FILM RUDY HABIBIE (HABIBIE AINUN 2) : THE POWER OF CHILDHOOD

15.37
habibie ainun 2
Film Rudy Habibie
Film Rudy Habibie (Habibie Ainun 2) : The Power of Childhood – Beberapa hari yang lalu saya baru saja nonton film Rudy Habibie (Habibie Ainun 2) di Palladium Mall bareng seorang kawan. Sebenarnya sejak puasa kemarin bingung sih milih nonton Rudy Habibie atau Sabtu Bersama Bapak *atau nonton keduanya*. Soalnya pengen juga nonton Sabtu Bersama Bapak.

Tapi akhirnya saya milih nonton Rudy Habibie. Alasannya sih karena saya takut baper terus mewek-mewek keinget almarhum ayah saya kalau nonton Sabtu Bersama Bapak. Daripada malu entar ketahuan nangis, jadi cari aman aja deh.

Mengenai film Rudy Habibie, saya pengen nonton karena aslinya memang penasaran dengan sosok dan kisah hidup Pak Habibie. Bukan karena film Habibie Ainun loh ya. Soalnya jauh sebelum itu saya sudah sering mendengar nama Pak Habibie disebut-sebut.

Ketertarikan saya pada sosok Pak Habibie bukan diawali saat beliau menjabat sebagai presiden Indonesia menggantikan Pak Harto. Karena masa itu saya masih kecil dan belum ngerti politik. Kala itu figur Pak Habibie yang saya tau ya hanya sebagai presiden negeri ini. Itu saja.

Nah pas SMK, guru pelajaran ekonomi di sekolah saya sering banget nyebut-nyebut nama Pak Habibie. Kalau kami sudah mulai terlihat nggak nangkep apa yang ia terangkan, mulai deh si bapak guru cerita. Katanya, kalau seandainya negara ini kalah perang, lalu kami sekelas bersama Pak Habibie harus diselamatkan tapi harus memilih akan menyelamatkan kami sekelas atau Pak Habibie seorang, maka yang dipilih pasti Pak Habibie. Itu karena Pak Habibie sangat pintar. Dan jika otak kami sekelas digabungkan, tetap nggak akan bisa menandingi kepintaran Pak Habibie.

Saya dulu suka dongkol saat guru saya itu mulai mengulang cerita tersebut. Emang sih ya, kecerdasan Pak Habibie udah terbukti. Kata-katanya nih ya, Pak Habibie adalah satu-satunya manusia di dunia yang masih hidup dan memiliki IQ 200. Saya dongkolnya bukan sama Pak Habibie melainkan sama guru saya. Soalnya gaya dia bercerita itu sinis dan terkesan sangat merendahkan kami. Lagian siapa juga yang suka dibanding-bandingin gitu. Niatnya mungkin baik untuk memotivasi, tapi caranya kurang tepat menurut saya.

indonesian movie
Milih nonton Rudy Habibie karena sejak SMK nama Habibie sering disebut-sebut oleh guru saya.

Oke, balik ke film Rudy Habibie. Saat nonton trailernya, saya sempat bertanya-tanya, kok pemeran wanitanya diganti. Bukan BCL lagi. Terus itu si Chelsea Islan kok gaya ngomongnya di film itu sok kebarat-baratan gitu. Perasaan Bu Ainun orang Indonesia deh. Yokko, teman saya juga ikutan nyeletuk : ah enakan si Bunga yang bawain. Kami berdua sama-sana songong ya, belum nonton filmnya udah sok mengambil kesimpulan.

Film diawali dengan adegan Rudy kecil tengah bermain di kampung halamannya di Pare-Pare, Sulawesi. Saat itu masih bergejolak perang. Jadi ya adegan khas perang jaman dulu gitu : bom, warga sipil yang berlarian menyelamatkan diri sambil mencari-cari keluarganya. Rudy kecil bersama adik dan teman-temannya bermain di sebuah bukit. Saat pesawat pengebom datang, Rudy hampir jatuh dari bukit berbatu itu kalau saja tidak ada adiknya yang menolongnya.

Dari kecil sudah terlihat bahwa Rudy Habibie adalah sosok yang keras kepala dan teguh pendirian. Ini tergambarkan lewat adegan saat semua orang hendak mengungsi karena desa mereka diserang penjajah, namun Rudy malah berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil buku dan mainan pesawat terbang miliknya.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang kehidupan seorang Rudy Habibie saat menuntut ilmu di Aachen, Jerman. Bagaimana kegigihannya bertahan meski halangan dan rintangan datang dari berbagai arah: teman-teman yang tak sejalan, ekonomi keluarga yang pas-pasan, dan kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang berdampak pada kebebasannya berkreatifitas, juga percintaannya. Disini deh baru ketahuan kalau Chelsea Islan ternyata bukan memerankan Bu Ainun, melainkan Ilona, cerita cinta lain dari seorang Habibie sebelum menemukan cinta sejatinya bersama Ainun.

Ilona yang pintar dan fasih berbahasa Indonesia membuat jalinan cinta antara dirinya dan Habibie berjalan manis semanis madu. Ilona adalah wanita yang setia menemani hari-hari Habibie di Aachen. Juga orang yang paling paham seberapa besar impian dan rasa cinta Habibie muda terhadap Indonesia. Meski karena kedekatan keduanya, ada Ayu (mahasiswi Indonesia yang berasal dari Solo) yang tersakiti. Hulalaa.. ternyata selama ini Ayu menaruh hati pada Habibie yang menurutnya cerdas dan menyenangkan. Orang cerdas memang selalu terlihat menarik yang mbak Ayu :D

Menuntut ilmu ke Jerman tidak dengan beasiswa dari pemerintah malah membuat Habibie jadi bahan bully-an mahasiswa Indonesia lainnya di Jerman. Kebalik ya. Biasanya yang dapat beasiswa yang disepelehin karena dianggap nggak mampu. Lah ini malah yang biaya sendiri yang di-bully.

Yang bikin miris yang mem-bully justru sesama mahasiswa dari tanah air. Pemuda-pemuda yang dapat beasiswa pendidikan karena dianggap telah berjasa dalam usaha mempertahanankan negara. Aktivis gitu lah bahasa kerennya. Tipikal Habibie yang serius dalam belajar bertolak belakang dengan mahasiswa berpaspor biru (penerima beasiswa) yang cenderung menjadikan sekolah di luar negeri untuk ajang jalan-jalan dan senang-senang. Ya walaupun nggak semua seperti itu. Ada beberapa mahasiswa berpaspor biru yang sejalan dengan Habibie.

Dari film ini saya tiba-tiba jadi maklum kenapa negara kita masih seperti ini meski sudah 70 tahun merdeka. Lha wong di awal-awal masa kemerdekaan saja masing-masing sudah bergerak dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok.

Apa yang membuat Habibie bertahan di Aachen meski harus sering menahan lapar, dan rindu pada keluarga di tanah air? Juga perasaan marah pada orang-orang tertentu. Jawabannya adalah kenangan semasa kecil bersama orang tua, khususnya ayah. Film ini memang berisi cuplikan-cuplikan adegan masa kecil Rudy Habibie. Tiap kali merasa down, dengan berlinang air mata, Rudy Habibie selalu mengingat kebersamaannya dengan almarhum papinya. Bagaimana papinya meninggal saat tengah bersujud dalam sholatnya, menjadikan Habibie sosok yang tak lupa agamanya meski berada di negara dimana islam adalah agama minoritas. Papi maminya yang berbeda suku dan diasingkan dari keluarga membuat Habibie tumbuh menjadi pribadi yang menghargai perbedaan. Ia bahkan sholat di gereja karena yakin Tuhan tahu ketulusan hatinya. Dan yang paling terpatri di hati adalah nasihat papinya agar ia menjadi mata air. Mata air yang jernih dan mengalir yang menghidupi sekelilingnya.

Baca Juga : Kebahagiaan Keluarga, Penentu Karakter dan Tumbuh Kembang Anak

The power of childhood, inilah menurut saya yang menguatkan Habibie. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa film ini adalah film tentang kisah cinta lain seorang Rudie Habibie. Benar sih. Tapi yang tak kalah menarik untuk dibincangkan menurut saya adalah tentang the Power of Childhood-nya Habibie ini. Masa kecil yang menyenangkan dan menginspirasi hingga besar. Kenangan semasa kecil memang sangat berarti bagi tiap orang. Juga berpengaruh dalam perkembangan mental seserang. Masa kecil selain menjadi kenangan yang akan tersimpan di memori jangka panjang tiap orang, juga memberi dampak pada pembentukan sifat seseorang ketika ia dewasa kelak. Pengalaman masa kecil Habibie bersama papinya menginspirasi Habibie untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Kenangan masa kecil itu pula yang menguatkannya kala down dalam usaha mewujudkan cita-cita.

Baca Juga : Waktu Bersama Ayah

Habibie begitu mencintai Indonesia. Jujur saja, saya teringat pada diri saya sendiri ketika menonton film ini. Tentang teman-teman saya yang menutuskan ke Jerman *saya ambil studi Bahasa Jerman saat kuliah dulu* kemudian menikah dengan orang Jerman dan memilih tinggal dan bahkan menjadi warga negara Jerman. Saya dulu suka sinis dengan hal tersebut. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin jika saya memilih merantau ke Jerman, lalu merasakan betapa enaknya hidup disana, kebijakan-kebijakan negara untuk warganya, mungkin saya juga akan seperti teman-teman saya yang memilih tak kembali ke Indonesia.

Makanya saya acungin jempol untuk Pak Habibie, saat gambar rancangan-rancangannya disita pemerintah Jerman karena Indonesia bukan anggota NATO sehingga karyanya dianggap mengancam, juga saat Ilona, wanita yang dicintainya memintanya memilih antara dirinya atau Indonesia, ia tetap memilih Indonesia. Rasa kebangsaan yang dimiliki Pak Habibie memang tinggi dan bikin saya terkagum-kagum.

Hal lain yang saya ketahui tentang sosok Pak Habibie lewat film Rudy Habibie ini adalah cara berpikir beliau yang selalu melihat sesuatu melalui fakta di lapangan, kemudian mencari apa masalah dari fakta tersebut, dan jika sudah didapat masalahnya, baru lah mencari solusinya. Faktanya, masalahnya, solusinya. Kalimat ini pula yang menjadi kalimat dalam percakapan saat Ilona dan Habibie berpisah.

Ilona : “Faktanya kamu cinta Indonesia, masalahnya kamu cinta Indonesia…”

Habibie : “Solusinya saya cinta Indonesia.”

Duuh pak, saya harus belajar lebih banyak lagi tentang nasionalisme dari bapak :)

Meski film ini bercerita tentang perjuangan anak bangsa yang ingin menjadi mata air bagi negaranya, bukan berarti film ini kaku dan terlalu serius. Banyak lucu-lucunya juga kok yang sukses mengundang tawa. Terutama dengan adanya Boris Bokir yang berperan sebagai Poltak, mahasiswa asal Medan yang ceplas ceplos dengan logat yang khas.

Habibie sendiri ternyata selain serius dan pintar, ia juga gokil. Kegokilannya yang sukses membuat saya ngakak adalah tiap kali ia ditanya orang kenapa bahasa Jermannya sangat fasih. Saking seringnya mendapat pertanyaan seperti itu, ia jadi menjawab asal dan iseng. Tiap ditanya seperti itu ia selalu menjawab dengan mimik serius bahwa orang tuanya adalah kanibal dan pernah makan orang Jerman, makanya ketika dirinya lahir ia jadi pandai bahasa Jerman hahhaha… Tapi ada suatu ketika karena keisengannya itu ia jadi malah mendapat julukan kanibal dari orang-orang sekelilingnya.

Nonton film Rudi Habibie bikin saya makin kagum sama Pak Habibie. Juga menumbuhkan semangat kebangsaan, sekaligus harapan, semoga ada Habibie-Habibie lain yang lahir dan tumbuh menjadi mata air di negeri ini.

Itulah sekilas cerita saya tentang film Rudy Habibie, buruan tonton gih di bioskop, masih tayang kok. Kalau masalah acting, udah tau lah ya gimana acting Reza Rahadian. Juga pemain pendukung lainnya seperti Ernest, Pandji, Chelsea Islan, dan beberapa nama lainnya.

Oya, bocoran nih. Bakal ada film tentang Habibie Ainun 3. Kira-kira berkisah tentang apa ya?! Ada yang mau nebak?

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
18 Juli 2016 11.54 delete

Udah nonton film ini sama sumi, baguuss hehe
Saya ngefans sama Prof Habibi, alamdulillah udah pernah cium tangan beliau :D
ahahaha gurunya ada2 aja, masa otak sekelas digabungin gk bisa nyamain Pak Habibie? hihihi insyaallah semua org pastinya pny kelebihan dan kekurangan masing2 kali ya mbak :D

Reply
avatar
18 Juli 2016 18.52 delete

aku belum pernah ketemu beliau mbak, moga-moga nanti bisa ketemu ya. doain ya mbak :D

nah itu dia mbak, aku dongkolnya kemarin sama guruku ya gitu mbak, suka-suka dia aja ngebandingin. ngerendahin kalau menurut saya :D padahal tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing :D

Reply
avatar