SG SUMUT PEDULI SINABUNG

18.47

Well, sebenarnya ada banyak yang ingin saya ceritakan tentang acara bakti sosial Sheilagank Sumut untuk korban peduli Sinabung. Tapi berhubung saya juga sedang diburu deadline pekerjaan, jadi saya tuliskan singkat untuk kawan-kawan bloger ya J

Minggu, 15 Desember 2013, SG Sumut (SGS) mengadakan pertemuan bulanan di rumah bendahara SGS, Rudi. Disini kita membahas banyak hal. Salah satunya agenda SG Sumut ke depan. Nah, berkaitan dengan gunung Sinabung yang sedang erupsi, kita sepakat untuk menggalang dana untuk para pengungsi Sinabung. Dan, kepanitiaan pun dibentuk : Ketua (Shafwan), Wakil ketua (Ekoss), Humas (Fuja), kordinator acara (Suramah). Penggalangan dana dilakukan dengan cara ngamen membawakan lagu-lagu so7.

Malam minggu, 28 Desember  kita berencana buat ngamen di sekitaran Teladan dan warkop Puri. Titik kumpul di halte di depan ITM. Sayangnya Medan sedang musim hujan. Seharian hujan melanda kota Medan bahkan hingga malam. Namun begitu, beberapa kawan tetap datang ke titik kumpul yang sudah ditentukan. Bahkan ada yang bela-belain naik becak. Saya dan bang Ibenk tertahan di salah satu tempat perbelanjaan di sekitaran Aksara. Ceritanya sorenya saya belanja keperluan rutin. Tapi berhubung hujan, jadilah saya tertahan hingga malam. Hingga bang Ibenk datang, hujan belum juga berhenti. Padahal hanya ada satu mantel baju di bagasi sepeda motor.

Awalnya saya berpikir untuk pulang saja ke rumah, tak mungkin ke titik kumpul kalo cuaca seperti ini. Tapi berhubung kawan-kawan sebagian sudah nekat menembus hujan untuk menepati janji, saya pun sebagai ketua tak tega untuk absen. Dan bang Ibenk pun mengaku rela berhujan-hujanan (secara mantelnya saya yang pakai hehhee…). Kami pun nekat berangkat (waktu itu sudah lewat jam sepuluh malam). Ola..laa.. ternyata oh ternyata, banjir dimana-mana. Kami sudah terlanjur mengambil arah ke Teladan. Saya sangat khawatir sepeda motor kami mati di tengah jalan, apalagi banjirnya lumayan tinggi.

Dengan gerimis yang masih rintik-rintik, jalanan yang tergenang air dan badan yang gigil karena kaki terendam air, plus was-was kalau-kalau sepeda motor kami mati atau masuk ke jalanan banjirnya tinggi, kami tetap melaju. Saya sempat meminta bank Ibenk untuk memutar arah dan pulang ke rumah saat hujan mulai kembali deras dan sebuah mobil di depan kami hampir tenggelam. Ia setuju untuk memutar arah. Tapi bukan pulang, melainkan mencari jalan alternative lain yang bisa dilewati. Katanya sih tanggung kalau pulang, sudah basah gini, ya sekalian saja. Hmm… baiklah.

Sampai di ITM, jalanan sudah sepi (ya iyalah, udah malam gini). Kami sepakat untuk menunda acara ngamennya. Kami pun memilih sebuah warung kopi di sekitaran jalan SM. Raja sambil membicarakan rencanan selanjutnya. Kita pun sepakat untuk ngamen esok hari.
(Lisa -Diah-
, Erna, Tridian, Intan, Fuja, Ekoss, Nuel, Shafwan, Ibenk)


Minggu, 29 Desember 2013
Rencana ngamen dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung.

Sabtu malam, 04 Januari 2014
Alhamdulillah, jadi juga ngamennya. Kita ngumpul di depan ITM. Awalnya takut ujan lagi seperti sebelumnya. Syukurlah cerah. Kita start dari restoran Joko Solo di dekat Taman Teladan. Lanjut ke warung-warung di dekat tugu SM. Raja. Lalu lanjut ke kafe-kafe di sekitaran jalan H.M Joni. Alhamdulillah dapat Rp. 276.000
(Lisa -Diah-, Erna, Auldra, Tridian, Rilly, Shafwan, Rendi Swis, Fahmi Nst, Fuja, Fredi, Ibenk, Rudi)

Minggu, 05 Januari 2014
Kita lanjut ngamen lagi, gank. Kali ini kita ngamennya di sekitaran Taman Teladan. Sempat dicaci-maki salah satu ama pengamen tetap disana. Padahal kita udah bilang kalau dana yang kita dapat mau disumbangkan ke pengungsi Sinabung. Tetap saja itu mbak-mbak nyolot. Ya udahlah, kita woles aja, senyum aja hehheee…
Kali ini dapatnya lumayan dibanding yang tadi malam : Rp. 464.000
Alhamdulillah J
(Lisa -Diah-, Tridian, Dian, Erna, Zuka, Rudi, Ibenk, Zoe, Fredi, Rendi Swis, Shafwan, Ipul)

Rabu Malam, 08 Januari 2014
Kawan-kawan panitia datang ke basecamp SG Sumut (yang kebetulan adalah rumah kontrakan saya dan Auldra). Ya, bisa dibilang rapat mendadak lah, tentang kelanjutan rencana baksos Sinabung. Kawan-kawan panitia mengusulkan berangkat ke Sinabung pada hari Minggu, 12 Januari 2014. Saya langsung menyampaikan kalau tanggal segitu saya tidak bisa ikut. Kebetulan tanggal 20 saya harus pulang kampung dalam waktu yang lama. Dan sebelum pulang, segala beban pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan dalam waktu sebulan, harus saya selesaikan sebelum kepulangan saya. Jadilah hari minggu pun saya rencanakan kerja (di rumah). Namun begitu, saya tidak keberatan kalau kawan-kawan mau berangkat tanggal 12. Toh, masih ada pengurus yang lain. Tapi ternyata eh ternyata, Auldra, Rendi Swis, Erna juga tidak bisa. Tak apalah, masih ada bang Rudi dan Tridian yang kata Shafwan bisa datang.
(Lisa -Diah-, Auldra, Rendi Swis, Suramah, Ekoss, Shafwan)

09 Januari – 10 Januari 2014
Saya mendapat kabar kalau banyak kawan-kawan SG Sumut yang tidak bisa ikut dengan berbagai alasan. Bahkan Tridian dan bang Rudi juga tidak bisa ikut. Wah, tidak ada dunk yang mewakili pengurus. Bang Sur dan Safwan memang pengurus sih. Tapi kan mereka juga panitia. Sampai disini, saya pikir acara penyerahan bantuannya akan diundur. Sampai akhirnya ketua panitia mengumumkan kalau rencana awal tetap dijalankan.

Sabtu, 11 Januari 2014
Sebenarnya saya senang juga kalau kawan-kawan panitia tetap lanjut sesuai rencana. Inikan bantuan untuk bencana, memang tidak seharusnya ditunda-tunda. Saya senang karena dari sini saya berkesimpulan kalau kawan-kawan panitia memiliki semangat tinggi meski hanya sedikit kawan-kawan yang bisa ikut.
Tapi saya juga was-was karena hingga siang hari mereka tak juga ke rumah saya untuk mengambil uang hasil penggalangan dana yang akan dibelanjakan logistik dan mainan anak-anak.

Sore hari barulah mereka datang. Pergi sebentar dan kembali dengann satu kardus kecil berisi gula, minyak goreng, teh, loh… kok cuma ini??! Saya sebenarnya maklum sih. Kawan-kawan juga punya aktifitas lain hingga belum sempat belanja. Saya yakin (meski ada setitik kekhawatiran) semuanya akan beres dan sesuai rencana.

Malam hari, barulah para pejantan tangguh ini beraksi. Mereka berbagi tugas untuk belanja. Mengepak barang-barang. Tengah malam keluar mencari toko yang masih buka untuk membeli keperluan yang belum terpenuhi. Sampai jam tiga malam mereka masih terjaga. Ari yang waktu itu kerja shift malam bahkan dibela-belain bolos kerja, Shafwan bela-belain keluar jam empat pagi ke warnet untuk nge-print kertas berlogo Sheilagank Sumut untuk ditempel di kardus-kardus berisi bantuan yang akan diserahkan. Dan saya, melihat mereka yang mencoba untuk tetap semangat, akhirnya lagi-lagi saya tak tega untuk membiarkan mereka berjalan sendiri tanpa pengurus yang ikut hadir. Saya pun memutuskan mengabaikan sejenak pekerjaan saya dan ikut ke posko pengungsian. Saya juga mengajak sahabat saya, Yokko untuk ikut. Maksudnya supaya ada temen ceweknya gituh, biar ada temen ceritanya J

Minggu pagi, 12 Januari 2014
Ternyata perwakilan dari kantor bang Ekoss yang ikut ke posko itu perempuan. Baguslah, berarti ada tida perempuannya hehhehe… oya, bang Ekoss juga menggalang dana di kantornya, jadi Alhamdulillah jumlah dananya bertambah. Ini rinciannya :

Ngamen ke-1                    :  276.000
Ngamen ke-2                    :  464.000
Kantor bg Ekoss               : 1.039.000
Dll                                    :   130.000 +
Total                                : 1.909.000

Uangnya kami belanjakan barang-barang yang dibutuhkan pengungsi seperti logistik dan obat-obatan dan mainan anak-anak karena kami berniat mengajak anak-anak pengungsian untuk bermain. Selain itu, kita juga ngumpulin pakaian bekas layak pakai untuk dibawa ke posko.

Setelah berdo’a, kami pun bergegas untuk berangkat. Tapi ternyata mobil yang dikemudikan bang Ekoss tidak bisa hidup. Setelah cek sana-sini, akhirnya setelah didorong rame-rame, si mobil pun bisa jalan. Aseekk.. berangkat!!

Baru jalan sebentar, benih-benih rintangan pun terlihat lagi. Mobil yang kami tumpangi (dikemudikan bang Ibenk), nyendat-nyendat jalannya. Memberikan efek seperti terguncang begitu. Puncanknya ketika sudah di jalan tol. Kami pun menghentikan mobil. Berunding sejenak. Mobil ini tidak bisa dibawa. Tahu sendiri bagaimana kondisi jalanan ke Berastagi, menanjak dan banyak tikungan. Kalau nekat, bisa membahayakan keselamat sendiri. Beberapa kali kami berhenti di jalan tol karena mobilnya ngulah. Akhirnya, setelah keluar dari pintu tol Amplas, kami pun mencari bengkel. Tapi ternyata sulit mencari bengkel pagi-pagi dan hari minggu begini.

Akhirnya, karena tak menemukan bengkel. Kami pun kembali ke Tembung, ke tempat kerjanya bang Ibenk. Beruntung ada satu pink up yang sedang tidak di pakai. Jadilah kami naik pick up. Mobil yg semula kami tumpangi ditinggal disitu. Waktu pun terus berjalan. Jam sebelas siang kami masih berjibaku menembus kemacetan kota Medan. Padahal tadinya berangkat jam delapan pagi. Kasihan si Fredi, sudah menunggu selama empat jam di simpang pos. sabar ya Fredi J

Kami makan siang di warung Nusa Dua di bumi perkemahan Sibolangit. Istirahat sejenak sambil menikmati udara segar sebelum melanjutkan perjalanan.

Sekitar jam 2 siang kita sampai di salah satu lokasi pengungsian di desa Lau Gumba. Disana ada 758 pengungsi. Kami pun segera menemui kordinator pengungsi untuk menyerahkan sumbangan. Beruntung ada bang Fuja yang bisa bahasa Karo, jadi beliaulah yang berkomunikasi dengan pihak pengungsi.
Usai menyerahkan sumbangan, kami pun mengajak anak-anak bermain. Mereka sangat antusias. Bahkan para orang tua pun ikut berkerumun menyaksikan. Kurang lebih tiga jam bermain dengan mereka. Lelah, tapi senang.

Sekitar jam lima sore kami pamit pulang. Singgah sebentar di Penatapan untuk menikmati jagung bakar dan segelas teh panas.

Saya pribadi, baru kali ini mendatangi langsung tempat pengungsian. Biasanya cuma galang dana dan serahkan ke pihak yang terjun langsung ke lapangan. Kali ini berdeba. Hmm.. rasanya gimana gituh ya melihat kondisi para pengungsi. Campur aduk deh ya. Sedih, kasihan, prihatin, berbaur jadi satu. Bahagia tak terkira saat melihat anak-anak pengungsian itu tertawa lepas. Mendengarkan cerita tentang cita-cita mereka yang tinggi, ah… semoga kelak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berhati tulus. Merasakan jabat tangan dan pelukan para ibu-ibu di pengungsian yang hangat hingga menjalar ke hati. Meski mereka berucap dengan bahasa Karo dan saya sedikitpun tak mengerti artinya jika saja tak ada bang Fuja yang hari itu menjadi translater kami, hal itu tak mengurangi suka cita saya.
Usai dari pengungsian, saya pun menulis begini di akun Facebook saya :

-berbagi membuat hatimu lebih peka-

ada beberapa hal berkesan yang saya dapat dari pengungsi erupsi sinabung hari ini. tiga di antaranya adalah :
1. jabat erat dan pelukan hangat seorang ibu
2. antusiasme dan tawa anak-anak pengungsi saat kami ajak bermain
3. kalimat-kalimat jujur mereka saat kami berpamitan pulang : "Kak, besok kemari lagi ya kak yaaa," ucap mereka sambil berebutan menggamit tangan saya.

how amazing today!!, thanks God ^_^

Hari mulai gelap. Kabut Penatapan mulai turun. Segera kami beranjak, kembali ke Medan dengan ditemani udara dingin Penatapan dan hati yang hangat. Sedikit yang kami perbuat hari ini, semoga bisa menguatkan pijakan kaki mereka yang kini tengah dilanda duka Sinabung.

Jalan Terus SG Sumut, Good Job untuk kawan-kawan panitia. Big thumbs buat semua kawan-kawan yang telah berpartisipasi.


(Lisa -Diah-, Nova, Yokko, Ekoss, Fredi, Shafwan, Ibenk, Suramah, Ari, Ipul, Fuja)

NB : untuk foto-foto dokumentasi, bisa dilihat di postingan selanjutnya ^_^

Paling semangat kalau diajak jalan-jalan, apalagi kalau gratisan. Gemar fotographi meski lebih gemar lagi bernarsis ria. Suka cappuccino tapi lebih sering nge-teh

Artikel Terkait

Previous
Next Post »