KEMARIN AKU ABSEN

Kemarin aku absen
Kemarin aku absen


Kemarin aku absen. Niatnya tidak begitu. Tapi terjadinya begitu. Apa kau kecarian?!  Atau malah senang.


Pertanyaan barusan mengarah kemana? Aku tak sebenar-benar tau. Pertanyaan itu, apakah berakar pada kepedulianku tentang perasaanmu bersebab kealfaanku, atau ambisi duniawiku yang ingin eksistensinya diakui.


Eksistensi. Rasa-rasanya hampir semua berlomba untuk itu. Rutin mengunggah foto di sosial media, mengikuti apa yang sedang tren. Kita sibuk di dunia maya hanya demi sebuah pengakuan.


Ya, pengakuan. Memangnya siapa yang mau dianggap tak ada. Tapi keinginan dianggap ada itu justru sering membuat kita dianggap tak ada, juga melupakan keberadaan orang lain, di dunia nyata.


Ingat bagaimana kita sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing pada suatu perjumpaan? Kau bilang kangen, ingin bertemu. Aku pun begitu.


Waktu bertemu yang kita susun sedemikian rupa di antara aktifitas masing-masing itu nyatanya hanya menyisakan kita yang saling menunduk. Terpaku pada layar ponsel masing-masing.


Hanya sedikit kita bicara. Bukan karena sedang marahan. Bukan pula salah satu sariawan. Tapi karena kita sibuk mengisi absen kehadiran di sosmed demi sosmed yang kita miliki. Ah, mungkin memang begini perjumpaan melepas rindu manusia jaman now. Janjian di suatu cafe, ketemu, berpelukan seakan kangen begitu berat. Bertanya kabar, kemudian hening cipta.
Benar-benar pertemuan yang hening. Berbicara seakan hanya basa-basi.


Tapi herannya seusai itu kita berisik di sosmed, membagikan foto bareng dengan keterangan foto yang seakan-akan perjumpaan ini begitu seru.


Eksistensi. Sepertinya kita memang terlalu sibuk untuk hadir di dunia maya, tapi banyak absen di dunia nyata.


Kemarin aku absen, bukan karena sibuk menghadiri pertemuan maya. Sama sekali bukan.


Kemarin aku absen, apa kau kangen?!

Share:

1 komentar