SIBAYAK DAN SEBUAH KENYATAAN ITU

16.12



Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis ini. Tapi entah kenapa jadi lupa dan baru hari ini teringat. Ceritanya awal Juni kemarin saya dan teman-teman Sheilagank Sumut berangkat hiking ke gunung Sibayak. Sebenarnya bukan trip resmi dengan teman-teman SG Sumut sih, hanya saja kebetulan yang berangkat sebagian besar teman-teman SG Sumut.

Sehabis maghrib kami berangkat dari jalan Setia Budi Medan dengan mencarter angkot berwarna kuning langganan si Arif, korwil SG Sumut wilayah Langkat. Penumpang pas-pasan : aq, erna, dian, bang rudi, arif, madan, kawannya madan, adiknya arif dengan dua temannya. Sepuluh orang kami di belakang. Di depan ada supir dan satu temannya arif juga (nggak tau saya siapa namanya, lupa).

di dalam angkot, penuh sesak euiii...

Perjalanan lumayan memakan waktu lama. Di Medan kejebak macet, di jalan menuju Sidebuk-Debuk (titik terakhir angkot) juga macet karena ada pelebaran jalan. Walaupun semakin ke atas udaranya semakin dingin, namun karena kendaraan yang macet, jadinya gerah juga. Beberapa kali kami harus terhenti lama. Bosan, gerah, pusing karena asap kendaraan, semua tergabung jadi satu. Ditambah lagi cemilan juga habis, lengkaplah sudah.

Saya lupa itu jam berapa, tapi udah tengah malam baru kami nyampe di Sidebuk-Debuk. Huaahhh… akhirnya. Tapi… ini belum akhir loh ya, malah awal. Iya awal. Soalnya dari sini kami harus jalan ke puncak Sibayak. Sebenarnya ada tanya yang terbersit di kepala saya saat itu, ini kok angkotnya berentinya disini, kan setau saya itu bisa sampai di batas akhir jalan beraspal, jadi selanjutnya tinggal nanjak melalui anak tangga tanah dan sedikit hutan pandan. Tapi malam itu saya memilih diam saja. Yah, nggak papa lah ngos-ngosan dikit, toh dulu juga kerjaannya naek gunung pas masih kuliah.

ini nih pasukan yang akan meramaikan Sibayak :D

Dari dulu, saya kalau naik gunung tuh pasti ngos-ngosan di awal perjalanan. Karna biasanya kan jalanan menanjak, jadi napas langsung berasa sesak dan degup jantung bergerak lebih cepat. Biasanya di awal saja sih begitu, kalau sudah masuk pintu rimba dan tubuh sudah beradaptasi dengan hutan, napas akan stabil.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya masih mencoba rileks saat napas mulai ngos-ngosan sementara kawan-kawan lain masih biasa-biasa saja. Tapi setelah naik ke tanjakkan yang kesekian saya mulai ngerasa kok malah makin lelah ya, makin sesak napasnya. Yaelaaahh… jadi berasa tua saya. Padahal itu jalanan beraspal loh, bukan jalanan hutan seperti biasa kalau naik gunung.

Makin lelah, saya pun makin menggerutu. Apalagi beberapa kali dilalui oleh serombongan orang menggunakan sepeda motor yang menyapa ramah namun bikin hati tambah panas (sabar,,,sabar hehhee..) : “Duluan ya kak, bang.” Ucap mereka sambil membunyikan klakson dan melambaikan tangan. Saya jadi beberapa kali protes ke Arif, kenapa harus jalan begini kalau bisa naik kendaraan sampai di batas akhir jalan beraspal sana.

Kawan-kawan yang lain mulai tak sabar dengan langkah kaki yang lambat dan sebentar-sebentar berhenti. Sumpe booook, napas sesak dan kaki berasa puegeeel banget. Saya sampai beberapa kali bilang kalau saya tak apa ditinggal disitu dan kembali ke Sidebuk-Debuk bersama Erna (kami sama-sama ngerasa udah nggak sanggup lagi buat ngelanjutin perjalanan), sementara yang lain melanjutkan perjalanan. Kami ikhlas hehehe… tapi mereka nggak mau. Si Arif sampe nggandeng tangan saya dengan sedikit ditarik-tarik saat melewati jalanan menanjak (dan memang jalannya menanjak terus hiks..).

Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di batas jalanan beraspal dan harus menyusuri jalanan setapak menanjak dengan pepohonan khas pegunungan. Tentunya terlewat jauh dari estimasi waktu awal. Iyalah, estimasinya jalannya normal. Ini kami jalannya lima langkah berhenti, gimana nggak molor jadwalnya.
Awalnya saya mikir mau nggak ikut ke atas. Di posko itu saja. Tiduran sambil menghirup udara gunung dan memandangi bintang sebelum hilang sebentar lagi (udah mau subuh soalnya waktu itu). Tapi berhubung tikar dan sleeping bag nya nggak ada, saya pun tak punya pilihan. Usai makan, kami beranjak naik ke puncak.
Meski awalnya kondisi tubuh benar-benar lemah dan tubuh terasa usah bergerak karena udara yang dingin, saat mendaki di jalan hutan saya justru oke-oke saja. Tak menemukan kesulitan yang berarti. Padahal waktu itu gelap dan penerangan sangat terbatas.

Sampai di Sibayak hari sudah terang meski kabut tebal menutupi kawah. Duinginnya pool. Cukup banyak yang mendaki kala itu. Kawan-kawan yang lain asik mencari tempat untuk berfoto-foto. Saya memilih duduk di pinggir kawah sambil mengenang saat dulu mendaki Sibayak lewat jalur hutan (jalur yang kami lalui saat ini jalur pariwisata). Menerobos hutan dengan menggendong perlengkapan camping. Jauh lebih berat dari medan yang harus dilalui jika dari jalur pariwisata. Di Sibayak lah dulu pertama kalinya saya naik gunung. Sebelum-sebelumnya hanya pernah camping di hutan Sibolangit. Rasanya dulu sungguh haru saat senja itu kami sampai di puncak Sibayak, kami (Saya, Yokko, Novi, bang Arif, bang Rudi, bang Fical) berteriak sekuat mungkin saking harunya karena akhirnya bisa sampai ke puncak. Hmm.. masa-masa kuliah yang penuh warna :)

Pulangnya, kami memutuskan untuk naik angkot ke Sidebuk-Debuk. Dalam perjalanan saya berpikir, kok waktu mendaki di jalanan beraspal itu rasanya berat sekali ya. Sementara mendaki di jalanan hutan buat saya lebih mudah. Saya pun mulai menyangkal kalau lelahnya saya karena faktor usia. Mungkin memang mendaki di jalan beraspal lebih melelahkan dari mendaki di jalan hutan. Analisis saya seperti ini : kalau mendaki di jalanan lebar dan beraspal, kita hanya bertumpu pada kedua kaki saja, semua beban diberikan ke kaki, alhasil kaki jadi mudah pegal dan itu mempengaruhi organ tubuh lainnya, paru-paru misalnya. Nah, kalau mendaki di jalanan setapak di hutan, kita menggunakan organ tubuh lainnya, seperti tangan misalnya. Saat mendaki di hutan, biasanya tangan kita gunakan untuk berpegangan di akar-akar pohon dan menghimpun kekuatan untuk menghasilkan daya dorong tubuh ke atas, jadi beban kaki tidak begitu berat. Tekstur tanah yang tidak rata justru membuat syaraf-syaraf kaki bekerja. Lihat deh kalau berobat refleksi kaki, kita disuruh memijak batu-batu kerikil kan agar syaraf-syaraf di telapak kaki kita bekerja dengan baik dan peredaran darah kita lancar. Sementara kalau kita mendaki di jalanan beraspal mulus, justru tidak membawa efek maksimal ke kinerja syaraf kita. Ini tentunya masih analisis sederhana saya, penjelasan lebih pastinya, tanya ahlinya ya :D

Pengalaman lain nih ya, kemarin saya baru ke Air terjun Teroh-Teroh dan Kolam Abadi. Untuk mencapai kedua objek wisata tersebut, saya dan rombongan harus trekking. PP total kami harus naik turun bukit sebanyak 12 kali (enam kali naik dan enam kali turun), cukup melelahkan memang, tapi masih lebih mending rasanya ketimbang saat saya harus jalan dari Sidebuk-Debuk ke batas akhir jalan beraspal di bahu gunung Sibayak (saya bilang bahu karena dari titik akhir jalan beraspal ke puncak gunung itu tinggal sedikit lagi jaraknya).

So, perjalanan ke Sibayak bareng teman-teman SG Sumut kemarin itu membuat saya berkesimpulan kalau naik gunung melewati jalanan beraspal itu lebih berat ketimbang lewat jalur hutan. Itu menurut saya loh ya. Kalau kalian penasaran, coba saja naik ke Sibayak melalui kedua jalur itu, lalu bandingkan sendiri J

Well, terlepas dari semua itu. Saya senang bisa ke Sibayak lagi J

Sinabung yang mengintip di kejauhan


biar kata dingin, tetep aja eksis :D




Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »