sebuah gedung bertingkat dengan warna khas sebuah bank. Ya, itu adalah kantor pusat salah satu bank. Bangunan tersebut, walaupun tak terlihat di foto, tapi punya cerita tersendiri bagi saya.


Masih berhubungan dengan cerita norak-norak bergembira menginap berdelapan di hotel Tiara. Kami membuat event yang mendatangkan Selebtweet. Dan event tersebut diadakan di salah satu ruangan di bank di seberang hotel Danau Toba itu. Si selebtweet nginapnya di hotel Tiara. Kok bisa lokasi acaranya di bank? Saya dan sahabat-sahabat saya pun kala itu tak menyangka.


Awalnya kami bingung masalah tempat karena biayanya mahal, kami pun tak punya modal. Namanya juga masih mahasiswa yang nekat buat event karena lagi menggebu-gebu berdalih pembuktian diri. Modal kami cuma nekat dan hanya mengandalkan penjualan tiket ke peserta. Kami pun memutuskan mencari sponsor.


Saya tak punya kenalan di bank tersebut. Tapi seseorang yang saya panggil abang dan saya kenal saat masih di TV Online mengenal orang nomor satu di bank tersebut, juga jajaran orang-orang besarnya, para decision maker. Karena hal tersebutlah akhirnya kami bisa memakai ruangannya untuk event kami.


Semudah itu? Tidak juga. Ada sebuah proses bernama ‘perjuangan’ yang harus kami tempuh untuk bisa memakai gedung tersebut. Kami harus tetap membuat proposal dan melewati jalur administrasi layaknya ketika memberi proposal event ke perusahaan. Harus presentasi di depan para pembesar. Intinya ada kisah nano-nano yang mengiringinya: semangat, gunda, putus asa, juga tawa bahagia. Membuat kisah ini terasa manis dan haru ketika dikenang.



Percakapan Esra dan Dewi menarik kembali saya ke pagi itu. Tapi saya masih takjub memandangi foto di hape saya yang membuat jutaan kenangan seakan memeluk saya. Satu foto berjuta kenangan. Dan kenangan-kenangan itu tengah memeluk saya. Pelukan yang menghadirkan haru. Membuat mata saya berkaca dan hati berucap syukur. Semua kenangan dan pengalaman di masa yang telah lewat yang berperan besar menjadikan saya yang sekarang.


Sungguh saya bersyukur dulu memutuskan belajar jurnalisme tv meski akhirnya saya sadar bahwa saya lebih enjoy ketika menulis ketimbang ketika memegang kamera. Pengalaman di tv online mengajarkan saya bahwa meski tak ada iming-iming materi, loyalitas adalah hal penting yang harus kita junjung.


Saya bersyukur pernah begitu terbuai oleh cinta dan harapan untuk bersama, kemudian dihempaskan oleh getir kenyataan bahwa ego dan ambisi kami ternyata jauh lebih besar dari cinta itu sendiri. Tentu saya belajar banyak dari hal itu.


Dan saya sangat bersykur punya sahabat-sahabat perempuan yang penuh energi, semangat dan impian yang besar. Yang tidak berhenti berusaha meski ada banyak keterbatasan. Sahabat-sahabat gila yang membuat si anak kampung ini tetap waras di perantauan.


Pagi itu di Le Polonia Hotel, saya tak menyangka satu foto hasil jepretan saya sendiri mampu membuat saya bernostalgia dengan masa lalu dan membuat saya jadi lebih semangat memulai hari.

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »