WAKTU DULU KITA...

00.25

Ingat kembali yang terjadi
Tiap langkah yang kita pilih
Meski terkadang peri
Harapan untuk yang terbaik…
(Hujan Turun by Sheila On 7)

Penggalan lirik lagu Hujan Turun dari Sheila On 7 di atas terasa pas banget dengan yang saya alami sabtu malam kemarin. Ceritanya nih saya bad mood tiba-tiba, tapi bukan karena nggak ada yang ngapelin malam minggu loh. Gara-garanya sih sepeleh ya. Auldra, teman satu kontrakan kami malam itu pindahan karena minggu kemarin barusan nikah. Saya sih dari jauh-jauh hari sudah tahu kalau bakal ada beberapa barang yang selama ini seakan ‘milik bersama’ bakal dibawa oleh Auldra. Tapi saya baru ‘ngeh’ kalau hal itu bakalan munculin kondisi kurang asik buat kami. Saya baru menyadarinya beberapa saat setelah Auldra pergi dan kami (Saya dan Yoeger a.k.a Ayoe Gerot) bengong memandang dapur yang berantakan.

Yoeger (Y) : Ngeliat Auldra pindahan aja rasanya ribet banget, apalagi kalau kita nggak perpanjang kontrakan dan harus pindah juga. Padahal barang-barang kita kan lebih banyak.
Saya (S) : Iya, males kali bayanginnya.
Y : Tapi aku nggak nyangka kalau sepatumu sebanyak itu. Modelnya nggak banget lagi. Kupikir itu punya si Kodra (panggilan akrab Auldra).
S : He’em (Sambil menghela napas panjang, berat, mandangin sandal, sepatu dan kotak sepatu yang berserakan di lantai karena rak sepatunya dibawa ama yang punya. Sama sekali nggak minat ngebales ejekan si Gerot tentang sepatu-sepatu saya).
Y : Geeer.. nggak bisa buat aer panas lagi. Nggak bisa buat susu (gaya ngomong yang menyedihkan)
S : Hah.. iya!!! (Panik, ngeliat ke arah meja, kosong. Hiks… padahal saya yang paling sering buat teh panas atau minum air putih anget).
Y : Nggak bisa masak jugaaaa… (gayanya semakin menyedihkan, seperti anak kecil kehilangan mainan).
S : What!!!.. huaaaa… Aku nggak nyangka kalau tadi itu terakhir kalinya aku bisa nggoreng kerupuk ubi. (Tadi siang saya memang menggoreng kerupuk ubi dan ngedadar telur buat lauk makan).
Y : Nggak bisa nampung aer juga, embernya dibawa. Tinggal satu ember kita.
S : (Speechless bin hopeless).

Saya jadi teringat lirik lagu Sheila On 7 berjudul ‘Percayakan Padaku’ yang berbunyi begini : Kau takkan pernah tau apa yang kau miliki, hingga nanti kau kehilangan. Heloooo… rak sepatu, dispenser, tabung gas, ember, saya nggak nyangka bakal sesakit ini ditinggalkan oleh kalian hiks (ekspresi lebai, tapi beneran kemarin itu rasanya berat banget deh). Ngebayangin nggak bisa manasin air buat teh lagi itu kok rasanya hari depan berasa suram banget ya. Pasalnya saya memang bisa dikatakan tiap hari buat teh, kopi, susu atau sekedar air anget. Malam-malam, kalau lapar tapi malas keluar beli nasi, biasanya saya minum teh panas untuk menghalau lapar, gitu juga kalau pagi hari. Kalau sedikit rajin, biasanya goreng telur. Kalau badan udah berasa mau sakit, saya bantai minum air anget aja banyak-banyak. Tapi sekarang, hiks… serius deh, saya langsung bad mood  liat sepatu dan kotaknya yang berserakan di lantai, meja tempat dispenser yang kosong, dan kompor yang hampa tanpa gasnya.

Karena bad mood, saya ajak Yoeger ke luar buat cari angin, kebetulan juga emang lapar. Kami ngebandrek di warkop depan RSU Pirngadi. Malam itu kepala beneran berat banget rasanya. Awalnya sih karena hal sepele tadi, tapi jadinya merambat kemana-mana. Jadi teringat harga barang-barang yang naik, TDL naik, BBM katanya juga mau naik, tarif kontrakan naik, jumlah pertanyaan kapan nikah meningkat (loh!), jumlah barang-barang yang jadi tema perbincangan dengan Emak (yang secara tidak langsung sebenarnya si Emak pengen dibeliin barang yang diceritakannya tersebut) juga meningkat, sementara gaji nggak naik-naik, pangeran berkuda putihnya juga belum ketemu, pusing kepala adek bang :D

Ehm… jadi ngeluh deh ya kan. Padahal niatnya nggak gituh. Cuma memang malam itu tuh jadi  keinget berbagai masalah yang memang sedang menghampiri. Dan bukan sebatas masalah financial semata. Cuma ya nggak perlu lah saya sebutkan disini apa masalah saya, privacy maaaan, hehe.. gaya eui, biasa juga diumbar-umbar ;)

S : Saket kepalaku Ger. (Ucap saya sambil menyuapkan ke mulut saya sesendok nasi goreng yang saya pesan)
Si Yoeger cuma ngekeh pendek. Sesaat kami diam. Aku tahu, my partner in crime ini juga sedang dalam masa-masa labil jika tidak mau dibilang rapuh. Beberapa saat kemudian ia buka suara.
Y :  Eh Ger, ko inget nggak waktu dulu kita belajar-belajar nge-EO?
Saya mengangguk, tapi belum tau kemana arah pembicaraannya. Saya menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya. Ia tak langsung berucap. Membiarkan sesaat hening dengan memain-mainkan sendok bandreknya.

Y : Sekarang memang keadaan kita cukup berat. Tapi menurutku, apa yang kita hadapi waktu nge-EO itu lebih berat dari sekarang. Ko inget nggak waktu kita ngajak Ulan makan di Istana Hot Plate dan dia nangis disitu karena dia mikir acara kita bakal ancur dan kita harus nanggung sekian juta per orang karena kita nggak dapat sponsor besar. Aku inget banget, waktu tengah malam Fani bilang nggak bisa buat disain back drop acara kita karena dia lagi rumah mbahnya sementara acaranya besok pagi. Disaat yang sama, aku dengar kabar kalau uwakku meninggal. Waktu itu, tengah malam aku buat disain back drop acara kita sambil nangis bercucuran air mata.

Jleb. Untuk beberapa saat saya terdiam, berhenti mengunyah makanan di mulut saya dan menunda menelannya. Saya teringat semua yang disebutkan Yoeger, dan membenarkannya.

S : Iya, aku inget. Waktu itu, di malam yang sama, aku ama Novi tengah malam ke Unimed buat masang spanduk acara kita. Sampe diliatin satpam kampus. Ngapain anak cewek masang spanduk, malam-malam pula. Bodohnya, kami nggak bawa alat apa-apa, nggak bawa kayu buat rangka spanduk, jadinya kami blusukan ke semak-semak di bawah pepohonan kampus yang gelap itu buat nyari ranting yang jatuh untuk dijadikan rangka spanduk, cuma bermodalkan cahaya hape. Seingetku itu jam sebelasan, ntah jam brapa lagi lah si Novi nyampe rumah itu, rumahnya kan jauhnya minta ampun. Pasti dia dimarain ortunya karena pulang malam-malam.

Dan… mengalirlah cerita-cerita berat di masa lalu dengan password : eh Ger, ko inget nggak waktu dulu kita …

Iya, kami jadi mengenang masa lalu. Masa-masa dimana dulu kami melewati dengan kepala rasanya mau pecah karena berasa berat banget. Tapi malam itu kami mengenangnya dengan tersenyum dan bersyukur, kami bisa melewati semua masa-masa berat itu.

Saya pun jadi mengenang segala hal sulit yang pernah saya alami. Hal-hal sulit yang bahkan jauh lebih sulit dari yang saya alami saat ini, dan bisa saya lewati dengan baik meski penuh perjuangan, dan bahkan bercucuran air mata (ceileee…). Saya pernah mengalami masa yang menurut saya sangat sulit dalam hidup saya, berkali-kali lipat lebih sulit dari yang saya alami saat ini. Masa sulit yang bahkan saya sendiri dan orang-orang terdekat saya ragu apakah saya sanggup melewatinya. Masa sulit yang membuat saya terbersit untuk menyerah dan berhenti. Tapi nyatanya saya sanggup melewatinya. Ah, saya sudah pernah menghadapi yang lebih sulit dari saat ini, jadi tidak ada alasan untuk menyerah sekarang?

Well, saya tahu, dalam perjalanan hidup, ada masa dimana kita merasa lelah dengan semua yang terjadi hingga ingin menyerah. Saat itu, mengingat kembali masa-masa tersulit yang pernah kita lewati mungkin dapat menjadi terapi yang baik untuk menumbuhkan kembali semangat kita J

Partner in crime ^_^

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
23 September 2014 07.19 delete

sepertinya admin nya suka banget dengan SO7 selalu saja bilang lirik lagu SO7 hehehe...
duuhh enak tuh santainya...

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
23 September 2014 10.12 delete

heheeeee... iya bang, lagu-lagu so7 selalu menemani hari-hari :)

Reply
avatar
23 September 2014 12.25 delete

Satu satunya yang tetap hanyalah perubahan. Kapanpun harus siap dengan yang satu ini. :D Semangat!!

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
23 September 2014 15.23 delete

satu-satunya yang tetap hanyalah perubahan, ini kebetulan atau gimana ya, beberapa menit yang lalu juga mendengar kalimat itu dari seorang kenalan :) terima kasih sudah berkunjung pak Iwan, tetap semangat :)

Reply
avatar
28 September 2014 12.14 delete

karena yang pasti itu cuman perubahan, asik yeeee

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
30 September 2014 13.03 delete

iya, dan kita harus siap dengan segala perubahan itu :)

Reply
avatar