PANDEMI DAN PELAJARAN TENTANG EMPATI

 

Pandemi dan Pelajaran tentang Empati 

Pandemi dan Pelajaran tentang Empati : Sabtu, 26 September 2020. Siang menjelang sore. Aku tersentak, terbangun dari tidur siang yang terjadi tanpa sengaja.


Ya, tidur siang bukanlah kebiasaanku. Bahkan semisal sedang di rumah dan tak ada aktifitas apa-apa, aku tak terbiasa tidur siang. Tadi seingatku aku tengah menunggu hape yang dicas. Iseng tiduran di kasur. Eh beneran ketiduran. Mungkin karena cuacanya mendukung: mendung sejak pagi tadi.


Kulihat layar hape. Sudah terisi daya seratus persen. Segera kulepas dari charger dan mengaktifkannya sambil mikir, mau ngapain ya? Mau mandi masih belum sore-sore amat, nonton film udah tadi sebelum ketiduran, apa ngerebus ubi rambat plus buat kopi aja ya buat temen baca buku, menunggu sore.


Tapi belum sempat kuputuskan mau ngapain, bunyi tang ting tung di hape yang baru kuaktifkan itu mengalihkan perhatianku. Notifikasi WA, IG, Email, Shopee dan beberapa lainnya.


Yang terakhir kubuka adalah WA, sekaligus menyadarkan kalo hari ini deadline OWOP WB. Omegooot, aku belum nulis apa-apa dan belum dapat ide juga mau nulis apa, hadeeeh...


Eh iya, OWOP ini adalah singkatan dari One Week One Post yang diadain grup Warung Blogger. Semingguan belakangan ini aku memang mulai mencoba aktif lagi ikutan BW (Blog Walking) dan OWOP di Warung Blogger. Tujuannya apalagi kalo bukan supaya rajin ngeblog lagi.


Jadi di OWOP ini aturannya adalah posting di blog masing-masing sesuai tema yang dipilih acak. Jadi ada beberapa tema saran dari para peserta yang udah ngedaftar ikutan OWOP. Tema-tema tersebut dikumpulin kemudian dipilih random. Pemilihan tema dilakukan setelah list peserta udah didapat.


Dan tema Minggu ini adalah, jeng jeng jeng : Empati di Masa Pandemi.


Alamak, kenapa juga tema ini yang muncul, bingung aku mau nulis apa hahhaha. Padahal waktu liat list tema-tema yang ada aku udah ngebatin, semoga bukan itu temanya, eh malah beneran yang itu wkkwkwkkw


Sebenarnya ini tema udah dikasih tau sejak Senin kemarin, tapi sampe sekarang aku belum tau mau nulis apa. Beberapa kulihat sudah ada yang setor tulisan. Ada yang menulis tentang menumbuhkan empati anak di masa pandemi and bla bla bla,, aku cuma baca judulnya aja dari link yang mereka share. Belum baca secara keseluruhan.


Aduuuh bingung!!! Dah ah, mau ngerebus ubi rambat (ubi jalar) dulu.


Makan ubi rambat dulu, manatau dapat ide


Pandemi Corona. Mungkin hampir semua orang hidupnya terdampak oleh pandemi ini. Entah itu dari sisi ekonomi, sosial, psikologi, maupun lainnya.


Secara finansial, jujur saja aku merasakan dampaknya. Beberapa bulan nyaris tanpa penghasilan. Sementara pengeluaran justru cenderung bertambah karena konsumsi aneka rimpang, bermacam buah, dan super food lainnya meningkat. Gpp pikirku, toh untuk menjaga daya tahan tubuh, mengingat coronces ini sebenarnya keok sama yang fisiknya tangguh.


Hidup di perantauan, rumah masih ngontrak, nyaris tanpa penghasilan selama berbulan-bulan, ditambah situasi pandemi yang menganjurkan orang di rumah aja. Jujur lama-lama muncul kekhawatiran juga dong. Mana jadwal bayar kontrakan udah dekat lagi, asoy geboyy!!!


Eh, penghasilan yang aku maksud, penghasilan aku pribadi ya. Kalo my bojo alhamdulilahnya masih kerja. Jadi untuk makan sehari-hari alhamdulillah masih ada. Tapi berhubung kami adalah generasi sandwich, lumpuhnya usahaku karena efek pandemi ini juga menggoyahkan perekonomian kami.


Pemerintah pun tak tinggal diam. Berbagai jenis bantuan pun diturunkan. Dari mulai berbentuk sembako, gratis listrik, cicilan ditangguhkah setahun, hingga yang berupa uang.


Apakah aku dapat? Jelas, nggak dong hhahahaa. Ngeliat tetangga berbondong-bondong ke rumah kepling buat ambil bantuan, atau yang sibuk ngecairin dana bantuan, atau satu rumah dapat bantuan dobel-dobel dari intansi A, instansi B, dll. Aku mah santuy. Nggak komplain ataupun nyinyir sana-sini.


Cuma sempet kesel waktu dikasih tau, nggak dapat bantuan karena bukan KTP sini.


Rasanya kesel banget kala itu. Jalan empat tahun tinggal disini. Tiap ada kemalangan, pembangunan fasilitas umum, ataupun acara-acara tertentu, kita dimintai sumbangan. Lah giliran urusan begini kitanya nggak dianggap.


Keselnya bukan karena nggak dapat bantuannya sih. Karena walaupun dari dulu suka yang gratisan (siapa coba yang nggak suka gratisan ya kan), tapi aku bukan tipe yang minta-minta supaya dapat gratis. Gratisan yang aku dapat selama ini lebih ke 'bonus' atas apa yang aku kerjakan. Misal nginep di hotel A gratis, makan gratis, atau produk gratis. Sebenarnya nggak benar-benar gratis, tapi aku bayar dalam bentuk lain, review misalnya. Atau misal jalan-jalan gratis, ya sebenarnya nggak murni jalan-jalan, tapi sambil kerja, dibiayai perusahaan.


Maka ketika ada orang-orang yang terang-terangan minta agar namanya masuk dalam list penerima bantuan, aku santuy aja nyeruput rebusan rimpang sambil nyoret-nyoret buku, bikin perencanaan hal apa kira-kira yang bisa kujalankan kedepannya.


Aku cuma nggak santuy waktu dengar alasan itu tadi. Hellooo!! Apakah rasa tolong-menolong ini hanya sebatas KTP? Bukannya justru yang perantauan, jauh dari keluarga, dan tinggal masih ngontrak ini perlu diperhatikan.


Aku nggak tau menau prosedur dari pusat gimana untuk kriteria penerima bantuan. Kalaulah memang harus yang domisili sesuai KTP, idealnya kan kepling buat kebijakan agar yang ngontrak dan bukan KTP sini bisa dibantu juga.


Mmm... Maksudku, yang ngontrak disini kan bukan aku doang. Jujur secara pribadi aku nggak berharap dapat bantuan. Lebih berdoa semoga dimampukan Allah menghadapi segala dinamika kehidupan. Sejauh ini pun masih bisa bertahan. Tapi gimana nasib yang lain yang juga perantauan dan ngontrak?


Perihal ini cukup menyita pikiranku untuk beberapa saat. Dongkol euy dengar alasannya cuma karena KTP bukan domisili sini. Tapi kemudian kurenungi, dan berusaha positif thinking dengan melihat tetangga depan dan samping rumah yang dapat bantuan. Ibu samping rumah, beberapa hari sebelumnya pernah datang ke rumah. Hendak meminjam uang.


Ia tinggal bersama suami, dua anak, dan ipar perempuannya yang memiliki seorang anak perempuan. Ipar yang tak mau memanggilnya kakak hanya karena ia lebih tua usianya. Tak pernah mau memanggil kakak dan tak menganggapnya kakak. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka. Suaminya? Lima tahun belakangan sepertinya pun tak menganggapnya istri. Seorang pemakai narkoba yang tak pernah menafkahi tapi kerap marah kala lauk tak sesuai seleranya. Kerjanya hanya kesana kemari dengan teman-temannya sesama pemakai.


Bagaimana ia bertahan? Berjualan serabi di pinggir jalan. Tapi masa pandemi begini, siapa yang mau beli meski tetap nekat jualan?


Ah, terbayang bagaimana senyum rekahnya saat sesekali aku beli serabinya untuk menu berbuka. Aku yang sebenarnya tak begitu suka serabi tapi nekat beli sambil beriring doa, semoga ia lancar rejeki dan kami semua terhindar dari corona yang tengah menghantui negeri.


Tetangga depan rumah, juga penerima bantuan. Ibu tiga anak yang mengurusi mertua yang sudah renta. Hanya tergeletak tak berdaya yang harus dilayani segala kebutuhannya. Mertua yang punya banyak anak yang hidup berkecukupan, tapi memilih tinggal bersama menantu yang hanya penjual batagor di depan sekolah.


Status FB ku kala itu tentang ibu depan rumah


Ya, si ibu depan rumah yang mengurusi mertuanya itu hanya seorang penjual batagor. Tapi di masa pandemi dan sekolah diliburkan begini bagaimana dia berjualan?!


Melihat dua tetanggaku itu, kekesalanku enyah. Melihat mereka melanjutkan hidup dengan keterbatasan di masa-masa sulit ini, aku ikut bersyukur untuk mereka, setidaknya bantuan itu meringankan mereka.


Kami yang bukan pemilik KTP sini? Tak apa, Semesta tengah menempah kami untuk lebih kuat dari sebelumnya.


Cerita ini berlanjut dengan sebuah balasan WA yang mengejutkan di hari lebaran pertama.


Beberapa hari sebelumnya aku sudah curiga membaca story WA nya yang bernada kesedihan. Tapi enggan bertanya, takutnya dianggap kepo.


Ia tetangga samping rumah kami. Rumah kami berdempetan. Sama-sama ngontrak pada pemilik rumah yang sama. Ia tengah hamil anak pertama. Pandemi menahan langkah kami para perantau, juga langkah ribuan orang lainnya, untuk tidak pulkam di hari lebaran.


Gelagat tak beres ini semakin kentara di lebaran pertama. Suaminya, pagi-pagi pulang ke rumah ortunya yang berjarak sekitar satu jam dari Medan. Meninggalkannya seorang diri di kontrakan. Dalam kondisi hamil pula. Di hari lebaran. Ada apa gerangan? Aku pun menerka-nerka, dugaanku telah terjadi pertengkaran? Atau mungkin ia dapat shift kerja tepat di hari lebaran. Tapi kenapa suaminya meninggalkannya di pagi sebelum sholat hari raya? 


Sebuah pesan WA kukirimkan. Ucapan selamat lebaran, dan pertanyaan masuk kerja jam berapa. Balasannya sungguh mengejutkan.

Ternyata lagi isolasi mandiri


Ternyata ia tengah isolasi mandiri sodara-sodara. Pekerjaannya sebagai perawat membuatnya berpeluang besar tertular virus corona.


Sebenarnya rumah sakit tempat ia bekerja tak menerima pasien covid. Tapi mereka kecolongan. Salah satu pasien yang sudah beberapa hari opname di rumah sakit mereka ternyata positif covid. Dan pasien tersebut berada di lantai tempat ia bertugas. Jadilah seluruh perawat yang bertugas di lantai tersebut isolasi mandiri. Termasuk tetanggaku.


Aku tentu saja shock. Kemarin kami baru saja berbincang saat sama-sama menjemur pakaian. Meski tak berdekatan, ia di depan rumahnya, aku di depan rumahku. Tapi tetap saja aku shock, tak menyangka orang di sekitarku berurusan dengan covid. Meski belum tentu positif juga. Masih menunggu hasil swab.


Malam-malam sebelumnya pun suaminya dan my bojo berbincang, duduk-duduk di depan rumah. Walau tetap jaga jarak tapi lagi-lagi nggak bisa dipungkiri keterkejutanku.


Suaminya sebenarnya ingin menemani. Ia tak tega istrinya yang tengah hamil harus isolasi sendiri. Tapi si kakak meyakinkan kalau ia tak mengapa sendiri. Lagi pula untuk kebaikan bersama. Jadi lah sang suami pulang di pagi hari pada lebaran pertama.


Si kakak minta tolong agar aku tak memberitahu siapa-siapa tentang hal ini. Khawatir diusir warga sekitar. Aku? Awalnya bingung. Di satu sisi ada rasa khawatir akan keselamatan ia dan bayinya. Juga khawatir jika semisal positif dan ternyata menular ke suami, suaminya ke my bojo, bojo ke aku. Oo em ji, seketika pikiran-pikiran negatif pun menghampiri. Gimana kalau si kakak positif, duuh kebayang video perawat hamil yang meninggal karena covid, seketika mellow. Atau gimana kalau tertular, yaolooh jangaaaan!!!


Tapi memberitahu kondisinya ke warga sekitar juga tak mungkin. Mau kemana dia semisal diusir. Berita-berita tentang pengusiran warga yang terduga covid memang jadi momok tersendiri.

Tetap support walau lagi khawatir




Syukurnya, hasil tesnya negatif. Ikutan seneng pas denger kabar tersebut.


Sebenarnya inti cerita ini apa sih? Panjang lebar ngalor ngidul.


Gaes, ternyata setelah kupikir-pikir, pandemi ini mengajariku tentang empati dengan cara yang berbeda. Mencoba berpikir positif dan berempati ke mereka yang terdampak perekonomiannya, di saat bersamaan kita sendiri pun tengah goyah. Tetap support ia yang tengah isolasi mandiri padahal kita sendiri pun dibayang-bayangi kekhawatiran tertular.


Ya, pandemi ini mengajariku untuk tetap memupuk rasa empati bagaimanapun kondisi diri sendiri.





Share:

3 komentar