KEPADA ZA

21.22
perempuan november
Foto by : Perempuan November

KEPADA ZA /I/
Za, akukah yang tak memberimu cela kala itu?
Aku kah yang terlalu mendewakan masa lalu hingga kau demikian ingin mencuri masa depanku?
Tapi untuk apa Za?
Untuk sebuah dendam kah?
Atau ambisi?

Aku kembali menangisi masa lalu, Za
Setelah kotak impian kuperlihatkan padamu
Setelah kupercayakan masa depan dalam genggaman tanganmu
Dan kau malah membawanya lari

Za, tanganku mengenggam kosong, hampa
Aku menggapai-gapai, hendak meraih tanganmu yang biasa menggenggamku
Hanya kosong Za, hampa.
Kamar ke-7, 10 jan’13

KEPADA ZA /II/
Za, aku masih saja bertanya-tanya : makhluk seperti apa kau?
Kenapa kau selalu saja ada di tiap lengahku
Dan tetap ada saat kuterjaga
Lalu pergi saat senyumku mengembang dengan kedua tangan merentang, hendak meraihmu

Za, aku lelah menerka-nerka
Menerka bahwa kau pria penuh tanggung jawab yang pergi untuk memperjuangkan masa depan
Menerka bahwa kau pria romantis yang penuh kejutan : pergi tanpa pesan, lalu kembali dengan sejuta tangkai mawar
Menerka bahwa kau hanya sedang mengujiku
Hanya sedang mengajariku cara bersabar
Hanya sedang menuntunku untuk setia

Aku berhenti, Za
Aku tak mau lagi menerka-nerka
Sebab terlalu menyakitkan jika ternyata terkaanku salah.
Kamar ke-7, 10 Jan’13


KEPADA ZA /III/
Apa yang kau rasa, Za?
Apakah kau rasa aku lebih baik darinya?

Katakan, Za
Katakan apa yang kau rasa hingga tega menorehkan luka di hatinya
Katakan apa yang kau rasa hingga tega melisankan tipu daya padaku

Za, aku tak meminta alasan bernada pembelaan
Aku tak butuh pembenaran
Hanya kebenaran, Za
Kebenaran yang berarti kejujuranmu

Atas apapun, Za
Atas apapun rasaku padamu
Demi apapun rasanya padamu
Seberapapun rasamu untukku
Bagaimanapun rasamu padanya
Kebohongan tetap kebohongan
Dan cinta tidak akan pernah sama dengan kebohongan.
Januari 2013

KEPADA ZA /IV/
Malam ini hujan kembali turun, Za
Aku menunggu di tepian jendela tempatku melihat bintang yang sama denganmu
Biasanya, kau mengajakku ngobrol sambil memandang rintik hujan

Sapamu tak jua bertandang
Aku masih menunggu di tepian jendela
Rintik hujan menampar-nampar wajahku
Za, pipiku basah
Bukan karena butir hujan, tapi karena aku tak mampu membendungnya dari sudut mataku
Za, kau ingat? Dulu kau pernah bilang akan selalu jadi penghapus tangisku
Tapi malam ini kau yang menjadi penyebab tangisku.
Kamar ke-7, 08 Jun’13 

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Happy Fibi
AUTHOR
15 Mei 2015 01.41 delete

Semoga pesannya tersampaikan kepada Za, mbak {} :")
Ini semoga fiksi belaka :" jleb banget soalnya
Salam kenal mbak :D

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
15 Mei 2015 09.36 delete

amin.
semoga kita bisa menghindarkan diri dari membohongi orang lain. karena, apapun alasannya, kebohongan tetap kebohongan, dan tentu akan menyakitkan :)

salam kenal kembali mbak Fibi, semoga selalu happy :)

Reply
avatar