TOURING BARENG SHEILAGANK SUMUT : TERTIDUR DI PANTAI PASIR PUTIH PARBABA

18.42
Touring Bareng Sheilagank Sumut : Tertidur di Pantai Pasir Putih Parbaba
Touring Bareng Sheilagank Sumut : Tertidur di Pantai Pasir Putih Parbaba

Touring Bareng Sheilagank Sumut : Tertidur di Pantai Pasir Putih Parbaba – Kedatangan kami ke Pantai Pasir Putih Parbaba sebenarnya tidak direncanakan. Awalnya kami hanya berencana touring ke Bukit Indah Simarjarunjung (BIS) yang kala itu sedang hits *saat ini juga masih lumayan hits sih*


Tapi karena cuaca kala itu tengah berkabut dan antrian untuk berfoto di rumah pohon Bukit Indah Simarjarunjung lumayan banyak, ditambah lagi dengan Dian yang alergi udara dingin, kami pun membuat rencana lain.


Awalnya bingung hendak kemana. Kemudian ingat kalau Fredi, teman kami kerjanya di Pangururan, Samosir. Ibenk pun segera menelfon Fredi, menanyakan apakah hari itu dia ada agenda atau tidak. Ternyata tidak. Ia pun menyuruh kami datang begitu mengetahui kami ada di Simarjarunjung.


Dari atas puncak Bukit Indah Simarjarunjung, pelabuhan Tigaras terlihat tak begitu jauh. Maka kami pun mulai mengestimasi waktu memungkinkan atau tidak jika kami menyeberang ke Samosir.


Berhubung masih pagi, masih memungkinkan untuk menyeberang ke Samosir, tapi pasti akan sangat melelahkan mengingat hari itu juga kami harus kembali ke Medan.


Baca juga : Touring ke Bukit Indah Simarjarunjung bareng Sheilagank Sumut


Perjalanan menggunakan sepeda motor dari Bukit Indah Simarjarunjung ke Pelabuhan Tigaras tak
membutuhkan waktu lama.


Sampai di Tigaras, pelabuhan tampak sepi. Tak ada kapal bersandar karena memang sedang tidak ada jadwal penyeberangan. Kami harus menunggu sekitar setengah jam. Waktu itu pun kami habiskan dengan berfoto dan berbagi cerita.


Penyeberangan dari Tigaras menuju pelabuhan Simanindo tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 20 – 30 menit. Itupun kami habiskan dengan tidur karena memang ngantuk.


Yang saya suka dari pelabuhan Simanindo adalah pemandangan berupa pulau-pulau kecil yang berada tak jauh dari pelabuhan. Saat dulu pertama kali ke pelabuhan ini saya merasa wow, nggak nyangak ternyata ada juga pulau-pulau kecil lainnya selain Pulau Samosir di tengah Danau Toba ini.


Dari Simanindo, kami mengambil ke arah kanan menuju Pantai Pasir Putih Parbaba. Kami dan Fredi sudah janjian untuk bertemu disana. Karena memang belum makan nasi, kami pun meminta Fredi untuk membelikan nasi di Pangururan untuk makan siang kami. Di Pangururan ada beberapa rumah makan muslim. Itu sebabnya kami nitip makan siang ke Fredi.


Satu hal yang cukup prihatin menurut saya adalah jalanan dari Simanindo ke Pantai Pasir Putih Parbaba. Masih ada beberapa titik yang jalannya rusak dan berlubang, meski tidak terjadi di sepanjang jalan. Tapi sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata) jalannya harusnya bisa lebih bagus lagi.


Tak sulit untuk menemukan Pantai Pasir Putih Parbaba. Ada banyak papan petunjuk dengan ukuran besar yang bisa dijadikan acuan. Kami pun sampai tanpa harus nyasar meski ini merupakan kunjungan perdana.


pantai parbaba samosir
foto : IG @rentalmobilpematangsiantar
Pantai Pasir Putih Parbaba adalah salah satu pantai berpasir putih yang ada di pangururan. Di sepanjang pinggiran pantai ada banyak wahana permainan air yang bisa dicoba oleh pengunjung. Mau mandi-mandi sepuasnya juga bisa. Yang nggak bisa berenang bisa menyewa ban. Yang mau seru-seruan bareng kawan bisa naik banana boat. Yang haus bisa minum kelapa muda. Yang pengen istirahat bisa sewa tikar dan tiduran di bawah pohon.


Sambil menunggu Fredi, kami menyewa tikar bawah sebuah pohon yang rindang. Sambil memperhatikan banana boat yang beberapa kali lewat membawa pengunjung. Yang berteriak kesenangan saat sang driver berhasil menjatuhkan para penumpang. Asik bener mereka.


Kami sebenarnya pengen mandi. Tapi apalah daya tak bawa baju ganti. Lagian siapa juga yang berpikir touring kami bakal sampai ke Samosir.

pantai parbaba
Gunung Pusuk Buhit dilihat dari Pantai Parbaba - Samosir


Pemandangan lain yang tersuguh untuk kami kala itu adalah aktifitas syuting video klip yang dibuat tepat di area pantai di depan kami. Lokasi kami menyewa tikar memang cukup ke ujung dan jauh dari bibir pantai. Jadi di depan kami itu ada area pantai berpasirnya cukup luas. Nah disitulah aktifitas syuting dibuat. Jadi kami seakan mendapat tontonan gratis. Sayang hape saya rusak jadi tak bisa saya abadikan momen itu.


Sepertinya mereka tengah membuat video klip lagu batak. Hal itu saya ketahui dari musik yang mengalun saat pembuatan video klip. Juga dari bahasa saat mereka berkomunikasi satu sama lain. kru nya tak banyak. tak sampai 10 orang termasuk penyanyi yang berjumlah 4 orang.


Matahari mulai tinggi. Setelah tadi kedinginan di Simarjarunjung, udara panas Samosir pun menghampiri. Untungnya kami di bawah pepohonan. Ditambah angin yang semilir. Jadi tak begitu terimbas hawa panasnya. Tapi sinarnya yang begitu mentereng menyinari danau di hadapan kami sudah cukup membuat kami malas untuk berjalan-jalan sepanjang pantai. Cukuplah melihat penyanyi muda di hadapan kami itu menari-nari di depan kamera :D


Akhirnya yang dinanti-nanti datang. Fredi datang dengan membawa nasi bungkus buat kami *Ini senengnya karena Fredi datang atau karena nasi bungkus sih*. Tanpa menunggu lama, kami pun segera menyantap nasi yang dibawakan untuk kami.


Usai makan, kantuk pun menyerang. Hoaaam,, semilir angin sukses membuat kami terbuai dan akhirnya terlelap beberapa saat. Beugh… jauh-jauh ke Samosir malah tidur ya. Abisnya anginnya menggoda banget sih buat tiduran. Lagian kapan lagi coba tidur di bawai pohon di pinggir pantai dengan dibuai angin sepoi-sepoi. Sekalian ngelemesin otot. Secara harus balik ke Medan lagi.


Beberapa saat tertidur, begitu bangun tau-tau sudah ada es kelapa muda. Entah siapa yang memesan, Fredi, Ibenk, atau Arif. Saya nggak tau karena memang tertidur *dan baru tau malam ini ketika nulis ini, ternyata yang pesan si Ibenk*. Tapi ini sungguh menyenangkan banget gaes. Setelah makan siang, tidur di pinggir pantai dan dibuai angin, eh pas bangun sudah ada es kelapa muda di hadapan, tinggal seruput ahhh… segar!!


Saking semangatnya nyeruput es kelapa muda, saya sampai kelempokkan *kebanyakan minum* ampe musti bolak balik kamar mandi hihihii,, kemaruk sih sayanya.


Setelah matahari agak condong ke barat, saya dan Dian berjalan-jalan sejenak ke pinggiran pantai, sementara ketiga cowok asik bercerita di bawah pohon.

Baca juga : Camping di Gajah Bobok Bareng Sheilagank Sumut

Pantai Pasir Putih Parbaba ini cocok untuk wisata keluarga maupun bareng teman-teman. Pilihan wahananya lumayan banyak. Terus pemandangan perbukitan di seberang sono juga lumayan bikin mata seger. Tapi buat yang muslim idealnya bawa bontot dari rumah sih. Karena memang selain mayoritas non muslim, warung makan juga jarang. Di sepanjang pantai yang terlihat sih penjual makanan kemasan dan kelapa muda.


pasir putih parbaba samosir
Foto bareng buat kenang-kenangan


Kalau ganti baju setelah mandi atau mau buang air. Ada toilet yang sudah disediakan, tentunya bayar ya. Palingan yang lumayang mengganggu buat saya ya anjing yang berkeliaran. Secara betis saya suka nyut-nyutan berasa mau digigit kalau ada anjing. Ya walaupun si empunya selalu bilang gapapa dan tuh anjing juga diem-diem aja nggak nggonggong, tetep aja saya ngerasa nggak nyaman.


Sebenarnya males banget balik ke Medan. Masih pengen leyeh-leyeh di bawah pohon sambil menikmati buaian angin dan pemandangan Danau Toba. Beberapa kali saya mencoba mengompori Dian supaya besok bolos kerja supaya bisa bermalam di Samosir *wahahahhaaa… mentang-mentang waktu saya bebas, pake acara ngomporin segala* tapi tuh anak keukeuh mau pulang walaupun ngakunya males kalau ingat jauhnya jarak yang musti ditempuh.

pantai pasir putih parbaba
Saya dan Dian siap-siap mau pulang. Itu yang di depan kami itu yang lagi syuting video klip :D


Dengan berat hati kami akhirnya memutuskan kembali ke Pelabuhan Simanindo untuk menyeberang kembali ke Tigaras. Dari Tigaras kami mengambil rute pulang lewat Pematangsiantar, tidak lewat Kabanjahe seperti saat berangkat. Sebenarnya sama saja sih jaraknya. Ini supaya pemandangannya berbeda aja dari rute berangkat.

pelabuhan simanindo samosir
Sebelum pulang, gaya dulu di pelabuhan Simanindo- Samosir



Perjalanan pulang tak kalah beratnya dibanding saat berangkat. Arif dan Dian bahkan memutuskan berhenti sejenak saking ngantuknya. Tapi Alhamdulillah kami sampai di rumah masing-masing dengan selamat.


Touring bareng Sheilagank Sumut : Tertidur di Pantai Pasir Putih Parbaba ini cukup menguras tenaga karena lumayan ekspress dari segi waktu. Tapi cukuplah jadi pengalaman dan kenang-kenangan yang layak untuk dikenang.


Kalian pernah touring ke Pantai Pasir Putih Parbaba? Gimana ceritanya?

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »