SUATU PAGI DI BALIGE

23.43

“Mau kemana kau?”
“Bali.”
“Wah keren, oleh-olehnya jangan lupa ya.”
“Iya, Balige.”

Balige, saya sering mendengar kota ini disebut orang dalam candaan seperti percakapan di atas. Mungkin maksud candaannya itu, sebelum bisa ke Bali, minimal ke Balige dulu pun tak apalah hehheee…

Meski sering mendengar, namun jujur saya tidak tahu dimana tepatnya letak kota Balige itu. saya tahunya Balige adalah salah satu nama daerah di Sumatera Utara. Dimana pastinya? Saya tidak tahu, dan tidak berusaha mencari tahu :D

Akhir September kemarin, saya ada perjalanan kerja ke Bakkara (Humbang Hasundutan), kami pulang ke Medan dengan rute memutar, melewati Balige, Porsea, Parapat, Pematangsiantar lalu sampailah di Medan. Karena banyak yang dikunjungi di Bakkara, jadwal pulang pun mundur. Kami bergerak dari Bakkara yang berada di pinggiran danau toba itu dalam keadaan hujan deras di malam hari.

Awalnya saya senang saja waktu pak bos bilang kami pulang dengan rute seperti yang saya sebutkan tadi, artinya pemandangan yang kami lihat berubah dari rute saat berangkat (kami berangkat melalui rute Medan-Berastagi-Kabanjahe-Sidikalang-Dolok Sanggul-Bakkara). Lagipula saya memang belum pernah melewati rute ini, jadi sekalian biar tahu. Tapi karena saat itu malam, ya percuma, apa yang mau dilihat wong gelap. Jadilah saya memilih tidur di dalam mobil.

Saya terbangun saat mobil menepi sekitar pukul sepuluh malam. Ternyata pak bos sedang ke ATM. Disitulah saya tahu kalau kami sedang berada di kota Balige. Berhubung lapar, kami pun memutuskan untuk mencari warung makan. Oya, sebelumnya pak bos sudah bilang ke bang Danu –driver-, kalau misalnya dia lelah, jagan dipaksakan, kita cari saja penginapan di Balige dan menginap disini, besok baru melanjutkan perjalanan ke Medan.

Usai makan, kami memutar arah, melewati jalan yang sudah kami lewati. Pak bos dapat informasi ada hotel baru di kota Balige, namanya Mutiara Hotel Balige. Nah ternyata si Robby dan bang Danu sudah melihat plang hotel tersebut sebelumnya, jadilah kami putar arah.

Pukul sebelas kami sampai hotel, pak bos turun untuk check kamar hotel, kami di dalam mobil saja. Tak berapa lama pak bos kembali ke mobil dan bilang kalau kamarnya bagus, jadi kita nginap saja satu malam disini. Heuu.. cocok sekali, jadi besok saya bisa ngintip-ngintip sedikit seperti apa kota Balige ini.

Lagi-lagi saya di kamar sendirian. Robby dengan bang Danu, pak bos tentu saja dengan buk bos hehehee.
Seperti biasa, saat pertama masuk kamar hotel, saya check sana sini dulu. Kamar yang saya inapi ini sepertinya memang diperuntukkan untuk satu orang. Soalnya hanya ada satu bed dan ukurannya menurut saya terlalu kecil untuk dua orang. Dengan perabotan yang terlihat masih baru dan modern, secara keseluruhan, kamar ini memenuhi standart hotel menurut saya. Ada TV berukuran 14”, kamar mandinya juga bagus. Untuk kunci masih menggunakan kunci konvensional, belum menggunakan card. Nah, paginya kan saya ngelongok ke kamarnya Robby n bang Danu, kamarnya lebih gede n luas lagi dari kamar saya yang pas-pasan.

Kamar tempat saya menginap
Paginya, saya terlonjak saat bangun dan mengecek hape. Ternyata pak bos sms, katanya kami diundang bersepeda, kumpul di bawah jam 7. Lha itu udah jam tuju kurang sepuluh. Heloooo…. Langsung deh lempar selimut, ngacir ke kamar mandi, cuci muka (karena katanya bersepeda, pasti kan bakal berkeringat tuh, jadi mandinya ntar aja kalau udah balik ke hotel. Lagian nggak sempat lagi kalau mandi). Nah, yang bikin saya sedikit bengong adalah : tinggal tersisa satu baju bersih. Selebihnya kotor dan lusuh. Itu baju masih bersih juga karena saya bawa baju cadangan sebiji, jaga-jaga manatau jadwal pulangnya molor (dan ternyata benar molor). Kalau itu baju saya pakai, ntar bau dong, kan saya belum mandi, trus ntar kan keringetan.
Karena udah keburu waktu, saya samber aja tuh baju kemarin yang lusuhnya minta ampun (saya uwel-uwel di tas, nggak pake acara dilipat :D ). Semprot cologne sebanyak-banyaknya. Aroma bolehlah disamarkan, cuma lusuhnya ini yang keliatan banget. Ah, whatever lah, who’s care about my fashion ziahahhahaa..

Nyampe di bawah, pak bos udah ngobrol-ngobrol ama seorang pria. Dan.. mereka udah pada kinclong meeen… pasti deh pada mandi dulu tadi. Saya pun langsung dikenalkan dengan pria tersebut. Namanya Sebastian Hutabarat, fotographer sekaligus salah satu owner Mutiara Hotel. Saya berkesimpulan demikian karena tadi malam saya sempat lihat tanda tangan pak Sebastian di sebuah tulisan yang terpajang di ruang receptionist. Jadi sepertinya ini adalah hotel yang dibangun secara patungan antara pak Sebastian dan kakak/abang/adiknya. Di tulisan itu dijelaskan kalau ini hotel dibangun dan didedikasikan untuk ibunda mereka tercinta “Mutiara br Napitupulu” yang sudah susah payah mengurus anaknya sejak kecil yang berjumlah sembilan orang (ayah mereka sudah meninggal. Woaahh… saya jadi teringat impian-impian saya buat ibu saya, semoga Tuhan mengijinkan saya untuk mewujudkannya, amin). Nah, pak Sebastian inilah yang mengundang kami untuk bersepeda.

Usai bincang-bincang setelah sarapan pagi, kami pun bersiap-siap dengan sepeda masing-masing yang sudah disiapkan pak Sebastian. Kami berempat : saya, Robby, pak Bos, dan pak Sebastian sudah mengambil garis start (kayak lomba aja ya hehhhee..). Berhubung buk bos baru operasi, jadi naik mobil bersama istrinya pak Sebastian, mengikuti kami dari belakang.

sebelum dimulai, pemanasan dulu

Kami start dari Mutiara Balige Hotel, ke arah belakang yang merupakan pinggiran danau toba (kemarin cuaca berkabut, kalau tidak pasti keren, dari hotel langsung kelihatan danau toba di depan mata).
Melewati rumah-rumah penduduk dengan aktifitas paginya. Karena terlalu asik memperhatikan kanan kiri, saya jadi selalu tertinggal dari yang lainnya. Kami melewati lapangan Sisingamangaraja, tempat pesta pernikahan Judika dan Duma Riris (penting nggak sih info ini :D ). Pak Sebastian ini termasuk ramah dan cukup dikenal oleh masyarakat yang rumahnya kami lewati. Soalnya beberapa kali ia menyapa dan disapa dengan hangat oleh orang-orang yang kami temui.


bersedia, siap, pas....!!

Mata saya langsung kinclong saat melihat hamparan padi yang menguning, canteeeek…!! Langsung deh pengen futo-futo. Tapi kata pak Sebastian, nanti ada tempat yang lebih bagus untuk photo-photo. Baiklah, tapi tetap saya suruh Robby memencet tombol kamera beberapa kali hehehe..


padi menguning, bebukitan samar terlihat nun jauh disana, ajibbb!!!

Tak jauh dari sawah yang menguning itu, terdapat sebuah simpang tiga, kami ambil jalan ke sebelah kiri, di sanalah akses masuk ke pantai Sibul-bul Nauli yang menjadi tujuan kami bersepeda pagi ini.
Pantai Sibul-bul Nauli adalah sebuah pantai di pinggiran danau toba dengan karakter pasirnya yang berwarnah putih. Duduk-duduk sebentar di pantai ini sambil berbincang-bincang tentang potensi pariwisatanya. Untuk pemandangan, berhubung kemarin kabut, jadi saya tak bisa menceritakan banyak. Tapi yang pasti, jika penduduk setempat ataupun pengelola tempat ini lebih memperhatikan kebersihan, pastilah pantai ini akan mampu menarik wisatawan. Terdapat beberapa tempat duduk semen, jika dibuat lebih etnik lagi pasti lebih menarik. Jadi terlihat identitasnya.


@Pantai Sibul-bul Nauli

Dari pantai Sibul-bul Nauli, kami bergerak ke perkampungan di dekat pantai tersebut. Yang menarik, sebagian rumah-rumah penduduk ini masih berbentuk rumah adat batak Toba. Tak jauh dari perkampungan itu, sawah-sawah dengan pemandangan perbukitan di kejauhan membuat siapa saja yang melihatnya rindu akan kampung halaman (saya salah satunya yang merasakan hal tersebut :D). Wah, cocok nih jika dikembangkan dengan konsep wisata budaya sekaligus wisata sosial.

Dari sini, kami tidak bersepeda lagi. Kami bergabung dengan buk bos dan buk Sebastian, melintasi persawahan dengan menggunakan mobil dan melanjutkan mengelilingi kota Balige.

Pagi yang manis di Balige. Saya suka dengan sawah-sawahnya, bentuk bangunan pajak/pasar nya yang berbentuk rumah adat batak Toba, disain gereja ina (gereja ibu, dikhususkan untuk ibu dan anak). Dalam perjalanan kembali ke Medan, kami menyempatkan untuk singgah sejenak, mengitari Institut Teknologi Del yang bersih dan keren itu.

Masih sekelumit yang saya tahu tentang Balige, lain kesempatan, semoga bisa kembali datang dan mengenal lebih dekat kota ini.

NB : Photos by Perempuan November & Laki-laki Hujan

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »