ANAK JAMAN SEKARANG

03.57
anak jaman sekarang

anak jaman sekarang

Anak Jaman Sekarang - Perempuan November : Sering liat gambar-gambar sejenis di atas?! Atau berita tentang perilaku anak-anak kecil jaman sekarang yang jauh dari citra anak-anak? Atau bahkan berita tentang kekerasan/pelecehan yang terjadi terhadap anak-anak. Kasus Angeline yang beberapa waktu lalu yang membuat public geram misalnya.

Jujur, saya sendiri suka ngeri membayangkan tumbuh kembang anak-anak yang jauh melampaui usianya. Lingkungan, dan pengaruh teknologi, rasanya tugas orang tua masa kini dan di masa depan akan lebih berat berkali lipat dibanding orangtua jaman dulu.

Walau belum menikah, saya suka mikir, bagaimana anak-anak saya nanti, sementara di masa saya remaja saja saya rasa pergaulan cukup riskan jika tak pandai membawa diri *sekarang rasanya malah lebih parah*. Apa saya mampu menjadi orangtua yang sabar menghadapi segala tingkah laku anak saya kelak. Apa saya bisa menjadi contoh yang baik buatnya. Apa saya bisa membentenginya dari pengaruh negative yang kapan saja siap menghampiri. Dan dengan biaya hidup yang semakin mahal, bisakah saya dan suami saya nanti menghidupinya dengan layak?!

Di era dimana seorang ayah tega mencabuli anak gadisnya sendiri, dan seorang anak yang berani mengancam ibu kandungnya supaya mau berhubungan intim dengannya, saya kok malah sering takut dan bergidik ya membayangkan dunia di masa depan. Ya Allah, semoga Engkau menjauhkan hamba dan keluarga hamba dari hal-hal buruk tersebut, amin!

Kekhawatiran saya sering muncul kembali kalau ingat keponakan yang masih kecil. Misalnya saja kemarin saat awal puasa saya pulang kampung. Dua ponakan saya yang kebetulan libur sekolah, memilih puasa bersama neneknya *emak saya maksudnya* di kampung.

Dinda dan Rufa, itu nama mereka. Mereka sepupuan. Dari kecil sudah tergolong anak yang aktif. Kemarin mereka baru saja naik kelas tiga SD. Meski sama-sama kelas tiga, secara tutur Dinda lebih tua *ehm.. secara usia juga lebih tua beberapa bulan sih*. Entah karena dari kecil sudah dipanggil ‘kak Dinda’, secara sikap ia pun lebih dewasa di banding Rufa yang walaupun anak pertama di keluarganya, tapi memiliki sifat yang lebih kekanakan jika bersama Dinda.

Tipikal anak-anak, mereka sebentar-sebentar berantem, sebentar kemudian akur lagi. Ini karena Rufa selalu mau dan ngikutin apa saja yang dimiliki dan dilakukan Dinda. Sementara Dinda seringnya tidak mau diikuti. Anak perempuan rasanya memang lebih cepat dewasa dibanding anak laki-laki.

Suatu saat, kala mereka nonton TV sambil ngoceh berisik dan saya sholat di kamar di sebelah ruang TV, entah kenapa kekhawatiran itu kembali timbul. Entah ini berlebihan atau bagaimana, saya jadi terbayang hal-hal buruk yang saya ceritakan di atas *duuuh.. jadi nggak khusuk sholatnya -_- *. Di sujud pada rakaat terakhir dan seusai sholat, saya khusuk berdo’a untuk para keponakan saya. Rasa-rasanya memang, do’a lah yang paling bisa saya lakukan dan harapkan mengingat saya bertemu mereka hanya saat lebaran *orangtua mereka pasti juga tak bisa terus-terusan mengawasi kemana saja mereka pergi*

Kala saya ikut menonton dan tiduran *saya lelah karena baru pulang dari kota untuk mengurus SIM*, si Rufa mengajak saya ngobrol tentang film yang ia tonton. Saya diam saja tak merespon. Ia terus saja memanggil saya, saya pura-pura tidur. Tiba-tiba saya merasa pundak saya dipijat. Dan benar, Rufa memijat pundak saya. Saya tetap pura-pura tidur walau dalam hati surprised. FYI, si Rufa ini anaknya susah dibilangin. Seisi rumah suka kesal dibuatnya. Harus sabar-sabar bener ngarahinnya. Disuruh mandi susahnya minta ampun, makan susah, maunya menang sendiri, sukanya nyuruh-nyuruh tapi kalau disuruh nggak mau. Kalau capek maen, mintanya dipijat oleh saya karena kecapean. Saya suka bernegosiasi dengannya, ia pijat neneknya, maka saya akan memijatnya. Tapi itu pun ia tak mau *dan tetap merengek minta dipijat, ngeselin kan*. Maka, ketika tiba-tiba ia memijat pundak saya, saya pun jadi terharu *tsaaah..*

anak jaman sekarang
*foto diambil saat belum Ramadhan :) Rufa n me
Malamnya, usai berbuka, si Dinda yang *ngintilin* saya terus kemana-mana. Ia memeluk pinggang saya dari belakang dan ngikutin kemana kaki saya melangkah.

“Nda, Unde mau sholat dulu, lepasin ah!”

Ia pun melepasnya. Saya kira berhenti disitu. Eh rupanya ia mau ikutan sholat. Minta mukena ke neneknya. Mau jamaah sama saya. Saya suruh sholat sendiri di kamarnya dengan alasan kamar saya sempit, dianya nggak mau. Wiiih… saya di antara surprised dan bingung. Secara saya belum pernah jadi imam sholat mabrooo… biasanya sholat sendiri ataupun jadi makmum. Gadis kecil ini mengejutkan saya dengan mengatakan ingin ikut shalat tanpa saya minta, bahkan mempercayakan saya untuk memimpin sholat maghribnya hari itu. Miauuuwww.. jadilah kami sholat berjamaah. Bibir saya sampai bergetar, menahan haru nih ceritanya.

Usai shalat dan berdo’a, saya langsung melepas mukena, eh dianya nyeletuk :

“Nde, nggak salam dulu?!”

“Hah.. o iya salam dung,” balas saya sambil menyodorkan tangan.

“Biasanya di rumah sama ayah selalu salam,” ujarnya sambil mencium tangan saya.

anak jaman sekarang
Dinda n me
Saya lalu jadi berpikir, dua momen mengharukan *lebay* dengan dua keponakan ini, mungkinkah jawaban Tuhan atas kegelisahan saya akan tumbuh kembang mereka yang saya luahkan dalam do’a siang tadi. Mungkin Tuhan ingin mengatakan bahwa tak ada yang perlu saya risaukan terhadap mereka. Bahwa mereka adalah anak-anak yang memiliki akal dan hati yang baik *in sha Allah, amin!*

Ah, nak! Semoga Tuhan melindungi kalian, menghindarkan dari hal-hal buruk dan pengaruh negative yang bisa mempengaruhi moral dan hati kalian. Tumbuhlah dengan sewajarnya, tak perlu cepat besar seperti yang selalu diucapkan orang-orang dewasa terhadap anak kecil. Tumbuhlah dengan sewajarnya, selaras antara fisik, psikologis dan usia.

Ada yang merasakan kekhawatiran yang sama seperti saya terhadap perkembangan anak-anak jaman sekarang?!

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
9 Juli 2015 19.35 delete

Ada, selalu. Sbg seorang tante yg punya ponakan byk kdg saya suka ngelus dada kdg jg terkejut liat kebaikan2 kecil mereka. Rufa kykny mirip ama Andin ponakan saya. Mau dimarahin jg gbs, ntr dibilang tante suka marah2..susaaah

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
9 Juli 2015 20.25 delete

iya mbak, kalau lagi muncul bandelnya, suka kesel. tapi kalau lagi baik, baiknya minta ampun hehhehe.. si Rufa ini anaknya memang perasa. aktif. susah dibilangi, tapi kalau ada yang menyentuh hatinya, ia bisa mewek kayak perempuan hehhehe. Andin usianya berapa mbak?

Reply
avatar
dodon jerry
AUTHOR
3 Oktober 2015 16.33 delete

ngeri yah perbedaannya. kalau dulu masih mengerti mana yang baik dan mana yang malu dilakukan tapi sekarang sepertinya hal tabu sudah biasa saja. Yang dewasa sudah tidak mampu lagi

Reply
avatar
Diah Siregar
AUTHOR
14 Oktober 2015 03.16 delete

iya. para orang tua harus berusaha lebih ekstra menjaga dan mendidik anak-anaknya :)

Reply
avatar