DI PASAR TRADISIONAL KUTEMUKAN PENAWAR RINDUKU

17.17
pasar tradisional
Interaksi di pasar tradisional
Di Pasar Tradisional Kutemukan Penawar Rinduku : Menjadi anak kos dari tahun 2003 hingga saat ini itu bukanlah waktu yang sebentar. Dan selama itu pulalah tiap saya pulang kampung si emak selalu sibuk masak ini itu. Tiap ada tukang ikan lewat di depan rumah pasti saya ditanyain, mau makan apa kira-kira, biar ikannya dibeli. Ia juga selalu bertanya “Nyayur apa kita kak?”. Iya, saya kalau pulang kampung berasa jadi ratu dalam hal makanan. Si emak selalu berusaha masak yang menurutnya enak dan saya akan suka. Seringnya sih yang berhubungan dengan ikan, ayam, daging dan sejenisnya itu lah.

Mungkin karena beliau tau saya ngekos dan makannya asal-asalan. Apalagi dulu waktu masih kuliah kan saya kurus. Jadi si emak mungkin ngira saya kurang makan di perantauan ehhehee.. sekarang mah udah ndut karena pekerjaan saya kemarin memang nggak jauh dari undangan makan enak :D

Tapi walaupun sudah ndut, tetap saja emak sibuk ‘masak enak’ kalau saya pulang kampung. Padahal, saya selalu bilang kalau tak perlu repot-repot. Cukup ngerebus daun ubi yang tumbuh di belakang rumah saja. Atau juga ngerebus terong yang ditanam emak, goreng ikan asin, buat sambal yang pedas. Itu sudah maknyus buat saya. Yaaa… saya memang penyuka sayuran dan seafood. Sayangnya di kota susah nyari warung yang jual rebusan, kalau seafood mah banyak.

Yang banyak bertabur di Medan itu ya rumah makan Padang. Sayurnya itu-itu saja. Daun ubinya keras, beda sekali dengan daun ubi di kampung yang lembut dan enak. Begitupun sayur nangka atau kolnya.
pasar tradisional
Daun ubi, terong, dan gambas tanaman emak
Kalau tak Rumah Makan Padang, palingan ya ayam penyet, bakso, mie ayam dan makanan yang jauh dari sayur yang banyak dijumpai di Medan. Kalaupun ada capcay, tetap saja susah cari yang sesuai lidah saya. Alhasil, selama ngekos yang sering saya rindukan adalah masakan rumahan, khususnya rebusan. Eh iya, di kampung kami rebusan biasa disebut sayur bening. Nggak tau deh di daerah kalian disebut apa.
pasar tradisional
rebusan Bayam dan Keropok Lekor ala saya :)
Karena sering kangen rebusan inilah saya jadinya masih sering belanja sayuran meskipun di rumah kontrakkan yang sekarang nggak boleh pakai kompor gas. Loh gimana cara masaknya? Santai, menjadi anak kos harus kreatif. Kan ada rice cooker ehehhee.. tinggal masukin air ke panci, colok ke listrik, masukin sayuran dan bumbu sederhana *garam, irisan bawang merah, bawang putih dan cabai* tunggu sampai tingkat kematangan yang diinginkan. Sayur bening siap dinikmati. Buat anak kos, rice cooker memang punya banyak manfaat gaes. Gak percaya, silahkan baca postingan saya tentang : MEMANFAATKAN RICE COOKER SECARA MAKSIMAL ALA ANAK KOS
memanfaatkan rice cooker ala anak kos
Rice cooker saya yang serba bisa :)
Biasanya saya belanja sayur di pajak *pasar tradisional maksudnya gaes. Di Medan pasar itu disebut pajak :D*. Paling sering belanja sayur di pajak di belakang Pajak Aksara. Letaknya tepat di gang kecil di belakang Ramayana Plaza - Aksara, Medan. Jadi Gaes, di bangunan Ramayana Plaza - Aksara itu ada pasar tradisional selain pasar modern. Di bawah menjual barang-barang dapur dan sayuran. Di atasnya menjual pakaian, sepatu dan emas. Nah, di belakang bangunan ini ada pasar lagi, di sisi kanan kiri gang di belakang area Ramayana Plaza dan Pasar Tradisional Aksara. Di pasar itulah saya biasa belanja.
pasar tradisional
Pasar tradisional, penuh kesederhanaan dan apa adanya
Masalah lengkapnya sih bisa dikatakan lebih lengkap di Pasar Tradisional Aksara. Penjualnya juga lebih banyak. letaknya di dalam bangunan, artinya kalau hujan atau panas terik kita tak perlu khawatir karena  sudah pasti terlindungi.

Tapi saya lebih senang beli di pasar kecil di gang sempit itu. Alasannya sih karena lebih murah ehehhee… iya loh, meski sama-sama pasar tradisional, namun yang di gang kecil itu lebih murah. Mungkin karena uang sewanya lebih murah juga kali ya.
pasar tradisional
Hasil belanjaan saya di pasar tradisional gang kecil di belakang Ramayana Plaza - Aksara, Medan
Sisi praktis adalah alasan lain kenapa saya memilih belanja di pasar ini. Disini, saya hanya tinggal mengendarai sepeda motor saya, masuk ke gang, berhenti, dan membeli. Karena memang ini sebenarnya adalah gang memanjang menuju perumahan warga, jadi tak heran jika ada yang lewat menggunakan sepeda motor melewati gang ini. Kalau di Pasar Tradisional Aksara, saya harus memarkir sepeda motor saya dulu, baru masuk ke area dalam pasar. Huuh.. parkir dengan tempat parkir penuh kendaraan ini saja sudah membuat saya males. Belum lagi bayar parkirnya lagi *ahaiii… uang parkir sebesar 2 ribu rupiah itu buat anak kos lumayan berarti gaes*

Yang menyenangkan adalah karena di pasar gang sempit ini saya bisa membeli dengan jumlah sedikit. Beli cabai seribu rupiah. Terong hijau seribu, tomat 2 buah ukuran kecil kadang hanya lima ratus rupiah. Bawang merah setengah ons dll. Pokoknya saya bisa membeli semurah mungkin disini. Dan mereka tidak akan marah. Disini saya bisa bilang :

“Yang ini beli seribu aja boleh?!” sambil cengar cengir tanpa harus takut dipelototi penjualnya.

Lalu si kakak penjual akan tersenyum dan menjawab : “boleh,” yihaaa.. betapa senangnya saya.

Belum lagi kalau harganya dikurangi dan timbangannya dilebihkan, wah.. saya akan sangat senang dan merasa jadi orang beruntung :D
pasar tradisional
Salah satu asiknya belanja di pasar tradisional adalah bisa mencicipi rasa :)
Saat ini, munculnya pasar modern yang  jelas-jelas lebih sejuk dan lokasinya bersih, tentu banyak orang yang berpaling dari pasar tradisional. Tapi saya pribadi lebih suka belanja di pasar tradisional loh. Yaah walaupun memang lokasinya lebih crowded, terkesan kurang bersih dan kadang tercium aroma tak sedap entah dari selokan atau sayuran busuk.

Ada satu hal mendasar yang menjadi alasan saya. Hal yang tak saya dapati di pasar modern semacam mall atau supermarket. Interaksi. Iya interaksi. Saya menemukan keakraban yang hangat di pasar tradisional. Interaksi dengan penjual dengan beragam usia dan jenis kelamin. Percakapan yang mengalir dan kadang melebar kemana-mana dengan candaan yang sering membuat kita sama-sama tertawa.

Yaaa.. walaupun tak dapat dipungkiri ada juga kok penjual yang sifatnya tak ramah. Tapi untungnya sejauh ini saya selalu menemukan penjual yang menyenangkan di pasar gang sempit ini. Apalagi jika penjualnya usianya di atas saya. Panggilan dik dan nak seakan mengingatkan saya akan kakak ipar, ibunda di rumah ataupun nenek yang telah berpulang. Seketika hati jadi diselimuti rindu dan do’a-do’a baik pun terucap di hati saya, untuk mereka dan si penjual.

Mungkin saya memang orang yang sentimentil.  Melihat nenek tua berjualan sambil tetap tersenyum ramah. Atau kakak-kakak yang kadang saya rasa usianya pasti lebih muda dari raut wajahnya. Juga ibu-ibu muda yang berjualan sambil mengipasi anaknya yang tertidur lelap. Saya jadi terharu dan buru-buru bersyukur. Jadi belajar kuat dari ketegaran yang mereka tunjukkan.

Belum lagi wajah penuh syukur yang terlihat di wajah mereka kala saya selesai berbelanja, sungguh itu membuat saya ikut bahagia.

Pasar tradisional adalah tempat saya menemukan penawar rindu terhadap sayur rebusan buatan emak. Tempat saya menemukan kehangatan berinteraksi dan belajar makna ketegaran dari para penjual. Itu kenapa saya masih lebih suka belanja di pasar tradisional dibanding pasar modern.

Kalian pernah belanja di pasar tradisional? Gimana kesannya?

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

50 komentar

Write komentar
Marfa Umi
AUTHOR
25 Januari 2016 17.50 delete

Hahaha iya mbak kalo pulang dari kos makanannya banyak, padahal di sana juga makannya ya enak, nggak kekurangan banget. Ini saya baru dua minggu dirumah udah makan bakso, mie ayam, soto, ayam goreng dan tongkol :D

Iya, suka juga sama interaksinya, belanja di pasar ada kesenangannya sendiri :D

@umimarfa

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 18.19 delete

mungkin karena kita jarang di rumah kali ya mbak, makanya pas pulang mereka jadi suka banget masakin ini itu. alhasil saya kalau pulang kampung kerjanya ngemil terus :D

beda feel nya kalau belanja di supermarket kan ya mbak :)

Reply
avatar
25 Januari 2016 18.27 delete

Kalau pasar tradisionalnya bersih aku betah belanja lama-lama. Tapi kebanyakan sih becek plus kurang sedep aromanya ya.. hahaha. Ini mau belanja apa mau ngendus-ngendus sih :p

Reply
avatar
25 Januari 2016 18.28 delete

Kalau pasar tradisionalnya bersih aku betah belanja lama-lama. Tapi kebanyakan sih becek plus kurang sedep aromanya ya.. hahaha. Ini mau belanja apa mau ngendus-ngendus sih :p

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 18.33 delete

emang seringnya aroma ini yang bikin nggak nyaman ya kan kak. diah berhubung seringnya belanja cuma dikit jadi nggak pake lama :)

Reply
avatar
25 Januari 2016 19.03 delete

Di pasar tradisional pula kita enak menawar, bisa beli sedikit, senangnya sering dapet tambahan (penjualnya baik) yg gak bakal didpt di supermarket.

Wuidiiihh itu sayurannya lengkap banget, ada gambas, daun ubi, ... mantaaab maaak plus sambel dan ikan asin ... masya Allah kebayang nikmatnyaaa dg nasi hangat.

Terimakasih serasa ikut belanja di pasar tradisional :)

Reply
avatar
Dini Febia
AUTHOR
25 Januari 2016 21.42 delete

Aduh, warung rebusan, ya? Emm... Itu memang susah sih. Iya, sayur bening itu yang kuahnya bening karena tidak tercampur dengan warna dan santan, hehe.
Benar sekali. Rice cooker menjadi penolong, terutama bagi yang ngekos.
Wah, lucu juga ya, pasar tradisional disebut pajak. Itu inspirasi dari mana ya, kira-kira? :D
Haha.. Iya, kalau di pasar moderen kan ambil sendiri. Ya jadiii jadiii jadiii, mana ada interaksi. hehehe. :)

Reply
avatar
25 Januari 2016 21.48 delete

Pernah, rasanya tu ada di blog saya di http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com
@guru5seni8

Reply
avatar
damarojat
AUTHOR
25 Januari 2016 22.01 delete

aih pajak...? baru tahu deh mbak. itu wortelnya masya Alloh deh sueger banget kayaknya.

ih sama. saya juga suka nanya dulu ke penjualnya, "seribu boleh nggak?" atau yang buntelan, "boleh beli satuan nggak?"

@diahdwiarti

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 22.42 delete

oya, wah nanti meluncur ke blognya si mbak ah, pengen tau gimana pengalamannya :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 22.44 delete

kalau di supermarket nggak bisa nawar ya kan mbak ehehhee...

rebusan memang ueenak banget dimakan pakai nasi anget, sambel dan ikan asin, jooosss...

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 22.47 delete

disebut sayur bening karena kuahnya ya seperti air bening biasa :)
buat anak kos rice cooker adalah barang ajaib mbak ehehhehe.

kalau di pasar modern interkasi palingan kalau mau nanya letak salah satu sayuran, atau harganya tidak tertera dll, intetaksinya nggak seru ehehhehee

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 22.48 delete

eh masalah nama pajak, saya juga kurang tau darimana awalnya pasar disebut pajak disini :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
25 Januari 2016 22.50 delete

iya bener mbak, pajak :D

itu wortel memang seger dan manis mbak. biasa saya kunyah gitu aja seperti ngemil buah. nggak direbus. karena rasanya memang manis, aromanya tidak begitu langu, dan renyah. beda dari wortel yang besar-besar.


ternyata sesama Diah kebiasaan belanja sama ya :D

Reply
avatar
Rahmat Menong
AUTHOR
25 Januari 2016 23.59 delete

Soalnya berbelanja di pasar tradisional terasa banget kekeluargaannya antara kita yg pembeli dengan mereka yg berjualan.

Reply
avatar
adib riza
AUTHOR
26 Januari 2016 07.19 delete

Tosss. . Punya hobi yang sama. Belanja sayur + masak

@adibriza

Reply
avatar
Medan Wisata
AUTHOR
26 Januari 2016 11.18 delete

Tawar menawarnya yang seru,, kadang harus agak panjang prosesnya,, sampe ada tawar lari, kalau mau beli baju di pajak,, hahahah...
Semoga pajak di medan bisa lebih bersih dan teratur deh,, :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
26 Januari 2016 12.17 delete

itu salah satu yang bikin pasar tradisional tetap diminati ya kan mas :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
26 Januari 2016 12.22 delete

yess.. kapan kita belanja n masak bareng mas?! #eh hahhahhaa... si masnya jauuuuuhh.. :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
26 Januari 2016 12.23 delete

aamiin...

gimanat tuh tawar lari min?! aku kok malah nggak tau :D

Reply
avatar
26 Januari 2016 15.39 delete

judulnya, asyik dan begitu juga dengan tulisanya yang dapat memberikan manfaat bagaimana mencntai daerah sendiri dan selalu menjunjung tinggi nilai budaya seperti pasar tradisonal ini

Reply
avatar
Hisyam Icham
AUTHOR
26 Januari 2016 22.08 delete

Jarang banget sih ke pasar tradisional. Kalau mau beli sayur biasa jegat tukang sayur keliling hehe..

Reply
avatar
27 Januari 2016 01.44 delete

kesannya suka karena banyak pilihan jajanan. tapi agak kurang betah karena becek kalau di sini, apalagi kalau ujan hohoho

@gemaulani

Reply
avatar
27 Januari 2016 10.18 delete

Saya pun juga suka menawar baju anak di pasar
Kalau nggak gitu, ga bisa deh dapat banyak, hehehe

@amma_chemist

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 13.32 delete

judulnya seperti judul cerpen ya mas hehhee...

ya sebagai generasi bangsa kita kan memang harus menjunjung tinggi nilai budaya bangsa kita mas :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 13.35 delete

di area rumah kontrakanku nggak ada tukang sayur keliling mas. makanya ke pasar :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 13.37 delete

aku biasanya nggak lama-lama mbak kalau ke pasar. udah gitu juga nggak ke bagian ikan/daging. biasa di bagian itu yang baunya menyengat banget :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 13.38 delete

harus pinter-pinter nawar memang kalau di pasara ya mak :D

Reply
avatar
27 Januari 2016 13.43 delete

hampir semua peserta LBI menegaskan kelebihan interaksi dalam pasar tradisional yaa, kan kalo modern juga interaksi, pas mau bayar aja kahha

Reply
avatar
27 Januari 2016 15.05 delete

Senangya belanja di pasar tradisional itu ga bikin kantong kempes banget :D

Reply
avatar
27 Januari 2016 18.25 delete

Seneng Sih belanja di pasar tradisional, tapi males banget kalau becek dan semrawut, saya lebih suka belanja di pajak modern, hehehe..

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 18.31 delete

artinya berarti mereka yang memilih belanja di pasar tradisional adalah orang-orang yang suka berinteraksi sosial :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 18.32 delete

kalau belinya buanyaaak ya kempes juga mbak hehhehee.. tapi jika dibanding pasar modern memang lebih murah :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
27 Januari 2016 18.33 delete

iya kak rin, tiap orang punya alasan masing-masing kenapa memilih belanja di pajak tradisional ataupun modern, dan itu sah-sah saja :)

Reply
avatar
Elisa
AUTHOR
27 Januari 2016 20.46 delete

Pasarnya kayak di tempat saya. Memanfaatkan Gang yang memanjang. Belanjaannya banyak banget btw, Mbak.. Hehehe ^^

Reply
avatar
ria mustika
AUTHOR
27 Januari 2016 21.32 delete

makanan di pasar memang merakyat jadi inget keluarga kalo makannya
tapi aku jg pilah pilih deh.. kalo terlihat kumuh mikir2 dulu hehee
@chikarein

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
28 Januari 2016 09.33 delete

banyak-banyak gitu tetap yang keluar dompet nggak banyak kok mbak hehhehee

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
28 Januari 2016 09.34 delete

tetap harus pilah-pilah ya kan mbak :)

Reply
avatar
Aleks Xapinos
AUTHOR
28 Januari 2016 21.07 delete

interaksi di pasar emang asyik bgt yaa :D
@aleksdejavu

Reply
avatar
29 Januari 2016 00.17 delete

Kalau ke pasar suka senenng aja liat perjuangan hidup orang. Dari yg masih kecil udah ikut 'hidup' di pasar, sampai yg seumur hidup bergantung dari pasar. Kehidupan pasar memang tak pernah mati, selalu bikin rindu. :)

@Wawa_eN

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
29 Januari 2016 14.50 delete

iya mas, asyik dan seru. obrolan bisa melebar kemana-mana :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
29 Januari 2016 14.53 delete

sering rindu ke pasar juga ternyata toh mas :D

Reply
avatar
Farid Nugroho
AUTHOR
29 Januari 2016 19.01 delete

cerita tentang masakan padang, jadi kangen masakan padang yang asli. dulu di palembang menunya itu terus, sekarang malah kangen. hehe

@f_nugroho

Reply
avatar
30 Januari 2016 11.02 delete

Seandainya pajak lebih bersih dan ga terlalu becek pasti orang lebih memilih untuk ke pajak :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
30 Januari 2016 21.07 delete

ahaiii.. iya, di Medan juga kebanyakan masakan padang sayurnya itu-itu terus mas :)

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
30 Januari 2016 21.08 delete

becek gitu aja masih banyak yang memilih ke pajak, apalagi kalau bersihnya :)

Reply
avatar
1 Februari 2016 14.30 delete

iya, rindu sama anaknya yg jual pakaian di pojokan pasar, wkkk

Reply
avatar
Wahab Saputra
AUTHOR
3 Februari 2016 05.50 delete

Walaupun banyak supermarket,
Belanja di Pasar Tradisional lebih asik,,karna ada proses tawar menawar...

Reply
avatar
Wahab Saputra
AUTHOR
3 Februari 2016 05.55 delete

jangan ngebut-ngebut meluncurnya mbak...

Reply
avatar